Tristan menghampiri Yara dan menatapnya lagi dengan sangat dalam. “Apa lagi sih, Mas?” tanya Yara dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang. “Yara nggak akan gue culik kali, Ndres. Kita cuma mau ngobrol doang di sini. Gue juga tahu kalau elo pantau pergerakan Yara dari CCTV,” celetuk Vita membela sahabatnya yang tengah tertekan itu. Tristan tak peduli dengan ucapan perempuan itu. Matanya terus menatap wajah Yara dengan sangat dekat. “Jangan pernah menemui Reiner lagi kalau kamu masih ingin melihatnya bernapas,” bisiknya dengan suara menyeramkan. Yara melirik lelaki itu dengan lirikan sinis. “Masih nggak percaya juga, padahal udah kamu pantau dua puluh empat jam? Iya?! Memangnya kamu lihat, aku keluar dari ketemu sama dia? Lihat?!” Tristan terdiam. Hanya menatap datar wajah Yara ke

