Reiner menggaruk alisnya yang tak gatal itu. “Nggak, Sayang. Mbak emang agak sinting. Ngomongnya suka asal.” “Oh gitu. Aku juga nggak percaya sih. Oh iya, tadi ada Oma sama Opa ke sini nyari Papa.” Reiner mengerutkan keningnya. “Mau ngapain mereka ke sini?” Shabila mengendikan bahunya. “Pengen ngobrol sama Papa katanya.” Reiner kemudian mengambil ponselnya di saku untuk menghubungi Melinda—neneknya Shabila. “Iya halo, Ma. Maaf, aku tertidur dan baru bangun. Kata Shabila, Mama dan Papa tadi ke sini. Ada apa ya, Ma?” tanyanya dengan sangat sopan. “Kamu baru bangun, yaa? Mau ke sana lagi juga sudah malam. Ya sudah, besok nanti Mama ke sana. Kalau ngobrol di telepon nggak akan afdol.” “Memangnya ada hal yang penting ya, Ma? Maaf, maksudk—” “Iya, Nak. Mama sudah tahu semuanya. Kita bica

