Mentari belok ke sebuah g**g yang tidak terlalu besar. Mencari alternatif untuk segera sampai ke rumah dengan cepat. Jalanan di g**g sangat sepi, semilir angin benar-benar terasa dingin di kulit Mentari. Sepanjang jalan, Mentari memegang medali yang dikalungkan di lehernya. Dia masih tidak percaya dan tidak menyangka akan berada di tahap sejauh ini. "Halo, manis! Sendirian aja? Pulang sekolah, ya?" Tiga orang laki-laki dengan pakaian seperti preman-preman, lengkap dengan anting hitam di telinga tiba-tiba saja muncul menghadang jalan Mentari. Mentari terkejut bukan main. Dia mundur, tapi sayangnya dikepung oleh preman-preman itu. Mentari melihat sekeliling g**g yang sepi. Mentari beberapa kali pernah melewati g**g ini dan tidak pernah terjadi apa-apa. Meski Mentari tahu g**g ini memang se

