Bab 5

1217 Words
Jati Junior Firmut Mas Il @ilhami plng dr KL bwain cokelat yg banyakkk ya. .... Rancan Hemm. Kang pajak kumat. Firmut Ih, gak papa duong. Dincan Ntar bagi 2 ya, Fir. Firmut Siap! Ntar Mbak Ran gak dikasih biar ngiler. Rancan Gak pngin. Buldep jg ke sn. Firmut Ikuttt! ... ... Rancan *stikergarukpantat* Firmut Ish! *stikerlinekorektanah* Randugila Minyak, Gan! Firmut Mas @randugila nimbrung aja! Jualan minyak di pasar sono. Randugila @firmut Firmut ... ... ... ... ... Azam menggeleng melihat tingkah laku absurd para sepupunya. Bagaimana tidak absurd, jika mereka ramai di grup padahal mereka duduk berhadapan? Kecuali Ilham. Pria itu memang sedang berada di negara tetangga. Dasar orang-orang aneh. Ponselnya terus berbunyi karena ramainya obrolan di grup tetapi Azam tak berniat bergabung. Matanya bergerak menyapu Choklat Kalsik—kafe khusus cokelat di pinggiran sungai Bango. Saat itulah, ia menangkap sosok yang ia kenal karena beberapa kali bertemu. Matanya menyipit memfokuskan penglihatan, mengamati semua gerak-gerik sosok itu lama kemudian ia menoleh ke sampingnya. Ia menatap lekat satu objek tersebut sampai otak Azam memahami satu hal. Pria beralis tebal itu melangkah mendekati sosok yang ia kenal tersebut. Ia menepuk bahunya ringan hingga orang tersebut menoleh. Sosok di depannya berdiri menyalami Azam. “Mas ap ....” Ucapan Sony terputus. Dirinya terhuyung ke belakang hingga menabrak kursi kosong. Tinju melayang di rahang Sony tanpa tedneg aling-aling. Pukulan itu membuat kepala Sony pusing dan telinganya berdenging. Belum sempat ia membenarkan posisi berdirinya, perut Sony kembali terkena hantaman sampai ia terbungkuk. Ia memejamkan mata sembari menggeleng guna melenyapkan pusing yang mendera. Suasana tenang kafe mendadak riuh akibat keributan yang ditimbulkan Azam. Wanita di samping Azam menjerit saat pria itu melayangkan pukulan ke wajah Sony yang ia bantu berdiri. Bara api dalam d**a Azam meledak ketika tahu penyebab Firli menangis beberapa hari lalu. Saat ia bersiap memberi pukulan untuk Sony lagi, saat itulah tubuhnya didekap dari belakang lalu ditarik mundur menjauh. “Mas, udah!” teriak Firli berusaha menenangkan Azam dalam dekapan Randu. “Lepas, Ran!” Azam meronta. Ia marah karena Sony mempermainkan Firli. Ia tidak suka melihat Firli mengeluarkan air mata. “Jangan, Mas Ran.” Firli terus mendorong dua pria tersebut menjauh dari tempat kejadian. Setelah dirasa jauh—tepatnya di pelataran parkir—Firli minta Randu melepaskan Azam setelah membuat pria itu berjanji untuk tidak masuk ke kafe lagi dan menghajar Sony. “Mas bikin malu aja!” sembur Firli dengan nada tinggi setelah Randu kembali ke dalam membayar pesanan mereka. “Apa maksudnya tadi main pukul Sony? Kalau dia lapor polisi, gimana? Mas cari gara-gara aja, deh. Mikir dulu sebelum bertindak!” kecam Firli berapiapi. Ia tidak tahu alasan Azam bertindak brutal dan anarkis seperti tadi. Azam bergeming. Ia mondar-mandir berkacak pinggang sembari menenangkan napasnya yang menderu dan kobaran amarahnya. “Dia kan yang bikin kamu nangis waktu itu? Dia perlu dikasih pelajaran biar nggak main-main sama perasaan cewek,” teriaknya. “Ya tapi nggak perlu main tonjok gitu, Mas! Bisa panjang urusannya.” Suara Firli tak kalah keras, membuat Azam menatapnya tajam. Azam tak berpikir sejauh itu. Ia terbawa emosi saat melihat Sony bermesraan dengan wanita lain padahal yang ia tahu Firli dan Sony tengah menjalin hubungan. Azam sedang berusaha mengendalikan emosinya kala matanya tak lepas memindai paras Firli yang merah padam karena marah. Napas Firli pun tampak naik-turun setelah memakinya dengan nada tinggi. Shit! umpat Azam dalam hati kala otak kurang ajarnya mulai mengirimkan sinyal ke mata untuk memperhatikan bagian depan tubuh Firli yang bergerak cepat. Terlebih lagi dengan tidak sopannya, Azam mengingat pelukan Firli dua hari lalu. Double s**t! Sejak kapan otaknya kurang ajar dan tidak tahu keadaan? Berengsek! Udara sejuk berembus dari hutan bambu di samping kafe tak mampu mendinginkan panas yang menjalari tubuh Azam. Ia kebingungan kemudian memutuskan berlalu dari hadapan Firli yang mengomel kepadanya, tetapi tak mampu ia cerna sama sekali. “Mas, denger aku ngomong nggak, sih?” Firli menahan lengan Azam saat pria itu bergerak meninggalkannya. “Hmm.” Azam tetap berjalan ke mobilnya setelah mengurai cekalan Firli di lengannya. Firli mengentakkan kaki melihat Azam meninggalkan dirinya. Ia menyusul masuk mobil sewaktu Azam menyandarkan tubuh di jok empuk hitam berbalut kulit imitasi. Ia menutup pintu mobil Jazz biru tersebut dengan kencang membuat Azam membuka mata. Ia menjauhkan kepala dari sandaran kursi. Pria berkaus marun itu mengerang lirih karena frustrasi mendapati Firli di sampingnya tengah berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah Azam. Mengapa pula ia ini harus menyusulnya? Padahal tujuan Azam meninggalkan Firli untuk menenangkan reaksi gila tubuhnya terhadap Firli, perempuan yang membuat Azam kepanasan. Firli baru akan menyembur Azam saat mulutnya ditutup dengan telapak tangan besar dan hangat milik Azam. “Cukup ngomelnya, kepala Mas pusing. Kamu pulang atau nginep di rumah?” Azam menarik tangannya kemudian mengambil rokok di saku. Ia menyalakannya setelah membuka pintu di sisinya. “Ngineplah!” jawab Firli ketus. Ia masih kesal dengan Azam yang terlihat santai saja. “Tapi, besok anterin kerja sama pulangnya jemput.” Azam menoleh setelah membuang rokoknya, lalu keluar dari mobil sejenak untuk menginjak putung rokok di tanah. “Minta Randu aja, Mas besok mau ke Panjen. Kalau nggak, minta Ranti atau Dinda gitu.” “Kok gitu, sih?” Belum sempat Azam menjawab, Randu, Dinda, dan Ranti masuk. Mereka bersahutan bertanya alasan Azam memukul atasan Firli. “Dia bikin masalah apa, Mas, kok kamu pukul gitu?” tanya Ranti. Azam tak langsung menjawab. Ia konsentrasi mengeluarkan mobil dari area parkir sebelum bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya menuju daerah Sawojajar. “Nggak ada. Njajal ilmu aja,” sahut Azam asal. Randu dan dua saudara lainnya saling pandang dengan raut tak percaya. “Nyoba ilmu? Ilmu dari Bireun!” ujar mereka berbarengan diiringi ledakan tawa. Azam tak menanggapi ledekan saudaranya. Ia fokus melajukan mobil menuju rumah. *** Azam terus-menerus menghela napas panjang sejak memasuki studio empat cinema XXI di pusat perbelanjaan Araya. Bagaimana tidak jika dirinya mendapat tugas dari neneknya untuk mengawal tiga dara centil ini? Bila hanya mengawal, sebenarnya Azam tidak keberatan. Yang menjadi masalah saat Firli berhasil mengompori Dinda dan Ranti untuk melihat film kartun yang sedang viral, Frozen 2 dengan tiket yang dibebankan padanya. Apes. “Kalian masuk saja. Mas tunggu di food court.” Firli menarik tangan Azam mengikuti mereka masuk. “Nggak bisa! Sayang tiketnya dan Mas wajib masuk sesuai perintah Yangti.” Haruskah? Ya ampun jika teman Azam tahu, pasti ia akan ditertawakan. Jika ia dalam posisi mengantarkan anaknya, tak jadi soal, tapi ini … perempuan-perempuan dewasa. “Mas ada janji sama temen. Kalian masuk aja,” elak Azam lagi seraya menarik tangannya dari cekalan Firli. “Nggak mau. Mas harus ikut. Iya kan, Mbak?” ujar Firli mencari dukungan dari dua saudarinya. Ranti dan Dinda mengangguk kuat. “Hadehhh! Kenapa harus Mas, sih? Kenapa nggak minta Randu, Ilham, atau Fatih aja?” Ketiga perempuan di sekeliling Azam saling berpandangan, tersenyum kecil, lalu berujar bersama penuh persekongkolan, “Karena Mas yang banyak duitnya.” Ketiganya terbahak. Azam pasrah diseret masuk. Di dalam ia pun duduk di antara Dinda dan Firli. Apes, pikirnya mulai menyimak tayangan animasi tersebut. “Makasih, Mas,” bisik Firli kemudian ia melabuhkan kecupan singkat di pipi kiri Azam. Pria itu kaget. Refleks menoleh sambil memegangi bekas kecupan Firli. Apa dirinya sedang dirayu? Oh, Tuhan. Azam harap otaknya tak lagi meracuni dirinya seperti sebelum-sebelumnya. Kalau tidak, gawat jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD