Bab 4

1187 Words
Embusan napas Firli terdengar berat sebelum turun dari motor. Ia memasuki gedung tingkat dua di depannya dengan merana. Meski tampak biasa saja, dalam hatinya, Firli menyimpan kekecewaan akan akhir hubungannya dengan Sony. Firli sadar tidak seharusnya ia kecewa sebab tak ada kata cinta di antara mereka. Namun, tetap saja ia merasa sakit jika berakhir seperti ini karena kedekatan mereka selama ini membuat Firli berharap bisa sampai ke jenjang lebih serius. “Apes ... apes. Gini amir rasanya di-PHP.” Setelah mengembuskan napas kecewa, Firli bergegas masuk sebelum sifnya dimulai. Namun, baru beberapa langkah ponselnya berdering nyaring. Firli segera menggeser tombol angkat. “Ya, Mas Zam?” jawabnya sembari berjalan ke gedung tempat kerjanya. “Bulik diminta ke rumah.” “Kenapa Bude nggak telepon Mama aja? Aku lagi di kantor.” Ia melepas sling bag-nya. Firli membuka loker dengan satu tangannya yang bebas. “Mama lagi makan, kukira kamu libur. Yo wes, engkok ben ditelepon Mama.[1] Oh ya, kata Mama, kamu nanti sekalian ikut ke rumah.” Azam kemudian memutus telepon. Ia berdecak kecil. “Ish. Kebiasaan banget ini orang main tutup. Kayak ngomong sama setan aja, tetiba nongol tetiba ngilang.” Ia pun bersiap ke depan untuk pergantian sif. Namun, baru beberapa langkah dari loker, Firli berpapasan dengan Sony. Pria itu juga terkejut, mungkin tak mengira akan bertemu dengannya. Senyum lebar Sony yang biasa terlihat saat berpapasan dengannya berganti senyum canggung. Tak dimungkiri, hatinya terluka, tapi Firli berusaha bersikap seperti biasa. Ia tersenyum dan menyapa pria yang pernah dekat dengannya selama beberapa bulan ini. “Pagi, Pak,” ujarnya dengan wajah ceria. Sony tertegun dengan sikap Firli yang tak tampak menyimpan amarah untuknya. Padahal, dirinya sangat jahat kepada perempuan itu sebab sudah memberi harapan palsu. Sesungguhnya ia malu berhadapan dengan Firli tapi Sony tahu hal seperti ini tidak mungkin bisa dihindari. Ia berdeham, meredakan gugup karena rasa bersalah yang menyusup. “Pagi, Fir. Aku ....” “Saya ke depan dulu, Pak, sif saya sudah dimulai. Permisi.” Setelah menunduk hormat, Firli berlalu dari hadapan pria tersebut. Ia tersenyum kecut ketika kekecewaan mendominasi perasaannya lagi. *** "Budeee!” teriak Firli dari motor yang baru saja ia matikan tepat di belakang mobil biru Azam. Azam baru saja menutup pintu mobil. Ia menumpukan satu tangan di atap mobil, lalu menggeleng-geleng sembari mengembuskan napas panjang. Ada ya perempuan seperti sepupunya itu. Tidak ada jaim-jaim-nya sama sekali. “Cewe kok teriak-teriak. Minta diiket itu mulut. Kalah speaker masjid sama teriakanmu, Fir.” Azam melangkah mendekati Firli. “Buruan turun! Kebiasaan naruh motor asal gini.” Ia mendorong maju motor Firli sejajar dengan mobilnya setelah perempuan itu turun. “Sengaja, kok. Biar hati Mas denger suaraku terus. Eakkk!” Azam menatap tak percaya pada Firli. Dirinya sedang digombali? “Elaah, si bocah lagi ngegombal.” “Bocah-bocah gini bisa bikin anak, lho.” Satu alis Azam naik. Dahinya berkerut menatap Firli. Aneh. Punggung tangannya memegang kening sepupunya. “Nggak panas, tapi otakmu kok ngeres[2], Fir? Kesambet di mana tiba-tiba jadi kang gombal? Mas lagi yang digombalin. Pasti ada maunya ini. Mas hafal banget. Mau minta ap ....” Kalimat Azam menggantung saat Firli menghambur memeluknya. Ia rasakan tautan tangan Firli di punggungnya begitu erat hingga tubuh mereka menempel rekat. Isakan samar pun terdengar. Tubuh Firli bergetar. Kemeja abu-abu yang ia kenakan basah. Azam bingung, mengapa tiba-tiba si cuek bersedih bahkan menangis. Tidak biasanya. Azam memilih diam. Ia mengusap punggung Firli dengan lembut. Sesekali ia membelai kepalanya. Ia memberi waktu untuk perempuan ceria itu mengeluarkan tangisannya hingga benar-benar lega. “Udah?” Anggukan samar dalam dekapannya membuat Azam mendorong lembut badan Firli tetapi tak berhasil sebab ia tak ingin lepas. “Biar gini dulu,” pinta Firli dengan suara serak. Ia semakin merapatkan tubuhnya. Harum kolonye Azam bercampur keringat membuatnya tenang. Ah, jadi ingat sewaktu kecil ... ralat, selama ini ia selalu begitu. Firli akan mencari Azam jika dia sedih. Hanya pada pria ini ia tidak malu untuk menangis dan terlihat rapuh. Berbeda dengan Firli yang tampak nyaman, Azam mati-matian menahan reaksi tubuhnya yang mendadak kegerahan. Bagaimana tidak gerah jika ia ada tekanan lembut di dadanya? Dekapan Firli terlalu erat dan itu sangat menyiksa Azam. Bukannya berpikiran kotor atau tidak mengerti suasana, hanya saja ia pria normal yang bisa terpancing jika ditempeli erat seperti lintah begini. Karena itu, dia mencoba menjauhkan tubuh mereka guna menenangkan tubuhya sendiri, terutama bagian paling vital. “Lepas dulu, Fir. Kamu bisa cerita sambil duduk.” Firli mendongak menatapnya dengan wajah merengut, lalu melepas pelukan dengan kasar. “Mas, ih! Aku lagi sedih, lho. Masa dipeluk aja nggak mau. Takut ketahuan Mbak Tita, ya? Masa sama adek sendiri cemburu,” sungutnya sambil mengusap lelehan air mata yang kembali turun karena kesal Azam tidak mau peluk, bukan lagi karena rasa kecewa terhadap Sony. Azam menghela napas panjang. Ia menggaruk kasar kepalanya padahal tidak gatal. “Mas bukannya nggak mau, Fir, tapi ....” “Tapi apa?!” potong Firli marah. “Orang Mbak Tita juga nggak ada, kok.” Azam menarik napas kembali. Firli ini bodoh atau bagaimana, sih? Ia menggaruk kepalanya lagi. Azam mencoba mencari kata-kata yang mudah dipahami Firli. Meskipun sudah berusia 24 tahun, untuk mencerna hal-hal semacam itu, Firli sedikit lambat. “Bukan masalah ada Tita atau nggak, tapi kalau kamu ndusel[3] gitu terus Mas lama-lama ya bangun, Fir. Kasihan Mas, dong.” Tangisan Firli akhirnya mereda. Keningnya mengernyit, mencerna omongan Azam. “Bangun? Kan dari tadi juga bangun. Nggak nyambung, ih.” “Ya Allah. Bukan itu, Fir, maksud Mas.” Azam gemas sendiri. Bagaimana ia bisa memberi tahu maksudnya? “Pokoknya jangan main peluk ke cowok kayak gitu, bahaya kalau ada yang bangun. Untung Mas, kalau cowok lain? Pokoknya bahaya, deh.” Firli tambah bingung dengan omongan tidak jelas Azam. “Ih, Mas tuh ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti ini. Lagian ya aku tuh nggak main peluk. Cuma ke Mas aja. Sama Mas Randu dan Mas Ilham nggak, kok,” bantahnya. Ia mengusap bekas air mata dengan tisu basah yang ia bawa. Kan? Soal begini, Firli sangat polos, cenderung bodoh untuk mengerti. “Hemmm.” Azam melewati Firli dan akan masuk ke rumah, tetapi tangannya ditahan Firli. Ia menoleh dengan tatapan bertanya. “Hehehe. Beliin bakso, ya? Laper, Mas, abis nangis.” “Ya Allah, bocah iki!” seru Azam spontan. “Kamu kan ada uang sendiri, Fir, masih aja malak. Terus gajimu buat apa? Dilaminating?” Azam kembali berjalan meninggalkan Firli, tapi kemejanya ditarik kuat. “Iyalah. Biar awet gitu.” “Hadoh! Mas nggak mau. Beli pakai uangmu sendiri. Mas belum gajian ini.” “Dih, pelitnya. Ya, Mas, ya? Iya gitu, lho. Beneran laper ini aku. Nggak kasihan ta, Mas?” Firli memasang wajah memelas untuk meluluskan permohonannya. “Ya wes, buruan panggil baksonya.” Selalu seperti ini bila berhadapan dengan Firli, ia pasti akan mengabulkan permintaannya. Kadang Azam heran kenapa ia semudah itu luluh dengan apa pun yang diminta Firli. Pantas saja jika ada apa-apa, Firli yang selalu disuruh menghadap dirinya oleh sepupu-sepupunya. Firli girang bukan main. Salah satu hal yang ia suka dari Azam, pria itu akan mengabulkan permintaannya. “Yeyyy! Bakso, cilok, cireng, ayem kaminggg!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD