3

1062 Words
"Assalamualaikum. Calon mantu datangg!" Keluarga kecil yang sedang duduk mengitari meja oval berukuran sedang itu saling pandang. Mereka menoleh ke pintu menunggu si empu pemilik teriakan. Tak lama Randu—pria berkulit kecokelatan—berjalan cepat menghampiri tiga orang dewasa tersebut. Ia dengan percaya diri tingkat dewa memamerkan senyum mautnya. Ia lalu menarik kursi di samping Firli. Tak lupa mengambil piring kemudian mulai mengisinya tanpa malu. "Teriak-teriak aja kamu itu, Ran, dikira kampung nenekmu apa," omel Rina akan kelakuan Randu. Keponakannya itu tingkah lakunya hampir mirip dengan Firli, mengucapkan salam dengan keras tetapi belum sampai di pintu. "Iya ini. Mulutnya minta dicabein, Ma, biar nggak teriak-teriak aja," sahut Firli yang seakan tidak sadar jika dirinya sama seperti Randu. Randu cengengesan mendapat omelan Rina serta Firli, sebab mamanya pun tak jauh beda. Jadi dirinya sudah kebal. "Ntar kalo diam aja dikira bisu. Repot musuh knalpot ini," ujarnya sembari menyuapkan nasi tumis sawi dan tahu. Bola mata cokelat itu bergerak memperhatikan gadis tinggi di sebalahnya. "Ya tapi itu mulut dikondisikan dong," balas Firli akan elakkan Randu. "Gitu kok ngatain aku MSA. Orang Mas gurunya." Tangannya kembali menyuapkan sendok penuh sayur ke mulut. "Heleh, calon suami datang bukannya dikasih senyum malah diomeli." Randu memasang wajah sedih agar mendapat simpati dari Firli juga Rina, tetapi sepertinya dua wanita beda usia itu menanggapinya dengan cibiran. Gadis berkaus longgar warna navy dipadu celana jeans selutut yang asyik makan tempe goreng melirik pria di sampingnya dengan sinis. "Ogah banget jadi istri Mas Ran sakit hati yang ada. Mas Ran, kan setia. Setiap tikungan ada."  "Oh ya, Fir, MSA itu apa?" sela Hamdan dan Rina bersamaan karena ingin tahu arti dari julukan yang Firli berikan untuk Randu. "Manusia seribu alasan, pinter ngeles gitu," terang Firli cepat. Setelah paham Rina mengangguk lalu membereskan peralatan kotor bekas makan, membawanya ke dapur. Hamdan sendiri pamit berangkat kerja karena sudah ditelepon customer yang akan dibuatkan kitchen set oleh team-nya. "Hati-hati, Om." Setelah itu ia menoleh ke arah Firli. "Kamu nggak kerja?" Setelah mendapat gelengan dari Firli, ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih, kemudian meneguknya hingga setengah. "Libur. Eh, Mas Ran, ke sini ada perlu apa?" Firli mengganti posisinya menghadap Randu yang tengah menghabiskan telur dadar yang baru saja ia ambil. Sesaat Randu terdiam dari mengunyah, seringai kecil tercipta samar sebelum memberi jawaban untuk sepupunya ini. Pelan namun pasti, Randu menoleh dengan tangan masih memegang sendok. "Ngajakin kamu ke KUA." Seketika atmosfir di sekitar meja makan membeku, tetapi berbanding terbalik dengan yang dirasakan Firli. Pipi yang awalnya cerah sekarang menggelap dan menghangat yang tersapu warna mawar pekat dan menjalar ke seluruh parasnya. Lidah Firli pun terdiam tak bergerak, seolah cacing yang dibekukan di frezeer. Otaknya mendadak kosong, bagai bejana air yang tumpah tak bersisa. Firli bahkan tak mampu membalas ucapan Randu seperti biasa, ia benar-benar seperti patung yang hanya bisa melihat tanpa bisa berbicara. Tatapan Randu juga tak teralihkan lekat menembus pekatnya warna cokelat bola mata Firli. Secara perlahan tangan kanan Randu merayap menyentuh pipi kanan halus Firli. Jari-jarinya menyusup di antara kelembutan rambut halus dan menarik pelan kepala Firli hingga dekat dengan bibir Randu. Bola mata Firli terbuka lebar namun tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Ya ampun, haruskah ciuman pertamaku dengan Mas Randu? Mata Firli terpejam kala embusan napas hangat Randu makin terasa, dan bibir Randu yang Firli tebak semakin dekat, dan.... "Ngarep banget Mas cium, ya, Dek." Sontak kelopak mata Firli terbuka. Rupanya merah karena malu dan kesal. "Hahahaha...," teriak Randu tepat di telinga Firli sampai secara refleks gadis di depannya itu mendorongnya kuat dan membuat ia terjungkal ke lantai.  "Mampus!" Firli berdiri, menghampiri dan memukul-mukulkan sendok sayur yang ia ambil dengan spontan. "Nih. Ini. Rasain. Ngerjain orang nggak kira-kira." Firli memukulkan dengan sekuat tenaga dan membuat Randu kesakitan. "Adaww! Dek, ampun. Ampun!" pekiknya yang terus menerima pukulan dari benda ringan itu, tetapi jika dipukulkan ya sakit juga. Sialnya lagi, ia belum sempat memghindar dari serangan brutal Firli. "Ampun woiii! Ampun." Melihat Randu meringis kesakitan, Firli menghentikan pukulannya. Ia berdiri, berkacak pinggang sembari mengatur napas tersengalnya. Randu pun berdiri, mengusap bagian-bagian tubuhnya yang terkena pukulan. "Gila, ya, Dek, bar-bar banget kamu," ujarnya seraya duduk di kursi sampingnya. "Badan aja tipis, tenanga banteng ternyata." "Rasain! Suruh siapa ngerjai aku." Firli menuang air putih di gelas. Meneguknya hingga benar-benar tandas sampai titik terakhir. Pria berambut cepak dan berkemeja abu-abu dengan celana bahan hitam panjang itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Benda itu telah menunjukkan pukul delapan lewat, artinya jika ia tak segera berangkat, bisa terlambat sampai di kantor dan mendapat teguran dari atasannya. Randu berdiri, mendekat ke Firli yang berdiri sambil bersedekap dengan tatapan tajam terarahnya. "Tapi nggak apa juga kalo mau jadi istri Mas, Fir." Setelah berkata demikian, Randu secepat kilat berlari keluar sebelum mendapat tamparan berupa sendok nasi. "Mas Randuuu!" *** "Heleh, jagain jodoh orang ternyata," gumam Firli sesaat setelah membaca kertas tebal merah hati bertuliskan nama Soni dan pasangannya. Dita menatap Firli iba. Pasalnya yang ia tahu Firli dan Soni menjalin hubungan cukup dekat, meskipun dari cerita temannya itu Soni belum mengatakan perasaan kepada Firli. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya lembut. Tangan kecilnya mengusap lengan Firli naik turun. Gadis bermata sipit tersebut menoleh ke samping karena kaget usapan di lengannya. Alisnya terangkat heran melihat wajah sedih Dita. "Kamu kenapa, Ta? Kok sedih gitu. Lagi ada masalah?" tanya Firli balik dengan mengipas-ngipaskan undangan pernikahan Soni untuk mengusir gerah yang mendera. Kening gadis kecil itu berkerut dalam melihat reaksi Firli yang tampak biasa saja. Tak ada gurat luka karena hubungannya berakhir tidak sesuai harapan. "Kamu nggak apa-apa?" ulangnya. "Hah? Emang aku kenapa? Perasaan aku baik-baik aja deh." "Kamu nggak sedih? Sakit hati atau gimana gitu baca undangan dari dia." "Lah kenapa sedih? Kita nggak ada hubungan apa-apa selain jalan bareng. Iya, sih, deket tapi belum ada omongan cinta mau gimana? Marah-marah sama nangis? Ogah banget. Anggap aja kemarin lagi jagain jodoh orang gitu," ujarnya biasa saja. Dita melongo mendengar kata-kata Firli yang santai begitu. Kalau dirinya pasti sudah menangis kencang. "Kesambet apaan, sih, tumben bener gitu. Biasanya aja ngegas kalo ada salah omong dikit." Dita beranjak menutup pintu loker dan menguncinya. Ia bersiap pulang karena jam kerjanya sudah habis. "Nggak kesambet tapi emang lagi bener aja aku." Dita mengangkat dua tangan di depan wajah. Ia mengucap syukur. "Alhamdulillah, ya, Allah, nggak jadi punya teman gila. Aamiin." "Hemmm." Firli melirik sinis persis emoticon di w******p membuat Dita tertawa geli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD