Arang yang masih menyala tersebar-sebar ke berbagai arah— membuat si jago merah itu sedikit demi sedikit melahap habis ranting, dahan dan dedaunan di sekitarnya.
Beberapa ekor hewan pemakan daging mengerikan berhasil terkena sambarannya, ada yang langsung hangus terbakar dan ada juga yang masih berusaha melepaskan jeratannya. Semua berlari tunggang langgang karena hal itu, berhamburan, menolong diri masing-masing.
Kawanan kami yang terlepas dari jeratan api, melihat bagaimana kawanan liar itu berharap bisa hidup lebih lama lagi. Sangat mengerikan.
“Semuanya ayo lari dari sini!!” entah seruan dari mana asalnya, berhasil membuatku tersadar kini, dan langsung menggapai beberapa tanaman rambat untuk ku jadikan tumpuan.
Berjalan tertatih, sedikit demi sedikit untuk menjauh dari kekacauan karena api. Beberapa pertempuran dengan kawanan liar juga tak bisa Foxioz hindari, ada yang masih berduel dan ada juga yang berada di ujung maut.
“Chio!” teriakku. Rubah gembul yang moncongnya kini penuh dengan darah itu tengah terpojokkan dengan dua kawanan liar di depannya. Giginya itu ku yakin baru saja mencabik leher salah satu temen mereka dan membuat dua lainnya menyerang rubah gembul itu.
“Chio!!” sekuat tenaga aku berlari lalu menubruk dengan keras badan salah satu dari mereka dan berhasil membuat keduanya terperosok bersamaan.
Tak lama keduanya bangkit, sekarang menggeram ganas ke arahku, ternyata mereka adalah hyena. Kawanan liar yang mengganggu ketenangan kawanan kami.
“Starly! Menjauh!!” teriak Chio kini bangkit menghadang hyena yang siap menerkam ku.
Pelan-pelan aku mundur, jantungku berdegup sangat kencang, untuk pertama kalinya aku mendapatkan tatapan mengerikan dari kawanan liar itu. Mereka terlihat mengerikan, di sekitar moncongnya dipenuhi liur yang berjatuhan. Mereka lapar, dan kami bukanlah kawanan yang tepat untuk mereka jadikan mangsa.
Chio mengamuk saat salah satu dari mereka ingin mengejar ku, dengan gerakan lincah dan cepat, tungkainya berhasil menahan pergerakan satu hyena, hyena itu terjatuh, lalu terguling meringis sakit karena tubuhnya berbenturan dengan batu yang lumayan besar. Di saat hyena itu sedang menahan sakit, di sanalah Chio mengambil kesempatan, tak menyia-nyiakan hal itu, Chio berlari menerjang tubuh hyena itu, hingga terkulai lemas dan mencabik tubuhnya hingga tewas.
Brugh!!
Fokus melihat pergelutan Chio itu sampai tak sadar salah satunya kini menerjang ku, dan membuat kita terperosok bersamaan, aku yang tak bisa bergerak banyak karena ekor yang terbakar dan lutut yang masih mengeluarkan darah benar-benar terkunci, berusaha keluar dari kukungan hyena yang satu lagi. Tubuhnya lebih kecil dari hyena yang telah tewas itu, namun dia lebih cepat pergerakannya.
“Pergilah, aakhhh!”
Chio menubruknya hingga dia terpental, menjauh dari tubuhku. Aku berhasil terlepas dari kukungan itu namun menghasilkan goresan yang cukup besar di tungkai ku, kuku hyena itu yang membuatnya. Darahnya mengalir banyak.
“Ku mohon keluar dari tempat ini Starly, berlari lah menjauh!!” teriak Chio membuatku bergetar ketakutan.
“Kita bisa lawan bersama!”
“Enggak, kamu bisa semakin parah kalau bertarung!” Chio menggiring tubuhku agar menjauh dari arena pertempurannya dengan hyena itu. Sementara si hyena sedang tertatih, mencoba bangkit sambil meringis, menahan sakit.
“Aku bisa membantumu.”
“Tidak perlu! Pergilah! Cepat pergi, tempat ini akan segera terbakar, setidaknya kamu sudah menjauh dari tempat ini, kawanan lain sudah meninggalkan tempat ini, tolong jangan membuat yang lain kesusahan!”
Chio terlihat sangat gusar saat memintaku pergi, dan dia benar, tak banyak menolong dan hanya membuat rubah lain kesusahan sepertinya sudah melekat dalam diriku. Aku memutuskan untuk berlari menjauh.
Pohon kembar mahoni.
Ryan memintaku untuk pergi ke arah air terjun, katanya ia akan menjemput ku di sana— di pohon kembar mahoni.
Air mataku tiba-tiba saja terjatuh, rasanya nyeri dan sakit sekali, ekorku yang sedikit terbakar juga sekarang terasa berdenyut. Ini sakit sekali. Darah dan goresan kecil tak ku hiraukan, dengan susah payah aku menggapai benda apapun untuk ku jadikan tumpuan. Perlahan, sedikit demi sedikit aku menggapai apapun sebelum akhirnya terpincang-pincang tanpa pegangan menuju jalan ke arah air terjun.
Beruntung saja bulan kini begitu terang hingga dapat memberikan akses lebih mudah menemukan jalan. Namun keuntungan itu nyatanya memberikan akses juga pada makhluk lain untuk mengincar mangsa lemah yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya. Dan dengan terangnya bulan yang ku dapati kini bisa kurasakan tatapan incar makhluk hidup lain padaku.
Api yang berkobar di rumah kami semakin mengecil, entah karena aku yang sudah sangat jauh atau kobarannya memang sudah akan padam(?) Entah aku tak tau apa yang sedang terjadi di sana.
Tak lama berjalan menjauh dan penuh waspada akan sekitar, tiba-tiba saja dua hyena kudapatkan tengah berlari kencang ke arahku. Mereka datang dari belakang tubuhku, sontak membuat langkahku yang terpincang kini ku paksakan untuk bergerak lebih cepat.
Grrrrr!! Geramnya sangat mengerikan saat mereka sampai di dekatku.
Aku harus melawan, tidak ada jalan lain.
Karena mereka menghadang jalan.
Aku mengeram garang, tak ingin kubiarkan mereka melihatku payah dan ketakutan. Geraman ganas itu ku balas lebih tajam dan keras. Perut dan ekorku bergetar hebat.
Jujur saja aku ketakutan.
Hrrrr!! Dua hyena itu berpencar, mengambil dua arah di sisi kanan dan kiriku, bermaksud untuk membuatku tak fokus, ku ikuti tatapan salah satunya dari mereka, membuat hyena yang lain menerjang tubuhku di sisi yang tak waspada hingga membuatku tersungkur menubruk batang pohon.
Hantamannya sangat kuat, aku mendorongnya tak kalah kencang—
Ckh! Ranting tajam yang tak jauh dari dahan itu berhasil membuat hyena yang ku dorong tertusuk, dan langsung membuatnya tewas di tempat.
Takjub dengan apa yang baru saja kulakukan sampai aku lupa ada satu lagi yang harus dibasmi juga. Tapi dia terlebih dahulu mendorongku, membuat kita berdua terguling bersamaan masuk ke dalam semak belukar yang sangat rimbun.
Di sini hanya sedikit cahaya bulan yang bisa kami dapatkan. Namun insting bahaya sungguh bisa kurasakan. Makhluk itu tertatih sama halnya denganku, mencoba untuk bangkit dari rasa sakit, tapi aku tidak boleh menyerah begitu saja disini. Musuhku tinggal satu, akan ku selesaikan sekarang juga. Lalu pergi ke pohon mahoni kembar dan menunggu Ryan menjemput ku di sana.
Akh!!
Taring tajamnya menggigit leherku, hingga lagi-lagi membuat kita berdua berguling kesana kemari begitu riuh.
Tak ingin kalah, aku menggigit tungkai depannya dan membuatnya menjerit sangat keras. Jeritannya itu sukses membuatku melepaskan diri dari moncongnya tentu saja.
“Rasakan itu, kau pikir rubah tak memiliki taring tajam apa!!”
Dia kembali menggeram, aku pun tak ingin kalah, mengambil ancang-ancang yang sangat kuat aku berlari lalu menerjang tubuhnya.
Bugh!!
Meluncur bagai terjunan air kita berdua terperosok jauh dari semak belukar ke dataran miring ke tempat yang lebih rendah, daerah yang sedikit luas.
Dugh!!
Itu suara terakhir yang kudengar sebelum akhirnya dengungan panjang memenuhi indra pendengaranku.
Tabrakan pada pohon membuat kepalaku terbentur keras, rasa sakit di sekujur tubuhku seperti terangkat, semua rasa sakit naik berpusat di kepala, semuanya berputar tak bisa lagi ku kendalikan.
Menjatuhkan diri, kini dengungan di telinga sedikit memudar, yang kudengar hanya suara nafasku yang keluar tak beraturan, sampai aku lelah dan semuanya menjadi gelap.
Aku akan tidur sebentar.
“Ayah!!”
“Starly! Ada makanan enak ayah dapat di hutan, kamu mau?”
“Ayah! Ayah!” aku berhamburan memeluk ayah, menggesekkan pipiku ke lehernya. “Ayah tunggu disini jangan kemana-mana dulu, sebentar Starly mau panggil ibu.”
Aku melihat ayah, aku melihat ayahku.
“Tidak perlu panggil ibu sayang, ayah akan menjaga Starly di sana!” tunjuk ayah dengan moncongnya.
“Ibu bakalan seneng banget kalau ketemu ayah, tapi.”
“Tidak perlu sayang, ayah hanya ingin berdua dengan putri ayah, kita bermain setelah makan ya?”
Aku mengangguk riang. Menuruti permintaan ayah dan kita pun berjalan jauh keluar dari hutan langsung di sambut dengan taman bunga.
Padang rumput yang penuh dengan bunga kosmos. Banyak sekali dan warna-warni, aku baru melihat tempat seperti ini.
“Ayah ini dimana?” tanya ku menoleh pada ayah, namun ayah hanya diam, masih menuntut untuk melewati tanaman cantik ini.
Langkahku terhenti, seekor kupu-kupu cantik berwarna biru menarik atensi ku untuk fokus padanya, “ayah ada kupu-kupu!” seruku tapi ayah terus saja berjalan, “ayah mau kemana?”
“Ke pohon kembar mahoni, di dekat air terjun.”
Aku melotot kaget. Apa aku tidak salah dengar?
“Ayah mau kemana?!” aku mengejarnya, ayah berhenti kini menatapku, “ayah kenapa kita kesana?”
“Bukan kita, Starly yang harus kesana, pulanglah nak.”
“Ayah?”
“Apa kau Starly itu?” suara betina datang dari arah belakang membuat aku dan ayah menoleh bersamaan ke arahnya.
“Anda siapa?”
“Heizel, dia putriku, Starly,” kata ayah sedikit menundukkan kepalanya pada betina itu.
“Aku Heizel, istri pemimpin Gunn,” kata betina itu membuatku kaget.
“Ibunya Ryan?”
“Kau mengenal putraku?”
Aku mengangguk masih menatap takjub padanya, Ibu Ryan yang bernama Heizel itu sangat cantik.
“Kau sangat mirip dengan Violen, Starly.”
“Banyak yang mengatakan itu, padahal aku juga ayahnya,” ayah berucap seolah sedang merajuk, namun setelah mengatakan itu ayah tersenyum hangat menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku.
“Aku kenal dengan Ryan, kita ini mantan calon pengantin,” lapor ku lemas malah membuat dua orang itu terkikik.
“Iya, aku tidak bohong, suami anda- pemimpin Gunn, menjodohkan ku dengan putra anda, tapi, Ryan, dia tidak ingin bersamaku, dia menyukai gadis lain,” curhatku pada mereka. Hatiku terasa sesak kembali mengingat hal itu.
“Aku tidak akan memaksa.”
“Oh sayang, maafkan putraku ya, ingin sekali aku menggigit telinganya itu jika dia nakal padamu, kau sangat cantik Starly, tidak perlu sedih, bocah nakal itu sangat tidak beruntung jika tidak mendapatkan mu.”
Aku tersenyum miring mendengarnya, “nyonya Heizel, anda sangat baik, terimakasih, masalah Ryan aku hanya tidak ingin berharap banyak.”
“Putri ayah memang terbaik, Heizel aku akan mengantarkan putriku pulang. Apa ada yang ingin kau sampaikan padanya? Putriku ini turunan penari roh bintang, suaranya bisa di percaya oleh kawanan.”
Nyonya Heizel tersenyum hangat, “kita nanti akan bertemu lagi Starly, untuk sekarang aku hanya merindukan Mark dan Ryan saja.”
“Kurasa Ryan juga merindukan anda.”
“Benarkah? Bagaimana bisa, dia belum pernah melihatku sebelumnya.”
“Tapi aku tau dia merindukan anda.”
“Katakan pada Ryan, aku juga merindukannya.”
Aku mengangguk, sebelum akhirnya mengikuti ayah menuju terowongan yang sangat lembab— yang kanan kirinya berdinding akar pohon besar basah dan berlumut.
“Ayah, apa baru saja aku sedang menjadi bintang?”
“Kau selalu jadi bintangnya ayah, Starly.”
“Ayah, aku sangat rindu, ibu juga, Muggi juga merindukan ayah, bisakah ayah ikut denganku?”
“Starly … bintang ayah yang paling terang di bumi, Starly bersinar terang di sana dulu, kasih cahaya terang ke banyak orang. Jangan sedih dan takut, semuanya bakal baik-baik aja. Ayah sayang Starly, Ibu, dan Muggi. Selamat tinggal, sayang.”
“Ayah!!”
Seekor kupu-kupu biru yang kulihat di taman bunga tadi, hinggap di kening ayah, samar-samar aku mendengar ayah mengatakan, “aku sudah mengantarkannya pulang- “
“Ayah!!”
“Sayang, maaf untuk makan dan bermain bersama, hari ini ayah tidak bisa!”
“Ayah!!”
“Ingat pohon kembar mahoni!”
“Ayah!!”
“Salam rindu untuk istri ayah yaa!”
“Ayah!”
“Ayah ….”