09. Nana dan Kak Doy

1852 Words
Dengan pelan, kucoba untuk melebarkan mata. Cahaya putih tiba-tiba saja datang membuat mataku menyipit seketika. Membuka mata kembali namun cahaya itu lagi-lagi tak bisa membuat mataku terbuka, kuputuskan untuk terpejam saja beberapa detik sembari menggerakkan ekor pelan. Masih terasa perih, namun kondisi dan keadaan sekitar masih bisa kurasakan dengan ekor ini. Aku masih di dalam hutan, entah bermimpi atau apa, tapi aku teringat tentang taman bunga yang indah, bunga kosmos yang berwarna-warni, ada seekor kupu-kupu cantik berwarna biru, aku masih mengingatnya dengan jelas, lalu aku dan ayahku masuk ke dalam terowongan yang sisi-sisinya dari akar pohon. Di sana sangat dingin dan lembab, namun aku sadar itu semua hanya mimpi, tempat yang kurasakan sekarang adalah tempat terakhir kali yang ku ingat, aku bertarung dengan satu hiena di atas sana semalam, kemudian terperosok dan kepalaku terbentur dengan pohon besar. Itu nyata dan bukan mimpi, karena jujur saja kepalaku masih terasa pening. Cahaya silau yang membuat mataku terpejam itu kini dapat kurasakan hangatnya, burung yang bernyanyi di salah satu dahan pun dapat ku dengar suaranya, merdu dan tenang, tanda bahwa keadaan sekitar memang tak berbahaya seperti semalam. Sekiranya sudah cukup aman untuk berinteraksi dengan cahaya matahari, pelan-pelan kubuka mataku lagi. Dedaunan kering yang ku duduki kini terasa hangat juga, memindai sekitar kudapatkan benda besar yang sempat berbenturan dengan kepalaku. Ada bekas noda darah di sana yang ku yakin darah itu berasal dari tubuhku. Saat ku cari jejak kesakitan ternyata baik-baik saja, tak ada darah yang keluar kecuali lututku yang memang sebelum pertarungan dengan hiena terjadi luka itu sudah kudapatkan dari Ryan semalam, sementara kepalaku tak bocor atau pun luka. Lalu darah siapa ini? Memindai ke sisi yang lain ternyata noda darah itu berasal dari tubuh hiena yang kini terduduk kaku tak bisa bergerak, matanya terpejam, tubuhnya tertancap salah satu ranting tajam, darahnya menyebar kemana-mana termasuk batang pohon yang ku pindai pertama kali. Darah itu bukan berasal dari tubuhku tapi dari tubuh hiena dan aku tak tau bagaimana hiena itu bisa berakhir tragis seperti itu. Mengingat kejadian semalam bisa kubayangkan kronologis kejadiannya, dan banyak kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Aku dan hiena ini terperosok bersamaan dari arah sana. Ku torehkan kepalaku ke atas bukit tempat kami bertarung semalam, lalu terjun bersama menuju tempat ini. Bahkan jejak terjunan kami masih membekas di jalan itu, daun-daun yang menutup tanah di bukit itu kini membentuk aliran garis. Lalu, aku yang membentur batang pohon besar ini dan berhasil membuatku tak sadarkan diri. Sementara hiena ini mungkin saja saat terjatuh langsung tertancap ranting tajam atau bisa saja ada makhluk lain yang bertarung dengannya dan dia kalah. Aku hanya mengidikkan bahu saja, apapun yang terjadi, kurasa keberuntungan bintang sedang berpihak padaku. Aku menatap langit pagi yang kini sangat cerah. “Bintang, terima kasih.” Beruntung saja nasibku tidak berakhir seperti hiena itu. Tak ingin berlama-lama melihat hal mengerikan di depan mata, ku telusuri lagi keadaan hutan yang semakin aman. Tapi aku tak bisa jamin juga karena apapun bisa terjadi di tengah hutan. Dan apapun juga bisa terjadi pada hiena yang tewas itu. Namun rasa khawatirku semakin larut saat netraku menangkap sosok mungil berbulu putih yang dapat ku kenali identitasnya. “Nana?” panggilku yakin sekali bahwa itu Nana, teman yang ku ajak berkenalan saat membantunya melepaskan diri dari jeratan rumput liar. Dia benar Nana, Nana memiliki bulu putih seperti salju dan mata indah yang berwarna merah, walaupun semua kelinci putih terlihat sama, namun aku bisa mengenali Nana. Ekornya yang berbeda dari kelinci lainnya. Kakak Nana yang bernama Doy seingat ku memiliki ekor yang bulat lucu sementara milik Nana sedikit panjang dan ada tanda hitam di tungkai belakangnya. Apa itu seperti tanda lahir? Dia sangat manis dan aku bersyukur melihatnya kini. “Nana!” seruku lagi. Kelinci putih itu mengerjap, seperti terkejut ketika aku memanggilnya. Kulihat dia mengedipkan mata berkali-kali sangat menggemaskan. “Starly,” serunya, “kamu sudah sadar,” katanya lagi, “Starly, jangan bergerak du—” Aku bingung apa yang ingin dia katakan, tapi— “Akhh!!” Aku ingin mendekat ke tubuh Nana, namun kakiku terasa sakit sekali, baru bergerak sedikit saja, rasanya seperti akan patah. “Jangan bergerak dulu, kamu belum sembuh total,” kata Nana. “Nana, kakiku kenapa?” Nana melompat ke arahku, mulai mengamati dengan cermat, area sakit di lutut, “apa ini sakit?” tanya Nana menekan bagian yang merah. Aku meringis kecil, “hm, sakit, Na.” “Jangan bergerak dulu, aku baru panggil kakakku, Kak Doy, dia tau bagaimana cara sembuhin rubah yang sakit.” “Kamu tahu aku di sini?” Nana mengangguk, wajahnya terlihat khawatir, Nana menghawatirkan ku. “Jangan banyak bergerak dulu ya?” Aku mengangguk, mencoba menahan sedikit rasa sakitnya untuk berpindah ke tempat yang lebih teduh, bau anyir dari hiena yang tewas itu cukup membuat kepalaku pusing. Dan darahnya tersebar kemana-mana membuatku dan Nana tak nyaman. “Starly minum dulu.” Nana menyodorkan air yang sudah ia wadahi dengan tempurung. Aku menerima dan meneguknya hingga tandas. Rasanya haus sekali. “Terima kasih, Nana.” “Tidak papa, Nana ingin menolong Starly.” “Nana, terima kasih.” “Kenapa Starly bisa berakhir kayak gini?” Kelinci kecil ini lagi-lagi memeriksa keadaan kakiku, lalu ke daerah yang lain yang mungkin saja ada luka lain yang belum kurasakan perihnya. “Kemana calon suami Starly? Dia tidak bisa menjaga Starly, dia tidak melindungi Starly, lihat! Kaki Starly lukanya besar sekali” celoteh Nana, kelinci kecil ini ternyata lebih cerewet dari dugaanku. “Kejadiannya cukup panjang Nana, kamu semalam lihat kebakaran hutan?” “Ada suara ledakan juga,” respon kelinci itu membulatkan matanya. “Iya, ada bintang yang jatuh semalam, tebing tinggi yang membatasi rumah kami dan rumah hiena hancur, hiena keluar dari persembunyiannya, lalu membuat rumah kami hancur dan kebakaran. Ryan sedang bantu adik-adikku dan ibu ku, nanti dia akan menjemput ku, jadi aku harus ke air terjun Skavaz Na, Ryan mengatakan saat semuanya sudah beres di sana, dia akan menjemput ku di air terjun, di pohon kembar mahoni. Bantu aku sembuh ya?” Nana terlihat suram. Dia tiba-tiba saja murung. “Aku ingin bertemu keluargaku lagi, Na.” “Kayaknya bakal sedikit lama, Nana gak yakin kaki Starly bakal sembuh total. Sejak semalam Nana ingin bawa badan Starly pindah saja tidak bisa, bahkan kalau dibantu kak Doy sekalipun. Maaf, Nana ga bisa bantu banyak, padahal Starly sudah selamatkan nyawa Nana saat itu.” “Nana, Nana ga perlu sedih, segini saja sudah cukup buat bantu Aku, Air-nya juga terima kasih. Tidak papa Na, nanti kita cari cara lain, Kak Doy memangnya sedang di mana?” Nana yang sejak tadi menunduk, mendongakkan kepala mungilnya, “kak Doy sedang cari obat, untuk Starly. Kita berdua temukan Starly sebelum fajar tadi. Keadaan Starly sangat parah, Starly tidak bisa sadar-sadar, padahal kita berdua sudah coba buat bangunin. Nana takut Starly kenapa-kenapa. Pagi tadi saat matahari sudah terlihat sedikit kak Doy bilang, harus cari obat supaya Starly bisa bangun lagi. Starly masih bernapas saat itu. Kak Doy bergegas pergi buat cari obatnya." Aku menghela napas lega. “Kalian baik sekali.” Sungguh aku merasa bersyukur bisa bertemu dengan Nana dan kak Doy, mereka berdua selain lucu juga baik hatinya. “Starly juga rubah yang baik.” *** Menjelang sore, perutku sudah merasakan lapar dan kak Doy belum juga menampakkan dirinya. Sejak tadi hanya air saja yang masuk ke perutku, dan jujur saja, ini membuatku semakin lemas saja. Sakit di lututku belum hilang juga. Perutku sejak tadi berbunyi, Nana sengaja menjaga jarak dariku takut jika perutku terus berbunyi jika ia dekat. Dia beberapa kali bertanya apakah dia lezat? Dan aku hanya meresponnya dengan tawa kecil. Dari pada terus membuatku tertekan dengan lezat tubuhnya, Nana sengaja menjaga jarak dariku. “Starly, bagaimana caramu makan? Ini sudah malam, kamu gak akan makan aku kan?” Aku terkikik lagi mendengar pertanyaan Nana dengan pasrah, “aku gak akan makan Nana kok, tenang aja.” “Apa yang bisa aku bantu, Starly? Aku juga engga pengen jadi makan malam Starly, tapi kalau begini bisa-bisa—” Nana menunjukkan gigi kelincinya yang mungil sambil menggantung kalimatnya. Dia benar-benar lucu dan aku tak mungkin untuk menjadikannya makan malam, terlebih dialah yang membuatku bertahan hidup hingga kini. Aku sangat lapar sekarang, tapi kakiku masih belum sembuh total, jika memaksa untuk berburu itu sama saja dengan bunuh diri. “Nana? Kamu bisa manjat pohon?” “Aku cuman bisa lompat, tidak ada kelinci yang memanjat pohon.” “Kamu tidak mau coba buat manjat pohon?” “Memangnya di pohon ada apa? Selain kelinci apa rubah juga makan daun?” Aku kembali terkikik, Nana ada-ada saja. “Bukan, aku ingin minta bantuan.” “Bantuan apa? Nana bakal bantu Starly.” “Di atas pohon biasanya ada telur. Bisa tolong ambilkan satu biji telur?” “Rubah makan telur juga?” Aku mengangguk. “Ya, meskipun daging lebih lezat, tapi kami juga bisa makan telur.” “Tapi, Nana gak bisa naik pohon, bagaimana caranya?” Dan aku mulai bingung juga, tidak mungkin aku mengajari kelinci bagaimana cara memanjat, setiap hewan diberikan porsi tubuh sesuai kemampuan untuk kebutuhan mereka. Dan memanjat memang bukan ranah seekor kelinci. “Tapi, Starly ….” “Ya?” “Mesti telur kan?” Aku mengangguk. “Ada sih telur, tapi gak di atas pohon tapi di bawah pohon,” terlihat ragu-ragu saat Nana mengatakan itu. “Di bawah pohon? Telur apa?” “Ini bakal sedikit bahaya, karena pemilik telur itu juga mengincar aku dan kakakku.” “Telur ular?” tebak ku membelalak dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Nana. “Tidak usah yang itu, bahaya.” “Tapi kamu lapar, Starly.” “Gak papa nanti saja.” Tidak lama setelah itu, suara gemercik semak belukar menyadarkan kita berdua untuk siaga, takut-takut ada hal yang mengancam nyawa datang tiba-tiba. Nana yang berdiri siaga di samping tubuhku tiba-tiba saja melompat kecil ke sumber suara itu. “Na … Nana!” agak berbisik aku memanggilnya, namun dia tak takut dengan itu dan terus saja melompat sampai makhluk yang ada di balik semak itu muncul dan membuat tubuh yang awalnya menegang kini bisa ku lemaskan. Itu kakak Nana, Namanya kak Doy, mereka bertemu lalu melompat riang. “Kakak kenapa lama sekali,” keluh Nana mata bulatnya sekarang terlihat sedih. “Kakak bawa telur juga,” kata Kak Doy, memamerkan tas daun yang ada di balik punggungnya. Kak Doy melompat ke arahku, “kamu sudah sadar, Starly? Ini makan dulu, pasti kalian berdua lapar.” Aku mengangguk riang, “terimakasih banyak Kak, kakak baik sekali.” “Tidak papa, kamu sudah menolong Nana, ini sebagai tanda jasa kami, Nana ayo kamu juga makan!” Nana dan Kak Doy menyantap dua buah wortel segar, dan aku diberikan tiga buah telur yang dari bentuknya sepertinya aku kenal. “Kak Doy, gimana bisa?!” “Bisa apanya?” “Ini kan telur ular?!” Aku masih menatap takjub. Sementara kak Doy terbahak. “Kak, ini bahaya banget,” Nana ikut menimpali. “Kakak yakin, induk telur ini gak akan nyariin telurnya?” tanyaku. “Tadi ada pertarungan yang keren, sambil kakak bercerita, kita obati dulu kaki kamu ya, Starly.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD