Nana dan Kak Doy setelah membuat racikan obat untuk menyembuhkan luka, kini membantuku berjalan untuk berpindah tempat, ke daerah yang ternaungi dengan sempurna. Bukan hanya ternaungi dari terik dan hujan, juga dari bahaya sekitar.
Bau bangkai dari tubuh hiena yang tewas itu bisa memancing kawanan buas lainnya untuk datang dan itu bisa membahayakan untuk kita bertiga.
Kami memutuskan untuk berjalan mencari tempat yang lebih aman.
Hari mulai gelap, dan hutan pada malam hari bisa jadi lebih bahaya. Di langit masih menampakkan purnama walau tidak bulat sempurna, cukup untuk membantu kami mencari rute aman di malam hari saat berpindah tempat. Namun, bisa juga membantu kawanan lain yang lebih buas untuk memantau dan akhirnya mengincar kami.
Tak jauh dari area pertarungan ku dengan hiena semalam ada aliran sungai yang hulu aliran itu adalah air terjun tempat aku dan Ryan bermain di sana. Air terjun Skavaz. Ryan yang memberitahuku namanya.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan rubah itu, apa dia baik-baik saja? Ini sudah dua malam, apa yang terjadi di sana aku tak tau. Bisakah dia selamat? Bisakah dia menolong ibu? Apa dia juga terluka sepertiku?
Meskipun dia menyebalkan, tapi aku berharap dia mau menungguku di pohon kembar mahoni.
Tiba-tiba aku terpikirkan kembali dengan kejadian sebelum bintang jatuh terjadi. Malam itu aku sedang menari, dan Ryan yang ingin memberikan mahkota bunganya untuk Hyeni. Aku memarahinya dan membentaknya ketika dia menolong ekorku yang hampir terbakar. Salahku karena terlalu berlebihan. Bukankah kita sudah sama-sama setuju, kalau Ryan bebas untuk menandai betina yang dia cintai? Dan dia benar, itu urusannya untuk memberikan mahkota bunga pada siapa, salahku memang yang keliru mengartikan perhatiannya. Dan semuanya sudah jelas dan terjadi. Namun kali ini, bolehkan aku berharap dia akan datang untukku? Menolongku? Tidak untuk memastikan bahwa dia menyukaiku. Hanya karena janji yang harus dia tepati. Dia berkata akan menolong ibu lalu menjemput ku setelahnya. Hanya untuk memastikan dia selamat dan tidak terjadi apapun padanya.
“Teman-teman?” panggilku saat kaki kami telah sampai di goa kecil di dekat sungai, goa-nya tidak terlalu dalam, cukup untuk 3 ekor beruang madu berbadan besar atau 6 sampai 7 ekor rubah berukuran seperti Zayn dan Nath, tidak ada lubang lagi di dalamnya jadi aman-aman saja jika kita istirahat dan bermalam di sini.
Kakiku yang sakit pun kini terasa keram dan aku butuh istirahat sejenak. Hari sudah sangat larut, mata Nana yang mungil juga sudah beberapa kali mengerjap karena kantuk.
Sebelum benar-benar istirahat merebahkan tubuh, Nana langsung menyalakan api unggun, ranting dan dahan kering yang berada di sekitar goa kami jadikan alat pemanas tubuh dan cahaya sementara, kurasa persediaan ranting kering cukup sampai fajar datang kembali. Kak Doy yang mengangkut makanan dan obat-obatan kini menyiapkan dan membersihkan tempat. Aku dibiarkan tertidur dengan kaki yang masih dibalut obat-obatan.
“Teman-teman?” panggil ku sekali lagi saat mereka telah selesai dengan pekerjaan menyiapkan tempat untuk istirahat.
“Ada apa, Starly?” saut Kak Doy.
Aku menarik napas panjang. “Apa kalian tidak rindu rumah kalian? Ayah dan ibu kalian pasti sedang mencari.”
Teringat akan Ryan dan ibuku, membuatku terpikirkan tentang keadaan keluarga mereka juga. Aku sangat rindu dengan ibuku dan mungkin saja aku sedang dicari oleh mereka semua. Lalu bagaimana dengan dua kelinci mungil ini? Apa mereka tidak ingin pulang?
Kak Doy malah tersenyum kecil, “kita berdua sudah tidak punya keluarga, Starly.”
“Ayah dan Ibu sudah lama menghilang entah berada di mana sekarang, kita berdua hidup bebas dan berpindah-pindah, sudah tidak punya rumah dan kawanan, bertahan berdua dan saling menjaga satu sama lain, hanya sisa kita berdua, dan bertambah satu orang dengan Starly, sekarang kita jadi bertiga,” Kak Doy terlihat senang saat mengatakan itu. Tak ada raut kesedihan yang tergambar di wajahnya.
“Tapi, kak …,” potongku.
“Tapi apa?” Saut Kak Doy.
Aku tak tega jika harus mengatakan ini.
“Kak Doy,” panggil Nana.
“Iya, Na?”
Nana menghela berat, dia melompat kecil untuk duduk di dekatku, “Starly sudah ada yang menunggunya, dia sudah punya calon suami yang akan menjemputnya dan akan bertemu di air terjun Skavaz, di pohon kembar mahoni,” jelas Nana berhasil membuat raut wajah Kak Doy berubah sendu.
Kata-kata Nana membuat kak Doy murung seketika, dan aku menyadari bahwa dia kecewa.
“Tapi kak, kalian berdua kan bisa ikut bersamaku?” mencoba untuk membuat mereka senang malah membuat Kak Doy mengerutkan kening.
“Bersama rubah-rubah?” tanya Kak Doy sukses membuatku bungkam. Penawaran itu jelas akan merugikan mereka, dan aku tak tau kini harus berkata apa. Mereka telah membantu dan mengobati lukaku. Dan aku membuat mereka kecewa.
Suasana hangat yang kami rasakan sebelumnya tiba-tiba saja berubah dingin, hanya suara aliran sungai yang mengisi ketenangan malam ini.
Kepala kuangkat untuk melihat langit malam. Malam ini cukup mendung dan gemerlap cantik di langit sedang ditutupi awan keabuan.
“Aku bermimpi bertemu ayahku semalam, saat aku tak sadarkan diri aku mimpi bertemu ayah di taman bunga, dan di sana ada kupu-kupu cantik.”
Ceritaku membuat Nana ikut menoleh ke arah langit.
“Ayah mengatakan untuk menjaga ibu dan adikku, Muggi. Adik perempuanku. Semalam ada pertarungan hebat di kawanan kami, aku yang tergeletak tak sadarkan diri dan hiena yang mati karena tertancap ranting adalah hasil dari pertarungan semalam.”
“Keluarga Starly bagaimana?” Aku dan Nana bertatapan, pertanyaan itu ku balas senyuman kecil.
“Aku harus sembuh, lalu mencari mereka, ada yang menunggu ku di rumah, ada pesan ayahku untuk kembali ke kawanan. Maaf Kak Doy, aku gak bisa ikut berpetualang dengan kalian.”
Kak Doy yang awalnya duduk berjarak denganku kini melompat kecil agar bisa berdekatan dan saling membagi hangat satu sama lain.
Cuaca mendung dan hawa dingin yang mencengkam perlahan memudar dan digantikan dengan hangatnya bulu putih di sisi kanan dan kiriku.
Mereka sangat menggemaskan, bisa-bisanya Ryan menganggap makhluk menggemaskan ini seperti makanan.
“Teman-teman?” panggilku, mereka bergerak kecil, yang lebih muda menoleh ke arahku.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kalau kita berkawin tapi tidak ada rasa cinta, boleh-boleh saja kan?”
“Uhuukkk! Uhhuk!” kelinci yang lebih tua tersedak, telinga panjangnya berdenyut lucu. “Nana ini pembicaraan orang dewasa yaa …,” lanjutnya.
Kelinci kecil itu memberi jarak, menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit.
“Maksudmu bagaimana Starly?” tanya kak Doy.
“Sebenarnya, selain bertemu ibu dan adikku, ada sosok rubah jantan yang kurindukan juga.”
“Calon suami yang kamu bilang itu? Yang membuat aku pingsan di moncongnya yang jahat itu?”
“Ternyata kak Doy masih ingat, hehe ….”
“Dia rubah jahat, kak Doy gak suka sama dia.”
“Nana juga,” timpal kelinci kecil itu, mata mereka berapi-api seperti ingin memakan Ryan hidup-hidup jika saja raga mereka bertukar tempat.
“Walaupun dia menyebalkan dan menyukai gadis lain, tapi aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, dia berjanji untuk bertemu di air terjun, dan rasanya aku ingin sekali untuk mengabulkan janjinya, dia menungguku … dia mungkin ingin aku bersamanya, dan apabila dia tidak mencintaiku juga, apa masih boleh aku tetap bersama dia?”
“Omong-omong, namanya Ryan, dia anggota Foxioz, dia tampan dan berbadan mungil dibanding anggota Foxioz yang lain, dia tengil dan juga lucu. Kalian belum kenal saja dengannya.”
Kak Doy melompat kecil, berdiri tepat di depan hidungku yang tengah berbaring, tangan mungilnya menyentuh pipiku, katanya, “buka matamu Starly, jangan memaksa untuk bersama, kalau dia tidak ingin bersama, kamu rubah cantik dan baik. Nanti akan ada rubah baik hati juga untukmu.”
“Kak Doy, kenapa bicara seperti itu?”
“Karena cinta memang tak bisa dipaksa Starly, kamu lebih layak dengan rubah yang tulus mencintaimu.”
“Tapi Ryan ….”
“Tidak papa, nanti lama kelamaan rasa itu akan hilang dengan sendirinya, yang harus kamu lakukan, ikhlaskan Ryan bersama dengan betina yang dia sukai.”
Dadaku rasanya sesak sekali. Dan semua perkataan kak Doy, benar. Dia kelinci dewasa yang sudah paham arti mengasihi dengan tulus, dan entah dari mana asalnya, pipiku tiba-tiba basah. Tungkai mungil kak Doy menghapus jejak air itu.
“Tidak papa Starly, semua akan baik-baik saja.”
***
Malam ini hujan turun cukup lebat. Bara api yang menghangatkan tubuh kami lama-kelamaan padam. Kak Doy dan Nana sedang tidur di pojokkan sambil menghangatkan satu sama lain. Mereka sangat nyenyak.
Fajar akan menjelang, tapi cahaya pagi belum tampak karena masih tertutupi awan mendung.
Kaki yang terbalut tanaman herbal ku gerakkan sedikit sebagai perenggangan, rasa perih akibat luka luar masih terasa, tapi tungkai ku setidaknya masih bisa untuk di gerakkan dan rasanya tidak sesakit semalam.
Ramuan kak Doy berhasil, dan dia kelinci yang berbakat.
Mencoba bangkit perlahan sedang ku usahakan.
Dan … aku berhasil. Tungkai ku gerakkan ke depan belakang, kanan dan kiri, naik dan hentak— “Aakhhh!!” masih sakit ternyata.
“Starly?”
Jeritanku membangunkan kak Doy.
“Kak maaf, lanjut tidur saja."
“Kamu gak papa?” dia khawatir dan langsung melompat menghampiriku, Nana yang terusik karena pergerakan kak Doy juga ikut bangun.
“Aku lagi latihan, kak.”
Perlahan aku mendatangi mereka berdua, pincangnya tidak separah semalam dan aku bisa memijakkan kedua tungkai depan lebih seimbang.
“Sudah lebih baik, kan?” tanyaku, tapi kak Doy memicingkan matanya ke belakang tubuhku.
“Starly, kakak baru lihat ini, ekor kamu …,” dia melompat cepat ke belakang, meraih ekorku yang sedikit terbakar.
“Bagaimana bisa jadi seperti ini?!”
“Oh itu,” aku terkikik sejenak, “sudah gak sakit lagi sih kak.”
“Rubah itu terkenal dengan ekornya yang indah— ah maaf Starly.”
Aku mengernyit, tak mengerti dengan perkataan kak Doy, “Kenapa minta maaf kak? Dan ekorku sudah tidak papa, sakitnya sudah tidak terasa.”
Kak Doy masih terdiam, tangannya yang mungil membelai ekorku perlahan agar daerah yang terbakar bisa tertutupi dengan bulu ekor yang sedikit tebal di daerah yang lain.
“Tidak papa, kalau tidak ada jantan yang ingin bersamamu di sana, kamu bisa kembali kepada kami, Starly.”
Aku terdiam, aku sekarang paham maksud kak Doy. Ekor indah adalah kebanggaan rubah, dan ekorku yang sudah cacat memang sudah tidak menarik lagi. Saat ekorku masih utuh saja Ryan tidak ingin bersamaku.
Jadi, mungkin ini waktu yang tepat untuk menyerah, baiklah tidak papa, lagipula … pulangnya aku ke kawanan, tidak hanya untuk Ryan. Ada ibu dan Muggi yang menungguku juga.
Ekor yang terbakar bukan masalah besar.
“Kak Doy, aku gak papa, terimakasih karena sudah khawatir. Aku akan mengingat kebaikan kalian.”
Hujan mulai reda, dan matahari sedang malu-malu mengintip makhluk bumi. Aliran sungai membawa tungkai ku untuk berjalan ke sana. Mengikuti arus balik sungai dan bertemu dengan air terjun di ujung sana.
“Tinggal jalan lurus aja, kan?”
tanyaku memastikan.
Dua kelinci itu mengangguk.
“Terimakasih untuk kalian berdua, semoga kita dipertemukan lagi.”
“Starly, sampai jumpa, aku akan merindukanmu,” ucap Nana.
“Starly, kami selalu berada di kawasan ini, ayo kita bertemu lagi nanti, aku masih berharap kita terus sama-sama.”
Aku tersenyum mengangguk, mereka menghamburkan tubuhnya padaku.
“Sampai jumpa.”