11. River Skavaz

1724 Words
Setelah hujan deras semalaman, debit air di sungai cukup tinggi, air sedikit keruh dan kecoklatan, dan demi menghindari banjir bandang yang datang tiba-tiba atau longsor di sekitaran bibir sungai. Nana dan Kak Doy menyarankan agar aku melewati jalur hutan saja menuju air terjun Skavaz. Aliran deras sungai cukup berbahaya lagipula kita tidak tau apa yang ada di dalam air sungai itu dan hewan buas di dalamnya. Terlebih air yang debitnya tinggi juga bisa menyeret kita terbawa arusnya. Namun kendalanya di sini, aku selalu tersesat jika harus masuk ke dalam hutan lagi, tidak tau rute walaupun arah matahari terbit sebagai patokannya, kita tidak tau apa yang akan menghalangi langkah kita di dalam hutan dan berakhir mencari alternatif lain atau jalan lain untuk mencapai tujuan utama lagi, dan itu tentu membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga yang lebih ekstra lagi, bukan? Rute yang sulit pun bukan satu-satunya yang menghambat perjalanan. Belum lagi dengan hewan pemburu lainnya yang mengancam keselamatan juga. Perjalanan kali ini tidak dengan kawanan ataupun anggota Foxioz yang lain. Walaupun perjalanan panjang sering kali kawanan kami lalui untuk berpindah tempat tinggal, tapi kali ini berbeda karena aku melakukannya sendirian. Saat di dalam kawanan pun, walaupun kita berangkat bersama-sama, alih-alih membantu para pejuang Foxioz untuk bertarung, peranku hanya sebagai rubah payah, ketakutan, berharap ada yang selamatkan. Aku tidak yakin dengan perjalanan ini dan apa yang akan ku lalui nanti. Menengok kebelakang, Nana dan Kak Doy sudah tak terlihat lagi. Dan ya, kini aku sendirian di dalam hutan untuk mencari jalan pulang. Dan kurasa, dari pada masuk ke dalam hutan lagi, aku lebih merasa aman jika harus mengikuti bibir sungai menuju air terjun Skavaz. Mengikuti jalur sungai sebenarnya rute yang paling tepat untuk ke tujuan. Kini aku berdiri di antara hutan dan sungai. Hutan yang akan ku masuki terlihat gelap dan lembab, itu akibat hujan semalam juga, jadi jejak genangan air masih terlihat di berbagai titik, benar seperti perkiraanku sebelumnya, berjarak tak jauh dari tempatku berdiri ada pohon besar yang tumbang menghalangi jalan, pohonnya sangat besar, batangnya saja sangat tebal seperti 10 ekor beruang yang berkumpul menjadi satu. Pohon itu juga sangat tinggi, jika di perhitungkan seperempat hari bisa ku habiskan hanya untuk jalan memutari pohon itu. Tak ingin lama berpikir, ku ayunkan tungkai ku untuk terus melaju di antara hutan dan sungai. Aku harus tetap berhati-hati juga karena pijakan di bibir sungai juga sedikit terkikis, bisa-bisa aku terpeleset dan langsung terbawa arus ke hilir. Harus tetap waspada juga, karena air bandang bisa datang tiba-tiba sebelum kita bersiaga. Berhenti dan menarik napas dalam sejenak, aku menengadah, menatap langit yang sedikit cerah, mendung sisa semalam masih menutupi beberapa tempat di langit cerah. Air terjun Skavaz membelakangi matahari terbit yang artinya— “masih jauh banget dari rumah, bakalan sampe tengah malem gak sih ini?” Tungkai ku terus saja ku langkahkan lebih cepat dari sebelumnya, karena ku yakin di tengah perjalanan pun aku akan bertemu dengan malam lagi. Pagi ini perut ku baru terisi dengan satu telur ular yang kak Doy siapkan untuk perjalananku, dan jujur saja, aku butuh daging sekarang juga. Sudah dua hari aku tak makan daging. Rasanya lemas saja jika belum menyantap hidangan lezat saat setelah sakit, dan taring-taringku juga butuh dilatih lebih giat lagi dalam mencabik makanan. Aku tidak bisa berburu. Belum pernah mencoba juga. “Atau kita coba sekarang saja?” Aku masuk sedikit dalam ke hutan, setelah melewati akar pohon tumbang yang menutupi jalan tadi. Akar pohon itu besar dan kuat, beberapa bagiannya menyentuh aliran sungai, yang mau tak mau aku harus melewatinya. Berhati-hati, menjangkau beberapa bagian agar tak jatuh ke sungai. Ya, setidaknya cara ini lebih mudah dari pada harus memutar ke bagian ujung pohon. Dan ekorku belum bisa menyeimbangkan diri dengan sempurna jika harus memanjat pohon yang tumbang itu. Bernapas sedikit lega karena berhasil melewati akar pohon itu, aku menoleh kesana-kemari, mencari bangkai kijang atau rusa sisa-sisa pertarungan. Bugh! Grrrr!! Sckhh! Dugh! Aku mendengar suara pertarungan, karena penasaran, aku mengendap-endap untuk bersembunyi, mengintip sedikit dari dalam semak. Pertarungan yang aku lihat kini adalah pertarungan kucing hitam raksasa dengan kucing totol, alias panther dan cheetah. Hutan hujan bukan tempat yang biasa mereka datangi, kebanyakan dari mereka biasa berkerumun di tempat yang sedikit tandus dan kering. Apa yang membuat mereka kemari lalu bertarung seperti itu? Menganalisis sedikit yang mungkin saja bisa menguntungkan, perjalanan ku putuskan untuk ku hentikan sejenak. Di sana terdapat hewan buruan yang ku pikir hewan itulah yang membuat mereka bertarung, keadaan kijang itu sudah sangat parah, belum tewas hanya saja sulit bergerak karena lehernya banyak mengeluarkan darah. Kupikir dia sedang sekarang tapi masih tertatih menjangkau sekitar untuk bisa selamat. Dari balik semak, aku terus saja memperhatikan, waspada juga, takut-takut jika pertarungan mereka sampai ke tempat persembunyianku. Kucing hitam dengan mata terang itu terus saja menerjang kucing totol. Cheetah dan panther memiliki kemampuan tarung yang sama kuat, memiliki kemampuan lari yang sama cepat. Sepertinya mereka berdua sedang merebutkan siapa yang pantas berada di urutan pertama sebagai petarung dan pelari handal. Terlepas dari siapa yang dapat memakan buruan menyedihkan itu. Mereka tak peduli dengan sang kijang kini, karena sejak tadi mereka hanya meneriaki satu sama lain dan saling menjatuhkan harga diri. Napas geram tak beraturan keluar dari hidung keduanya, mata mereka masih menatap tajam satu sama lain, saat setelah mereka saling menerjang lalu terhempas berbarengan. Ini tontonan yang sangat seru. “Cih, apa hanya itu saja kemampuanmu? Kucing hitam tua!” “Kau pikir kau hebat dengan totol yang jelek itu? Kucing aneh!” Mereka saling mengejek dan menjatuhkan satu sama lain. Lanjut saling menerjang, menggigit, mendorong, terjungkal, terselip, terjebak, terperosok bersamaan. Pertarungan itu akan selesai dengan keduanya yang berakhir tragis, aku yakin. Mereka sama-sama kuat dan cepat, sama-sama berkuku tajam dan berkata kasar, dan dari pertarungan ini ku rasa aku mendapatkan berbagai macam teknik dalam bertarung. Menjatuhkan harga diri sedikit membuat sang lawan percaya diri. Bukankah itu keren? Berhubung perutku sudah menjerit untuk diisi daging, perlahan aku keluar dari tempat persembunyian. Mereka tidak boleh mendapatkan ku jika tak ingin berakhir tragis. “Untung saja tidak ketauan.” Aku berhasil keluar dari semak-semak. Berjalan lagi ke arah air terjun aku menemukan seekor rusa sedang minum di sungai. Mangsaku. Tak ingin berlama-lama, aku mendatanginya dari arah belakang, namun belum sampai untuk menerjang tubuhnya, tiba-tiba saja di balik keruhnya air sungai, muncul predator lain yang mengincar rusa itu, aku sudah melihat matanya, mundur perlahan takut-takut jika predator itu malah mengincar ku, “Pssst!!” pelan-pelan aku memberikan kode pada rusa untuk pergi dari sungai. Aku tak ingin santapan ku diambil alih oleh buaya itu. Dia menoleh ke belakang, mata kita bertemu dan di sanalah aku menyuruhnya untuk menjauh dari sungai. “Ada buaya!” Rusa itu terheran, belum sempat menghindar dari sungai tiba-tiba saja, buaya itu menerkam kakinya, Rusa itu menjerit keras, mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan buaya. Namun naas, rusa itu sudah kehilangan satu kakinya, di saat buaya sibuk menelan kaki rusa, di sanalah rusa itu terpincang-pincang untuk menjauh, namun karena kehabisan darah, rusa itu tewas di perbatasan hutan dan sungai. Dia telah menjadi bangkai. Makanan tanpa perlu bersusah payah untuk bertarung. Aku menghampirinya, dia sudah kaku. Selamat makan. Apa yang ku alami selama di hutan ini, akan ku ceritakan pada Ryan. Lihat saja. Dia salah jika mengatakan bahwa aku calon istri yang payah. Aku bisa mencari makan sendiri, aku tidak payah, aku bertarung dengan hyena, dan aku berebut makanan dengan buaya, sebenarnya tidak benar-benar berebut, tapi Ryan pasti akan bangga denganku. Aku ingin bertemu dengan Ryan segera, dan menunjukkan bahwa aku sudah hebat. Mendapatkan energi penuh dari rusa, aku berlari agar segera sampai ke air terjun dan pohon kembar mahoni, tak disangka, lokasi yang ku kira akan sampai tengah malam, malah sebelum matahari berganti aku sudah sampai di air terjun ini. Warna dari sungai sudah stabil dan jernih, dan debit air juga sudah mengikuti debit air terjun. Tempat ku dengan Ryan, Ryan saat itu pernah bilang kalau tempat ini akan menjadi tempat kita. Jejak perapian kami pun masih tertinggal di sana. Dan bunga-bunga yang sempat Ryan petik untukku kini sudah tumbuh kembali. Aku mendatangi bunga-bunga itu, salah satu bunga yang berwarna senada dengan matahari ku petik beberapa tangkai. “Bagaiman cara Ryan buat ya?” Aku juga mengambil beberapa tanaman menjalar, seingat ku Ryan menggunakan tanaman rambat untuk menyatukan bunga-bunga ini. Merajut satu bunga sudah berhasil, aku ingin menyambungkan tiga bunga lainnya. Dan … ternyata hasilnya tidak buruk juga. Menatap ke sungai aku melihat diriku, “Ryan, sekarang bagaimana?” Ryan mengatakan aku cantik saat itu, saat memakai mahkota bunga. Mungkin masih sama. Aku baru melihat diriku lagi di air jernih, wajahku berantakan ternyata, beberapa goresan entah dari mana asalnya, terlukis di bawah mataku, dan sedikit noda hangus di bawah dagu. Mahkota bunga saat ini tidak terlihat pantas untuk ku kenakan. Meraup wajahku dengan air, kini terlihat lebih segar namun goresannya memang belum hilang sepenuhnya, aku melihat pantulan ku lagi, di tubuhku ada noda darah yang belum hilang, lutut yang lebam dan luka yang cukup besar, belum lagi yang ekorku yang memang luka bakar itu tak bisa ditutupi seutuhnya. Aku terlihat buruk dan berantakan. Tapi, nanti lukanya pasti akan sembuh. Aku menoleh ke atas air terjun, Ryan bilang pohon kembar mahoni ada di dekat sana. “Di sana!!” Aku berseru lantang, lalu dengan cepat berlari ke pohon itu, meskipun aku tidak begitu paham dengan jenis pepohonan, tapi aku yakin, yang Ryan maksud adalah pohon ini. Bentuknya memang kembar, dahannya lebih rendah, jadi aku bisa manjat ke tempat yang lebih tinggi. Susah payah karena ekor yang biasa membantuku untuk menyeimbangkan pergerakan tak bisa membantu banyak sekarang. Aku kesusahan memanjat pohon. Tapi masih ku upayakan walaupun tungkai ku berakhir sakit karena beberapa kali terselip. Satu dahan, sudah berhasil ku gapai, agak tinggi lagi supaya aman kalau di malam hari, aku memanjat lagi lebih tinggi, dan di sana beruntung sekali aku mendapatkan makan malam, telur burung ini akan ku sisihkan juga buat besok pagi. Aku sudah berada di tempat yang lumayan tinggi, tempat tinggi membantu kami untuk bersembunyi dari predator lain, dan posisi aman untuk mengincar makanan yang berada di bawah kami. Dahannya cukup lebar, jadi mampu untuk menopang tubuh tanpa takut untuk terjungkal kebelakang. Ini strategis. Ryan memang pintar untuk menemukan tempat bernaung. Hari sudah malam, dan malam ini langit tidak tertutupi awan, mungkin besok Ryan akan datang, dia sudah berjanji dan dia akan menepati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD