Pagi yang ku pikir cerah ternyata mendung lalu terguyur hujan. Walaupun tempat yang ku duduki ternaungi dedaunan namun hawa dingin dan suasana gelap dan berkabut membuatku tak nyaman.
Kebakaran hutan yang diakibatkan kawanan kami malam kemarin terbayarkan dengan guyuran lebat dua hari berturut-turut, seharusnya aku bersyukur, karena jika api tetap menyala mungkin setengah hutan akan hangus termakan api. Dan hujan kali ini entah sebagai penyelamat atau mungkin petaka.
Sungai yang kemarin cukup tenang, sekarang airnya meluap tinggi sekali, ini bencana besar, bandang yang datang dari terjunan pun beberapa kali membuatku terkejut, tanah di sekitar bibir sungai terkena erosi, beberapa bagian retak dan menimbulkan guncangan lalu longsor kecil, air dari dalam hutan mengalir lalu berkumpul menjadi satu bersama aliran sungai.
Berada di posisi tinggi, tidak buruk juga, tapi tetap selalu waspada karena air dari hutan juga cukup deras dan mampu menumbangkan beberapa pohon tua, beberapa pohon ku lihat ikut terbawa arus sungai, tidak hanya pohon tumbang, beberapa tanaman ada yang terbawa arus juga, tidak menutup kemungkinan tempatku duduk kini akan bernasib sama dengan pohon itu.
Seekor burung yang ku yakin sedang mencari telurnya yang sudah ku makan tadi, kini duduk kebingungan, dia mencari telurnya dan aku pura-pura tidak tahu saja. Burung itu mendekat ke arahku, melihat jejak lendir di sekitar pipiku berhasil membuat raut wajahnya berubah marah.
“Rubah jahat!” cuitnya lalu menatap sinis.
Aku hanya mengidikkan bahu sebagai jawaban, lalu burung itu terbang menjauh. Mungkin dia takut dimakan olehku juga. Namun, belum sampai dia menghilang dari pandangan, burung kutilang bersayap coklat itu kembali lagi. Dia terlihat marah, namun memberikanku pesan untuk segera menyelamatkan diri dari tempat ini. Katanya, “pergilah, karena pohon ini akan segera tumbang,” terdengar sinis namun dia menghawatirkan ku.
“Tumbang?” Aku menunduk untuk melihat keadaan di bawah. Air sangat deras dan pohon mahoni ini walaupun kuat, namun kurasa umurnya sudah cukup tua. Beberapa kali juga bergerak-gerak karena terhantam aliran air yang lewat.
Panik dengan peringatan burung kecil itu, pelan-pelan aku memanjat ke satu dahan lebih tinggi. aku tak ingin turun ke bawah, walaupun air di bawah hanya setinggi mata kakiku, tapi arus deras bisa saja membawaku terseret ikut dengan aliran sungai.
“Berpindah pohon?” aku menggeleng cepat.
Tidak, itu ide yang buruk. Mencari cara lain agar keluar dari pohon ini akan ku usahakan. Burung tadi sudah terbang jauh ke tempat yang lebih aman. Sementara aku, ditinggalkan bersama pohon yang akan tumbang.
Menatap sekeliling aku mendapatkan dahan yang kuat dan lebar di sebrang sana. Entah itu jenis pohon apa yang pasti dahannya lebar dan akarnya terlihat kokoh.
“Ayolah Starly mulai berfikir!”
Menengok kesana-kemari aku tak menemukan alat yang bisa ku gunakan untuk ke seberang. Melompat? Oh itu sama saja dengan bunuh diri, karena jarak dahan yang aku duduki dengan dahan seberang cukup jauh, jaraknya kira-kira dua kali panjang tubuh Ryan. Resiko tergelincir karena guyuran hujan juga bisa saja terjadi. Kakiku yang belum sembuh total dan ekor yang masih belum bisa menyeimbangkan diri juga tidak yakin untuk membawaku melompat sejauh itu.
“Lalu bagaimana?”
Pohon yang ku naiki kini lagi-lagi bergerak karena angin dan arus air. Panik, aku hampir saja tergelincir, tungkai depan yang belum sembuh total tak bisa ku jadikan tumpuan. pelan-pelan aku turun ke dahan yang lebih rendah, karena dahan di bawah memang lebih lebar dibanding dahan di atasnya. Lebih dekat dengan air membuatku semakin kebingungan. Kalau saja pohon ini roboh tentu saja aku bisa dengan cepat untuk lompat ke dasar. Namun setelah itu apa? Terbawa arus deras masuk ke dalam sungai.
Situasi ini berbahaya, aku harus mencari cara— “Aaakkkh!” saat hendak memperbaiki posisi pijakan aku terpeleset dan kini bergelantungan di ranting kecil. Satu tungkai depan yang tidak terluka ku kaitkan erat dengan dahan yang kupijaki. Sementara tiga tungkai lainnya sedang bergelantungan. Ekorku yang terbakar sudah menyentuh aliran sungai dan rasanya perih sekali. Beruntung saja ada ranting kecil yang kini ku gigit untuk menjagaku agar tidak terjatuh.
Lalu, sekarang bagaimana?
“Starly!!”
“Starly!!”
Samar-samar aku mendengar suara dari dalam hutan memanggil.
“Awwghu dwisinwi!!” susah payah aku mengeluarkan suara karena tak ingin lepas dari ranting ini.
“Starly?!”
Apa itu Ryan? Apa Ryan datang menjemput.
Moncong seekor rubah sudah bisa ku lihat dari atas sini. Dia sedang kesusahan berjalan di arus air yang deras. Karena tubuhnya yang gempal dan berisi, jadi sangat sulit bagi arus untuk membawa tubuh rubah itu bersama air.
Dan itu adalah— “Chiwoo aghwuu dwisiwni! dwiatwass!”
Karena Chio berbadan gembul jadi arus deras tidak begitu mempengaruhi pergerakannya. Dia bisa menyeimbangkan diri, pondasi kakinya pun kokoh saat ia melompat di genangan air.
“Chiwo, kamwu jwemput agwu.”
“Aku lihat kamu tadi di atas ngapain?!”
“Aghwu twakut twurun Chiwo, awirnya dweras swekali.”
“Tidak papa, aku akan menahan mu.”
Aku bersyukur, aku sangat lega. Aku tidak lagi sendirian di tempat ini. Chio anggota Foxioz yang hebat. Dia bisa membantuku dari bahaya.
Pelan-pelan aku melepaskan ranting kecil itu dari moncong ku, tersisa satu tungkai depan yang kurasa sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.
Aku melompat pelan dari dahan pohon. Pijakan ku sempat oleng sebelum akhirnya berhasil ditahan oleh Chio, dia menghalangi aliran deras agar aku tak terbawa arus.
“Chio, terima kasih banyak, aku hampir saja jatuh dari atas pohon, lalu terbawa arus, terima kasih karena sudah datang.”
“Kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja.”
Pertanyaan Chio menjelaskan keadaan di rumah selama dua hari ini sudah baik-baik saja. Aku tak tau apa yang terjadi dan mungkin saja hiena masih berkeliaran di sekitar sana.
“Aku takut kalau harus kembali ke kawanan, Chio, aku takut kalau rumah kita sudah di kuasai hiena, kupikir kembali ke rumah sama saja dengan bunur diri.”
Ya, melawan dua hiena saja pada malam itu membuatku berakhir tak sadarkan diri. Bagaimana jika harus kembali dan bertemu dengan ribuan hiena di sana.
“Lagipula, ada seseorang yang mengatakan ingin menjemput,” aku menunduk, memelankan suara. Menunggu Ryan di sini kurasa tak perlu ku bagi tau dengan Chio. Alasan aku memilih datang ke pohon kembar mahoni adalah janji Ryan.
Mungkin dia akan mengatakan aku rubah bodoh karena menunggu di tempat berbahaya. Dan aku sadar.
Ya, siapa juga yang ingin menjemput jika situasi seberbahaya ini?
“Kamu baik-baik aja, Starly?” tanya Chio. Aku berjalan di depannya. Melawan arus dan Chio menopang tubuhku di belakang. Kita berdua berjalan perlahan karena pijakan yang kita injak bisa saja kubangan besar, takut-takut terperosok masuk bersama genangan air.
“Aku baik hanya luka kecil.”
“Starly, hati-hati pelan-pelan saja, aku melindungi mu di belakang.”
“Terima kasih, Chio, aku berhutang nyawa padamu, bayangkan saja kalau kamu ngga datang menjemput, sudah bagaimana nasibku sekarang.”
“Tidak papa, aku senang bisa menolong turunan penari roh bintang, suatu saat aku bisa meminta bantuan padamu, menyampaikan salamku untuk seseekor di atas sana.”
“Keluargamu? Launa? Apa dia baik-baik saja?”
“Launa baik-baik saja, oh ya, kita tidak lagi pulang ke rumah, di sana terlalu berantakan, rumah-rumah hancur terbakar, dan banyak sekali bangkai yang tak bisa kita pindahkan, jadi inisiatif dari Ryan kita semua berpindah tempat ke perbatasan gurun dan hutan di dekat padang ilalang.”
Aku bisa membayangkan bagaimana rusaknya tempat tinggal kita sekarang, karena kobaran api itu benar-benar mengerikan.
“Berantakan sekali?”
“Ya, nanti kamu bisa lihat. Kita akan lewat rumah.”
“Tapi, Chio, kamu bilang tadi bangkai?”
“Ya, banyak bangkai.”
“Akhh!”
Aku hampir tergelincir karena tak fokus dengan jalan, tapi Chio berhasil menahan tungkai ku,
“Kamu bisa, Starly?”
“Ya, bisa, terimakasih, tapi Chio, bangkai itu—”
“Hanya bangkai hiena yang hangus terbakar.”
“Ibuku?”
“Hanya beberapa dari kita yang berkumpul di perbatasan itu.”
“Maksudnya ibu ku tidak ada?”
“Pemimpin Gunn, Ibu mu, Muggi, anak-anak rubah, Kak Mark, tidak ada, yang tersisa dari kami hanya anggota Foxioz dan Launa saja yang berkumpul di perbatasan.”
“Ryan, apa bersama kalian juga?”
“Tentu, dia yang memilihkan tempat untuk tempat tinggal kita sementara, Ryan bisa diandalkan sebagai pemimpin, Starly, Ayah dan kakaknya menghilang juga.”
Apa Ryan mencari ku? Dia bilang ingin menjemput kan? Tapi kenapa bukan dia yang datang?
“Starly, hati-hati, ada kubangan!”
“Ah, iya, terimakasih Chio, kamu teman terbaik, terimakasih karena menjemput ku, jika kamu ga datang mungkin aku sudah berakhir terbawa arus sungai. Pohon tadi itu hampir tumbang. Terimakasih karena sudah datang.”
“Dulu kamu sangat pendiam, tapi sekarang kamu banyak bicara ya?”
“Aku?”
Chio tergelak, rubah gembul itu tertawa.
“Iya, kamu sama seperti Launa, dia pendiam.”
“Launa … apa kembaranmu baik?”
“Dia baik, kakinya sempat terkilir tadi sudah sembuh.”
“Ooh, syukurlah, anggota yang lain semuanya baik-baik aja kan?”
“Kamu lebih cerewet ya Starly, kenapa kita tidak begitu dekat dulu, kamu bisa bermain dengan kami, tapi kamu terlihat manja dan selalu ingin bersama ibumu,” Chio terkikik, aku tau dia sedang mengejek ku karena tak ingin lepas jangkauan dengan Ibu. Dan kurasa dia benar, kenapa aku jadi nyaman berinteraksi dengan rubah lain sekarang?
“Memangnya Foxioz ada waktu untuk bermain? Aku pikir akan mengganggu waktu latihan kalian jika aku bergabung bersama kalian.”
“Hey, itu tidak papa, kita memang latihan, tapi tak jarang juga sambil bermain, Launa yang bukan anggota Foxioz pun selalu ku ajak untuk ikut latihan.”
“Tapi Chio, kamu pun berubah, apa kamu ga sadar?”
“Huh?”
Chio menoleh ke arahku kebingungan.
“Ya, kamu pun lebih cerewet sekarang, tidak seperti Ryan yang banyak omong dan banyak tingkah itu.”
Kita berdua terkikik, pembicaraan tentang Ryan membuat perut kita tergelitik, Ya, siapa yang tak kenal anak Gunn si tukang onar dan tengil itu, bahkan aku tak yakin jika dia yang kini memimpin kawanan.
“Starly, apa kita bisa berteman dekat, ku rasa cerewet ku ini ada sebabnya, dan aku nyaman seperti ini denganmu.”
Lahan yang kami pijaki kini cukup kering, arus air sudah tak ada lagi, dan rintik hujan pun perlahan menghilang.
Chio berjalan di samping tubuhku. Lalu berpindah ke depan menghadang jalan.
“Starly, apa kita bisa berteman baik?” katanya sukses membuatku menghentikan langkah.
“Teman tentu saja bisa, kita bisa berteman Chio, kamu sudah bantu aku turun dari pohon itu, kamu bantu terjebak di arus deras. Teman saja bukan cara yang tepat untuk membalas kebaikan mu Chio, Jika kamu butuh sesuatu, aku harap aku adalah teman yang pertama kamu beri tahu. Aku senang Chio, terimakasih banyak.”
Chio tersenyum.
Dan aku sedikit tenang, jujur saja, berteman dengan anggota Foxioz membuatku merasa aman sekarang.
Anggota terkuat dan terhebat aku merasa ada yang bersedia melindungi ku dari bahaya.
Meskipun begitu aku masih mengharapkan Ryan yang datang. Berharap rubah tengil itu yang melindungi. Tapi aku sadar, Ryan sudah terlanjur benci padaku. Aku meneriakinya malam itu, aku mengatakan benci padanya. Dan tidak datangnya dia padaku kali ini karena perbuatan ku juga.