Wajah bahagia kawanan yang kulihat pertama kali saat tungkaiku telah sampai di pintu gerbang lembah hitam, tempat keluar yang kami tuju. Mereka sedang duduk dan istirahat sambil menungguku dan Ryan sampai. Keadaan di luar sungguh sejuk, aku menengok ke belakang, Pintu lembah hitam terlihat gelap dan menyeramkan karena kini matahari sudah akan terbenam.
Ryan yang berjalan di belakang tubuhku, menyuruhku untuk duduk dan istirahat bersama yang lain sementara dia mengecek keadaan sekitar. Apakah aman atau tidak untuk dijadikan tempat istirahat saat malam hari.
Aku mengangguk, menuruti perintahnya. Kulihat di sana ada Jizzy dan Chen sedang memperhitungkan sesuatu yang rumit, inginnya bergabung dua pemikir cermat itu namun ku urungkan karena takut mengganggu diskusi mereka.
Chio dan Ryan memindai sekeliling, Zayn dan Nath sedang berjaga. Launa dan Kak Giya sedang menenangkan bayi rubah yang tak berhenti menangis sejak tadi. Aku menghampiri mereka berdua.
“Kenapa Nuz, menangis kak?” Tanyaku pada kak Giya yang sedang menenangkan bayi rubah itu.
“Sejak keluar dari lembah hitam, Nuz Langsung menangis kencang sekali.”
Aku mengintip bayi rubah itu yang sedang diberikan ASI oleh ibunya. Nuz tidak ingin minum dia terus saja menangis dan Kak Giya tentu saja kewalahan dengan tingkahnya itu.
“Apa Nuz sakit?”
“Sepertinya iya, dia kelelahan.”
“Kita harus cari tempat istirahat, lagipula langit akan gelap.”
Menatap sekeliling, tempat ini dipenuhi dengan pohon yang memiliki dahan dan ranting yang banyak, dedaunan yang lebat dan batang yang kokoh, rasanya disini sangat pas untuk kita tinggali sementara. Kita bisa naik ke atas pohon dan beristirahat di sana.
Chio dan Ryan sudah kembali. Ini tentu kawasan yang mereka kenali sebagai tempat latihan, namun wajah mereka terlihat cemas.
“Ada apa?” tanya Hyeni yang menunggu kembalinya Chio dan Ryan.
“Kita harus bergegas, di sini tidak bisa dijadikan tempat istirahat sementara.”
“Kenapa? Kawanan lain sudah lelah dan Nuz terus menangis tidak mau berhenti, Giya sudah kewalahan, kasihan bayi rubah itu,” Jelas Hyeni pada dua rubah itu.
“Tempat ini sudah menjadi makam,” jawab Chio membuat keningku mengernyit.
“Makam?” aku menghampiri mereka bertiga hendak meminta informasi lagi, yang lainpun mengikuti karena penasaran.
“Coba lihat sekeliling mu, Hyeni?” perintah Chio. “Banyak tulang belulang sisa pertempuran. Kita tidak tau apa yang terjadi pada mereka dan apa penyebab kekacauannya.”
“Tapi sudah mulai gelap, kita tidak bisa mengambil resiko berjalan di malam hari dengan kondisi Nuz yang seperti itu,” Hyeni ingin kita bermalam di sini dan istirahat sampai besok pagi lalu melanjutkan perjalanan. Untuk sekarang aku sangat setuju dengan pendapatnya.
“Hyeni benar, kita tidak harus mengambil resiko yang lain, bagaimana kalau yang membuat kekacauan ini muncul di saat kita melakukan perjalanan di malam hari?” itu suara Zayn yang tiba-tiba saja berada di belakang tubuhku.
“Tidak!” saut Jizzy cepat, menyambar dan masuk ke tengah-tengah diskusi. “Kak Ryan dan Kak Chio benar, kita harus bergegas menjauh dari tempat ini.”
Semua rubah yang berdiri di sana mulai cemas. “Lihat pohon besar itu!” tunjuk Jizzy dengan moncongnya, kami semua menoleh ke arah yang ditunjuk, itu bukan bekas cakaran biasa hasil dari pertarungan, itu adalah sebuah tanda, tanda kepemilikan, “yang membuat kekacauan di sini makhluk yang sangat buas, ini rumah mereka, dan sepertinya mereka akan kembali saat malam tiba.”
Tangis Nuz tak ingin berhenti, dan kita semua setuju untuk pergi dari tempat ini. Bergegas dan menahan rasa lelah untuk sementara waktu. Nuz dibawa lagi oleh Hyeni karena kami pikir ini akan menjadi perjalan malam yang berbahaya, tidak ada formasi barisan, kita semua bergerombol menjadi satu dan melakukan perjalanan dengan cara ini.
Suara tangisan Nuz membuat gema, hutan menjadi sedikit berisik dan memancing hewan lain untuk membunyikan suara yang lain.
Belum berjalan sampai jauh, kami mendengar suara derap langkah yang tegas dan terburu. Datang ke arah kami menuju ke pintu lembah hitam. Hyeni dan Kak Giya bersusah payah menenangkan Nuz agar tak bersuara lagi dan kami semua bisa bersembunyi.
Derap langkah itu semakin dekat, Ryan yang bertugas sebagai pemimpin meminta kami untuk tenang dan perlahan masuk ke dalam semak untuk bersembunyi dari hewan itu. Dari pada melawan Ryan memilih untuk bertahan sementara. Kita memang harus bersembunyi. Diam dan tenang kami semua masuk lalu duduk tak bersuara di dalam sana.
Derap langkah itu sudah mulai tampak wujudnya.
“Serigala?”
Berhenti tepat di depan persembunyian dua_- tiga ekor serigala itu bersuara.
“Biasanya akan ada mangsa yang muncul di lembah hitam, hari ini sepertinya tidak ada.”
“Mereka menunggu kita?” bisikku pada Ryan yang duduk tepat di sampingku.
Ryan mengernyit. “Mungkin.”
Aku menoleh ke belakang, kawanan yang lain sedang duduk menatap cemas ke luar semak-semak. Nuz yang masih menangis kecil sedang di bungkam moncongnya dengan s**u yang diberikan oleh Kak Giya. Bayi Rubah itu sedikit tenang.
Tiga serigala berbadan besar dan bekuku tajam itu belum beranjak dari tempat persembunyian kami. Mereka masih mendebatkan sesuatu tentang lembah hitam yang katanya sering ada makanan yang muncul dari sana. Sungguh beruntung kita semua berhasil keluar dari lembah hitam sebelum serigala itu datang.
Makam yang berada di sana adalah hasil perbuatan mereka. Dan jika di telusuri lagi banyak sekali bekas pertarungan di sana. Aku menghela napas lega, bergeser agar dekat dengan Ryan karena ingin bertanya tentang suatu hal tentang lembah hitam.
“Ryan, lembah hitam itu sebagai tempat latihan kalian, kan? Kenapa mereka berada di sana dan sejak kapan?”
Ryan pun terlihat bingung dan tak mengerti dengan kondisi tempat latihannya.
“Sebenarnya sudah lama, ayahku tidak mengizinkan Foxioz untuk latihan di lembah hitam, mungkin saja karena ini alasannya. Aku pun tak tahu kalau ternyata lembah itu sudah memiliki penjaga yang baru,” bisik Ryan lalu tubuhnya disenggol oleh Nath agar berhenti berbicara dan tetap diam sampai serigala itu pergi.
“Apa kita lawan saja?” tawar Zayn di belakang tubuh Ryan.
“Tidak, kita akan terus bersembunyi di sini sampai mereka pergi lagi.”
“Petarung di anggota kita ada tujuh ekor, sementara mereka hanya tiga. Tiga berbanding tujuh kita menang di jumlah tapi aku tidak yakin dengan kekuatan mereka,” lanjut Zayn.
“Kekuatan mereka sebanding dengan Singa, butuh 3 ekor rubah untuk melawan 1 ekor serigala. Anggota kita tak cukup, ada Nuz yang harus dilindungi juga,” jelas Ryan.
Sementara Zayn yang masih kukuh ingin bertarung memberikan kemungkinan lagi, “Tapi kita tidak bisa bersembunyi di sini sampai besok, ketika mereka pergi berburu lagi. Resiko ketahuan sepertinya lebih besar, Nuz masih menangis.”
“Ryan …,” panggilku mencoba untuk memberikan ide. “Jika 3 ekor rubah melawan 1 ekor serigala, kurasa aku dan Launa bisa membantu,” saranku, karena jumlah kami di lingkaran ini 11 ekor rubah termasuk Nuz. Pikirku, aku dan Launa bisa membantu bertarung hingga menjadi genap untuk melawan serigala 3 : 1. Namun usulanku segera ditolak mentah-mentah oleh si pemimpin.
“Tidak bisa,” tolaknya langsung.
“Tapi kita harus melakukannya.” Tak ingin hanya diam dan tunggu ketahuan tentu saja tak bisa kulakukan. Itu jauh lebih bahaya dan kita pun tidak punya persiapan.
“Bagaimana dengan Nuz?!” tanya Ryan.
“Aku bisa menunggu kalian di ujung, sambil membawa Nuz jauh dari pertempuran.” Sepertinya Kak Giya pun setuju dengan saran melawan.
“A-aku sering melihat kalian latihan, Chio selalu mengajakku ke tempat latihannya, kurasa aku sedikit paham tentang cara bertarung,” saut Launa yang ternyata setuju juga dengan usulan bertarung dan melawan.
Ryan menghela napas panjang. Dia menoleh ke arahku dan menatapku intens, lalu memalingkan wajahnya. “Tidak bisa, terlalu beresiko.”
“Justru bersembunyi dengan keadaan seperti ini yang terlalu berisiko, setidaknya ada yang kita perjuangkan,” sambat Hyeni dan kurasa keputusan bertarung sepertinya disetujui oleh semua kawanan. Dan tak ada pilihan lain selain melakukannya.
“Sangat bahaya,” Ryan masih kukuh dengan pendiriannya. “Kaki Starly sedang terluka dan seharusnya malam ini dia harus diobati.”
Aku menggeleng, “tidak, kakiku sudah tidak sakit lagi, lagipula bagaimana caraku sembuh jika kita terus bersembunyi?”
Aku menggerakkan tungkai ku ke depan dan belakang bergantian. Rasa sakitnya masih ada tapi tidak terlalu, dan bisa digunakan untuk menyerang.
“Aku masih bisa bergerak, lagipula hanya tergores, darahnya sudah kering—”
“Kamu terluka lagi, Starly?” cemas Chio, dan yang lainpun ikut menatap iba pada kakiku yang terluka. Wajah mereka tiba-tiba saja murung dan itu membuat semangat yang kami bangun untuk melawan para serigala jadi melemah.
“Kakinya tergores akar pohon eboni saat di lembah hitam, dia belum sembuh total.” Itu Ryan yang menjawabnya. Rubah jantan itu terdengar marah.
“Sudah sembuh.” Sahutku sedikit keras membuat para serigala-serigala itu terkejut. Sepertinya mereka sudah menyadari keberadaan kami. Panik bukan main aku langsung membungkam mulutku dan yang lain pun kini cemas tak karuan.
“Siapa di sana?!” panggil salah satu dari mereka yang derap langkahnya semakin dekat dengan tempat persembunyian.
“Ini sangat beresiko, tiga rubah sekalipun belum tentu bisa melawan satu serigala. Tapi kita harus mencobanya. Aku, Nath dan Starly satu tim. Launa Chio dan Zayn satu tim. Jizzy, Hyeni dan Chen kalian menyerang yang satu lagi. Siap?!” Semua kawanan mengangguk yakin. “Kak Giya, berlari dan bersembunyi di atas pohon, pastikan Nuz tidak menangis lagi. Apa kalian siap?”
Kami semua mengangguk, siap dengan perintah sang pemimpin. Saat Ryan membunyikan lolongan aba-aba kita semua harus keluar dari persembunyian.
“Satu … dua … tiga!!”
Grrrrr!
Hrrrr!!
Serempak kami semua keluar dari tempat persembunyian. Ketiga serigala itu terkejut dan mundur beberapa langkah. Namun satu ekor yang paling besar di antara mereka maju satu langkah. Memamerkan giginya yang tajam dan tungkainya yang kokoh dan kuat, dua lain yang berada di kanan dan kirinya ikut bersiap.
Kami berpencar membelah kerumunan menjadi tim yang sudah dibagi oleh Ryan.
Ryan maju satu langkah dan Nath di sampingnya, “tetap di belakangku, Starly,” perintahnya dan aku langsung mengikuti.
Zayn, Chio dan Launa mengambil posisi untuk melawan serigala di kanan pemimpinnya, sementara Hyeni, Jizzy dan Chen mengambil bagian di sisi kiri, serigala yang lebih kurus dari yang mengikuti.
Lolongan mulai diaumkan dari masing-masing kawanan. Suara mereka sangat mengerikan dibanding dengan milik kami. Tubuh mereka lebih besar dan tinggi.
Ryan memberikan kode pada kak Giya untuk segera lari dan membawa kabur Nuz. Kak Giya mengangguk dan langsung melakukan perintah itu. Berlari menjauh dari area pertempuran. Kegiatan itu sukses membuat geraman keras dari moncong para serigala. Sepertinya mereka mulai kesal.
“Para rubah kecil yang pandai bersembunyi,” ucap si pemimpin serigala.
Ryan maju satu langkah. “Kami akan pergi dari sini.”
“Oh tentu saja, kalian boleh pergi dari tempat ini.”
“Benarkah?” sahutku membuat serigala itu tertawa keras.
“Ya, tentu saja. Asal kau tetap tinggal di sini rubah cantik.”
Aku mengernyit, suara geraman Ryan mulai terdengar kencang saat para serigala itu tertawa.
“Tidak akan ada rubah yang akan tinggal bersama kalian!” tegas Ryan. Tungkainya sudah siap untuk menyerang dan yang lainpun juga mengikuti.
“Kalau begitu, jangan harap kalian bisa lolos dari kami!”