19. Pertarungan dengan Serigala

1788 Words
Ryan berlari dengan kencang langsung menerjang tubuh si pemimpin serigala itu hingga terjungkal. Teman-teman yang lain langsung mengambil poisis dan melakukan hal yang sama. Hyeni menerjang di sisi kiri dan membawa lawannya hingga jauh dari serigala yang lain begitu pun dengan Chio dan Zayn. Di tengah tersisa aku, Nath dan Ryan. Serigala itu bangkit setelah diterjang oleh Ryan. Menggeram kesal dan ingin menghantam tubuh Ryan namun meleset. Kesempatan untuk menyerang sisi belakang Serigala itu sedang Nath lakukan dan dia menubruk bagian tubuh Serigala itu hingga terpental. Ryan di depan tubuh Serigala itu memberikan kode padaku dengan matanya untuk menyerang sang serigala di sisi yang lain. Kita berniat untuk mengecoh konsentrasi serigala dengan cara berjalan mengelilingi tubuhnya. Kalap dan tak tau ingin menyerang yang mana, serigala itu terlihat kebingungan, dan ini adalah waktu yang tepat. “Teman-teman serang!” intrupsi dari Ryan dan kami berdua langsung menerkam serigala itu. Nath menggigit tungkainya, aku naik dan menggigit punggungnya sementara Ryan menerkam lehernya. Serigala itu menjerit keras sekali. Dan ternyata itu berhasil memberikan tanda di tubuhnya. Dia meringis namun masih bisa untuk memberontak. Berontakannya berhasil membuat tubuhku yang berada di atas tubuhnya terjungkal dan langsung jatuh ke atas tanah. Ryan dan Nath melepas cengkraman mereka juga dan langsung membantuku berdiri. Sementara di sana serigala itu masih menahan sakit di sekujur tubuhnya. “Kami hanya ingin pergi dari sini!” bentak Ryan pada serigala itu, mencoba untuk bernegosiasi. Membiarkan kami pergi dan perang tidak akan terjadi. Namun serigala itu berdecih. “Cih! Mangsa kecil!” decihnya tidak menerima tawaran Ryan dan berniat untuk melanjutkan pertarungan. Serigala itu berdiri kokoh, lalu berlari dan menerjang tubuh Nath. Nath memiliki badan yang kokoh dan kuat, dan mereka berdua sedang adu kekuatan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini Ryan memberikanku kode lagi untuk menyerang serigala itu dari belakang. Menarik tungkai belakangnya agar bisa menjauh dari Nath. Serigala itu goyah dan Nath berhasil menjatuhkannya dan berdiri di atas tubuhnya. “Sudahlah, ini sudah berakhir biarkan kami pergi dan kami tidak akan menyakitimu.” Serigala itu menggeram ganas, dan entah kekuatan dari mana serigala itu berhasil bangkit dan membalik posisi menjadi berdiri. Nath tak bisa menahannya lagi dan strategi menyerang serigala ini sepertinya harus segera diubah. “Aku tidak akan membiarkan kalian lolos!” “Baiklah!” Ryan mengangguk. Dengan lincah dan cepat Ryan mengecoh pergerakan serigala itu dengan teknik memutar, berpindah dari depan lalu ke belakang dengan sangat cepat, naik ke bagian atas lalu turun ke bawah, menyelip di antara tungkai serigala itu hingga membuat si serigala kebingungan bagaimana cara menangkap rubah lincah itu. Kaki Ryan, mungil dan ringan seperti bulu hingga pergerakannya sangat sulit untuk ditebak. Dan itulah yang sedang Ryan lakukan yaitu membuat serigala itu kebingungan. Tidak selesai dengan gerakan memutar yang cepat beberapa kali Ryan juga memberikan tanda di tubuh serigala itu dengan gigitannya. Teknik bertarung yang sangat keren dan kupikir hanya Ryan yang bisa melakukan itu. Dia diberikan kemampuan hebat oleh para bintang dalam bertarung. Serigala itu beberapa kali menjerit dan meringis sakit saat beberapa bagian tubuhnya terkena sambaran cakar dari Ryan. Hingga membuat tubuh serigala itu oleng lalu terjatuh ke tanah. “Kali ini kami yang akan menang!” ucap pemimpin kami. Aku dan Nath pun bersiap untuk menyerang balik. Namun suara jeritan seekor rubah membuat kami menolehkan atensi ke sumber suara itu. Di pertarungan yang lain, tepatnya di tim Hyeni, Jizzy dan Chen. Seekor serigala berhasil menjatuhkan Hyeni dan menarik tubuhnya ke atas pohon. Hyeni mencoba untuk melawan tapi ekornya sedang digigit oleh serigala itu. Chen dan Jizzy mengejar namun terlambat Hyeni sudah dihempaskan dari atas pohon hingga mendarat dengan keadaan yang buruk. Tubuhnya menubruk batang pohon dan membuatnya terkulai lemas. “Hyeni!!” teriak Ryan terlihat khawatir. Terlalu fokus dengan pertarungan tim lain, sampai kami tak sadar serigala yang sudah kami tumbangkan ternyata bangkit lagi dan kini menggigit tungkai ku yang sedang terluka. Jeritan yang kuteriakkan berhasil membaut dua temanku kini berbalik. “Starly!” Kakiku rasanya akan patah karena cengkraman kuat yang diberikan oleh moncong serigala ini. Aku mencoba untuk melepaskan namun tidak bisa cengkeramannya terlalu kuat. Ryan dan Nath berlari ke arahku yang sudah digeret oleh serigala ini ke tempat yang lebih jauh. Aksi kejar-kejaran di malam hari pun terjadi.Tak ada yang bisa menyaingi kecepatan berlari Ryan termasuk serigala sekalipun. Dan kini si kilat kuning itu sudah berada di depan kami dan menghadang pergerakan si serigala. Nath terengah-engah mengejar dari arah belakang tubuh serigala. Serigala itu mengeram, eramannya terasa bergetar sampai ke seluruh tubuhku dan kurasa kakiku sebentar lagi akan patah. “Aku sudah tidak tahan lagi,” keluhku dengan napas terengah-engah. Kulihat Ryan memberikan kode pada Nath di belakang tubuh serigala. Dan Nath langsung berlari kencang dan segera menggigit ekor serigala itu membuatnya menjerit. Jeritannya itu berhasil membuat mulutnya dan membuatku terlepas dari moncong itu. Ryan segera menarik tubuhku ke belakang tubuhnya. Mengecek kondisi kakiku yang sudah terkulai lemas. “Tahan sebentar, Starly,” ucap rubah itu sebelum akhirnya pergi dan menerjang tubuh serigala itu hingga terjungkal ke belakang. Gigitan ekor yang Nath berikan pada serigala itu membuat si serigala kelimpungan dan sulit bergerak menyeimbangkan diri. Jalannya sudah tak karuan dan disitulah kesempatan Ryan untuk memberikan serangan terakhir pada serigala itu. Secara bergilir Ryan dan Nath menerjang tubuh serigala itu hingga mundur ke belakang terus menerus. Serigala itu sudah kelimpungan dan tak bisa menahan tungkainya untuk berdiri lagi. Hingga sampai di ujung pintu menuju lembah hitam, serigala itu terpojokkan. Dengan sekali terjangan yang dilakukan oleh dua ekor rubah akhirnya serigala itu masuk ke dalam lembah hitam dan tergeletak tak berdaya di dalam sana. Ryan masuk ke dalam lembah hitam untuk mengecek keadaan di dalam. Aku yang masih tergeletak di tanah sungguh penasaran. Mencoba bangkit sedang ku usahakan untuk melihat keadaan di dalam lembah hitam. Tertatih karena tungkai ku yang terluka tidak bisa menapak tanah lagi dengan sempurna. Namun belum sampai di pintu lembah hitam, dua rubah temanku sudah keluar dari sana dengan wajah bahagia. Sepertinya dugaanku benar— “Serigala itu telah tewas!” ucap Ryan membuatku tersenyum lega. Serigala lain yang mendengar berita itu panik dan langsung melarikan diri dengan keadaan parah. Beberapa tubuh mereka berlumuran darah dan satunya berlari terbirit-b***t dengan pincang. Rubah lain bernapas lega. Menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah karena musuh mereka telah tiada. Senyum kemenangan terpatri di wajah kawanan kami. Dan yang lainnya pun kini mulai berkumpul di depan pintu lembah hitam. Kulihat keadaan yang lain ternyata sama buruknya denganku. Mata Chio membengkak dan menghitam. Zayn di tubuhnya yang memiliki tatto berwarna hitam seperti harimau daerah khatulistiwa kini memiliki corak lain berwarna merah dari darahnya sendiri. Zayn menghampiri kembarannya, “apa tattoku sekarang terlihat keren?” lalu mereka berdua menertawakan hal itu. Sungguh kembar yang sangat unik. Di tim yang lain Hyeni berjalan terpincang-pincang. Terakhir yang kulihat gadis petarung itu telah dihempaskan oleh serigala berbadan kurus itu dari atas pohon lalu jatuh tak berdaya, kita semua sudah dalam kondisi lelah dan sangat butuh dengan istirahat. Ryan menghampiriku, menggesekkan lehernya di ceruk leherku, “tidak papa, istirahatlah dulu.” Aku yang tak kuat menopang tubuh langsung menjatuhkan di atas tanas. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk berdiri dan kamipun butuh tidur. Ryan mengamati seluruh kawanan. Dan memberikan perintah untuk istirahat di tempat ini saja. Di depan pintu lembah hitam karena di sana pun ada pohon besar yang bisa dijadikan untuk tempat bernaung sementara waktu sampai keadaan tubuh kami semua menjadi pulih total. Satu persatu para anggota naik ke atas pohon, tubuhku ditopang oleh Ryan untuk naik ke atas, dan syukurlah berhasil tidak begitu kesusahan. Menjatuhkan kepala aku berusaha untuk terpejam sampai suara jeritan Chio terdengar membuat kita semua menoleh ke arahnya. “Ada apa?” saut Hyeni. “Kak Giya dan Nuz, kita harus menjemput mereka.” Tiga anggota yang tidak terluka parah langsung bergegas untuk mencari Kak Giya yang katanya tengah menunggu kita di ujung jalur yang kita lewati untuk menuju ke tebing. Kak Giya dan Nuz pasti sedang menunggu. Tiga anggota yang berangkat adalah Ryan dan Chen. Sementara yang lain bisa beristirahat, Nath dan Zayn berjaga bergantian di bawah pohon. Menunggu yang lain tiba. Ryan menyuruhku istirahat saja sementara dia akan mencarikan obat untuk menyembuhkan kakiku lagi. Namun sampai tengah malam aku sangat sulit untuk terpejam padahal tubuhku sebenarnya sudah sangat lelah. Tatapan ku masih mengarah ke ujung jalan berharap Ryan muncul bersama yang lainnya. Sampai seekor rubah memperingatkan ku untuk tidur saja. Itu Launa, gadis rubah itupun masih terjaga bersamaku. “Apa mereka akan kembali?” tanyaku yang tentu saja Launa pun tak tahu jawabnya. Namun gadis rubah itu mengangguk, “tentu, mereka pasti akan kembali.” Aku menghela panjang. Kata-kata Launa belum membuatku tenang. Takut-takut terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Sampai kecemasanku juga dirasakan oleh rubah gembul di samping Launa. Chio menatap adiknya dan aku bergantian yang masih terjaga lalu berkata, “istirahatlah, pemimpin kalian sudah memberikan perintah itu, Starly, Launa, kalian banyak terluka dan sudah lelah.” Aku mengangguk dan tepat saat aku telah menjatuhkan kepalaku di atas dahan dan tubuh yang kubiarkan tertidur tiba-tiba saja suara gerombolan para rubah mulai terdengar. Itu mereka, mereka telah kembali. Ryan, Chen kak Giya dan Nuz. Tak ada yang kurang. Mereka semua langsung naik ke atas pohon mengambil posisi masing-masing dan langsung istirahat. Rubah yang berjaga di bawah pohon pun langsung naik ke atas pohon, karena di atas pohonlah tempat istirahat yang cukup aman dari berbagai serangan. Lega melihat yang lain sudah kembali dengan selamat aku langsung merasa ngantuk dan terkulai lemas. Ryan yang sejak datang di moncongnya sudah terdapat beberapa tanaman kini di jatuhkan di depan tubuhku. Tanaman itu tanaman yang sama yang kulihat saat di hutan pinus saat Ryan mengobati lukaku. “Belum tidur?” tanya Ryan kini terduduk di sampingku dan mulai membuat ramuan obat dengan moncongnya. “Aku akan tidur sekarang,” jawabku dan rubah itu tersenyum. “Istirahatlah, aku akan mengobati lukamu.” “Baiklah, terima kasih.” “Apa ada sisa obat untukku juga?” tiba-tiba saja Launa datang dan menghampiri dahan sebrang tempat aku dan Ryan sedang beristirahat. Ryan mengangguk, aku dan Launa didudukkan sejajar lalu diberikan obat bergantian oleh pemimpin rubah itu. Saat di hutan pinus aku tidak menyadari saat diobati oleh Ryan dan saat sadar seperti ini aku bisa merasakan tungkai ku begitu perih dan sakit sekali. Tulang yang kukira patah ternyata tidak, lututnya masih bisa digerakkan ke depan dan belakang. Dan keramnya hanya karena kulit luar yang terbuka membuat darahnya mengalir cukup banyak. Sementara Launa juga memiliki bagian luka yang sama yaitu di lututnya. Tapi milikku jauh lebih parah dari kakinya “Selesai, kalian berdua bisa istirahat,” ucap Ryan saat memasangkan obat juga di kaki Launa. Rubah itu berlalu naik ke atas dahan yang lebih tinggi dari tempatku lalu tertidur di sana. Hari ini cukup melelahkan, dan sekarang waktunya istirahat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD