20. Latihan Bertarung

1783 Words
Saat membuka mata yang pertama kali kulihat adalah moncong seekor rubah yang tidur tepat di depanku. Matahari bersinar cukup terik, masuk ke dalam celah pepohonan yang sedang kami naiki. Dan kurasa, aku terlalu banyak tertidur karena sinarnya ternyata sudah hampir sampai di atas kepala. Aku mundur dari Launa beberapa langkah. Gadis rubah itulah yang berada di depanku ketika aku membuka mata, semalam setelah selesai diobati oleh Ryan. Kami berdua tidur bersama di atas dahan yang sama. Sementara Ryan berpindah satu dahan di atas kami. Saat menoleh ke atas pemimpin kami ternyata sudah tidak ada di tempatnya. Menoleh ke sekeliling dan kebawah kulihat yang lainpun sudah tak ada di tempatnya. Pohon yang kami jadikan sebagai tempat istirahat ternyata kini hanya tersisa aku dan Launa saja penghuninya. Launa masih sangat nyenyak dan pulas sekali tidurnya. Aku yang panik karena ku pikir sudah ditinggalkan oleh kawanan langsung menggoyangkan tubuh Launa untuk segera bangun dan mencari kawanan lain. “Launa, bangun!” Gadis rubah itu menggeliat namun masih enggan membuka matanya. Aku menggoyangkannya sekali lagi dengan tungkai ku namun gadis itu masih enggan membuka mata. Menggoyangkannya sekali lagi namun tiba-tiba saja kuhentikan gerakanku. Aku menyadari satu hal, tungkai yang ku gunakan untuk membangunkan Launa adalah tungkai yang semalaman terluka parah. Dan ajaibnya kini sudah bisa digerakkan dan rasa sakitnya sudah sedikit berkurang. Meninggalkan Launa dengan mimpinya aku beranjak dan mencoba menggerakkan tungkai ku lagi. Tenyata berhasil walaupun lukanya belum kering total. Setidaknya aku sudah bisa memijak permukaan walau tidak begitu sempurna. Aku mengecek keadaan Launa yang sama memiliki riwayat penyakit sepertiku. Lukanya tidak begitu parah namun ku yakin obat yang Ryan berikan untuk kami ternyata sangat manjur. Karena Launa yang masih enggan untuk bangun dan aku yang ingin coba menggerakkan tubuhku lebih leluasa. Aku memilih untuk turun dari atas pohon dan meninggalkan Launa seorang diri di atas sana. Mencari kawanan lain yang mungkin saja sedang mencari sarapan. Tiba-tiba saja aku mendengar suara tangisan Nuz di balik semak. Semak tempat kita bersembunyi dari kawanan serigala semalaman. Penasaran aku menghampiri semak itu. Dan tenyata benar tidak hanya Nuz. Kak Giya dan Hyeni juga ada sana, dan ada seekor bangkai kijang yang tergeletak di hadapan mereka. Terlihat sangat lezat dan kehadiranku ternyata mengagetkan mereka berdua. “Starly, kemarilah!” panggil Kak Giya, “makanlah!” perintahnya. Dan aku langsung menerima tawaran itu. Acara sarapan ini cukup hening. Kami menikmatinya dengan lahap. Sejak keluar dari hutan pinus perut kami memang belum di isi oleh daging. Lalu Serigala menyerang dan tak ada waktu untuk mencari makan. Syukurlah di sini ada makanan dan kami bisa menyantapnya dengan tenang. Namun aku terpikirkan dengan kawanan yang lain dan membuatku bertanya pada dua rubah ini. “Yang lain apa sedang mencari makanan juga?” “Tidak, mereka sudah melakukannya pagi-pagi sekali. Aku semalam sudah sampai dengan dekat tebing,” ucap Kak Giya. Dia selesai dengan sarapannya dan kini menjangkau Nuz untuk diberikan ASI. “Tebingnya sudah sangat dekat, karena semalam begitu gelap jadi tidak begitu kelihatan. Tapi saat Ryan dan Jizzy menjemput ku mereka berdua sudah tau kalau kita tenyata sudah dekat dengan tebing.” “Mereka sudah berangkat dan meninggalkan para gadis di sini?” tanyaku karena memang hanya gadis rubah saja yang sekarang berada di depan pintu lembah hitam termasuk Launa yang masih tidur di atas pohon. Teringat dengan gadis yang kutinggalkan sendirian di atas pohon aku langsung bangkit hendak menjemputnya. “Launa, harus dibangunkan juga, dia pasti kebingungan tidak melihat kawanan lain di sekitarannya.” “Ya, panggilah dia dan ajak sarapan bersama di sini,” ucap Hyeni dan aku pun bergegas. Kabar tentang keadaan jantan yang lain nanti akan kutanyakan lagi Keluar dari semak-semak, aku langsung berlari ke arah pohon besar di depan pintu lembah hitam, dan di sana Launa ternyata sudah terbangun dan terduduk di atas tanah. “Launa!” panggilku. Gadis rubah itu menoleh, wajahnya yang murung kembali ceria lagi. “Kupikir kalian meninggalkan ku," jawabnya. “Tentu saja tidak.” “Kawanan yang lain kemana?” tanyanya. “Aku baru saja mendapatkan sarapan, di sana ada kak Giya dan juga Hyeni. Bangkai kijang segar di dalam semak-semak. Makan di dalam sana aku rasa lebih aman.” “Chio kemana?” Launa khawatir mencari keberadaan saudara kembarnya. Aku pun tak tau rubah jantan yang lain sedang di mana termasuk Ryan. Kak Giya hanya menceritakan tentang tebing yang ternyata sudah dekat dengan tempat istirahat kami. “Kak Giya menyuruhku untuk mengajakmu sarapan terlebih dahulu. Sarapannya ada di dalam semak-semak itu nanti mereka akan menjelaskan apa yang harus kita lakukan setelah ini.” Launa mengangguk. Dia mengikuti ku menuju semak-semak. Makanan masih tersisa banyak. Launa dan aku disisakan untuk makan bersama. Hyeni yang menjelaskan kepada kami tentang keberadaan yang lain. Katanya, untuk sementara rubah betina yang lain tidak ikut untuk mencari jalan menuju ke atas tebing. Khawatir dengan kondisi kakiku yang belum sembuh total dan khawatir akan semakin parah jika memaksa untuk naik ke tebing. Jadi untuk sementara, sembari menunggu keadaan tubuh kami pulih. Rubah yang lain akan mencari rute aman dan membereskan jalur berbahaya untuk naik ke atas bersama-sama. Dan entah membutuhkan waktu berapa lama sampai mereka kembali. Sebelum memutuskan untuk pergi secara terpisah seharusnya Ryan mengecek kondisi kakiku terlebih dahulu. Khawatir yang ia pikir akan semakin parah sepertinya tidak akan terjadi karena kakiku dan Launa sudah sembuh total. Bahkan kami tak berjalan dengan terpincang lagi. Hanya saja lukanya memang belum tertutup sempurna. Tapi itu bukan menjadi alasan untuk menungguku sembuh. Ini akan memakan waktu yang lama untuk kita sampai tebing bersama-sama. Dan misi kita untuk menyelamatkan rubah yang lain termasuk ibuku juga akan semakin terhambat. Ini tidak bisa, kita harus menyusul mereka. “Tidak bisakah kita menyusul mereka ke dekat tebing. Kakiku dan Launa sudah cukup membaik dan kurasa mereka harus tau informasi ini, agar kita tidak menghabiskan banyak waktu untuk sampai ke atas,” saranku membuat rubah yang berada di dalam semak terdiam cukup lama. “Aku sudah sembuh, lihatlah!” seruku sedikit melompat ke luar semak-semak agar mereka bisa melihat gerakanku yang sudah cukup mampu jika harus memanjat tebing. “Memanjat tebing itu sangat sulit, Starly, bahkan rubah sehat sekalipun belum tentu mampu untuk melewatinya.” “Tapi kita tidak bisa berdiam diri seperti ini, ingat misi awal kita untuk mencari kawanan yang lain.” “Ingat juga kata Ryan. Dia pemimpin kita kini dan perintahnya adalah mutlak. Keselamatan kita adalah yang utama.” Hyeni keluar dari semak-semak lalu naik ke atas pohon untuk istirahat. Menyusul kawanan yang lain sepertinya tidak akan disetujui olehnya. Aku menatap kak Giya dan Launa bergantian. Merekapun mengangguk, Kak Giya berkata, “Hyeni benar, keselamatan kita adalah yang paling utama.” *** Tak ingin hanya berdiam diri di atas pohon dan tak melakukan apapun. Ku Putuskan untuk melatih tungkai ku agar bisa bergerak dengan lebih cepat. Dan aku pun mulai bisa beradaptasi dengan ekorku yang pernah terbakar. Kini sudah mampu untuk menyeimbangkan diri dan bagaimana cara bergerak ke arah yang benar. Pergulatan dengan serigala semalaman membuatku berfikir, bahwa peranku di kawanan ini memang cukup payah dan membuat yang lain kesusahan. Dengan payahnya aku ditarik dan diseret oleh serigala itu dan tak bisa melakukan pemberontakan. Kini aku berniat untuk latihan bertarung dan menyerang. Tidak terlalu jauh, hanya beberapa langkah dari pohon tempat kita istirahat. Saat menerjang lawan, hal yang harus diperhatikan adalah kekuatan otot depan dan belakang. Belakang harus kuat mendorong dan depan harus sigap dalam menopang berat tubuh. Kuda-kuda untuk menerjang sedang kucoba. “Satu … dua … tiga. YAK!” aku berlari kencang langsung menubruk batang pohon yang telah mati. Menerjangnya lalu melompat mundur. “Satu dua tiga, YAK!!” sekali lagi kucoba dengan jarak lari yang lebih jauh dan tubuhku memantul melompat mundur cukup jauh juga. Kakiku baik-baik saja dan kurasa aku berhasil melakukannya. Aku teringat Nath yang sangat hebat dalam menerjang dan menjatuhkan lawannya. Bahkan lawan yang memiliki tubuh lebih besar darinya. Aku melakukan terjangan itu terus menerus, nafasku keluar tak beraturan. Ternyata bertarung cukup melelahkan, namun aku tak boleh menyerah di sini. Tidak boleh terlihat payah lagi dan tidak boleh membebani kawanan yang lain. “Ayo kita latihan dengan cara yang lain.” Aku berdiri di atas batang pohon yang rubuh itu, sungguh banyak pelajaran yang bisa kudapatkan dari hasil pertarungan semalam. Selain teknik menerjang yang dicontohkan oleh Nath, Ryan pun memiliki teknik bertarung yang lain. Dan itu sangat keren. Kakiku memang tak selincah dan seringan miliknya namun kurasa aku mampu untuk mencoba teknik itu. Mengitari lawan dengan sangat cepat hingga membuat fokusnya berantakan dan di saat itulah kita mulai menyerang. Untuk latihan yang satu itu aku sudah memiliki target. Salah satu pohon di dekat sini ada yang tumbang. Dan batang pohonnya tidak jatuh seluruhnya. Batangnya hanya terpotong setengahnya saja dan membuat lubang yang cukup besar di antara batang tumbang dan tidak tumbang. “Masuk ke dalam lubang, keluar, lalu naik, melompat ke atas pohon yang tumbang, lalu masuk lagi ke dalam lubang. Lakukan dengan kecepatan kilat!” Aku bersiap-siap. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Aku siap! Satu dua tiga yakk!!” Berlari kencang terlebih dahulu aku mengitari batang pohon yang tumbang itu tiga kali putaran, lalu naik dan turun dari atas batang lalu mengitari lagi. Masuk ke dalam celah, naik, turun lalu memutar seperti di awal, semua itu kulakukan berulang-ulang sampai kurasakan kecepatan lariku semakin cepat dan meningkat. “Aku bisa melakukan ini seperti Ryan!” teriakku sambil memutari batang pohon itu. Sampai suara seseekor terdengar membuatku perlahan menurunkan kecepatan. “Starly!” panggilnya, dan dari ujung netraku aku melihat Chio berdiri di sana. Perlahan aku menghentikan langkah. “Sedang apa?” teriaknya. “Aku sedang berlatih, sejak kapan kamu sampai, yang lain apa sudah sampai juga?” “Hanya aku dan Jizzy saja yang kembali, yang lainnya masih mencari rute di dekat tebing. Aku diminta untuk mengawasi kalian berdua, apa kakimu sudah sembuh?” Aku berjalan menghampiri Chio, “Kakiku sudah sembuh, sudah bisa digunakan untuk menerjang dan berlari kencang, tidak perlu khawatir Chio, aku dan yang lain kurasa sudah bisa menyusul teman-teman yang berada di tebing.” “Ryan meminta kita untuk istirahat semalam lagi, kakiku sangat parah, jangan dipaksa lagi.” Aku menggeleng, “tidak, lihatlah ini!” aku mengambil ancang-ancang lagi untuk menerjang batang pohon yang tumbang itu, berlari dengan kencang dan bugh! Batang pohon itu sedikit rubuh. “Bagaimana? Aku sudah hebat kan?” Rubah gembul itu terbahak, dia langsung mengambil ancang-ancang dari tempatnya berdiri, lalu berlari kencang dan menubruk batang pohon tadi dengan sangat kuat. Membuat batangnya rubuh dan menggelinding sampai jauh. Dan itu dalam sekali terjang. “Wow, bagaimana bisa?” Batang pohon yang ku terjang beberapa kali hanya meninggalkan bekas penyok yang sangat kecil, namun Chio bisa langsung menghancurkannya. “Aku akan mengajarimu latihan kekuatan, Starly.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD