02. Roh Bintang

1264 Words
Cahaya matahari menusuk tepat di sebelah wajahku yang terpejam, kini membuatku sedikit terusik dan mengerjap tak nyaman, bergeser sedikit ke tempat yang ternaungi ranting dan dedaunan aku menjatuhkan kelopak dan melanjutkan tidur, kembali ke alam mimpi. Ibu berkata bahwa penari roh bintang diberikan kemampuan untuk dapat berkomunikasi dengan roh-roh rubah yang sudah duduk tenang di atas langit melalui mimpi. Dan .... Ayahku sudah menjadi bintang. Aku ingin mengatakan pada ayah bahwa semalam ibu sangat menyebalkan. Sebagi informasi saja, meskipun ayahku telah menjadi bintang tapi ibuku tidak termasuk golongan janda. Gelar janda diberikan pada rubah betina yang pernah menikah namun belum dikaruniai keturunan, lalu suami mereka terbunuh saat berperang. Ibuku bukan janda. Oh ya, mengenai berbicara pada roh bintang sepertinya aku belum sampai ke tahap itu, sudah berapa kali aku mencoba untuk berbicara pada ayah tapi aku seperti berbicara seorang diri. Aku tidak mendengar suara ayah sama sekali. Sampai aku menyerah dan memilih untuk tidur saja. Rebahan adalah hobi ku jika ada yang tanya. "Ekhm," aku menggeliat tak nyaman, ternyata tidak hanya cahaya matahari yang mengganggu moment rebahanku. Kurasakan napas hangat seekor kini berperan untuk menggangu ketenanganku juga. "Gadis cantik, ayo bangun," ternyata suara ibu. Hidungnya kurasakan mengendus-endus perut atasku, lalu— "Ibu geli," aku terkikik tiba-tiba saja saat ibu mengendus leherku dan berhasil membuat mataku terbuka. "Arah dua puluh derajat dari matahari terbit, di balik pohon betula raksasa, ada bangkai kijang segar, bergegaslah sebelum Muggi menghabiskannya," senyum ibu. "Makan?" penuh binar, aku bangkit merenggangkan tungkai belakangku kemudian berlari cepat setelah mengecup pipi ibu. Ayah ... ternyata ibu tidak menyebalkan jadi maafkan dia. "Ingat perbedaan pohon betula dan mahoni kan?" teriak ibu saat aku sudah melesat jauh namun suaranya masih bisa ku dengar. "Iyaa aku tau," balasku tak kalah kencang. Sebenarnya aku tak tau bedanya, tapi aroma makanan bisa menuntunku ke arah yang tepat. Bangkai kijang segar, kedengaran lezat. Ibu biasa berburu saat malam hari. Kawanan Rubah mencari makan masing-masing dan tak membawa jejak bangkai ke dalam area rumah. Itu bisa memancing bahaya. Jadi kita berburu dan makan seorang diri jauh dari rumah. Aku yang selalu malas untuk berburu memilih untuk tidur saja menunggu ibu datang memberikanku kabar makan. Ibu biasanya memanggil aku dan Muggi untuk makan bersama. Muggi gadis yatim piatu. Satu ayah denganku, namun ibunya gugur saat perjalanan panjang kami beberapa hari yang lalu. Ibu Muggi sudah sangat tua, perjalan panjang dan cuaca ekstrim tak bisa menuntun tungkainya untuk berjalan sampai bertemu dengan rumah baru. Dan ya, karena Muggi masih belia jadi ibu memutuskan untuk membantunya juga. "Muggi!" sapaku saat ia tengah menggigit tungkai depan kijang malang itu, terlihat sangat lezat. "Kak Starly, aku menyisakan kesukaanmu, tungkai belakang," tunjuknya dengan moncong, lalu membawa makanannya menjauh dari TKP. "Wow Wow, terimakasih Muggi cantik." Aku pun menarik tungkai belakang bangkai kijang itu lalu membawanya jauh dari TKP. Kami biasa menghindari makan di tempat pembunuhan. Aroma bangkai bisa memancing kawanan yang lebih buas untuk bersaing merebutkan makan. Cheetah, Hyena atau bahkan Singa? aku tak ingin berurusan dengan mereka. Lagipula aku tak pandai bertarung jadi menghindar adalah cara tepat untuk bertahan hidup. Bisa saja aku makan di lokasi jika ayah berada di sini dan melindungi ku saat menyantap hidangan. Tapi ayah sudah duduk di langit. Jadi lebih baik untuk menghindar atau— "Hai calon istri!" Ya, atau mencari sosok pelindung baru. "Ohai Ryan," jawabku Padahal aku sudah bersembunyi di balik ilalang tapi ada saja yang menemukan. "Makanan favorit adalah tungkai belakang, oke aku akan mengingatnya calon istri," bocah itu bergerak lincah turun dari dahan pohon. "Kamu ngawasin aku?" "Iya, calon istri yang pemalas harus diawasi." Aku mendelik tak ingin melanjutkan obrolan apapun dengan si tengil. Sial, dia baru saja menyindirku dan lebih baik untuk menghindar darinya, memilih untuk menikmati sarapan dengan tenang. Namun tengil tetaplah tengil. Setelah turun dari pohon, bocah itu kini datang ke arahku. mengendus-endus leherku dengan moncongnya. "Hei!! aku sedang makan Ryan!" hentak ku sedikit menghindar. "Kamu belum mandi calon istri, ibumu sangat cantik karena dia bukan betina pemalas seperti mu." Aku mendengus kasar, tak ingin menghiraukannya lagi, membawa sisa daging sarapanku untuk menjauh darinya. bodo amat lah Yan! "Hei calon istri tidak boleh cuek dengan calon suaminya." "Ryan diamlah biarkan aku selesaikan sarapanku." Ryan lalu mengitari tubuhku, ekornya yang panjang sempat mengganggu telingaku sebelum akhirnya memanjat ke pohon lagi, "oke silahkan makan calon istri." Berjalan agak menjauh dari lokasi pohon aku menjatuhkan daging kijang ini, lalu melahapnya dengan rakus menyisakan tulang yang tak begitu bersih. Lezat sekali. Ssrrkk! Aku membelalak. Arah semak-semak. "Siapa itu?" panggilku. Ssrrrkk! "Ryan?" Ssrrrkk! Aku semakin memicing, memperhatikan lamat area mencurigakan itu, "Ryan? apa itu kau? jangan menggodaku!" Rerumputan kering itu bergerak-gerak lagi, membunyikan gemercik yang aneh. "Ry—" "Hei, tenang calon istri, apa kau ingin digoda sekarang?" Ryan tiba-tiba saja berada di samping tubuhku. "Hrrrrrr!!" aku mengeram di depan wajahnya. "Oke, tenang cantik ada apa?" Sssrk! Kepala kita bersamaan menoleh ke bunyi gemercik di balik rumput kering. "Bunyinya dari sana!" Tidak ingin penasaran aku mendatangi arah semak-semak yang bergerak aneh itu. "Biar calon suami yang mengatasinya, calon istri mundur!" si yellow fox dengan kecepatan bagai cahaya kilat kuning masuk ke dalam semak-semak itu. ekor yang sepanjang tubuhnya juga ikut tertelan ke dalam sana. satu domba ... dua domba ... tiga domba .... "Ryan?" Tak ada sahutan dan tak ada pergerakan apapun. "Ry—" "HUAAAAAA!!" "Ryan sialan!" umpat ku geram menyeruduk lehernya. "Hei tidak boleh mengumpat pada calon suami, nanti kita tidak bisa punya anak!" "Kamu tuh apa-apa sih, jail banget! ngagetin!" Ryan terkikik, lalu mengayunkan kepalanya, seolah mengajakku untuk mengikutinya. "Kemana?" "Lihat ini." Ryan membuka jalan masuk menuju semak-semak. Aku mengikutinya, dedaunan kering membuatku bergerak limbung karena tak sengaja terlilit untaiannya, lalu beberapa helai juga menghalangi pergerakan dan pengelihatan, membuatku sedikit memberontak saat memasuki kawasan ini. kacau dan berantakan, lalu apa yang kudapatkan? "ckn ... ckn ...." "Kelinci," cengir Ryan dengan mata berbinar. "Kelinci putih." Ryan menemukan seekor kelinci yang terjebak rerumputan kering. Dua kaki belakangnya terlilit membuat badanya terjatuh dengan kepala mendongak memohon untuk diselamatkan. "Bunuh dia, calon istri!" Aku melotot tajam, "tunggu, apa?" "Bunuh dia!" "Bu-bunuh?" "Belum pernah berburu kan?" tebak Ryan dan tepat sasaran. Aku memang rubah payah, belum pernah membunuh hewan, makanan yang kudapat selalu bangkai sisa dari pembunuhan liar atau dari ibu. Tatapan memohon si kelinci tak bisa ku hindari, aku tak tega membunuhnya apalagi dia sedang terjebak.Mata berbinar dari kelinci mulai mengeluarkan tetes demi tetes air, kelinci kecil itu menangis, dia bercicit-cicit kecil karena kakinya sakit. "Ayo bunuh!" Bintang apa yang harus kulakukan sekarang, kelinci itu menunduk dia sudah menangis sesegukan minta diselamatkan, sementara Ryan terus saja memberikan perintah untuk membunuh. Angin segar tiba-tiba saja menggoyangkan padang ilalang dan membuatku sadar bahwa aku juga ikut meneteskan air mata. Aku segera menggeleng cepat. "Gak bisa, aku gak bisa!" tolak ku. Ryan menoleh tajam ke arahku, "kenapa gak bisa?" tuntutnya. Bergantian aku melihat Ryan, melihat si kelinci lalu kembali melihat Ryan, "A-aku penari roh, tidak boleh membunuh!" kilahku. Syukurlah aku menemukan alasan yang bagus. Aku benar-benar belum berani untuk membunuh kelinci ini. "Tapi ibumu boleh membunuh!" bantah Ryan cepat membuatku tertohok. Menelan ludah susah payah, ku pandangi lagi kelinci lucu itu, Ryan terlalu pintar untuk dibodohi. Dia mendekat dan semakin tajam meminta alasan. Sebelumnya aku belum pernah makan daging kelinci, aku tak tega karena dia begitu lucu. "Anu ... Ryan ... penari roh yang masih gadis gak boleh!" seruku dan berhasil membuat alisnya terangkat lalu mengernyit. "Benarkah?" Aku mengangguk kecil. "Baiklah, aku yang akan bunuh!" "NGGA JANGAN! kasian," seruku memelan di akhir. Ryan berdecih lalu menatap sinis, kemudian bocah itu berlalu setelah mengatakan, "calon istri yang payah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD