03. Waterfall

1260 Words
Aku menghela napas panjang, kulihat ekor Ryan menghilang ke luar dari semak ini, menyisakan aku dan si kelinci putih yang terjebak. "Ohai, namaku Starly, aku akan melepaskan itu, bertahan ya," taring tajam ku menggigit bagian rumput, "jangan takut aku upayakan supaya tidak menggores kakimu, jangan bergerak!" Melepaskan belitan rumput liat memang sedikit sulit, aku sedikit kesusahan namun kini sudah berhasil. Si kelinci putih bisa melompat kembali. "Pulanglah!" seruku sebelum Ryan menemukannya lagi lalu membunuhnya. "Starly nama yang cantik, seperti bintang." cicit si kelinci begitu lucu. "Terimakasih, aku memang terlahir untuk bintang, namamu siapa?" "Aku Nana, kelinci putih dari gurun Savana." "Hai Nana, kita bisa berteman." Nana mengangguk lucu. "Nana apa ini juga saudaramu?" Ryan tiba-tiba saja datang lagi. kini di belah moncongnya tertidur seekor kelinci putih juga. Aku melotot tajam, Ryan membunuhnya. "Kak Doy!" seru Nana histeris, "dia kakakku satu-satunya Starly," Nana menangis. "Ryan! lepasin kak Doy!" "Hey calon istri! sadarlah! kita ini rubah dan kita makan mereka!" Kak Doy tak benar-benar mati, dia dilepaskan lalu bergerak menjauh dari Ryan, aku sangat bersyukur. Melihat si lucu Nana menangis membuatku ikut sedih juga, syukurlah Ryan hanya membuatnya pingsan dan membebaskan mereka kemudian. Kami pun pulang. Selama perjalan pulang tak henti-hentinya bocah tengil itu mengataiku 'calon istri payah' karena sedih melihat kelinci lucu menangis, sekarang membuatku muak dan memutuskan untuk berhenti berjalan bersamanya secara beriringan. Aku memelan, membuatnya mengoceh seorang diri jauh di depan. Melirik kanan kiri aku berencana untuk kabur darinya. Mencari jalan pintas lain untuk kembali ke Ibuku tentu saja. Sore ini Ibu sudah membuat jadwal latihan untuk persiapan malam bulan purnama. Persiapan untuk malam perkawinan. Membayangkan apa yang akan Ryan lakukan padaku membuatku bergidik seketika. Ryan belum pernah memiliki betina sejauh yang ku tau. Tapi dia tengil dan selalu menggoda para janda dan ibu-ibu termasuk ibuku juga pernah jadi sasaran gombalan mautnya. Waktu itu ibuku baper dan tak henti-hentinya menertawai betapa gemasnya bocah tengil itu. Cih. Ibu berkata Ryan itu kelewat manis anaknya, dia juga lucu, periang bla bla bla ini itu ... aku tak ingin mendengar cerita tentangnya. Yang jelas ku lihat ibuku saat itu sedang baper. Tapi Ibu menyangkalnya. Cih. Jarakku dan Ryan kini sudah cukup jauh, aku menghentikan langkah, memikirkan rute pulang walaupun cukup sulit. Ini kawasan baru bagi kawanan kami. Jadi ini mungkin akan sedikit berat. Aku mengambil satu ranting dengan gigiku, membersihkan tanah dari dedaunan kering dengan ekorku dan mulai memperhitungkan rute. "Kalo pohon betula jaraknya dua puluh derajat dari matahari terbit, aku muter kira-kira dua kali lipat jauhnya dari tempat- sampai ke semak-semak- tidak terlalu jauh balik ke arah matahari belok sedikit gak ketemu pohon betula tapi lewat belakang—" "Sedang apa?" Aku terlonjak, "kenapa kau balik kesini!" teriakku di depan wajahnya kaget karna tiba-tiba saja dia di depanku. Ryan mengamati gambarku di tanah, "mau kemana? calon istri payah. sudah tau payah mau sok-sok-an kabur!" Grrr!! "Pulang!" bentaknya membuatku menendang-nendang gambaranku sendiri di atas tanah. Berlalu meninggalkannya tentu dengan kesal. Dia itu masih calon suami. Belum jadi suami. "Tidak perlu membentak!" teriakku tak terima. Ryan memang lincah dan gesit. Langkah kakinya begitu ringan sampai aku tak tau bahwa kini dia malah sudah berdiri di depanku, menghadang jalanku. "Apa lagi?! minggir!" usir ku. Ryan tak ingin minggir, kini matanya mengernyit aneh. "Ayo!" ajaknya tapi tak melewati jalan pulang, "ikut aku!" katanya lagi. "Ngapain? aku mu pulang!" "Ck," suara decakan kesal keluar dari moncongnya, lalu menatapku lebih garang. "Yaa makanya mu kemana?" "Air terjun, kita mandi ... berdua." Sontak aku melotot. Apa-apaan barusan? "Ish! bisa gak sih kamu nunggu sampe bulan purnama Yan?" Ryan kembali mendatangi ku, menatap tegas, apa-apaan tatapan ini. Aku gak suka! memalingkan wajah kesal nyatanya tak membuat sorotnya meredup, kurasakan tatapan itu masih sama. Tegas. "Apa?!" hentak ku masih belum berani melihatnya. "Janji gak bakal tandain sebelum bulan purnama." Aku mengernyit. Suaranya terdengar rendah, tidak tengil seperti biasa. Ragu-ragu aku menatapnya lagi, bertemulah aku dengan hazel coklat lembut itu. ekorku gelisah dengan tatapan Ryan kini. "Bagaimana? mau ikut?" ajaknya lagi membuatku mengangguk kecil seperti tersihir kontak mata kami masih terhubung. Tumben sekali dia tidak mengatai ku. Lalu dia mengayunkan kepalanya lagi. Mengajakku untuk ikut bersamanya. Aku berjalan di belakang ekornya, dia yang menuntun. Ini adalah kawasan baru jadi kita berdua harus tetap waspada akan sekitar. Setalah sedikit berbelok ke arah tiga puluh derajat dari matahari terbenam, jalanan sudah terlihat renggang. Tidak penuh dengan semak belukar dan pohon-pohon yang berhimpitan. Ryan memelankan langkahnya kini berjalan di sebelahku, "bagaimana caranya berbicara pada bintang?" tanyanya tiba-tiba. Menaikkan alis aku menoleh ke arahnya, Ryan menunduk, "ada apa?" tanyaku. "Tidak, aku hanya penasaran saja, bagaimana cara penari roh bintang berbicara pada arwah rubah, kau bisa melakukannya?" Aku menggeleng, tapi dia tak melihatnya karena dia kemudian bejalan di depanku. "Benarkah arwah rubah menjadi bintang?" Ah, Ryan, ada apa dengannya, kenapa dia bertanya tentang itu terus. "Aku ingin berbicara pada ibuku," kata Ryan tiba-tiba membuatku mengerti. Ya aku mengerti, ibu Ryan dan Ayahku sama-sama sudah menjadi bintang. Ryan lebih tua satu minggu dariku. Sejak aku lahir aku belum pernah melihat Ryan bermain bersama orangtuanya. Ayahnya yang seorang pemimpin tentu saja tak bisa mengurus kedua putranya, jadi Ryan diasuh oleh ibu-ibu yang lain. Aku paham apa yang dia rasakan. Mengejarnya aku langsung menggesekkan pipiku di lehernya, "Hei calon suami." Ryan terkekeh dengan sebutan itu, membuatku ikut terkikik. "Hei calon suami bodoh!" "Kamu calon istri payah!" Ryan tertawa. Matanya ikut tertawa. Demi ribuan roh bintang yang ada di alam semesta, Ryan sangat tampan saat tertawa. "Aku juga ngga tau Yan, aku belum bisa bicara sama Ayah," sahutku membuat tawanya tiba-tiba saja berhenti. "Dari mana kamu tau mereka pada jadi bintang?" "Kata ibuku ... dan nenekku juga." Ryan menghentikan langkahnya kini berdiri di depanku, "kamu percaya?" "Tentu saja, aku penari roh bintang, bintang bakalan ngabulin harapan." "Kalo aku bilang benci bintang-bintang apa kamu bakalan berhenti nari buat mereka?" Aku mengernyit, "maksud kamu?" "Aku gak suka bintang," jawabnya sungguh aneh. "Aku gak percaya kalo arwah rubah bakal jadi bintang!" lanjutnya membuatku terkekeh kemudian. "Ya ... ya ... pas aku jadi bintang nanti aku bakalan teriak dari atas langit, kamu calon suami terbodoh yang pernah ada hahaha," aku terbahak membayangkan hal itu, tapi Ryan tak memberikan respon apapun. Wajahnya datar, "Hei calon suami bodoh, aku hanya bercanda," menyenggol tungkainya aku masih terkekeh kini dia malah memelankan langkah. "Jangan jadi bintang, Starly." "Huh?" "Berjanji tidak menjadi bintang!" Ryan menatapku begitu tegas. "Kamu aneh Yan!" Lihat kan! dia beneran aneh, baru saja dia menatapku tegas kini malah terkikik kecil. "Kamu payah, aneh, calon istri payah, aneh, sudah payah, aneh lagi!" Ck, Ryan yang menyebalkan baru saja kembali. Apa-apaan kata-katanya itu. "Kamu bodoh, aneh, sudah bodoh, tambah aneh!" tak kalah cepat aku membalas ucapannya. "Ck, aku tandain sekarang mampus baru tau rasa!" "Jangan macem-macem yaaa bodoh!" Ryan terkikik lalu membuka dedaunan yang menjuntai, "sudah sampai," katanya membuatku tersadar dengan sekitar. Sejak tadi bunyi air ternyata sudah terdengar dan aku tak menyadari apapun. Tirai dedaunan yang Ryan buka membuat angin dan sedikit gemercik air menerpa wajahku. Dedaunan yang dibuka itu lalu menampakkan benang-benang air yang sangat cantik, berjatuhan indah saling mengejar sampai ke tumpuan. "Wow cantik banget," "Ayo mandi!" seru Ryan berlari dan masuk ke dalam air. Aku masih takjub dengan kelambu air yang menjuntai indah, ada pelangi kecil juga di tengah terjunan itu. "Calon istri payah ayo sini!" Aku tersenyum senang menghampirinya, memainkan air dengan tungkai depanku, "airnya dingin Yan." aku bergidik kecil tapi sangat antusias dengan hal ini. "Yan seger banget," riang ku. "Kan, seger, kan?" "Seger banget!" "Starly, ini bakal jadi tempat kita." Aku tersenyum mengangguk mendengarnya, "baiklah, ini bakal jadi tempat kita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD