Ryan memiliki tubuh yang paling mungil dibandingkan dengan anggota Foxioz lainnya, keempat tungkainya pendek-pendek dan dia juga berbadan kecil, namun jika dibandingkan denganku tubuhnya lebih tinggi satu telur elang. Dan saat yang lain hanya memiliki panjang ekor setengah dari panjang tubuhnya, Ryan malah memiliki panjang ekor yang sama dengan panjang tubuhnya, bahkan ekorku sendiri tak sepanjang itu.
Ekor Ryan cantik, tapi ekorku lebih lebat dari miliknya.
Dia memiliki moncong yang tak begitu runcing, pipinya yang sedikit tembam membuatnya terlihat seperti buah persik yang sudah matang, ditambah warna bulu di tubuhnya yang hampir sama dengan buah itu juga membuatnya terlihat sedikit menggemaskan.
Jika diteliti lagi wajah Ryan hampir mirip dengan milikku, yang membedakan hanya di giginya saja. Ya, tentu saja berbeda, Ryan adalah petarung dan pemburu, dia pun putra dari pemimpin kawanan. Tidak heran jika giginya itu sudah diasah sebagai petarung sejak kecil. Tajam dan kuat, dan ada yang berbeda dari miliknya juga, tak banyak rubah yang memiliki ini, dan kurasa, di kawanan kami pun hanya Ryan yang memilikinya.
Taring yang timbul. Aku tak tau bagaimana gigi Ryan menjadi seperti itu. Gigi lain yang berhimpitan tidak memberikan jalan pada gigi taringnya, hingga salah satu taring Ryan yang berada di sebelah kanan atas sedikit menyembul keluar. Dan apabila dia tersenyum. Dia benar-benar terlihat sangat manis.
Untuk ukuran tubuh. Ryan termasuk yang berbadan mungil dibandingkan dengan anggota Foxioz yang lain.
Kaki Ryan yang mungil itu— yang membuat langkahnya ringan seperti bulu dan cepat bagai cahaya kilat. Tak diragukan lagi, kurasa Ryan memang rubah tercepat di kawanan kami. Gunn memberikan nama yellow fox, sebab Ryan bisa bergerak seperti warna kuning yang menyala di langit.
Kilat kuning, dia secepat itu.
Dan satu fakta yang ku tau tentangnya baru ini, ternyata Ryan itu rubah yang pandai berenang. Aku tak bisa berhenti terkikik melihat kaki pendek-pendek Ryan sedang menggapai-gapai permukaan air dengan kepala yang setengahnya menyembul keluar. Dia bisa menyeimbangkan diri di kedalaman.
Dia bilang berenang sangat seru, beberapa teknik menyelam juga sempat dia ajarkan padaku, katanya saat menyelam jangan menyedot udara terlalu banyak, perlahan-lahan saja seperti biasa, tahan napas seperti saat sedang berciuman (aku bergidik saat dia mengatakan itu) atau kalau menyelam biarkan ruang d**a kosong jangan terisi udara supaya dapat menyelam lebih dalam, begitu ajarannya tentu saja dengan tampang jail lalu ditambah makian dan bumbu-bumbu sarkasan
Aku jengkel saat ia memaki, tentu saja tak bisa ku terima, aku tak peduli jika tak bisa berenang, aku hanya suka bermain dengan mereka.
"Sedang memikirkan ku?"
Aku mengernyit. Wujudnya tak nampak hanya suara jailnya yang terdengar.
Tak suka sekali aku mendengar pertanyaan itu. Jangan salah paham, sejak tadi itu, aku bukan sedang memikirkannya! itu hanya ...
Itu hanya ... memikirkan, tapi tidak memikirkan seperti apa yang dia pikirkan! pokoknya bukan seperti itu.
"Ck, terlalu percaya diri, siapa juga yang mikirin kamu?"
Berbatas api unggun yang kita buat, Ryan menolehkan kepalanya dari balik api, lalu menggeser duduknya, memilih tempat agar mudah dijangkau oleh pandanganku, menggigit beberapa bunga di belah moncongnya malah membuatku penasaran dengan benda itu.
"Sedang buat apa?" tanyaku melihat Ryan menjatuhkan beberapa bunga dari mulutnya.
Dia tak menjawabnya, giginya yang terampil sedang sibuk memintal beberapa jenis bunga membentuk sebuah lingkaran dibantu tungkai depannya juga.
Ya, gigi-giginya yang terampil. Gigi taring yang menyembul keluar kurasa memiliki kelebihan Selain ditakdirkan untuk menjadi petarung, kurasa giginya itu bisa membuat banyak hal yang menakjubkan. Gigi itu yang membuatnya sangat terampil.
Tak direspon apapun membuatku menjatuhkan kepala memilih untuk melanjutkan rebahan sembari mengeringkan badan dan membiarkan Ryan yang sibuk dengan keterampilannya.
Hingga beberapa detik terpejam aku merasakan sesuatu menganggu telingaku.
Aku mengenal sentuhan ini ... ini ekor Ryan.
"Jangan ganggu deh!" seruku, malah dijawab dengan kekehan.
"Bangun, lihat sini," titahnya membuat satu mataku terbuka, mengintip sedikit ke sumber suara.
Di tempatnya terduduk, Ryan sedang menggigit bunga-bunga yang membentuk lingkaran. Sambil menggigit bunga-bunga itu dia tersenyum, menampilkan gigi-gigi yang rapi dan tajam. Aneh memang.
"Tidak penting," gumamku memilih untuk memperbaiki posisi nyaman dan kembali terpejam.
Dan ya, aku lupa jika kini tengah berurusan dengan si tengil, kurasakan langkah mungilnya datang ke arahku semakin dekat, dan kini, tidak hanya telinga, dia mengganggu ekorku, tungkai depanku, telingaku lagi dan—
"RYAAN! APAAN DEH!"
Aku terlonjak saat dia mengendus leherku, sekarang malah tersenyum semakin aneh.
"Area sensitif ... leher ...," ucap si tengil itu dengan tatapan nakal dan bibir bawahnya yang ia gigit.
Grrrrr!! Sial, apa-apaan dia barusan.
Geramanku malah membuatnya terbahak. Kesal aku menendang tungkainya. Bukannya meringis dia malah semakin tersenyum aneh.
"Pakai ini," Ryan meninggikan lehernya agar dapat menjangkau kepalaku. Lingkaran bunga yang ia gigit masuk ke kepalaku, mengeluarkan dua telinga dan membuat lingkaran itu tertahan di moncong ku.
"Ini namanya flower crown, yang dibuat oleh calon suami terbaik yang pernah ada."
Aku menoleh ke kanan, menoleh ke kiri, "kalau kayak gini mana bisa lihat jalan, Ryan!"
Ryan tertawa, menarik kembali mahkota bunga itu, "ternyata kebesaran," ucapnya terkikik aneh.
Giginya lagi-lagi bekerja keras memperbaiki mahkota itu. Memangkas beberapa daun dan mencabuti bunga yang menghalangi pengelihatan ku.
"Harusnya yang bodoh itu kamu, calon istri payah, sudah bodoh payah lagi, kepalamu kecil pasti otakmu kecil ...,"
Sebentar ... apa dia baru saja mengolok ku lagi? Menarik napas dalam lalu membuangnya kasar tepat di depan wajahnya. Aku mendelik lalu berlalu dari hadapannya, tak ingin sekali aku mendengar apapun dari moncongnya yang menyebalkan itu. Ck, apa-apaan bilang otakku kecil. Aku tak ingin penasaran lagi dengan apa yang ingin dia lakukan.
Beberapa langkah menjauh, Ryan mengejar ku, menghalangi langkah yang ingin berlalu darinya sambil mengucapkan maaf tidak lupa dengan kekehannya yang menyebalkan juga, menggiring tubuhku untuk berdiri di pinggiran sungai. Pasrah dan malas berontak, aku sudah lelah berdebat dengannya.
"Lihat ke pantulan sungai," titahnya membuatku melihat ke pantulan kami dengan malas-malas. Apalagi yang ingin dia lakukan padaku?
"Bisa lihat pantulannya, kan?" tanyanya yang ku balas hanya gumaman saja.
Dan dari pantulan itu, aku melihat Ryan, si tengil itu menatapku, kita saling bertatapan dari pantulan air, dan tiba-tiba saja dia tersenyum membuatku bergidik.
"Apaan dah," sinis ku.
Dari pantulan lagi, kulihat dia memasangkan mahkota bunga itu lagi dengan giginya, tak ingin membuat Ryan kesusahan aku menundukkan kepalaku, dia memasang dengan rapi agar pas melingkar di keningku.
Memakan waktu lama karena lagi-lagi Ryan memperbaikinya. Ada beberapa rangkaiannya mengganggu telinga dan mataku dengan serius dan telaten dia memangkasnya agar tak mengganggu inderaku yang lain.
Mendongak sedikit aku melihat tatapannya yang serius sedang memperbaiki, napasnya yang hangat beberapa kali menerpa wajahku. Ryan begitu dekat. Moncongnya juga beberapa kali menyentuh pipi dan hidungku juga membuat dadaku berdegup aneh.
"Ryan?"
"Hm?
"Apa sudah?"
Dia menggeleng kecil, tatapannya masih fokus pada rangakaian bunga di keningku.
Napas Ryan hangat dan menenangkan. Ku putuskan untuk memejamkan mata dan membiarkan Ryan berkutat dengan kreatifitasnya.
"Starly?" panggilnya membuatku membuka mata perlahan dan langsung bertemu tatap dengan netranya yang indah.
Aku belum mengatakan ini. Selain gigi, warna bulu, ekor yang panjang dan tungkai yang mungil. Satu hal yang kalian harus tau tentang Ryan. Dia memiliki langit malam di matanya. Ada bintang yang berkelap-kelip di pualannya yang berwarna coklat gelap itu. Sangat cantik membuatku terdiam sesaat menikmati indahnya galaxy milik Ryan.
"Starly?" panggilannya lagi sangat lembut membuatku tersadar. Padahal aku baru saja membayangkan sedang terbang bersama ribuan bintang miliknya.
"Bagaimana? bisa lihat kan sekarang?"
"Li-lihat apa?" tanyaku.
"Bunganya apa masih ganggu?"
"O-oh bunga," aku menoleh ke atas, ke kanan dan ke kiri, rangkaiannya melekat cukup kuat. Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu memilih untuk melihat pantulan kami lagi.
Dia mengangguk, lalu mengecup kening membuatku membelalak kaget.
"Ryan ...."
"Sudah mandi, sudah wangi," ucapnya namun aku masih tercekat. Rasanya roh ku sudah terbang sampai ke langit. Entahlah, aku tersadar langsung memundurkan langkah, menjauh sedikit dari rubah ini.
"A-apaan Ryan."
"Mau kemana?" hadangnya kini mendorong tubuhku lagi untuk melihat sungai. "Sudah cantik juga," lanjutnya begitu hangat.
Aku melihat pantulanku yang sudah dipasangkan mahkota bunga, sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik, suara Ryan berputar di kepala membuat dadaku tergelitik aneh.
Aku melihat pantulannya, dia menatapku begitu teduh, dan dia benar aku yang telah memakai rangkaian bunga buatannya kini terlihat lebih cantik.
Ryan membuatnya sangat rapi dan manis, bunga camelia berwarna merah muda yang berukuran lebih kecil dari telingaku sebagai pemeran utama di sana, lalu ada bunga daisy kecil berwarna putih yang mengelilinginya. Rangkaian dedaunan juga dibuat secantik mungkin hingga melingkar sempurna di kepalaku.
Aku menyukainya. Dan Ryan benar, selain wangi, benda ini juga cukup cantik, flower crown ini sangat cantik.
"Selamat ulang tahun!" ucapnya sontak kepalaku kini menoleh ke arahnya, dia pun sama tak lagi memandang air tapi ke arahku.
"Ulang tahun?"
Ryan mengangguk, "satu tahun artinya dua belas kali bulan purnama, kamu gak tau?"
Aku menggeleng.
"Ya wajar, otakmu kan kecil isinya tidak ada ...,"
Sial! Menyesal sekali aku menggeleng.
"... kamu mana tau yang kayak gitu, aku ini kan Foxioz calon suamimu yang pintar ...,"
Dia mulai menyebalkan, si rubah tengil ini sudah kembali ke wujud aslinya dan aku muak.
"Terserah!" menghentakkan kaki aku meninggalkannya.
"Ck, bisa ga sih, kalau calon suami lagi ngomong itu didengerin?"
"Yaa abisan kamu sombong, ngeselin, bilang bodoh, terus bilang payah juga, kalau gak mau jelasin ya sudah!"
Ryan terkekeh, kekehannya benar menyebalkan. Demi roh bintang yang ada di langit. Ryan makhluk tengil termenyebalkan yang pernah ada.
"Yaa, ucapan selamat ulang tahun, satu tahun itu dua belas kali bulan purnama, kamu gak pernah hitung berapa kali ketemu bulan purnama, kan?"
Aku menggeleng lagi. Terserah saja jika dia ingin membodoh-bodohi ku lagi, tapi aku beneran penasaran dengan teorinya.
Ternyata dia melanjutkan dengan baik, "dua belas bulan purnama yang lalu kamu lahir, itu tandanya umurku sama umurmu sama-sama sudah satu tahun. Aku ucapin selamat karena kamu berhasil ngelewatin dua belas bulan purnama itu sampai sekarang baik-baik aja dan selamat. Makanya selamat ketemu sama satu tahun— selamat ulang tahun Starly!" soraknya di akhir.
Aku mengerjap-ngerjap. Aku sebenarnya sedikit bingung dengan apa yang ia jelaskan, aku hanya takjub dengan isi kepalanya. Padahal kepalanya juga mungil tapi lebih mungil milikku memang. Aku malu mengakui ini, tapi Ryan memang bukan rubah bodoh.
"Aku memang pintar," sahutnya membuatku menyipitkan mata.
"Selamat ulang tahun Starly, terimakasih karena sudah selamat sampai sini."
Aku terdiam kemudian mengangguk-angguk kecil. "Iya, Ryan terimakasih ... buat ucapannya."
"Sekarang giliran, kamu ucapin aku juga, minggu kemarin gak ada yang kasih aku ucapan."
"Oh iya, Ryan ... emm ... kamu juga selamat ulang tahun ya? terimakasih juga karena sudah selamat sampai sini."
Aku membelalak lebar, detik setelah mengatakan itu Ryan tiba-tiba saja mengecup pipiku.