05. Foxioz

1774 Words
Foxioz— garda terdepan dari kawanan kami. Mereka pelindung, petarung, pembela, dinding pertahanan, penjarah? Ya, begitulah kehidupan di sini. Dijarah atau menjarah. Diserang atau menyerang. Tak jarang membawa senyum kemenangan dan tak jarang pula membawa luka kekalahan. Apapun itu mereka yang terhebat. Mereka cerdas, lincah, cermat, teliti, kokoh, tak kenal ampun, doktrin yang sudah ditanamkan pada mereka. Jangan gegabah, jangan lengah dan jangan berkhianat lolongan lantang si pemimpin Gunn kala mereka berbaris sejajar menerima ilmu bela diri dan tarung. Kini tersisa delapan ekor dari dua belas yang seharusnya rapi dalam barisan, empat diantaranya telah gugur saat kawanan kami berpindah rumah dan dijarah beberapa hari yang lalu. Kehilangan itu yang kini membuat Gunn si pemimpin lebih rajin memberikan sesi latihan untuk para Foxioz-nya. Dan karena hal itu juga, seharian kemarin aku tidak bertemu dengan si tengil. Aku yang melewatkan sesi latihan karena pergi bermain di air terjun berhasil membuat ibu mengomel lalu menambah sesi latihan ku juga. Kita berdua sama-sama sibuk latihan. Ryan yang latihan bersama anggota Foxioz sementara aku latihan dengan ibu, untuk tarian roh bintang. Terakhir kali kami bersua saat di air terjun saat Ryan memberikanku hadiah, katanya, kecupan di pipi itu memang diperuntukkan bagi rubah yang sedang ulang tahun, dengan perintahnya pula aku ikut mengecup pipinya sebagai hadiahnya ulang tahun. Tersadar sedang dibodohi saat ia meminta aku mengecup hidungnya lagi. Aku kesal dengannya tapi … aku juga … senang. Melihat air terjun dan mendapatkan mahkota bunga membuatku riang pulang ke rumah. “Senyum-senyum sendiri gitu kenapa?” “Huh?” Aku mendongak, ibu melirikku lalu terkikik aneh. “Dari kemarin senyum-senyum ga jelas kamu, udah siap jadi menantu pemimpin Gunn nanti malam?” “Iih, bu … apaan dah,” aku menyeruduk leher ibu pelan. Ibu aneh-aneh saja. Mana ada hal seperti itu. Aku benar-benar malu karena ini, dan aku tidak bisa tahan untuk tidak tersenyum. Ibu semakin memancingku, menantu pemimpin Gunn katanya. Aku jadi membayangkan bagaimana kelak, saat aku hidup bersama Ryan. Anak dari pemimpin yang kami hormati. Ryan ternyata jantan yang baik. Dia lemah lembut dan pastinya penyayang. Bisa kubayangkan anak-anak kami akan dilindungi olehnya karena dia juga petarung yang sangat keren. Anak-anakku bisa diajari bertarung langsung oleh ayahnya, kan? “Putri Ibu malah ngelamun.” Tersadar aku malah menggeleng kepala, bayangan tentang masa depan biar ku simpan sendiri saja. “Dari kemarin latihan gak fokus terus senyum-senyum sendiri, kamu kira ibu gak perhatiin apa?” Aku berlalu meninggalkan ibu, menyembunyikan wajahku, lelah sekali rasanya menahan senyum yang terus saja ingin mengembang, “ada deh, ibu gak boleh penasaran.” Aku meraih flower crown yang Ryan buatkan kemarin, memasukkannya langsung ke kepala karena flower crown-nya ku gantung di ranting kecil. Menggeseknya ke dahan sedikit agar terlihat pas dan cantik di kening. Sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik juga. Aku membelalak, kaget, Suara Ryan? Gurauannya itu tiba-tiba saja berbunyi di kepalaku. Kenapa bisa seperti itu? Tak ingin terbuai, aku menggeleng ribut. Ngga ngga ngga! Sudah ya, harus tetap fokus, sampai kurasakan tungkai ibu kini menyenggol bokongku, membuatku tersentak lalu menoleh ke belakang. “Bu?” “Ternyata bukan cuman ibu yang baper sama Ryan, kamu juga kan?” lagi-lagi ibu menggodaku, kini menoel-noel telingaku dengan ekornya. Aku melotot, “ish, mana ada kayak gitu,” Gak mungkin baper kan? Aku berlalu dari hadapan ibu seketika, bisa bahaya jika ibu melihat aku menahan senyum lagi. Kini malah membuatku memaki diri sendiri karena gampang sekali tersenyum hanya ditanya hal itu. Tapi jujur saja, seharian tak melihat Ryan membuatku khawatir. Aku bertanya-tanya apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia bersenang-senang? Baik-baik saja dan sudah makan? Rasa penasaran ku ini malah membuatku tak sadar sedang membawa tungkai ku menuju gapura dahan lebar— pintu masuk yang biasa Foxioz lewati ketika pulang dari latihan. Aku berdiri di perbatasan hutan liar dengan kawasan kami, berdiri dengan tatapan harap ke ujung jalan, berharap rubah itu muncul sedikit saja, melihat wajahnya sebentar, kemudian berlalu dari sini dan kembali ke rumah untuk persiapan malam nanti. Hanya sebentar, aku ingin melihatnya sebentar saja. Dua telinga mulai terlihat di ujung jalan, semakin dekat dan semakin dekat. “Ryan?” bisikku namun saat mata semakin ku fokuskan ternyata itu bukan dia. Itu Zain dan Nath. Mereka berjalan beriringan sontak membuatku bersembunyi di balik pepohonan. Bisa malu aku kalau ketahuan sedang menunggu Ryan. Apalagi mereka itu Devil Twins, ditambah Ryan menjadi kombo menyesatkan, Muggi memanggil mereka kakak kakak sesat. Kalau versi ibuku, Zain dan Nath itu kembara kembar setan. Gunn memberi nama mereka Devil Twins sebab mereka tim kembar yang hebat dalam bertarung, jahil dalam menjebak lawan dan bisa sangat kuat dalam hal menghancurkan. Foxioz tergagah di kawanan kami. Ya, semua rubah kurasa menyetujui pendapatku, mereka benar-benar gagah. Tubuh mereka luar biasa kekar, tungkai depan dan belakang mereka kurasa dapat menghancurkan kepala Hiena dalam sekali tekan. Namun di balik keganasan mereka dalam hal bertarung. Mereka juga sosok yang sedikit aneh. Kalau Nath yang tingkahnya random bisa tertawa seharian lalu tiba-tiba saja diam tak bersuara, tak kalah random dengan kembarannya— si Zain, yang bisa tertawa sendiri karena kegaringan leluconnya sendiri. Aneh memang, tapi begitulah mereka. Cara membedakan mereka yaitu di tubuhnya. Jika Zain menggambar tattoo di perutnya dengan warna hitam arang agar terlihat seperti harimau daerah khatulistiwa, beda lagi dengan Nath yang ingin terlihat seperti ular weling daerah hutan hujan karena menambahkan warna merah buah berry di badannya. Random sekali sekali memang Devil Twins ini supaya bisa dibedakan. Mereka sering ribut dan berdebat, menyelesaikan permasalahan dengan cara adu kekuatan. Dan di antara mereka berdua tak ada yang lebih kuat atau lemah. Mereka berdua sama. Dua rubah lagi yang menyusul di belakang mereka adalah si pengatur strategi perang, Chen dan Jizzy, galaxy brain and sexy brain, begitu Gunn menyebut mereka. Jika Chen membuat strategi penuh dengan rencana-rencana imajinatif, maka Jizzy akan memperhitungkan rencana imajinatif Chen lebih akurat dan terperinci. Otak kanan dan otak kiri Foxioz. Dua pemikir yang cermat. Mereka berdua masih muda, sebaya dengan Muggi, adikku. Tak banyak yang ku tau tentang mereka, Muggi yang bercerita karena salah satu dari mereka disukai oleh Muggi. Katanya yang lebih tinggi dan mempunyai tawa yang nyaring(?) dari sana aku tak yakin jika Muggi hanya menyukai satu. Karena Jizzy sendiri memang lebih tinggi dari Muggi, sementara Chen yang memiliki tinggi yang sama dengan Muggi si pemilik tawa nyaring itu. Muggi jelas sedang menyukai keduanya. “Launa?” aku menyipitkan mata tak yakin gadis penyendiri itu di sana. Tak jauh berjarak dengan si pemikir cermat, Launa berjalan dengan seseekor. Ah, ternyata dia … Chio. Launa dan Chio bersaudara. Wajar jika Launa ikut bersama kakaknya untuk pergi latihan walau Launa bukan anggota Foxioz. Kedua orang tua mereka sudah menjadi bintang. Launa penyendiri, kakaknya pun tak jauh berbeda. Aku hanya melihat hening ketika mereka bersama. Tak ada percakapan dan tak ada interaksi apapun. Sangat sunyi. Aku tak tau banyak tentang teman Ryan yang satu itu, namun karena dia anggota Foxioz— aku yakin dia sosok rubah yang kuat dan tangguh. Mereka sebaya denganku, sepertinya menyenangkan jika berhasil menghilangkan sunyi di antara mereka, aku ingin berteman dengan mereka, kapan-kapan aku ingin mengajak mereka ke air terjun, tentu saja bersama Ryan juga, dan kami semua bermain bersama di sana. Aku ingin keluar menyapa mereka, namun teringat kembali misiku sekarang sedang menunggu Ryan pulang. Lama aku duduk kembali di balik pohon. Ryan belum juga menampakkan dirinya, tungkai ku rasanya pegal-pegal karena menunggu. Tak ingin lelah karena ingin melihatnya sebentar, aku memutuskan untuk mencarinya ke tempat mereka latihan. Ryan mungkin saja masih berlatih dengan kak Mark dan juga ayahnya. Aku hanya ingin melihatnya sebentar, lalu pulang. Berjalan agak jauh dari gapura, aku memasuki daerah hutan lembab, disini banyak aliran sungai kecil-kecil dan pohon besar yang dipenuhi tanaman rambat yang menjuntai. Awalnya sangat mengerikan, tapi rute ini sudah pernah ku lewati jadi sekarang sudah biasa saja, walaupun tetap harus menjaga kewaspadaan juga karena apapun bisa terjadi di tengah hutan. Krieet. Kwakk. Kukukuuu. Suara-suara hutan menggema, membuat bulu di atas tungkai ku sedikit terangkat. Menoleh kebelakang ternyata jalan setapak menuju ke gapura sudah tak terlihat. Gunn pernah menceritakan tentang rute ini, ibu juga sering mencari makan di sini. Tak pernah berburu dan mengenal banyak jenis pohon membuatku menyesal kini. Harusnya aku sering keluar rumah. “Sekarang bagaimana?” menengok kanan kiri aku lupa dengan jalan yang harusnya dilalui. Aku memilih berbalik karena bingung. Namun langkahku tertahan karena tiba-tiba saja aku mendengar suara kekehan yang tidak asing. Itu suara tawa Ryan. Aku sangat lega karena kurasa kini dia sangat dekat denganku. Memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon aku malah mendengar tawa yang lain. Mengintip sedikit aku sudah dapat melihatnya berjalan ke arah sini. Dia tertawa dan suara tawa yang lain itu ternyata berasal dari Hyeni— satu-satunya betina di Foxioz, gadis terkuat di kawanan kami. Aku maju beberapa langkah ingin melihat mereka dengan jelas, mereka sudah tidak berjalan lagi kini Ryan tengah memojokkan Hyeni di batang pohon berwarna putih, aku tak tau itu pohon apa, Hyeni yang bersandar di sana tak henti terkikik juga karena dipojokkan oleh Ryan. “Mereka berdua sedang apa?” tak ingin lelah penasaran, aku berjalan perlahan ke arah mereka. “Apa mereka saling menandai?” Trak! Bunyi ranting yang ku injak membuatku terlonjak dan langsung bersembunyi kembali ke balik pohon. Kaget sekali. Suara tawa mereka terhenti. Digantikan dengan derap langkah ringan yang semakin mendekat. Menjauh, menjauh, menjauh lah! Dalam hati aku berharap namun sudah terlambat. “Starly?” Aku ketahuan. Jantungku rasanya ingin melompat keluar saking terkejutnya, aku tersentak kaget, karena Ryan tiba-tiba saja sudah di depanku. “Sedang apa?” tanyanya lagi. Aku keluar dari persembunyian, melangkah perlahan ke arah Ryan dan Hyeni. Rubah betina itu dengan tatapan memicing dan Ryan melihatku begitu bingung, sekarang harus ku jawab apa? “Ini hutan yang bahaya, Starly.” Kata Hyeni, “gak biasanya kamu keluar rumah.” Ya, aku yang pemalas ini kurasa sudah banyak yang mengetahuinya. Dan keluar rumah menjadi hal yang aneh jika dilakukan oleh rubah sepertiku. “Aku hanya ingin melihat …,” sorot ku mengarah ke Ryan. “Melihat apa?” tanya Ryan. Aku menundukkan kepala, aku hanya ingin melihatmu … sebentar. Tentu saja itu hanya kata hati. “Ingin melihat apa?” desaknya. “Tidak ada, cicitku begitu rendah. Tak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada Ryan. Hyeni berjalan mendekat ke arahku, “Starly, tempat ini bahaya buat kamu.” “Di sini tuh bahaya, sudah tau payah—“ “Aku tau Ryan!” Hening kemudian. Hyeni menatapku iba, sementara Ryan menatapku begitu tajam. Aku membalik badan dan berlalu, “aku mau pulang!" Ryan … aku tau Hyeni memang lebih kuat dan tangguh, dia memang petarung, tapi aku tak se-payah yang kamu kira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD