06. Harapan Bintang

1799 Words
Aku berjalan menunduk, menghindari tatap dengan Ryan dan Hyeni. Sesak sekali rasanya melihat mereka jalan bersama. Harusnya aku sadar sejak awal, aku memang bodoh, Ryan benar, aku memang bodoh dan payah. Bisa-bisanya aku lupa bahwa dia itu si tengil. Para janda hingga ibu-ibu, lalu Hyeni, lalu aku? Bodohnya aku merasa diistimewakan olehnya sejak kemarin. Dia jelas sudah melakukan hal istimewa itu pada semua betina di kawanan. Lalu sekarang bagaimana? “Salah jalur bodoh!” dan itu suara Ryan. Aku mendongak, dengar kan dia memanggilku apa? Menengok kiri dan kanan dan ternyata dia benar, ini di mana? Berbalik menengok belakang kulihat Ryan menatap tajam padaku. “Arah sana!” tunjuk Ryan dengan moncongnya ke arah balik, “bosan sekali aku memanggilmu bodoh dan payah.” Lanjutnya begitu kejam, harusnya aku biasa saja dengan sifat dan kata-katanya itu karena dia memang biasa menyebalkan. Tapi tatapan dan kata-katanya kini membuat dadaku terasa seperti ada yang memukulnya. “Kalau kamu bosan kenapa mesti ngikutin aku sampai sini?” tanyaku. Dia malah menatapku semakin tajam, “kamu mau hilang? Terus bikin susah kawanan?” Aku menatapnya dalam. Kenapa dia berbicara tajam padaku seperti itu. Bukankah kemarin kita sangat dekat. Dia memanggilku cantik, mengucapkan selamat ulang tahun, dan kita saling bertukar hadiah. Ryan ada apa? Salahku memang karena berharap dia akan baik padaku seterusnya. Seharusnya aku sadar diri, aku payah dan bodoh tidak seperti Hyeni. Menengok kanan dan kiri ternyata gadis petarung itu tidak ada, “Hyeni—” “Hyeni gak hilang kalau kamu nyariin dia, aku sudah suruh dia jalan pulang duluan, lewat jalur yang benar!” “Oh,” sahutku berjalan berbalik lalu melewatinya, lelah rasanya menyahuti tajam lidah dan tatapannya itu. Aku dan matahari sudah sama-sama lelah, cahaya senja yang masuk di sela-sela pepohonan kini terlihat sangat terang dan menyilaukan, berwarna senada dengan bulu kami, tanda sebentar lagi ia akan istirahat berganti jadwal dengan si bulan. Mengenai bulan nanti … entahlah, purnama nanti aku tak yakin bisa menari dengan baik, aku sangat lelah. Tidak bertenaga dan malas sekali untuk bertemu para kawanan. Beberapa langkah berjalan mendahuluinya, tiba-tiba saja dia memanggil, “Starly?” suaranya terdengar rendah. Belum ingin berbalik dan menghentikan langkah, aku hanya diam enggan untuk menanggapi panggilannya. Anggap saja tidak dengar. “Starly?” panggilnya lagi. Suaranya lebih kencang mau tak mau aku berhenti sejenak. “Ada apa?” Dia menyusul ku, kepalanya menoleh ke arahku, “kenapa datang ke hutan?” tanyanya. Haruskan aku memberitahu tujuanku datang ke sini? “Dan kenapa kamu masih pakai mahkota itu? Padahal bunganya sudah layu.” Aku tersadar dengan mahkota bunga ini di kepalaku, benda ini sekarang terasa sangat berat dan aku ingin melepasnya. Kenapa juga aku memakai benda ini padahal pagi tadi aku tau kalau beberapa bunganya memang sudah layu. Ryan bertanya seperti itu tidak dengan nada menyindir. Dan itu membuatku sedikit bingung. Apa dia benar penasaran mengapa aku datang dan masih memakai mahkota buatannya? “Enggak tau Ryan, mungkin karena aku bodoh,” jawabku sekenanya ingin berlalu dari hadapannya. Namun lagi-lagi dia menahan. “Starly, bisa berhenti sebentar, ada yang ingin aku pastiin,” Ryan kini di depan menghadang jalanku, dia menatap mataku begitu intens. “Pastiin apa?” aku menghentikan langkah. “Starly, nanti malam kita akan kawin, ingat?” Aku mengernyit. Tentu saja aku ingat. Perkawinan ini sudah menghantuiku sejak dua hari yang lalu. Latihanku selama dua hari belakangan ini. Bagaimana bisa lupa? Belum lagi ibu yang selalu menyindirku tentang hal ini. Kulihat Ryan menghela panjang, “Starly dengar, aku memiliki prinsip di hidupku—” ragu-ragu dia menatapku sembari menggantung kalimatnya. “Prinsip?” sahutku penasaran dengan apa yang ingin dia lanjutkan. Ryan mengangguk, “Aku … berprinsip, hanya ingin memiliki satu betina seumur hidupku.” Bullshit. Bolehkah aku mengatakan itu? Lagipula omong kosong macam apa itu? Satu betina? Siapa yang akan percaya omong kosongnya itu? Dia bahkan sudah menggoda hampir seluruh kawanan betina. “Ini juga yang pertama bagiku,” katanya lagi, “jadi aku ingin menandai, karena kita berdua sama-sama saling mencintai.” Dan, ya … aku sekarang paham maksud si tengil ini, Ryan dan Hyeni, mereka berdua sama-sama saling mencintai. Bukankah mereka tadi hampir saja saling menandai? Lalu sekarang apa? Ingin berganti pasangan dan membatalkan malam purnama nanti? Hanya menjadikanku sebagai alat untuk memeriahkan acara perkawinannya dengan Hyeni? Rahangku mengeras. Inikah yang dia inginkan? Baiklah jika itu yang dia mau. “Jadi aku pengen pastiin, Starly kenapa kamu masih pakai mahkota itu, Apa kamu juga—” “Ryan dengar!” potongku, “Iya, aku hanya penari, aku hanya penari roh bintang, aku akan tampil untuk para bintang nanti malam bukan untuk menyambut apapun— melepas gadis atau apapun itu aku gak peduli. Masalah kamu yang ingin menandai siapa, atau mengawini satu betina yang kamu cintai itu urusanmu, Ryan. Bukan urusanku.” Aku ingin melangkah berlalu karena jalan setapak menuju gapura kini dapat kutemukan, namun tertahan karena aku melupakan sesuatu, “oh ya Ryan! Bisa tarik kembali mahkota ini? Sejak kemarin rasanya sangat gatal … lagipula kamu benar, bunganya sudah layu.” Ryan berjalan mendekat, meninggikan lehernya, menggapai mahkota bunga, menggigitnya lalu membuangnya asal ke tanah. Dadaku sangat sakit, serendah itu kini posisi bunga itu. Aku merasa seperti dibuang sekarang. Layu, payah, tidak cantik lagi, mahkota itu layak berada di tanah, aku benci melihatnya. “Di rumahku,” kata Ryan, “aku sudah membuatnya yang baru, bisa dipakai buat nanti—” “Tidak perlu,” tolak ku cepat tak ingin mendengar apapun darinya. Aku hanya ingin pulang dan kembali ke rumah sesegera mungkin. Tidak ada bunga lagi, tidak usah pakai bunga lagi. Mahkota bunga? Aku tidak akan menjadi bodoh lagi. Dia bisa memberikannya pada betina lain, betina rubah yang dia cintai. “Aku mau pulang, Ryan.” Aku berlari dari hadapannya. Aku ingin ke ibuku, aku butuh ibuku sekarang. Aku hanya ingin bersama ibuku. Sangat kuat aku berlari sampai tak sadar cairan bening turun di sisi netra membuatku menutup mata rapat-rapat. Dadaku masih sangat sakit. “Bu,” isak ku saat tungkai telah sampai di gapura dahan lebar. Di lapangan tempat biasa melakukan pesta kini sudah dipenuhi rubah-rubah yang tengah menyiapkan alat musik dan mengumpulkan balok-balok kayu untuk mereka susun menjadi api unggun. Di dekat singgasana sang pemimpin, aku melihat ibu tengah berbincang dengan Gunn pemimpin kami. Aku berlari cepat ke arah mereka. “Ibu, pulang sekarang,” pintaku mendorong-dorong tungkainya tak peduli dengan tatapan bingung pemimpin Gunn dan Ibu yang ditujukan untukku. “Sayang ada apa?” tanya ibu khawatir. “Ibu ayo pulang sebentar,” aku menangis lagi tak berani menatap sekitar, aku ingin memohon pada ibu agar tak menari malam ini. Aku tidak siap, dan aku takut jika harus melihat Ryan dan berakhir kecewa karena pilihannya bukan padaku. Kakiku lemas dan kurasa aku tak sanggup untuk melakukan tarian roh bintang. “Starly, tenang sayang, ada apa? Ada yang mengganggumu?” Gunn menjatuhkan kepalanya di atas kepalaku, menepuknya pelan lalu mundur beberapa langkah. Berniat membuatku tenang sejenak. Aku terisak lagi, ayah Ryan menatap iba padaku. “Pemimpin Gunn …,” aku menggeleng kemudian, aku bingung ingin mengatakannya bagaimana. “Tenanglah, duduk sini,” pemimpin Gunn menggiring tubuhku ke belakang singgasana, ibu juga ikut bersama kami. “Starly, ada apa?” tanya ibu. Aku menunduk. Sekarang lidahku kaku ingin mengucapkan keinginan. Di sisi lain aku tak ingin jika ucapanku ini nantinya akan mengecewakan ibuku dan Gunn. Para kawanan juga sudah menyiapkan untuk acara malam nanti. Untuk acaraku, persembahan untuk para bintang di malam purnama. Semua kawanan menantikan ini. “Aku malu,” isak ku. “Hah?” keduanya kebingungan serempak. “Aku malu karena menjadi bodoh dan payah,” air mataku kembali tumpah di hadapan mereka berdua. “Putri ibu kan hebat, Starly yang paling hebat,” ucap ibu menenangkan ku seperti bayi, padahal aku bukan bayi lagi, tapi bisa-bisanya menangis seperti ini. “A-aku pengen jadi kuat, di hutan tadi banyak yang jahat.” Keduanya terdiam, lalu terkekeh aneh tiba-tiba saja dan terbahak. Apa yang lucu? Aku benar, di hutan ada makhluk jahat bernama Ryan, dia yang membuatku seperti ini. “Kamu pulang kayak tadi bikin ibu khawatir, makanya jangan ke hutan lagi.” Aku menggeleng cepat, “Aku mau ke hutan lagi, aku pengen tau banyak hal Bu, aku gak mau jadi payah dan bodoh.” “Lalu apa yang kau inginkan gadis kecil? Hm?” Aku menatap Gunn percaya diri, “bolehkan aku meminta ini Gunn? Aku tidak ingin menjadi payah dan bodoh. Aku ingin kuat, aku ingin bertarung dan melawan makhluk jahat, aku tidak suka kalau dikatai payah dan bodoh.” Tangisanku tak bisa berhenti. “Apa yang kamu inginkan?” “Foxioz!” Kedua rubah dewasa itu menatapku bingung. “Aku ingin menjadi foxioz.” Gunn tersenyum, lalu menepuk kepalaku dengan kepalanya, “ikutlah besok sesi latihan untuk Foxioz,” lalu dia berjalan ke arah lapangan. “Dan jangan lupa, nanti malam. Nanti malam acaramu. *** Rembulan semakin terang dan meninggi, setelah pertemuan dengan Gunn sore tadi aku menarik ibu kembali untuk pulang ke rumah. Aku sudah memohon pada ibu agar aku tidak menari malam ini. Aku juga sudah menceritakan apa yang ku lalui saat di hutan tadi. Perbuatan jahat Ryan dan kehadiran Hyeni di sana. Aku menangis sejadi-jadinya dan ibu terus saja mengusap punggungku dengan lehernya. “Anak ibu sudah jatuh cinta dan patah hati di waktu yang sama, tidak papa sayang, jangan nangis lagi ya?” “Aku gak mau jadi rubah yang bodoh dan payah.” “Sayang, jangan melakukan sesuatu agar terlihat hebat di mata orang lain, Starly bakal kecewa lagi kedepannya. Starly mau jadi betina yang kuat karena Starly harus jadi kuat, Ibu gak akan izinin Starly ikut Foxioz hanya untuk seekor rubah jantan, putri ibu yang cantik ini kan hebat seperti bintang, lakukan dengan baik untuk bintang, dan bintang akan mengabulkan harapan.” Detik itu aku menghapus air mata dan berdiri tegap walau tungkai ku kembali melemah karena bertatap kembali dengan Ryan. Bunga pertama dan racun pertama untuk hatiku. Dia yang membuatnya mekar lalu dia juga yang membuatnya layu. Ryan duduk bersama anggota Foxioz lainnya bersebelahan dengan Hyeni dengan mahkota bunga berwarna biru muda di depan keduanya. Ryan akan menyakitiku. Aku sudah menduga ini dari awal. Kenapa harus aku yang dibuat berantakan. Aku memang membencinya sejak dulu, tapi aku tak pernah melakukan hal jahat padanya. Kenapa dia menjahatiku, lalu membuatku menyedihkan seperti ini? Mengalihkan pandangan dari hal menyakitkan kini aku menoleh ke arah ibu, sumber kekuatanku. Dari jauh kulihat ibu tersenyum mengangguk, memberikanku semangat. Rasanya aku ingin menangis lagi karena tatapan ibu. Kenapa aku sepayah ini? Kumohon, jangan nangis, jangan nangis, tidak boleh seperti ini, jangan terlihat lemah dan payah lagi. Apalagi dihadapan Ryan dan Hyeni. Mereka akan menertawakan ku. Bintang … jika aku menyelesaikan tarian ini dengan baik. Aku harap aku bisa menjadi lebih kuat dan hebat dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD