Bukan kicauan burung di pagi hari yang membangunkanku dari tidur. Di hutan pinus ini banyak dipenuhi burung pelatuk. Ketukannya paruhnya pada batang pohon yang kokoh itulah yang berhasil membangunkanku dari tidur. Hari sangat cerah, saat membuka mata, aku langsung disuguhkan dengan cahaya matahari yang masuk melewati celah-celah dedaunan. Warnanya sangat cantik membetuk berbagai bayangan.
Membuka mata dan menoleh sekitar aku dikejutkan dengan wajah Ryan yang ternyata semalaman, rubah tengil itu tidur di sampingku. Dia masih terlelap, kepalanya dia jatuhkan di antara dedaunan kering. Dia terlihat kelelahan. Beranjak dari wajahnya aku melihat sekitar. Pohon pinus di pagi hari ternyata sangat indah. Aku melihat keadaan rubah lainnya pun masih tertidur nyenyak. Api yang menyala semalaman kini hanya tertinggal bara yang redup-redup akan menjadi abu.
Aku menggeser dudukku. Ryan terlalu dekat. Bangkit dari posisi tidur aku sedikit perenggangan. Tungkai belakang kutarik kuat-kuat kebelakang. Inginnya aku merenggangkan tungkai depan tapi karena lutut yang masih belum sembuh total ku urungkan dulu kegiatan itu.
Energiku sepertinya sudah pulih.
Bagian yang luka ku tiup sedikit ternyata sudah lumayan sembuh. Ada ramuan obat-obatan di atasnya yang tak kutahu siapa yang memasangnya. Lukanya sudah sedikit tertutup. Saat ku lihat ke samping ternyata di sebelah tempat Ryan tertidur ada sisa obat-obatan itu di sampingnya.
“Apa Ryan yang melakukannya?” monolog ku.
Melihat ke bagian lukanya lagi ternyata sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku menggerakkannya sedikit, lalu lebih banyak dan ternyata kakiku sudah sembuh total. Aku melompat-lompat kecil dan ternyata sakitnya tak terasa sama sekali.
Ramuan obat yang Ryan berikan ternyata sangat manjur. Bahkan aku bisa melompat lebih tinggi walau jatuhnya tak seimbang dan sedikit goyah karena ekorku belum bisa membantu pergerakanku.
Tak ingin hanya latihan di tempat, Aku terpikirkan untuk melatih tungkai ku ini dengan memanjat pohon. Tapi di hutan pinus tidak ada satupun pohon yang bisa kami naiki. Batang utamanya hanya satu yang menjulang lurus sampai ke ujung. Tak ada dahan yang bisa dipijaki, dan batang pohonnya juga sedikit licin.
Alih-alih mendapat latihan yang sesuai, yang ada malah menambah penyakit baru.
“Tidak, tidak, tidak bisa latihan di sini. Aku harus mencari tempat lain.”
Kudengar suara kecil gemercik air dari arah datangnya matahari. Aku mengikuti suaranya, dan ternyata di dekat kami beristirahat dan membangun tempat tinggal sementara ada terjunan kecil yang mengeluarkan air yang sangat jernih.
Terjunan itu sangat kecil, tidak sampai setinggi leherku dan airnya keluar dari batu yang berlumut. Terlihat sangat menyegarkan aku ingin menikmati air itu langsung dari sumbernya.
Dugh!
Belum sampai menikmati air itu, ujung hidungku bertabrakan dengan milik seseekor, dan saat aku mendongak ternyata itu Ryan yang ternyata sudah berada di depanku.
Terkejut, aku mundur satu langkah darinya.
“Cobalah!” kata jantan itu, memintaku untuk minum air jernih itu terlebih dahulu.
“Kamu saja,” balasku malah dia menghela lalu berpindah ke samping tubuhku. Mendorong sedikit agar lebih dekat dengan sumber air.
“Air di sini tidak akan pernah habis, tapi karena masih pagi jadi rasanya akan lebih segar. Cobalah!”
Aku mengangguk, sedikit demi sedikit air itu masuk ke kerongkongan dan membuat dahaga sejak kemarin hilang seketika. Walau terjunannya sangat kecil tapi air yang dihasilkan sangat segar dan manis.
“Segar, kan?”
Aku mengangguk, “sekarang giliranmu.”
Ryan mengambil posisi di depanku, dan dia menikmati air itu pelan-pelan, pipinya sedikit basah karena tidak hanya minum, Ryan ternyata membasuh wajahnya dengan air itu juga.
Aku jadi teringat tentang air terjun Skavaz. Tempat yang katanya milik kita berdua. Terjunan yang membentuk benang air dan menghasilkan beberapa pelangi, namun kini sudah tidak cantik lagi karena banjir bandang yang membawa air kotor dari atasannya. Lagipula itu bukan tempat kami lagi.
“Air terjun,” cicitku membuat Ryan mengehentikan aktifitasnya.
“Ada apa?”
Aku menghela berat, apa Ryan lupa dengan air terjun tempat dia berjanji padaku?
“Tidak, bukan apa-apa. Air terjun ini sangat kecil. Kita tidak bisa berenang di sini,” jawabku lalu berlalu dari hadapannya. Ku Putuskan untuk tidak perlu membahasnya lagi.
Saat kami kembali dari sumber air. Teman-teman rubah yang lain sudah bangun dari tidurnya. Ternyata kawanan yang berada di sini cukup banyak, selain yang kulihat semalam ternyata ada satu bayi rubah yang sedang dijaga oleh salah satu betina. Itu adalah Kak Giya, dia istri dari Kak Mark, semalam dia tidak ada di lingkaran api unggun dan aku tak tau apa yang sedang terjadi.
Ryan berjalan mendahului memberikan intrupsi kepada kawanan yang tersisa untuk berkumpul. Sepertinya ada hal penting yang akan rubah jantan itu sampaikan.
Seluruhnya mengikuti interupsinya, dan aku sadar, dia yang kini memimpin kawanan kami yang tersisa.
“Hari ketiga dan kita tidak bisa kembali,” awalan milik Ryan membuat kawanan lain terdiam.
“Chio, coba jelaskan kondisi di sana,” perintahnya dan yang lainnya pun memberikan atensi penuh pada rubah gembul itu.
“Aku dan Starly, kemarin ke rumah kita. Rumah-rumah pohon banyak yang hancur dan tak sedikit juga yang hangus terbakar.” Chio menoleh ke arahku.
Aku hanya mengangguk karena memang seperti itu keadaannya.
“Tak ada rubah yang tewas di sana. Hanya beberapa bangkai hiena yang sudah gosong termakan api.”
“Semua rubah berhasil kabur?” tanya Hyeni yang kini bangkit dari dudukannya.
Chio mengangguk, namun dia pun tak yakin dengan jawabannya.
“Berhasil kabur dan berpencar. Beberapa juga dikejar oleh hiena.” Bukan suara Chio, itu Ryan yang menjawab pertanyaan Hyeni. Anak Gunn ini sepertinya tau banyak tentang tragedi malam itu.
“Ada yang berlari ke padang ilalang, ke atas tebing dan mundur ke hutan hujan. Aku yang ditugaskan mencari ke sana hanya berhasil menemukan Starly,” lanjut Chio yang membuatku paham akan situasi saat ini. Beberapa kawanan yang berhasil selamat di sini, membagi tugas untuk mencari keberadaan kawanan yang lain.
Aku menoleh ke arah Ryan, menunggu laporan darinya tentang siapa saja yang berhasil dia selamatkan.
“Bagian tebing, aku tak bisa jika harus melacak yang lain sementara aku membawa Starly yang saat itu kondisinya sedang terluka. Dia sulit berjalan dan menyeimbangkan diri. Kupikir kembali ke sini adalah langkah yang tepat.”
“Ya, kalau aku jadi kamu juga mending langsung bawa balik Starly dulu sih, dari pada celaka lagi atau bikin susah lagi." Aku menatap Nath dengan sinis, tak suka sekali dengan argumennya yang mengatakan bahwa aku hanya bisa buat susah lagi.
“Nath, jaga bicaramu,” peringat Zain saudara kembar Nath yang kini menginjak tungkainya, “Maksud Nath supaya, Starly bisa diobati dulu, kan?”
“I-iya, maksudku seperti itu, kalau dia sakit lagi malah tambah sakit lagi …”
Aku menghela panjang, aku sudah tau maksud keduanya, dan ibu benar, mereka memang devil twins.
“Sudah, tenang semua,” sambar Ryan dan kawanan kini menghadap penuh padanya. “Satu rubah lagi sudah berhasil kita selamatkan. Kaki Starly juga sudah sembuh total. Apa masih ada bagian yang sakit?” tanya Ryan memastikan yang ku jawab langsung dengan gelengan.
“Syukurlah,” ucapnya. “Misi selanjutnya—”
“Akuu!!” potong Chen, dengan interupsi cepat, dia ingin memberi usulan. Si otak kiri Foxioz itu maju satu langkah dari dudukan. Ryan mengangguk memberikan waktu bagi Chen untuk berbicara.
Melihat Jizzy dan Chen yang duduk berdampingan, mengingatkanku pada adikku Muggi. Jika dia di sini dan ikut berdiskusi dengan si pemikir kawanan pasti dia akan sangat senang.
Ibu … Muggi … tunggu aku, aku akan segera menjemput kalian.
“Chio apa rumah kita sudah tidak bisa ditempati lagi?” tanya Chen memastikan sesuatu sebelum memberikan usulan. Chio menggeleng, rubah gembul itu berkata, “Tidak hanya rumah yang hangus terbakar dan roboh. Beberapa kawanan hiena juga memantau dari atas tebing tempat mereka tinggal. Bongkahan batu yang menubruk tebing Cyberis Land berlubang, dan itu membuka akses bagi para hienna untuk terus memantau kita dari atas. Di sana bukan lagi rusak, tapi sudah tidak aman lagi.”
Ternyata bukan hanya aku yang menyadari keberadaan hienna yang terus memantau gerak-gerik kita di bawah tebing, Chio juga menyadari itu. Dan dia benar. Cyberis Land bukan lagi tempat yang aman untuk dijadikan tempat tinggal.
“Mencari tempat tinggal yang baru,” bukan Chen, itu suara Ryan yang langsung diangguki oleh si otak kiri Foxioz.
“Ryan …,” panggilku berbisik di sampingnya.
Rubah itu menoleh.
“Ibuku dan kawanan yang lain. Kita harus temuin mereka segera,” takut jika pendapatku tak disetujui oleh yang lain, pelan-pelan aku ingin meminta pendapat pada Ryan soal ini.
Dahinya berkerut, sepertinya usulanku sangat sulit untuk dikabulkan. Mengingat tak ada yang tau pada rubah yang masih tersesat, aku semakin khawatir. Chio berkata setelah aku sembuh, kita akan meminta bantuan pada anggota yang lain untuk mencari ibuku.
“Bagaimana? Ibuku mungkin saja dalam bahaya, aku dan Chio sudah menemukan jejak pelarian mereka.”
Aku melirik ke Chio dan Launa yang kini duduk berdampingan.
“Tempat ini kurasa tidak aman, hanya ada satu sumber air kecil di sini, dan tak ada pohon yang bisa kita naiki, kita harus bergegas mencari tempat baru, sebelum ada kawanan mengerikan lagi yang akan mengganggu kita,” usulan Hyeni yang membuat Ryan mengabaikan usulanku.
“Tapi kawanan lain, sedang menunggu untuk diselamatkan, kita harus segera menemukan mereka Hyeni,” tentangku, membuat gadis rubah itu mendekat.
“Tidak ada yang tau pasti apa yang terjadi pada mereka Starly. Kita tidak harus mengambil resiko mengorbankan keselamatan yang lain, hanya untuk mencari sesuatu yang tidak pasti. Beruntung jika rubah yang selamat menunggu kita. Bagaimana jika bahaya yang menunggu kita di sana? Apa kamu berani untuk tanggung jawab?”
Aku terdiam di tempat. Tatapan tajam Hyeni dan ucapannya membuatku geram.
“Justru itu, tidak ada yang tau pasti berapa banyak yang nantinya bisa kita selamatkan, Ryan aku mohon, aku ingin mencari keberadaan ibuku.”
Dan rubah itu hanya diam di tempatnya. Sudah tidak ada waktu lagi, dan kita harus mencari tau kondisi mereka.
“Tapi Starly,” panggil Chio membuatku menoleh ke arahnya.
“Menyelamatkan mereka, berarti kita harus kembali ke Cyberis Land. Itu adalah rute tempat mereka melarikan diri ke atas tebing, ingat?”
Aku mengangguk.
“Banyak hienna yang memantau di tebing sebrangnya, aku tidak yakin jika mereka hanya diam saja ketika kita mendaki ke atas. Kembali ke Cyberis Land adalah langkah yang buruk.”
“Kita bisa melakukannya pada malam hari.”
“Itu sangat bahaya Starly!” potong Ryan.
“Mereka, ibuku dan bayi-bayi rubah juga sedang dalam bahaya.”
“Di sini juga ada bayi rubah yang harus kita lindungi, Launa dan kamu juga tak pandai bertarung, membawa kita semua ke dalam bahaya— tidak, itu tidak bisa, setidaknya kita harus mencari tempat tinggal dulu untuk mengamankan yang lain. Setelah dari hutan pinus ini akan ada—”
“Aku akan mencari ibuku seorang diri.”
“Jangan bodoh!”
“Aku memang bodoh dan payah!”
“Starly dengar, kita akan mencari mereka setelah menemukan tempat tinggal yang baru.”
Aku menggeleng kecil, air mataku sudah tak bisa lagi ku bendung, “Ryan, kamu hanya berjanji saja, tapi tidak pernah ditepati.”