Keputusan telah diambil. Ryan yang dipilih sebagai pemimpin sementara di kawanan kami memutuskan untuk mencari ibuku sekaligus mencari tempat tinggal yang layak untuk kami tempati. Namun jalan satu-satunya menuju tebing Ryan putuskan untuk tidak melewatinya karena terlalu berbahaya.
Jizzy si pemikir cermat juga menambahkan bahwa tempat tinggal yang aman dari bahaya hanya di atas tebing. Kendalanya sumber air di sana tidak sebanyak di lembah dan dataran rendah. Makanan pun akan sangat sulit dicari karena keadaan di atas sedikit tandus, untuk tingkat bahaya, Jizzy rasa lebih bahaya di atas tebing karena hanya sedikit kawasan untuk bersembunyi tidak seperti hutan hujan yang lebat dan banyak tempat untuk mengendap-endap mencari mangsa. Sebenarnya Jizzy pun sempat tak yakin dengan tempat tinggal itu.
“Kita akan kekurangan air dan makanan jika memaksa tinggal di sana, tapi lumayan aman dari kawanan pemakan daging yang lain.”
“Tapi, di atas banyak tempat yang belum kita jelajahi,” saut Nath, sebagai anggota Foxioz tentu mereka pernah menjelajah hutan. “Ke arah matahari terbenam di atas tebing, daerah situ anggota kita belum ada yang pernah jelajahi, kan?” sambung Nath menoleh ke arah kembarannya.
Zain mengerutkan keningnya, seperti tau apa yang Nath pikiran, “Di atas tebing, lurus searah dengan matahari terbenam. Ada hutan yang belum kita jelajahi. Dari jauh terlihat sangat asri dan segar, sepertinya bisa kita targetkan sebagai tempat tujuan.”
Ryan mengangguk paham, dia mulai membuat alur rencananya, “Pertama kita mencari kawanan yang lain di atas tebing, lalu mengikuti arah terbenam matahari untuk ke tempat yang Zain maksud tadi. Bagaimana?!”
Kawanan yang berada di sana mengangguk serempak. Keputusan Ryan bisa kami terima. Dan misi kita pertama yaitu mencari ibuku dan kawanan yang melarikan diri ke atas tebing.
“Tapi kita tidak bisa melewati, Cyberis Land, ingat? Kawasan itu masih dalam pantauan hiena,” Chio menambahkan.
“Jalan memutar!” saut Zain memberikan saran.
Chen yang berada di samping Zain mengangguk setuju, “kita tidak perlu mengambil resiko bertemu dengan para hiena itu jika harus kembali ke Cyberis Land dan mengambil jalan di sana untuk naik ke tebing. Kita bisa memutari tebing. Memotong jalan untuk bertemu dengan kawanan yang lain.”
Ide bagus. Semua setuju dengan pendapat Chen. Kita bisa memutar dan semua kawanan termasuk bayi rubah yang masih belajar berjalan itu ikut dengan kami.
“Tapi kawan-kawan,” potong Chio di saat kita semua sudah sepakat dan siap berangkat.
“Ada apa?” tanya Ryan.
“Kita memang menghindari hiena dengan memilih jalannya tapi kita tidak akan tau, bahaya apa yang menanti kita di ujung sana.”
Semua rubah terdiam. Ryan mengerutkan keningnya, menatap jauh jalan yang akan kami tuju. “Apapun yang akan menanti kita di sana. Kita harus tetap bersama-sama. Kita tim yang kuat,” ucapnya dan yang lainpun kini mengangguk percaya diri.
Persiapan untuk keberangkatan sudah kami siapkan. Di lingkaran ini yang prioritas utama untuk dilindungi adalah bayi rubah yang belum dapat bergerak banyak. Di sana ada Launa dan istri Kak Mark yang bernama Giya yang ditugaskan untuk membawanya.
Zain dan Nath ditugaskan untuk menjaga posisi belakang, Ryan menegaskan kepada mereka berdua untuk tetap waspada dan tak boleh ada kawanan yang tertinggal.
Keduanya menyetujui hal itu.
Aku diberikan simulasi singkat tentang pertahanan diri, agar bisa bertahan saat diserang dan menunggu teman yang lain untuk membantu menghancurkan lawan.
“Tetap bersama Jizzy dan Chen,” Ryan mengucapkan itu setelah memberikanku simulasi singkat tentang cara melarikan diri pada saat keadaan bahaya. “Aku, Chio dan Hyeni akan di depan sebagai penunjuk arah dan pemberi aba-aba. Tetap fokus, jangan lengah.”
“Aku tau.”
“Bagus kalau kau mengerti.”
“Hm, lagipula aku pernah sendirian di dalam hutan.” Ryan tidak tau aku bertarung dengan dua hiena dan memenangkan pertempurannya. Aku berjalan sendiri menyusuri sungai untuk sampai ke pohon kembar mahoni. Dia tidak perlu khawatir lagi. Aku bisa menjaga diriku seorang diri.
“Starly?” panggil Ryan membuatku menoleh ke arahnya. Rubah jantan itu terdiam, tatapannya sedikit redup.
“Ada apa?”
“Terima kasih karena sudah bertahan.”
Aku terdiam mencermati ucapannya. Hanya itu saja? Kupikir terimakasih seperti itu tidak perlu, aku bertahan untuk diriku sendiri bukan untuknya lagi ataupun orang lain.
“Sudahlah Ryan.”
“Terima kasih karena selamat dan bertahan sampai sini.”
Aku membuang wajah, tak ingin menatap matanya itu. Dadaku tiba-tiba saja terasa sesak. Kata-kata itu untuk apa?
“Untuk apa berterima kasih? Mulai saat ini, aku akan berjuang untuk hidupku sendiri, jadi tidak perlu cemas.”
Aku mundur, simulasi sederhana melarikan diri ku rasa sudah selesai. Tidak ada yang akan dijelaskan lagi. Jika terus berada di dekatnya aku tidak tahan untuk menumpahkan semuanya padanya. Ingat kan? Dia bukan lagi rubah jantan yang akan dikawinkan denganku, dia sudah memiliki betinanya sendiri.
Aku meninggalkan Ryan, kemudian berdiri di dekat Jizzy dan Chen. Para pemikir cermat.
“Apa semua sudah siap?!” Ryan si pemimpin kawanan memberikan intrupsi lagi. Lainnya menjawab siap dan kamipun mulai berangkat.
Hutan pinus yang kami tinggali beberapa hari ini sangat luas dan dalam, butuh waktu cukup lama untuk keluar dari hutan. Matahari sudah berada di atas kepala, yang kemungkinan saat sudah dekat dengan tebing akan sampai sore hari atau malam hari kalau tidak ada kendala di perjalanan.
Hutan pinus sangat aman selama ini hanya ada burung yang kami temui berada di dalam hutan, entah makhluk yang lain berada di mana. Tidak bisa menggunakan hutan pinus sebagai tempat tinggal selamanya selain karena pohon yang tidak memiliki batang yang banyak, hutan pinus pun terlalu terbuka untuk rubah yang hidupnya memang bergantung pada bertahan dengan cara bersembunyi. Entah di atas pohon atau di dalam semak.
Rubah lain tidak nyaman dengan keadaan terbuka seperti itu dan mencari tempat tinggal lain memang harus dilakukan.
“Kak Starly?” panggil Jizzy yang berada di kiri tubuhku. Sementara Chen di sisi yang lain. Kami berdua menoleh ke arah rubah tinggi itu.
“Sejak kebakaran itu terjadi aku belum pernah kembali ke Cyberis Land. Apa keadaan di sana benar-benar buruk?”
Mendengar pertanyaan dari Jizzy, Chen menunduk sendu. Dua rubah remaja ini sepertinya sedang rindu rumah.
“Apa rumah pohonku juga terbakar?” Jizzy melanjutkan.
Kebetulan rumah pohon milik Jizzy berhadapan dengan milikku.
“Beberapa dahan besar roboh dan hitam termakan api. Di sama lembab dan penuh genangan air juga karena hujan. Banyak bangkai hiena yang mati karena hangus terbakar.”
“Aku tiba-tiba saja rindu dengan tempat itu, walaupun di sana baru beberapa minggu saja tapi terasa sangat nyaman, benar kan?” ucap Chen dan kami bertiga pun tiba-tiba saja menunduk.
“HEY YANG DI BELAKANG, FOKUSLAH!!”
Kami bertiga terlonjak, langsung mendongak ke sumber suara. Peringatan itu datang dari Hyeni yang berada tepat lima tungkai dari kami bertiga. Dua orang di depan Hyeni— Chio dan Ryan menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang.
“Ada apa Hyeni?”
“Jizzy, Chen, Starly, aku harap kalian bertiga bisa diajak bekerja sama, perjalanan ini sangat berbahaya,” kami bertiga mengangguk patuh. Betina satu-satunya di Foxioz itu sangat tegas. Membuatku menciut seketika.
Tak hanya aku, Chen dan Jizzy langsung membeku dibuat oleh Hyeni. Dan dia betina yang hebat memang.
“Ayo kita lanjutkan lagi,” titah Ryan dan kamipun melanjutkan perjalanan.
Bernapas lega jujur saja tatapan Hyeni memang tidak bersahabat. Aku teringat ketika di hutan hujan saat betina rubah itu bermain dengan Ryan di salah satu pohon besar. Gadis rubah tertawa dan terlihat sangat bahagia.
“Kawan-kawan? Bagaimana cara menjadi kuat?” bisikku pada dua remaja rubah di sampingku.
“Kak Starly harus fokus.”
“Itu saja?”
“Bukan, nanti kita dimarahi kak Hyeni lagi.”
Aku cekikikan kecil, mereka berdua sangat manis dan lucu. Pantas saja Muggi sangat suka dengan mereka berdua.
“Ngomong-ngomong, bagaimana pendapat kalian tentang Muggi, adikku?”
“Cantik.” // “Cantik!” jawab mereka berdua serempak membuatku menahan tawa. Jika Muggi mendengar ini pasti dia sangat senang. Aku merindukan adikku.
“Ku rasa Muggi juga di atas tebing bersama ibu dan kawanan yang lain, aku harap kita cepat menemukan mereka.”
Tak terasa hutan pinus yang luas dan dalam ini akhirnya bisa kami lalui, pintu keluarnya tak sama dengan pintu masuk saat aku pertama kali memasuki kawasannya.
Saat dari Cyberis Land aku dan Chio melewati padang ilalang lalu padang rumput dan masuk ke dalam hutan pinus, saat masuk pun hari sudah mulai gelap fokusku hanya pada arah yang dituju tidak menoleh ke sana ke mari, aku tidak tau kalau hutang pinus ini ternyata tidak hanya di kelilingi padang rumput.
Aku berjalan mendekat, Chen dan Jizzy juga melakukan hal yang sama. Belum sampai di bibir pintu hutan pinus, para pemimpin kawanan tiba-tiba menghentikan langkah. Aku yang bingung malas semakin dibuat penasaran.
Chio, Ryan dan Hyeni, membalik tubuhnya bersamaan, memberikan aba-aba untuk berhenti sejenak. Chen menoleh ke belakang, memberikan kode pada Launa, Kak Giya, Zayn dan Nath untuk berhenti juga.
“Kita tidak keluar melewati padang rumput karena tujuan ke atas tebing memutar tidak melewati Cyberis Land.” Ryan maju satu langkah memberikan penjelasan. “Tempat ini sebelumnya sudah pernah dijadikan tempat latihan oleh anggota Foxioz, jadi ini bukan tempat asing bagi beberapa anggota.”
Aku menoleh ke arah Jizzy, rubah muda itu mengangguk.
“Tempat latihan untuk anggota Foxioz memang sedikit berbahaya, jadi yang belum pernah melewati kawasan ini, aku berharap untuk hati-hati. Dan Formasi barisan akan kita ubah sementara,” lanjutan intrupsi darinya.
Semua kawanan berkumpul termasuk yang berada di posisi belakang sebagai pelindung.
“Belakang aman!” teriak Nath.
Ryan mengangguk menerima laporan Nath. Aku berbisik lagi di dekat Jizzy.
“Yang di depan itu apa?” tanyaku padanya.
“Starly, Launa, Kak Giya merapat lah!” perintah Ryan. Rasa penasaran ku sepertinya akan di jawab oleh pemimpin rubah itu. Kami pun berkumpul. Ryan terlihat serius, apa di depan sana sangat berbahaya?
“Di depan cukup berbahaya,” ucap Ryan, “Lembah Hitam, jalanan sedikit menurun, gelap dan penuh akar pohon Eboni.”
“Pohon Eboni?”
“Tidak tau pohon itu, Starly?” tanya Chen yang mendengar gumaman ku.
Sejak kecil aku memang sangat sulit mengenal banyak jenis pohon, ibu pun berulang kali mengingatkanku tentang jenis pepohonan. Pohon betula raksasa yang ku tau di Cyberis Land. Lalu Mahoni yang kayu dalamnya berwarna seperti tubuh lami. Lalu pinus yang kulihat sepanjang jalan. Lalu kini Eboni?
“Ini pertama kalinya aku mendengar pohon Eboni.”
“Pohon Eboni memiliki batang yang berwarna hitam, jalan kita akan sedikit menurun yang berarti lembah ini akan di penuhi akar pohon eboni yang berwarna hitam, itulah mengapa lembah ini disebut dengan lembah hitam.”
Aku mendongak, menatap langit yang masih terang, “Apa matahari tidak bisa masuk ke dalam lembah hitam?” tanyaku karena ku yakin di dalam lembah pasti akan gelap gulita.
“Hm yaa.. jika beruntung kita akan melihat matahari lagi.”
Angin dingin tiba-tiba saja keluar dari pintu lembah hitam berhasil membuat tubuhku merinding ketakutan. Apa yang ada di dalam sepertinya sangat menyeramkan.