CTS~9

1418 Words
Episode sebelumnya .... Menghembuskan napas kesal, Ify menjatuhkan bokongnya di sofa lalu menatap Rio dan bicara, “Jelaskan!” Lalu dengan semangat, Rio menjelaskan kronologi dari awal sampai akhir, dari pertama kali ia bertemu Dea dan bagaimana gadis itu tahu kantornya. Ia bahkan menunjukkan rekaman cctv yang menunjukkan jika dirinya sudah berusaha mengusir Dea tapi tidak mempan. Melihat antusiasme Rio, Ify ingin sekali tertawa. Terkadang, kita memang hanya perlu mendengarkan, agar kesalahpahaman tak terjadi. Justru, Ify enggan bertengkar dengan Rio hanya karena perempuan lain, karena itu akan memberikan perempuan itu peluang yang lebih banyak untuk mendekati Rio. Jika tak beruntung, justru dirinya yang akan menjadi satu-satunya orang yang terluka. Terkadang, mempertebal kesabaran dan menekan ego untuk mendengarkan juga perlu, agar kita tak menyesal jika kehilangan. ****  “Jadi, kau juga gagal menggodanya?” Heru menghembuskan napas kesal melihat sang anak menganggukkan kepala. Kini, cara apalagi yang harus ia lakukan? “Yaaaa, apa kau tidak bisa membantu ayahmu sedikit saja, kenapa kau tidak pernah berguna sedikitpun?” bentak Heru yang sudah terlanjur kesal. “Apalagi yang harus aku lakukan? Aku sudah melakukan pendekatan dari berbagai cara tapi dia terlalu dingin,” bantah Dea tak terima dibentak begitu saja. “lagipula, ceweknya nyeremin,” lanjutnya dengan suara yang lebih lirih. Heru mengusak rambutnya kasar sambil berjalan mondar-mandir berharap mendapatkan ide yang cemerlang. Saat sedang sibuk dengan pikirannya, pintu terbuka menampakkan Janan, sang asisten yang tergesa masuk ke dalam. “Prosentase saham kita semakin menurun, Pak! Para pemegang saham meminta untuk diadakan rapat darurat dan mereka meminta pengembalian dana.” Heru menggeram marah. “Para orang tua bodoh!” desisnya. “Adakan rapat satu jam lagi, dan segera atasi semua berita yang muncul. Lakukan cara apapun untuk memblokir para wartawan yang akan menayangkan berita tentang perusahaan kita.” Heru melangkah ke kursi kerjanya. Ia mengobrak-abrik laci untuk mengambil berkas yang ia perlukan. Situasi ini, benar-benar membuatnya kacau. “Ah, satu lagi!” Janan menghentikan langkahnya karena interupsi sang bos. “Keluarkan semua senjata rahasia agar mereka tak berani menekan kita.” “Baik, Pak!” Sepeninggal Janan, Heru terpekur di tempatnya. Mulutnya berdesis kesal dan tak berhenti mengumpat. “Berani-beraninya membuatku seperti ini.” **** “IFYYYYYY!” Teriakan melengking dari Sivia yang tak pernah berubah membuat Ify hanya mampu menggelengkan kepalanya. Apalagi saat semua orang yang lewat memandangi mereka dengan tatapan aneh bercampur geli. “Suara lo bisa pelan dikit, nggak?” desis Ify saat Sivia sudah ada di sampingnya. Hari ini mereka berencana untuk mengambil pesanan dress yang akan mereka kenakan waktu wisuda. Sekalian mengambil setelan jas untuk Alvin dan Rio. “Haiii Chelseaaa!” sapa Via dengan riang saat bertemu sang pemilik butik yang kebetulan kakak kelas mereka semasa SMA. “Hai Ify, Via, kalian mau langsung lihat dress-nya?” tawar Chelsea setelah memerintahkan pegawainya untuk menghandle pekerjaannya sementara. “Boleh!” sahut Ify singkat. Chelsea kemudian berjalan terlebih dahulu diikuti Via dan Ify untuk melihat dress yang sudah mereka pesan satu minggu yang lalu. “Bagaimana?” tanya Chelsea setelah menunjukkan dua gaun putih pesanan mereka. “WOW!” mulut Via menganga melihat dress cantik yang ada di depannya ini. “Sudah pasti, hasil tangan emas tak akan mengecewakan,” lanjutnya yang membuat Chelsea tertawa. “Bagaimana dengan gaunmu, Vi?” tanya Chlesa saat melihat Ify yang diam saja. Ia takut drees itu tak sesuai dengan harapan Ify. “Bagus, kok! Kita ambil aja sekarang!” “Oke, kalian tunggu sebentar!” Sambil menunggu dress dan setelan jas dibungkus, Ify memilih untuk kembali bermain candy crush sementara Sivia sibuk berkeliling mengagumi pakaian-pakaian yang dipajang di etalase.  Memang butik milik Chelsea ini terkenal dengan kualitasnya dan juga sangat mengikuti perkembangan jaman, tetapi tidak meninggalkan ciri khasnya. “Sorry, kalian nunggu lama, ya?” tanya Chelsea yang sudah datang dengan empat tas yang ada di tangannya. “Ah, enggak kok!” sahut Sivia sambil menerima tas dari Chelsea. “Kalau begitu kita pergi dulu!” pamit Ify setelah memasukkan ponselnya ke saku celana. Chelsea mengantar keduanya sampai ke ambang pintu. “Gadis itu benar-benar tak berubah,” ucap Chelsea lirih sambil tersenyum simpul melihat Ify yang tetap bersikap dingin padanya. **** Setelah mengantar Sivia pulang, Ify memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan. Cuaca sore yang cerah memang sangat mendukung untuk bersantai. Apalagi di taman yang jaraknya tak begitu jauh biasanya selalu ramai dengan anak-anak kompleks yang sedang bermain dan juga anak-anak kampung sebelah yang selalu bermain layang-layang di sore hari. Ify membelokkan langkahnya di minimarket dan membeli beberapa camilan untuk temannya nanti. Usai mendapatkan apa yang dia inginkan, Ify meneruskan langkah ke taman. Ia mengambil tempat duduk di ujung timur taman yang tepat berada di bawah pohon beringin besar yang rimbun. Meski begitu, sinar matahari masih mampu menerobos masuk dari celah-celah dedaunan dan juga karena posisinya yang sudah condong ke arah barat membuat tempat ini menjadi spot yang tepat untuk melihat senja. Ify bukan anak senja sebenarnya, tetapi sekali-kali ia juga perlu melihat dan merasakan ketenangan yang jarang ia temukan. Ify memakai earbuds setelah mengatur lagu yang ingin ia dengar. Setelah mengupas satu permen, Ify mulai menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata. Menikmati alunan lagu dan semilir angin yang menerpa wajahnya. Sungguh sebuah kenikmatan hingga ia tak menyadari waktu yang beranjak malam. Ify membuka matanya saat keadaan di taman sudah benar-benar sepi. Apakah ia tertidur tadi? Bangkit dari duduknya,Ify merenggangkan tubuh dan menguap. Ponselnya bergetar dan tanpa melihat siapa yang emnelepon, ia langsung mengangkatnya. “Lo dimana?” Sebuah suara bariton yang ia kenali langsung bertanya. “Di taman, kenapa?” jawab Ify sambil berjalan perlahan untuk pulang. “Udah malem. Mau gue jemput?” “Nggak usah, sepuluh menit lagi gue sampai ru ....” Ify tak meneruskan ucapannya saat di depannya kini berdiri lima orang dengan pakaian serba hitam dengan baton stik yang ada di tangan mereka. “Kenapa? Ada apa?” tanya Rio saat Ify tak melanjutkan ucapannya. “Lo punya musuh siapa lagi, sih?” gerutu Ify sambil menghindari satu serangan yang ditujukan kepadanya. “Lo diserang? Sama siapa?” “YA MANA GUE TAHU!” seru Ify sambil menangkis satu tendangan, ia kemudian menunduk, berputar dan melayangkan tendangan yang telak menghantam d**a lawan. “Ya, lo tanya dong!” “Oiii, pacar gue tanya, kalian disuruh siapa?” tanya Ify setelah mengusap bajunya yang sedikit kotor akibat berguling tadi. Serangan yang membabi buta, membuat Ify tak begitu mendengar apa yang Rio ucapkan, ia sibuk menangkis dan melancarkan serangan yang kini membuat tiga orang sudah terkapar tak berdaya. “Gue perlu bantu, gak?” Ify menatap lawannya, tersisa dua. “Kalau ini aja sih gue bisa atasin, entah kalau pasukan yang lain muncul. Gue mager kalau harus olahraga berat malem-malem,” keluh Ify sambil bersiap menerima serangan. Bugh! Satu tendangan yang menyasar ke perut Ify membuat gadis itu terdorong mundur tapi tak sampai roboh. “FY, LO NGGAK APA-APA?” “Suara lo bisa pelan, nggak? Sial, yang punya musuh lo sama kak Jo, tapi kenapa gue yang selalu jadi sasaran?” sungut Ify sambil menangkap pergelangan kaki lawan, lalu memutarnya hingga berbunyi dan mendorongnya kuat. Ify memblokir ayunan baton stik dengan punggung lengan membuatnya meringis dan menyumpah. “Nih buat lo!” Dengan satu tolakan kaki, Ify melakukan tendangan memutar yang telak menghantam rahang lawan hingga berbunyi gemeretak sebelum ambruk ke tanah. Setelah semua lawannya ambruk, Ify mengipasi dirinya yang berkeringat. Napasnya tak  beraturan, dan ia mendekati salah satu penyerang yang masih sadar. Ify berjongkok di sebelahnya dan bertanya lirih, “siapa yang nyuruh lo?”                 Penyerang itu tetap bungkam membuat Ify meletakkan lututnya di d**a sang penyerang hingga ia merintih kesakitan. “Gue tanya sekali lagi, siapa yang  nyuruh lo?” tanya Ify dengan nada yang lebih mengintimidasi dan perlahan memberi tekanan yang lebih di lututnya. “Uhuk! He ... Her ....” “Ngomong yang jelas. Siapa? Hercules? Herlambang? Heru?” Penyerang itu mengangguk membuat Ify mengangkat lututnya dari d**a sang penyerang. “Lo denger sendiri, kan? Suruhan Heru! Heru siapa lagi, sih?” omel Ify kepada Rio sambil berjalan pulang. Rio terkekeh sebelum menjawab, “CEO DAEHA GROUP yang kalah tender sama gue.” “Sial, kenapa selalu gue yang jadi incaran? Dikira gue nggak capek apa ngelawan mereka semua? Untung cuma lima.” Sepanjang perjalanan Ify terus mengomel dan menyalahkan Rio serta Alvin hingga tak sadar jika dirinya kini sudah ada di depan rumah. Pagar terbuka otomatis dan terlihat Rio yang sudah menunggu di depan pintu dengan segelas air yang mau tak mau membuat Ify mengembangkan senyumnya dengan lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD