CTS~8

1297 Words
Episode sebelumnya .... “Gue mau jadi pacar lo.” “Serius?” “Tapi ada syaratnya!” “Lo mau jalin hubungan apa mau negosiasi,” keluh Rio. “Jangan bilang lo mau dibuatin seribu candi, gue nggak bisa!” “Maunya sih gitu, tapi gue sadar lo bukan Bandung Bondowoso. Bisa-bisa lo mati duluan sebelum gue dapat warisan,” Balas Ify yang membuat Alvin dan Rio hanya mampu menganga takjub. “Jadi, lo mau syarat apa?” “Apapun yang gue minta, lo harus turutin nanti.” “Gitu doang?” “Iya.” “Oke, deal!” Alvin pun memilih untuk undur diri. Tak sanggup jika harus menghadapi pasangan gila yang satu ini.   ****  Rio baru saja selesai meeting saat ponselnya berbunyi dan menampilkan pesan yang membuatnya menaikkan alis karena nomor yang tidak dikenalnya. 081345xxxxxx Apa kau ada waktu untuk makan siang hari ini? Aku akan mentraktirmu sebagai rasa terima kasihku tempo hari. Tanpa membalas, Rio kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. Waktu makan siang sebentar lagi, dan Rio berniat mengajak Ify makan siang bersama saat Deva tiba-tiba datang dan menyerahkan sebuah dokumen yang cukup membuatnya sakit kepala. “Siapa yang bertanggungjawab?” “Divisi Perencanaan, Pak,” jawab Deva sambil menunduk takut. Rio yang sedang marah membuatnya ciut. “Atur meeting dengan Divisi Perencaan, dan saya hanya ingin mendengar solusi. Jadi, pastikan saat di ruang rapat sudah ada solusinya. Saya tidak menerima alasan apapun. Jika tidak sanggup, suruh mereka mengirimkan surat pengunduran diri.” “Baik, Pak!” Setelah Deva keluar ruangan, Rio menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Ia mengendurkan dasi yang terasa mencekik dan memejamkan mata sejenak. Baru saja ia hendak terlelap, dering ponsel seketika membuatnya membuka mata. Tertera nama Ify sebagai sang penelepon. Hal itu membuat Rio seketika ingat janji makan siangnya. “Halo!” Rio meringis mendengar nada bicara Ify yang sedikit ketus. “Lo dimana? Katanya mau makan siang bareng, jadi apa enggak? Jangan bilang lo masih ada di kantor? “Sorry, ada masalah dengan proyek di Surabaya dan sebentar lagi meeting. Kalau lo nggak keberatan, datang aja ke kantor.” Terdengar Ify mendengus, tetapi tak urumg ia juga mengiakan saran dari Rio. Setelah sambungan telepon terputus, Rio segera membuka aplikasi untuk delivery order sehingga saat Ify tiba mereka tinggal makan bersama. Sembari menunggu, Rio kembali membuka laptop dan membaca beberapa email. Namun hal itu tak berlangsung lama saat terdengar suara ribut dari luar. Suasana hatinya sudah lyumayan buruk, tetapi keributan di luar semakin menambah buruk. Hal itu membuat Rio menutup laptopnya denga keras dan menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Brakk! Suara pintu yang terbanting dengan keras membuat Rio membuka mata. Gadis yang tadi mengiriminya pesan kini sudah ada di depannya dengan kotak bekal yang ada di tangannya. “Hai, Yo!” sapanya dengan postur tubuh yang dibuat manis. “Kenapa membuat keributan?” tanya Rio dingin. “Sekretarismu tidak memperbolehkanku masuk, padahal aku hanya ingin memberikanmu makan siang sebagai bentuk terima kasihku.” Dea berucap lembut dengan nada yang manja. “Saya minta maaf, Pak! Saya sudah melarang tetapi Nona ini nekat menerobos!” ucap Deva dari ambang pintu saat melihat air muka Rio yang bertambah keruh. Ia hanya berharap, semoga akan ada keajaiban yang emmbuat amarah bosnya tidak meledak saat itu juga. Rio melambaikan tangan sebagai isyarat tidak apa-apa membuat Deva membungkukkan badan dan kembali ke mejanya setelah menutup pintu. “Ada apa?” tanya Rio setelah di ruangan itu tinggal mereka berdua. “Ini.” Dea mendekat ke kursi Rio. Ia sengaja membungkuk saat meletakkan kotak bekal di atas meja hingga belahan payudaranya termpampang nyata di depan mata Rio. Model dress dengan belahan d**a yang rendah itu membuat                 p******a Dea seolah akan tumpah saat dibuat membungkuk. Apalagi dress hitamnya    terlihat sangat kontras dengam kulitnya yang putih. “Terima kasih, dan silakan keluar!” sahut Rio sambiol menunjuk ke arah pintu. Dea yang sadar pancingannnya tak berhasil mengerucutkan bibirnya yang dipoles dengan lipstik yang merah menyala. Siapapun laki-laki yang melihatnya pasti akan tergida karena lekuk tubuh Dea dan dandanannya yang sensual. Namun sayang, Dea sepertinya salah menilai Rio. Kondisi hati Rio yang buruk kian memburuk dengan tingkah Dea yang kurang sopan. “Makanlah! Aku akan menemanimu makan!” bujuk Dea pantang menyerah dan dengan tak tahu malunya duduk di pangkuan Rio. Tepat saat itu, pintu kantor terbuka lebar dengan Ify yang menatap pemandangan di depannya dengan mata membulat lebar dan Deva yang meringis dibalik mejanya. Akankah perang dunia terjadi hari itu juga? Rio yang kemudian tersadar segera mendorong Dea agar turun dari pangkuannya. Karena dorongan keras, Dea yang tak siap pun terjatuh ke lantai. Sesaat suasana menjadi hening mencekam, hingga Ify melangkah mendekati Rio yang perlahan mundur dan terjatuh ke kursi. Ify mengamati Dea yang meringis sambil memegangi pergelangan kakinya. Tanpa kata, Ify menarik lengan Dea hingga gadis itu berdiri dan langsung menyeretnya keluar. “Lepasin! Lo siapa?” Dea meronta, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ify yang semakin menngerat hingga membuatnya meringis sakit. “Rio, sakit! Bilang sama dia suruh lepasin aku,” rengek Dea dengan manja yang tak mendapat respon dari Rio. Pemuda itu kini justru memandang keluar jendela yang memperlihatkan langit cerah. Sampai di luar kantor Rio, Ify menghempaskan Dea begitu saja hingga gadis itu kembali jatuh terduduk. Ify memandangi gadis itu dengan tajam sembari berkacak pinggang. Deva yang kebingungan pun hanya diam di tempat, takut jika ia ikut campur justru dirinya yang akan menjadi pelampiasan seperti tempo dulu. Cukup ia babak belur satu kali, dan enggan untuk mengulanginya lagi. “YAAAAA! LO SIAPA BERANI BERBUAT SEPERTI INI SAMA GUE?” pekik  Dea yang sudah tak bisa menahan kesabarannya. “Gue? Mau tahu?” Ify menunjuk dirinya sendiri dengan menyunggingkan senyum sinis yang terlihat menyebalkan membuat Dea semakin murka. Dengan meringis kesakitan, Dea bangkit. Berniat menjambak rambut Ify saat tangannya ditangkap dengan begitu mudah oleh gadis itu. Dengan mata tajamnya, Ify menatap Dea. “Siapa lo berani menyentuh milik gue?” Ify melangkah maju membuat  Dea semakin bergerak mundur. “Siapa lo berani bertingkah sama gue? Siapa lo berani menggoda lelaki gue, Jalang?” Ify menghempaskan tangan Dea dan kembali melangkah maju membuat  Dea terpojok di dinding. Dengan senyuman sinis yang mengerikan, Ify memajukan tubuhnya hingga posisi mulutnya tepat berada di telinga Dea dan berbisik, “Sekali lagi lo berani mencoba merebut milik gue, jangan salahin gue kalau tubuh yang lo banggakan ini,” Ify berhenti sejenak sambil meraba lengan Dea dan memijatnya dengan keras membuat Dea meringis. “akan menjadi santapan buaya dan tak akan ada seorang pun yang menyadari jika lo menghilang.” Ify menarik tubuhnya lalu tersenyum manis ke arah Dea yang terlihat pucat pasi. “Lo lebih sayang nyawa bukan?” ucap Ify sambil mengelus pipi Dea lalu berbisik lirih, “b***h!” Puas mengintimidasi Dea, Ify kembali melangkah ke kantor Rio. Baru saja ingin membuka pintu, makanan yang dipesan Rio datang. Ify menerima kotak makanan itu lalu membuka pintu hanya untuk mendapati Rio yang sudah duduk manis di sofa tanpa bergerak sedikitpun. Saat Ify menaruh makanan di atas meja, Rio hanya memandang kekasihnya itu dengan nanar. Menghembuskan napas kesal, Ify menjatuhkan bokongnya di sofa lalu menatap Rio dan bicara, “Jelaskan!” Lalu dengan semangat, Rio menjelaskan kronologi dari awal sampai akhir, dari pertama kali ia bertemu Dea dan bagaimana gadis itu tahu kantornya. Ia bahkan menunjukkan rekaman cctv yang menunjukkan jika dirinya sudah berusaha mengusir Dea tapi tidak mempan. Melihat antusiasme Rio, Ify ingin sekali tertawa. Terkadang, kita memang hanya perlu mendengarkan, agar kesalahpahaman tak terjadi. Justru, Ify enggan bertengkar dengan Rio hanya karena perempuan lain, karena itu akan memberikan perempuan itu peluang yang lebih banyak untuk mendekati Rio. Jika tak beruntung, justru dirinya yang akan menjadi satu-satunya orang yang terluka. Terkadang, mempertebal kesabaran dan menekan ego untuk mendengarkan juga perlu, agar kita tak menyesal jika kehilangan.                                                                                                                                                                                                                            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD