Bangun tidur, Gery sudah disambut dengan suara isak tangis. Kedua matanya masih terpejam, tetapi telinganya mendengar jelas suara tangisan seorang gadis. Gery menduga yang menangis adalah Windy. Pria itu mencoba memaksa membuka kedua matanya meski masih terasa berat. Gery beranjak duduk sambil mengucek-ngucek salah satu matanya. Kesadarannya pelan-pelan mulai terkumpul. Netranya mulai mencari-cari keberadaan Windy dan asal suara tangisan itu. Rupanya Windy tengah duduk di pinggiran ranjang sambil menangis. Gery tidak tahu menahu apa penyebab Windy berada di sana dalam kondisi tengah menangis. Ia hanya merasa sebal dengan sikap Windy yang menurutnya terlalu cengeng. Lelaki itu bergerak mendekati Windy dan berhenti tepat di hadapan Windy. Gery lalu bersedekap tangan sembari menatap gadis

