Tanpa Sengaja BertemuOrang Tua Faith

1311 Words
Malam itu Faith sedang duduk di kamar apartemennya, ia masih memakai blouse kerja tapi rambut sudah dilepas setengah berantakan. Laptopnya terbuka, tapi sejak notifikasi dari Max muncul, layar itu kini hanya jadi pajangan saja. Ia membaca pesan itu sekali. Dua kali dan ketiga kali. Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri. “Apaan sih…” gumamnya pelan, tapi pipinya sudah hangat. Ia tarik napas, berusaha membalas dengan kalem, berusaha terlihat dewasa, stabil dan elegan. Tapi gagal. Jarinya mulai mengetik. Faith : Lagi bikin laporan buat besok. Ia berhenti, ia merasa balasannya terlalu jutek. Lalu ia menghapus, lalu mengetik lagi. Faith : Aku baru selesai mandi, terus senyum sendiri pas baca chat dari kamu, oh ya, kalau semua suara jadi pelan tiap ingat aku… berarti kita impas dong. hehehe... Setelah pesan dikirim, Faith langsung lempar ponselnya ke kasur. Namun baru lima detik berlalu, ia sudah mulai gelisah. “Kenapa belum dibalas ya?…” Ia berdiri menatap layar ponselnya, lalu jalan mondar-mandir kecil di kamarnya. Dan ketika ponselnya bergetar Faith langsung berhenti. Dengan cepar ia membuka layar. Dan senyum itu muncul lag, namun kali ini lebih lebar, lebih tulus, lebih polos dari biasanya. Max : I miss you - Keesokan harinya, lampu-lampu temaram sebuah bar di kawasan Senopati memantul di gelas-gelas tinggi yang berembun. Musik R&B pelan mengisi ruangan, cukup keras untuk membuat suasana terasa begitu hidup, tapi masih aman kalau hanya untuk ngobrol. Faith duduk di sofa pojok, sementara Dita di sebelah kirinya, dan Iko di depan mereka sembari memutar mutar sedotan di gelasnya. “Gila sih hari ini,” Dita menghela napas panjang. “Perasaan gue udah revisi semua artikelnya, tapi masih ada aja salahnya, heran gue.” Iko yang mendengar celotahannya tak kuasa menahan tawanya. “Classic banget, orang paling pede biasanya paling nggak ngerti.” Faith ketawa kecil. “Udah biasa itu.” “Eh,” Dita melirik Faith. “Tumben lo, cuman ketawa doang, biasanya paling cerewet.” Faith hanya angkat bahu, sementara tangannya masih memegang ponsel yang layar menyala. Iko menyipitkan mata. “Hmm.” Faith pura-pura tidak mendengarnya, ia tetap asik dengan ponselnya. Dita ikutan memiringkan badannya sedikit, berusaha mengintip layar. “Siapa sih?” “Kepo,” jawab Faith santai, tapi jarinya tetap mengetik. Mendengar hal itu Iko langsung nyeletuk, dengan nada sedikit kesal, “Dari tadi, lo tuh cuma fokus sama HP, nih minuman aja ;o sampe lupa.” Faith yang baru menyadari gelasnya masih utuh, langsung mengangka gelasnya dan minum sedikit. “Ini diminum kok.” “Bukan itu poinnya,” Iko bersandar ke kursi. “Yang jadi poin, siapa yang bikin lo senyum-senyum sendiri dari tadi?” Faith langsung refleks menetralkan ekspresi, ia menajwabnya dengan tenang. “Senyum apa? Biasa saja.” Dita menepuk-nepuk meja pelan. “Nggak biasa, ini senyum tipe… orang yang lagi ada something.” Faith memutar bola mata. “Over banget kalian.” Iko mencondongkan tubuhnya ke depan, ia berkata dengan nada suaranya yang setengah bercanda setengah serius. “Oke, jujur aja. Siapa?” “Temen,” jawab Faith cepat. “Temen yang bikin lo glowing level premium?” sela Dita sambil nyengir. Faith mendesah. “Kalian ini kurang kerjaan apa ya?” Seketika Iko tertawa, tapi matanya tetap mengamati. “Faith, gue kenal lo dari SMP, kalau lo lagi defensif begini, berarti ada sesuatu.” Faith meletakkan ponselnya di meja, sementara layarnya menghadap bawah. “Serius nggak ada apa-apa,” ucapnya lebih tegas. Suasana yang tadinya cair pelan-pelan berubah menajdi tipis, Dita berhenti senyum sementara Iko menyandarkan punggungnya. “Kenapa sih nggak mau cerita?” Iko tanya lebih pelan. “Kita kan cuma nanya.” Faith menatap mereka satu per satu, ada jeda sepersekian detik tapi cukup untuk menunjukkan ia sedang memilih antara terbuka atau menutup diri. “Belum waktunya,” jawabnya akhirnya. Dita mengerucutkan bibir. “Atau belum serius?” Faith menggeleng kecil. “Bukan itu, cuma… belum mau banyak orang tahu.” Iko mengangkat alis. “Banyak orang? Terus kita ini siapa?” Nada suaranya masih santai, tapi ada garis tipis tersinggung di sana. Faith terdiam. Ia ingin menjelaskan dan ingin mengatakan semuanya masih rapuh, belum stabil, belum pasti, tapi kata-kata itu terasa berat untuk keluar. “Gue cuman pengen keep buat diri gue sendiri dulu,” ucapnya pelan. Iko menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu mengangguk kecil. “Oke,” katanya. “Tapi kalau dia bikin lo kenapa-kenapa, lo bilang ya.” Dita langsung mencairkan suasana dengan menimpalinya. “Iya, nanti kita screening dulu, kayak HRD.” Hal itu membuat Faith tertawa lagi, tapi kali ini lebih tulus. “Overprotective banget sih.” “Wajar,” Iko jawab ringan. “Kita udah investasi pertemanan bertahun-tahun, masa kalah sama satu kontak baru di HP.” Faith tersenyum tipis. Tapi ketika ponselnya bergetar lagi dan layar menyala dengan satu nama yang sama dan tanpa sadar, tangannya kembali meraih ponsel itu. "Sorry guys, gue duluan, ada yang harus gue kerjain dulu," ucap Faith yang tanpa menunggu balasannya mereka langsung mengambil tas dan pergi meninggalkan Iko dan Dita yang masih terbengong-bengong dengan tingkahnya. - Udara malam Jakarta saat itu terasa hangat ketika Faith mendorong pintu bar. Lampu jalan memantul di trotoar yang sedikit basah. Dan di seberang sana, sebuah mobil hitam terparkir rapi, dan seseorang berdiri di sampingnya. Max. Ia mengenakan kemeja gelap dengan lengan tergulung sampai siku, tangannya masuk saku, tapi begitu melihat Faith keluar, ia langsung berdiri lebih tegak. Tidak ada gaya berlebihan, tidak ada klakson atau lambaian dramatis. Ia hanya tersenyum, dan itu cukup. Faith berjalan mendekat, berusaha terlihat biasa saja padahal detak jantungnya jelas tidak biasa. “Aku pikir tadi kamu bercanda,” ucapnya, setengah tak percaya. Max mengangguk pelan. “Kalau soal beginian aku nggak bisa bercanda.” “Oke, tapi ini jauh lho dari kantor?” “Emang.” “Aku bisa kok pulang sendiri.” “Iya aku tahu.” Faith terdiam sesaat. “Terus kenapa tetep dateng?” Mendengar pertanyaan Faith, Max menatapnya dengan cara yang membuat dunia di sekitarnya terasa lebih sunyi dibandingkan malam sebelumnya. “Soalnya aku pengen kamu pulang dengan rasa aman… Lebih tepatnya sih, aku pengen jadi orang yang kamu lihat terakhir malam ini.” Kalimat itu jelas kalimat sederhana, tidak puitis berlebihan, tidak juga dibuat-buat. Tapi cara ia mengatakannya, terasa begitu tenang, dan meyakinkan dan sukses membuat pipi Faith menghangat. Ketika tangan Faith sudah menyentuh gagang pintu mobil, tiba-tiba saja sebuah suara memanggil namnya dari belakang. “Faith.” Suara itu tidak keras, juga tidak juga asing, terdengar terlalu dikenal. Seketika tubuhnya langsung menegang. Max yang berdiri di dekatnya sempat menangkap perubahan itu. “Kamu kenapa?” Belum sempat Faith menjawab, suara kedua menyusul, kali ini lebih tegas. “Faith!” Dari kejauhan sepasang suami istri berdiri beberapa meter dari mereka. Jantung Faith rasanya seperti jatuh ke perutnya, udara mendadak terasa tipis, tangannya dingin. Ia tahu persis siapa mereka. Mereka adalah ayah dan ibunya. Orang tua kandung yang sudah hampir 4 tahun tidak benar-benar ia temui dalam situasi yang utuh. Pertemuan-pertemuan sebelumnya selalu berakhir dengan nada tinggi, dengan tuntutan, dengan keputusan yang membuat Faith memilih menjauh. “Faith, itu kamu, kan?” suara ibunya terdengar lagi, kali ini ada getar yang sulit dibaca, entah itu rindu atau kecewa. Max menoleh ke arah suara itu. “Kamu kenal mereka?” tanyanya dengan kening berkerut. Hanya butuh satu detik bagi Faith untuk membuat keputusan, dan ia memilih untuk tidak menoleh. Tidak membalas panggilan. Tidak juga menjawab pertanyaan Max. Sebaliknya, ia membuka pintu mobil lebih cepat dari seharusnya. “Ayo masuk,” katanya pelan, tapi nadanya berbeda, terdengar lebih tegang. “Faith,” suara ayahnya kali ini lebih dalam, lebih berat. Faith bisa merasakan tatapan mereka di punggungnya. Max yang masih berdiri di luar, berkata dengan ragu. “Mereka manggil nama kamu.” “Iya biarin aja.” Jawabannya singkat. “Kamu nggak...” “Tolong,” potong Faith pelan, hampir seperti berbisik. “Kita pergi sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD