Fake

1050 Words
“Jadi saya butuh Bapak dan Ibu untuk menjadi orang tua saya.” Faith tidak berputar-putar, kali ini ia sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi orang tua palsu. Yang nantinya akan dia bawa ke pertemuan keluarga. Keluarga Donovan dan keluarganya. Bu Lestari berhenti mengaduk teh di gelas plastiknya, ia menarik nafas dalam sebelum membalas ucapan Faith. “Ini resikonya cukup gede lho, Mbak Faith paham kan maksud saya?" "Saya tahu, makanya saya ada di sini," jawab Faith tanpa ragu. Pak Ardi langsung menangkap maksudnya. “Apa orang tuanya, orang penting?” "Yang pasti orang kaya, bisa membaca orang, ekslusif." "Terus selanjutnya setelah pertemuan? Nggak mungkin kan kalau hanya sekali saja bertemu, kalau ada momen lain yang membuat kami harus bertemu lagi, itu gimana?" Pak Ardi menyandarkan tubuhnya ke dinding panggung, pria itu masih merasa ragu untuk menerima pekerjaan dari Faith. Faith lantas tersenyum dan menjawabnya dengan sangat tenang. "Tinggal bertemu lagi aja, kapan pun saya mau kalian harus siap. Atau kita buat skenario, kalian kecelakaan dan... The end, gimana?" Bukannya menjawab, Bu Lestari balik bertanya padanya. “Orang tua seperti apa yang kamu mau?” Faith berpikir sebentar. “Bapak yang nggak banyak ngomong, tapi kalau ngomong terasa tegasnya. Ibu yang hangat, tapi nggak berlebihan, nggak suka pamer, tapi nggak terlalu merendah juga.” Bu Lestari tersenyum kecil. “Standar kamu tinggi juga, ya.” Faith ikut tersenyum. “Saya cuma butuh terlihat… cukup.” Akhirnya Pak Ardi menghela napas panjang, lalu ia menjawab dengan tegas. “Oke, kita ambil kerjaan ini.” Bu Lestari mengangguk mantap. “Tapi kasih kita waktu buat latihan dulu, saya nggak mau nanti grogi.” Faith tertawa kecil, lebih ringan dari sebelumnya. "Aman, bisa diatur." - Sementara itu di ruang kerja Max yang sudah hampir kosong, dimana lampu-lampu kantor yang menyala hanya tinggal beberapa saja yang menyala. Dan di dalam ruangan pribadinya, tampak jas Max tergantung rapi di kursi, sementara ia sendiri duduk santai dengan lengan kemeja yang digulung. Beberapa saat kemudian, asistennya yang bernama Ben masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “Kabar angin yang gue denger ini bener nggak sih?” Max bahkan tidak mengangkat kepalanya saat menjawab pertanyaan Ben. “Angin apa dulu?” “Lo mau nikah sama... Siapa namanya? Faith?” Max akhirnya menoleh, ekspresinya datar dan menjawabnya dengan tenang. “Cepet juga ya gosipnya.” “Nggak usah ngeles lah, tinggal jawab doang.” Max tersenyum tipis. “Iya.” Mendengar hal itu Ben langsung duduk di sofa yang berada persis depan mejanya. “Lo serius?” “Serius.” Ben menatapnya lama karena tidak percaya. “Lo cinta sama dia?” Max tertawa kecil. “Pertanyaan lo basi banget.” “Jawab dulu.” Max tidak langsung menjawab, ia lantas berdiri, mengambil gelasnya, lalu bersandar ke jendela. “Pernikahan nggak selalu soal cinta bro, apalagi dikalangan kita.” Ben mendecak, lalu membalasnya, “Gue tau lo realistis. tapi ini...” “Justru karena ini.” “Explain.” Max tersenyum tipis lalu berjalan pelan, dengan santai ia menjawab, “Dia punya reputasi bersih, karier stabil, nggak banyak drama, keluarganya juga..." Max menjeda ucapannya. Ia tersenyum miring, lalu kembali berkata, "Backgroundnya aman.” Ben menyipitkan mata, menyelidik. “Lo lagi ngomongin calon istri atau kandidat direksi?” Max tersenyum tanpa rasa bersalah. “Dua-duanya.” Ben menggeleng pelan. “Gue nggak suka arah pembicaraan ini.” Max duduk di seberangnya. “Listen, setelah kasus Alisha, nama gue masih ada bekasnya, lo tau kan kalau investor lama masih inget kasus ini, board juga masih hati-hati.” Ben diam tidak membalasnya. Lalu Max lanjut bicara tanpa tedeng aling-aling. “Gue butuh stabilitas, butuh figur yang bisa bikin publik dan jajaran direksi percaya lagi sama gue.” “Dan lo pikir nikah sama dia solusi PR terbaik?” “Bukan cuma PR,” jawab Max tenang. “Dia kredibel, pintar, orang-orang juga respek sama dia, dia juga nggak haus spotlight, dan itu nilai jualnya.” Ben bersandar, ia tampak frustasi mendengar ucapan bos sekaligus sahabatnya, ia mengusap wajahnya, lalu menghembuskan nafas panjang. "Gila, lo jahat banget bro." Max tertawa kecil saat menanggapi perkataan Ben. “Gue cuma strategis.” “Terus dia tau?” “Tau apa?” “Kalau lo lihat dia sebagai aset.” Max tidak menjawab langsung. “Gue nggak bilang gue nggak peduli sama dia,” ucapnya. “Gue suka dia, suka cara dia mikir, cara dia nggak ribet, dia nggak clingy, nggak drama.” “Mungkin karena dia terbiasa sendirian,” potong Ben. Max mengangkat alis. “Oh ya?” “Buat lo nggak, karena lo bisa masuk tanpa harus ribut.” Max tersenyum samar. “Ben, ini win-win solution.” “Buat siapa?” “Buat gue jelas, buat dia juga.” Seketika Ben tertawa miris. “Oh iya? Untungnya apa buat dia?” Max menjawab santai, seolah ia sudah menyiapkan ini. “Posisi, akses, keamanan finansial, nama belakang keluarga gue, dan lo tau sendiri gimana dunia kerja di level atas, status itu penting.” Ben terdiam beberapa detik, lalu kembali berkata, “Lo yakin dia cuma butuh itu?” Max menatapnya tajam. “Semua orang butuh sesuatu.” “Dan lo pikir lo tau apa yang dia butuh?” Max berdiri lagi, berjalan ke jendela. Ia tidak lantas menjawabnya, pandangannya kosong menatap ke arah laur jendela dimana lampu kota dengan indahnya. Ia lantas membuka ponselnya, melihat pesan dari Faith yang berada di urutan paling atas. Tangannya berhenti sepersekian detik sebelum mengetik pesan. Bagi Max, ini bukan cuma pernikahan. Ini langkah. Dan ia tidak pernah melangkah tanpa tujuan. Dan ketika Max mulai mengetik pesan, ia merasa ada sesuatu yang berbeda di dadanya, bukan seperti bisnis, tapi sesuatu yang lain. Ia lalu menghapus. Lalu menulis lagi. Max: "Kamu lagi apa? Tadi mau fokus kerja, tapi malah kepikiran kamu terus. Aneh ya, dunia bisa ribut banget, meeting numpuk, orang-orang debat nggak ada habisnya… tapi begitu ingat kamu, rasanya kayak semua suara pelan sendiri." Max membaca ulang pesannya, sejenak merasa pesannya terlalu lembut untuk seorang pria yang biasanya penuh perhitungan. Sempat ragu sejenak, tapi kali ini ia tidak menghapusnya. Ia menekan kirim. Lalu beberapa detik kemudian layar menunjukkan tanda pesan sudah terbaca. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Max menunggu, bukan sebagai pemain catur. Tapi sebagai pria yang berharap balasan dari perempuan yang membuatnya ingin pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD