Dan suasana makan malam itu tampak hangat di permukaan gelas beradu lembut, obrolan ringan berputar di antara dua keluarga, dan aroma hidangan mewah memenuhi ruang makan besar rumah keluarga Max.
Namun setiap kali Faith mulai goyah, Max selalu menatapnya dengan tatapan yang membuatnya percaya bahwa semua ini layak diperjuangkan.
Ibu Lestari, tampak sangat bersemangat menjaga kesan. Ia tersenyum lebar, mencoba tampil seperti ibu yang penuh kasih. “Sayang, ini udangnya kelihatan segar sekali, ini buat kamu sayang,” ujarnya sambil menjepit sepotong besar udang bakar dengan capit saji dan meletakkannya di piring Faith.
Faith spontan menegang, pandangannya jatuh pada udang merah keemasan yang merupakan musuh lamanya. Jantungnya berdetak cepat, tapi ia tidak bisa menunjukkan apa-apa.
“Oh… iya, makasih, Ma,” ujarnya dengan suara tenang, meskipun tangannya sedikit gemetar.
Maria memperhatikan interaksi itu dari seberang meja. Tatapannya dingin, nyaris seperti sedang membaca buku terbuka.
Max sempat melirik Faith dengan alis terangkat. Ia tahu sesuatu, karena saat kencan mereka dulu, Faith pernah dengan santai berkata bahwa ia tidak bisa menyentuh seafood, bahkan baunya saja bisa membuatnya gatal.
Faith mulai memakannya pelan, pura-pura menikmati. Rasa asin dan amis segera memenuhi mulutnya, membuat perutnya mual, tapi ia menelannya juga demi mempertahankan cerita besar yang sedang mereka mainkan.
Melihat itu, Maria mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu suka udang, Faith?” tanyanya datar, senyumnya kecil tapi matanya menajam.
Faith berusaha tersenyum, menahan rasa perih di tenggorokannya. Dan Faith hanya mengangguk pelan.
“Oh begitu,” Maria mengangguk pelan, tapi suaranya seperti menyimpan tanda tanya besar.
Tak lama kemudian, Faith mulai merasa gatal di pergelangan tangan, ia segera menutupinya dengan serbet di pangkuannya, berharap tidak ada yang melihat. Napasnya mulai berat, dan tenggorokannya terasa menegang, tapi ia tetap berusaha tersenyum dan menyuap nasi agar terlihat normal.
Max yang sejak tadi memperhatikannya melihat perubahan kecil itu, kulit Faith mulai memerah di sekitar leher, dan matanya berair. Ia pun segera bicara, mencoba mengalihkan perhatian. “Faith, kamu nggak apa-apa?”
“Oh, nggak papa, ini rasanya agak pedes dikit,” jawab Faith cepat, tertawa kecil.
Namun, Maria tidak ikut tertawa. Ia menyandarkan diri di kursi, menatap Faith dengan mata menyipit. Ada sesuatu yang tidak sinkron di antara cerita-cerita gadis itu.
Dan di tengah senyum palsu yang masih menempel di wajahnya, Faith tahu… ia baru saja membuat satu kesalahan besar yang bisa membuka semua kebohongan.
Ketika makan malam akhirnya selesai, semua orang tampak puas kecuali Faith. Ia berusaha tetap tersenyum, bahkan saat gatal di lehernya semakin parah dan napasnya terasa berat.
Dan begitu ada kesempatan untuk berdiri dari meja, Faith dengan sopan berkata,
“Maaf saya permisi sebentar.”
Ia melangkah dengan cepat menuju koridor, menahan diri agar langkahnya tidak goyah. Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, senyum yang ia pertahankan sepanjang malam langsung runtuh.
Faith menatap wajahnya di cermin pipinya mulai memerah, lehernya penuh bintik kecil, dan matanya sedikit bengkak. Napasnya tersengal, dan ia buru-buru membuka tas kecilnya dan mengeluarkan antihistamin darurat yang selalu ia bawa.
Tangannya gemetar saat menelan obat itu, air matanya menetes, bukan hanya karena reaksi alergi, tapi juga karena tekanan hebat yang ia rasakan.
Setelah beberapa saat ia menatap dirinya di cermin lagi, wajahnya tampak asing, wajah yang ia lihat adalah seseorang yang terus berbohong agar tidak kehilangan sesuatu yang bahkan belum pasti miliknya.
“Faith?”
Suara lembut tapi tegas itu datang dari luar pintu.
Faith terkejut, karena ia mengenali suara itu.
“Ya, Tante?” suaranya terdengar bergetar.
Maria tidak langsung menjawab, ada jeda yang panjang sebelum akhirnya ia berkata, “Kamu nggak apa-apa? Wajah kamu kelihatan… berbeda. Tadi juga kamu terlihat menahan sesuatu.”
Faith menatap cermin, mencari versi terbaik dari dirinya untuk diperlihatkan. Ia membasuh wajahnya cepat, menepuknya dengan tisu, lalu tersenyum kecil sebelum membuka pintu.
“Saya cuma sedikit pusing, Tante. Mungkin karena terlalu banyak minum teh,” katanya ringan.
Maria menatap Faith lama. Pandangannya menelusuri leher Faith yang sedikit memerah, lalu kembali ke matanya.
“Mungkin Max lupa memberitahumu, kalau ibunya seorang dokter umum yang sudah lama vakum,” katanya akhirnya, nada suaranya datar tapi mengandung sesuatu yang tajam. “Gejala yang kelihatan di pergelangan tangan serta lehermu terlihat seperti alergi, seafood.”
Faith membeku seketika.
“Kok bisa ibumu sendiri tidak tahu kalau kamu alergi seafood, Faith?”
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Faith menatap ke arah jendela kaca besar yang langsung menampakkan pemandangan obrolan hangat, orangtua palsunya, ayah Max, serta Max sendiri. Faith menatap ke arah mereka mencari alasan, mencari celah untuk lolos.
Maria menatapnya tanpa berkedip, sementara Faith berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Saya…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Sebelumnya saya minta maaf Tante, karena tidak menceritakan hal ini sama Om Tante, dan juga Max. Hal ini sebenarnya cukup menyakiti hati saya, akan tetapi segala sesuatunya sudah menjadi masa lalu, tidak baik jika terus mengenang hal-hal yang buruk saja.”
Faith menatap Maria dengan tatapan sendu, dan mata yang berkaca-kaca. “Sebenarnya, saya tidak dibesarkan oleh kedua orangtua saya, Tante. Kesibukan merekalah yang membuat saya sejak kecil diasuh oleh Nenek, kami benar-benar tidak terlalu dekat.”
Ia menarik nafas dalam-dalam dan lanjut berkata, “Jika bukan karena kedekatan saya dengan Max, dan jika bukan karena permintaan Max, tentu saya tidak akan membawa orangtua saya dan mengenalkannya pada Tante.”
Maria terdiam lama, namun sesaat kemudian senyumnya muncul kembali, meski tampak samar, tapi bukan senyum kehangatan, melainkan kepuasan kecil karena berhasil memojokkan seseorang tanpa harus meninggikan suara.
“Begitu ya,” katanya akhirnya, lembut namun menekan. “Kasihan sekali, tapi aneh… Max nggak pernah bilang soal itu.”
Faith hanya bisa menunduk.
Maria lantas menepuk bahunya pelan, sebuah gestur yang di mata orang lain mungkin terlihat penuh perhatian, tapi di d**a Faith, sentuhan itu terasa seperti peringatan.
“Kalau begitu, kamu sebaiknya hati-hati, alergi seperti itu bisa berbahaya kalau diabaikan,” ucap Maria, lalu berbalik, meninggalkan Faith berdiri kaku di depan cermin.
Begitu pintu tertutup, Faith baru sadar tangannya gemetar. Ia menatap dirinya di cermin, wajahnya kini benar-benar pucat.
Kebohongan barunya baru saja menyelamatkannya… tapi sekaligus menjeratnya lebih dalam.
"Ya Tuhan."