Janji Yang Diingkari

1269 Words
Entah mengapa di hari ini, pagi datang lebih cepat dari yang Faith inginkan. Ia hampir tidak tidur semalaman. Percakapan di rumah keluarga Donovan masih berputar-putar di kepalanya, ia ingat betul bagaimana tatapan Maria yang terlalu tajam, pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sopan tapi terasa seperti ujian. Namun hari ini harus tetap berjalan seperti biasa. Faith baru saja keluar dari gedung kantor ketika sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan trotoar. Ia tidak perlu melihat plat nomor untuk tahu siapa yang datang. Kaca jendela mobil turun sedikit, Max tersenyum ke arahnya. “Udah selesai kerja?” tanyanya santai. Faith mengangkat alis dengan tersenyum tipis. “Baru juga keluar.” Tanpa bertanya lagi Max membuka pintu dari dalam, lalu berkata, “Masuk dulu.” Faith sempat menoleh ke arah gedung kantornya, memastikan tidak ada rekan kerja yang memperhatikan, lalu ia masuk ke kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, mobil kembali melaju. Dalam beberapa detik ada keheningan diantara keduanya. Max memegang kemudi dengan satu tangan, sementara pandangannya lurus ke depan. Rahangnya terlihat sedikit tegang, seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu serius. Faith melirik ke arahnya. lalu bertanya dengan nada lembut. “Banyak banget yang diurusin ya?” Mendengar hal itu, Max terkekeh kecil. “Kurang lebih.” “Masalah perusahaan lagi?” “Always.” Faith menyandarkan punggungnya ke kursi, dan kembali berkata, “Kalau kamu mau curhat, aku bisa kok pura-pura jadi psikolog.” Max meliriknya sekilas. “Pura-pura?” “Ya, tarifnya mahal tapi.” “Berapa?” “Minimal makan malam enak.” Mendengar celotehan Faith, Max tak kuasa menahan tawanya. Akan tetapi tawa itu cepat hilang. Ia menarik napas pelan, lalu akhirnya berbicara. “Faith," ucapnya dengan nada suara yang berubah, terdengar lebih serius. "Ya." “Ada sesuatu yang mau aku tanyain sama kamu.” “Apa?” Mobil berhenti di lampu merah. Max kembali menoleh penuh ke arahnya. Matanya tampak tenang, tapi ada sesuatu yang dalam di sana. Sesuatu yang membuat jantung Faith tiba-tiba berdetak lebih cepat. “Aku butuh jawaban yang jujur.” Faith mengerjap. “Tentang apa?” Beberapa detik Max tidak menjawab. Lalu akhirnya ia berkata, dengan tenang. “Kalau aku minta pernikahan kita dipercepat… dalam waktu dekat… kamu bersedia?” Suara kota di luar seperti tiba-tiba menjauh. Faith merasa dunia berhenti sebentar. Ia menatap Max, mencoba membaca wajahnya. Tidak ada senyum. Tidak ada dramatis. Hanya keseriusan yang sangat nyata. Faith tertawa kecil karena gugup. “Max… jujurly ini proposal paling random yang pernah aku denger.” Max menghela napas. “Ya aku tahu ini mendadak.” Lampu merah berubah hijau, tapi mobil di belakang mereka belum bergerak. Namun Max tetap diam. Sementara itu, Faith menelan ludah. “Kenapa?” tanyanya pelan. Max kembali mengemudi, suaranya tetap rendah. “Karena hidupku lagi ada di titik yang… rumit.” Max menjeda sejenak ucapannya. lalu lanjut berkata, “Aku nggak mau menikah dengan seseorang yang nggak aku pilih sendiri.” Seketika Faith menatapnya. “Kedengarannya romantis… tapi juga sedikit mencurigakan,” ucapnya setengah bercanda. Max tertawa pendek. “Fair.” lalu ia melanjutkan, lebih pelan. “Aku suka kamu, Faith, kamu tahu itu kan.” Faith tidak langsung menjawab, ia membiarkan Max melanjutkan perkataannya. “Aku nyaman sama kamu, karena kamu nggak berusaha jadi orang lain di depanku.” Kalimat itu membuat d**a Faith mencubit sedikit. Ironis. “Dan kalau hubungan ini memang akan berjalan ke arah serius… aku lebih memilih kita yang menentukan waktunya,” lanjut Max. Hening beberapa detik. Sementara Faith menatap jendela, pikirannya berputar cepat. Semua kebohongan, semua usaha, semua rencana. Dan sekarang... Kesempatan itu benar-benar ada di depannya. Ia menoleh kembali ke Max. “Aku bersedia.” Seketika Max menoleh cepat. Faith mengangkat bahu kecil. “Kalau kamu yakin… aku juga yakin,” ucapnya. Beberapa detik Max tidak berkata apa-apa. Lalu senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Bukan senyum kemenangan. Lebih seperti seseorang yang baru saja memastikan langkah berikutnya dalam permainan besar yang sedang ia susun. Satu tahun berlalu. Semua yang terjadi terasa begitu singkat, pernikahan dan orang tua palsu yang hadir saat pernikahan berlangsung terasa mengalir begitu saja tanpa ada hambatan. Rebecca Faith Gunawan - kini sudah berganti menjadi Rebecca Faith Donovan. Nama besar yang melekat padanya sungguh pencapian terbaik dalam hidupnya. Masih terasa aneh baginya. Beberapa minggu lalu hidupnya masih dipenuhi rapat redaksi, liputan mendadak, dan makan malam sederhana di warung pinggir jalan bersama Iko dan Dita. Tapi sekarang ia sedang berdiri di rumah yang terlalu besar, dengan taman yang terasa seperti halaman hotel. Ia menghembuskan napas pelan namun pandangannya masih memandangi Kimberly yang sedang belajar di taman. “Masih suka bengong di jendela?” Suara Max datang dari belakang. Belum sempat Faith menoleh, dua tangan hangat Max sudah melingkar di pinggangnya, memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu ringan di bahu Faith. Refleks Faith sedikit kaku lalu perlahan tubuhnya melembut. “Tumben udah pulang lagi,” tanyanya pelan. “Meeting selesai lebih cepat.” Max memiringkan wajahnya, menyentuhkan kecupan ringan di pelipis Faith dengan lembut dan tidak tergesa. Merasakan kehangatan itu Faith tersenyum kecil. “Kamu lagi mikir apa?” tanya Max. “Nggak mikir apa-apa.” “Bohong.” Faith tertawa kecil, lalu menajwabnya, “Lagi liatin Kim, cantik, baik, sopan, apa lagi yang kurang dari dia.” Max mengikuti arah pandangnya. “Bawel, suka kepo, ambekan, manja..” “Ssttt.. jangan gitu.” “Emang gitu kok.” Faith menggeleng cepat. “Gitu-gitu juga adik kamu.” Max kembali mencium pelipisnya sekali lagi, kali ini lebih lama. Untuk beberapa detik mereka hanya berdiri begitu sunyi tapi nyaman. Faith akhirnya berkata pelan, “Max.” “Hm?” “Malam ini bisa anterin aku ke dokter Tri, nggak?” Max sedikit mengencangkan pelukannya. “Santai aja sayang, aku jamin nggak ada masalah sama kita.” Faith berbalik menghadapnya. “Tapi...” Max menatapnya. “Aku nggak mau terburu-buru punya anak, aku masih mau pacaran sama kamu.” “Iya aku tahu, tapi aku ada jadwal aja sama dokter Tri,” jawab Faith hati-hati. “Jadi... Aku pergi sendiri aja?” Max memiringkan kepala sedikit, mencoba membaca ekspresinya. “Ya udah, aku anter.” Faith tersenyum tipis. "Gitu dong.” Faith hampir berkata sesuatu lagi padanya, akan tetapi ponsel Max bergetar di meja belakang. Max melirik sekilas, melihat ke layar ponselnya yang menyala. Nama yang muncul membuat ekspresinya berubah sangat halus, tapi Faith tetap menangkapnya. Max melepaskan pelukannya lalu berkata, “Sebentar.” Ia mengangkat ponsel dan menjauh beberapa langkah dari Faith. “Ya.” Max menjawab panggilan itu dengan suara rendah. Hening beberapa detik, dan ekspresinya tampak semakin serius. “Iya saya mengerti.” Ia berjalan sedikit lebih jauh dari Faith. “Saya kesana sekarang.” Kalimat itu membuat Faith menoleh disaat yang bersamaan Max menutup panggilan. Beberapa detik ia berdiri diam, seolah menimbang sesuatu. Lalu ia mengambil jasnya dari kursi. Faith mengernyit. “Ada apa?” Max berjalan mendekat, tapi gerakannya sudah berbeda lebih cepat, lebih fokus. “Ada urusan mendadak.” Faith mengerjap. “Sekarang?” “Iya.” “Tapi tadi kamu bilang..” “Sorry.” Max menyentuh bahunya sebentar, seperti mencoba menenangkan. “Aku harus pergi.” Faith menatapnya, mencoba membaca wajahnya. “Kalau besok?” tanyanya pelan. Max tidak langsung menjawab. “Aku lihat jadwal dulu.” Jawaban itu membuat sesuatu di d**a Faith terasa jatuh pelan. Beberapa menit lalu ia baru saja berjanji. Sekarang bahkan besok pun belum pasti. Max mencium keningnya cepat. “Jangan tunggu aku makan malam.” Lalu ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan. Sementara itu Faith tetap berdiri di dekat jendela. Hingga beberapa detik kemudian suara pintu tertutup terdengar. Dan di luar, suara mesin mobil menyala dan perlahan menjauh dari rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD