Hari-hari dilalui tanpa kepastian. Tidak ada satupun pesan dari Max tentang pertemuan mereka selanjutnya, beberapa kali Faith mendatangi coffee shop tempat biasa Max nongkrong tetapi tetap tidak ia temui.
Seharian Faith hanya menatap layar ponselnya, ia ingin memulai percakapan tapi ia juga tahu batasan.
"Jangan terlalu menggatal, betina."
Faith menoleh ke belakang, Iko sahabatnya sudah berdiri persis tanpa menghilangkan raut penasaran di wajahnya.
"Kaget gue!" seru Faith seraya meletakkan ponsel di meja dengan layar menutup.
"Max? Mas mas mana tuh lekong?" Iko duduk persis di depannya dan menyeruput kopi milik Faith.
Faith merebut kembali cangkir kopi dan berkata dengan nada ketus. "Kepo!" Tapi sesaat kemudian ia menatap Iko dengan wajah serius. "Iko, cowok tuh lebih suka dikejar atau ngejar sih?"
Iko berpikir sesaat. "Tergantung, kalo gue pribadi sih lebih seneng ngejar, kayak ada tantangannya gitu."
Faith mengangguk dan pikirannya seketika tertuju pada Max. Max cukup sulit ditebak, hal ini yang membuat Faith kesulitan menyusun strategi.
"Si Max ini orangnya kek gimana sih? Biar gue terawang."
"Nggak usah, dah ah, gue mo lanjut kerja, bye!" Faith beranjak tanpa memperdulikan lagi ucapan Iko yang terus memanggilnya karena penasaran.
Tepat saat Faith baru keluar dari Cafe tempatnya nongkrong tadi, ponselnya bergetar. Notifikasi menunjukkan nama Maximillian.
“Hai Faith, maaf baru kasih kabar, kalau lunch di Medetory hari ini bisa? Aku ada gap satu jam.” tulisnya di pesan.
"Hai Max, oke boleh." Jawab Faith singkat.
Bagi Faith pertemuan kali ini bagai pintu yang terbuka lebar. Mungkin kencan singkat yang membuka peluang untuknya.
Tapi bagi Max. Pertemuan itu tetap tidak pernah Max sebut sebagai kencan.
Faith datang lima menit lebih dulu ke klub bisnis itu. Begitu masuk, ia langsung melirik interior ruangan kayu gelap, lampu temaram, dan jam antik besar di dinding yang kelihatannya lebih mahal dari motor orang sekampungnya dulu.
Ia mendesah pelan, tidak boleh ada celah. Ini kesempatannya.
"Udah lama?"
Faith menoleh, jantungnya hampir melonjak ketika Max sudah berdiri di belakangnya, santai, tangannya masuk ke saku jas.
Faith menyeringai. “Serius, kamu tuh munculnya kayak villain elegan di film.”
“Villain?” Max mengangkat alis.
“Iya, yang masuk scene pelan-pelan, terus semua orang langsung diam.”
Max tertawa pendek. “Aku ambil itu sebagai compliment.”
Ia mengajak Faith duduk di kursi yang sudah dipesan sebelumnya. Faith sempat terpukau ketika Max menarikkan kursi untuknya. Hal klasik yang jarang sekali dilakukan oleh banyak pria.
Setelah itu, barulah Max duduk, ia melepaskan jasnya yang kemejanya sudah dibuka satu kancing, versi dirinya yang jarang keluar di jam kerja.
Faith membuka percakapan terlebih dahulu. “Tempatnya masih konsisten ya,” katanya ringan. “Tenang, tapi nggak sok eksklusif.”
Max mengangkat alis tipis. “Kamu pernah ke sini?”
“Beberapa kali. Biasanya kalau lagi pengen mikir tanpa diganggu,” jawab Faith santai. “Plus… martininya decent. Nggak nyiksa.”
Max tertawa kecil, nyaris refleks.
“Oke, good point.”
Sesaat kemudian pelayan datang membawa buku menu, lalu mereka memesan tanpa perlu diskusi panjang. Faith tidak bertanya, tidak ragu. Cara bicaranya membuat Max sadar: ini bukan orang yang mencoba menyesuaikan diri, ini orang yang sudah berada di level itu.
“Jadi,” Max menyandarkan punggung, nada suaranya turun setengah oktaf. “Ini technically bukan dinner ya.”
Faith menyeringai. Mengayunkan tangan ke atas. “Relax, aku juga nggak datang bawa ekspektasi candlelight kok.”
“Haha, good.”
“Anggap aja ini… meeting yang nggak pengen pakai laptop,” lanjut Faith. “Atau pelarian singkat dari hidup yang terlalu ribut.”
Max menghembuskan napas pelan.
“Kedengerannya pas.”
Mereka diam sebentar, bukan karena canggung, tapi lebih seperti jeda nyaman.
Lalu Faith memecahnya dengan nada ringan, “By the way, aku suka versi kamu yang ini.”
“Yang mana?”
“Yang nggak keliatan pengen mengatur ruangan,” katanya sambil menunjuk sekeliling. “Biasanya orang kayak kamu masuk tempat, langsung semua orang berasa lagi dinilai.”
"Oh ya?" Max terkekeh. “Harusnya aku tersinggung, nggak sih?”
“Nggak sih, itu skill, cuma… capek kali ya.”
Max menatapnya lebih lama kali ini. Sesuatu jelas menarik dirinya. “Kamu selalu sejujur ini, ya?”
“Enggak juga,” Faith mengangkat bahu. “Aku pilih-pilih. Sama orang yang worth it aja.”
“Itu pujian?”
“Itu fakta.”
Max tersenyum sambil menggeleng, kali ini tidak disembunyikan. “Oke. I’ll take it.”
Minuman datang, dan mereka bersulang singkat, tanpa kata-kata berlebihan.
Hingga beberapa menit kemudian, Max berkata seolah sambil lalu, “Kamu nyaman di lingkungan kayak gini.”
Faith menyesap minumannya, lalu menatapnya. “Aku nyaman di banyak lingkungan. Tapi aku cuma stay di yang bikin aku tetap jadi diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup bagi Max, karena dikepalanya sesuatu mulai tersusun rapi.
Faith bukan sekadar bisa dibawa, bukan hanya menarik, tapi ia juga punya ritme. Postur baik serta cara berdiri di dunia.
Dan untuk pertama kalinya sejak tekanan itu menghimpit dari segala arah, Max merasa ia tidak sedang memilih seseorang untuk mengisi posisi.
Max mengaduk kopi miliknya, lalu berkata, “Faith, waktu itu kamu bilang kamu tinggal dimana?”
Pertanyaan itu ringan, hal yang biasa, tapi justru karena itu, ada satu detik kecil di mana napasnya nyaris tersendat.
“Sekitar selatan,” jawabnya cepat. “Nggak jauh dari pusat.”
Max tidak langsung menanggapi. Tatapannya tetap santai, tapi ada jeda sepersekian detik yang tidak luput dari Faith.
“Selatan itu luas,” kata Max akhirnya, nada suaranya tetap casual. “Aku sering bolak-balik sana.”
Faith tersenyum, tenang. Ia tidak mundur, tidak menambal dengan detail palsu.
“Makanya aku bilang sekitar,” katanya ringan. “Aku suka area yang masih bisa kabur cepat ke mana-mana, terlalu spesifik bikin hidup berisik.”
Jawaban itu… elegan. Bukan mengelak, tapi mengatur ulang kerangka.
Max tertawa pelan. "Touché.”
Faith mengangkat bahu, mengulas senyum santai. “Jurnalis survive bukan karena terlalu banyak cerita, tapi karena tahu mana yang perlu disimpan.”
Percakapan mengalir lagi, lebih santai dari sebelumnya. Beberapa kali Faith melontarkan lelucon kecil tentang dunia liputan. Sesekali Max tidak bisa menahan tawanya.
Lalu setelah itu ada keheningan singkat lagi. Tapi kali ini berbeda, terasa lebih intim.
Max menatap Faith intens, tidak sambil memikirkan rapat, dewan, atau tekanan keluarga. Untuk pertama kalinya fokusnya tidak terbagi.
“Faith,” katanya, memanggil namanya tanpa embel-embel.
“Hmm?”
“Aku nggak suka buang waktu.”
Nada suaranya tidak mengancam, justru terdengar begitu jujur.
Faith mengangguk pelan. “Aku juga.”
“Aku tertarik sama kamu,” lanjut Max. “Bukan cuma karena kamu nyambung. Tapi karena kamu… solid.”
Faith tidak tersenyum berlebihan tapi dengan sengaja dia sedang menahan diri.
“Oke,” katanya pelan. “Terus?”
“Aku pengen kita jalan ke arah yang lebih jelas,” ujar Max. “Bukan main-main, bukan abu-abu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Kalau kamu merasa sama, aku pengen kita serius. Pelan, tapi nyata.”
Kalimat itu tidak romantis. Tapi di situlah beratnya.
Faith menatapnya. Di dalam kepalanya, ada suara yang berteriak tentang kebohongan-kebohongan kecil yang sudah ia tanam. Tentang masa lalu yang belum siap ia buka, namun wajahnya tetap tenang.
“Aku hargai kejujuran kamu,” katanya akhirnya. “Dan aku juga nggak tertarik sama hubungan yang setengah-setengah.”
Ia tersenyum kecil.
“Jadi… kita satu halaman.”
Max mengangguk.
“Good.”
Di dalam pikirannya, keputusan itu mulai mengeras. Faith bukan pilihan aman, justru karena itu… ia terasa tepat.