Menghabiskan Tabungan

1299 Words
"Aku ingin mengenalkan kamu sama kedua orang tuaku, besok jam 7 malam, aku jemput di apartemen kamu." Faith menggigit bibir bawahnya, perasaan cemas mulai memenuhinya ketika ia membaca pesan singkat yang dikirim Max beberapa menit lalu. "Apartemen... apartemen..." ia menggumamkannya beberapa kali. "Apartemen gue emang di selatan, apa perlu pindah nggak ya?" "Kenapa sama apartemen lu?" "Dita!" teriak Faith yang terkejut saat tiba-tiba Dita rekan kerja sudah ada persis dibelakangnya. "Jantung gue hampir copot tau!" Dita terkekeh puas saat melihat wajah kesal Faith, lalu ia duduk di sebelah Faith. "Kenapa sama apartemen lu? Nggak betah? Mo pindah?" Pertanyaan Dita seketika memunculkan ide brilliant di otaknya, ia berbalik dengan rasa penasaran. "Lu ada rekomendasi? Apartemen 3 jutaan tapi looknya oke, masih daerah selatan." Dita berpikir sejenak. "3 jutaan nggak dapetlah, paling 4 atau 5, itu udah standar." "Gila, mahal banget, bisa abis gaji gue buat bayar apartemen doang." keluh Faith putus asa, ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan wajahnya yang lesu. "Nggak bakal abislah, paling cuman bisa idup irit doang, senin selasa ampe minggu makan indomie aneka rasa," ucap Dita tertawa puas ketika melihat wajah Faith kian lesu dan semakin berpikir keras. "Eh, crypto lagi bagus kan ya?" Belum sempat Dita menjawabnya, Faith melanjutkan lagi ucapannya. "Gue ambil, minta kontaknya sekarang!" "Serius lu? Lu ada crypto berapa?" "Buruan! Urgent nih!" desak Faith. "Iya iya." Dita buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan langsung memberikan kontak yang diminta Faith. Tidak menunggu lama, Faith segera bergegas menuju ke apartemen yang ditunjukkan Dita padanya. Faith menatap kembali layar ponselnya, pesan singkat dari Max belum dia balas. Sementara waktu masih sudah menunjukkan pukul 3 sore. Faith harus bergegas. Dia ingin tampil maksimal di depan kedua orang tua Max, apapun yang terjadi ia tidak akan membuka celah sedikitpun untuk membongkar semua rencana yang sudah ia susun dengan susah payah. Faith berdiri di depan etalase butik branded dengan satu tas di tangannya, masih dibungkus rapi, pita belum dilepas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia akui, bukan karena harga, tapi karena perasaan aneh saat kartu tadi disentuhkan ke mesin, dan transaksi itu… lolos tanpa ragu. Ia baru melangkah keluar ketika suara yang terlalu familiar menghantam punggungnya. “Faith?” Seketika Faith membeku. Dengan perlahan, ia menoleh. Iko berdiri tiga langkah tepat di belakangnya, kacamata hitamnya sudah diturunkan ke ujung hidung, tatapannya bolak-balik dari wajah Faith ke shopping bag di tangan Faith. “No. please tell me,” kata Iko pelan tapi tajam, “itu bukan tas yang gue pikir.” Faith menghela napas, lalu tersenyum kecil tenang di luar, sibuk di dalam. “Kalau gue bilang iya, lu bakal teriak?” “Enggak,” jawab Iko cepat. “Pasti gue bakal interogasi. Sini lu, ikut gue!” Iko menarik tangan Faith tanpa ragu membawa Faith ke kafe terdekat. Faith meletakkan tas itu di kursi sebelahnya, seperti benda biasa, seperti bukan sesuatu yang harganya setara beberapa bulan gajinya dulu. Iko duduk persis di depannya, ia melipat tangan dan menatap lurus ke arah Faith. “Oke. Start talking.” Sebelum menjawab Faith menyeruput kopinya dulu, sedikit memberi waktu merangkai kata untuk menjawabnya. “Iya gue beli tas.” “Wow. Insightful,” balas Iko kering. “Faith, lu sadar kan itu tas ratusan juta, bukan ratusan ribu.” “Yups,” jawabnya ringan. “Gue tau, dan sangat tau, makanya gue ada di mall ini dan beli tas ini.” “Lu tahu?” alis Iko naik. “Eh, boncel, lu tuh dulu suka nyari promo buat beli ransel kerja, terus sekarang...” “People change,” kata Faith santai. “People nggak berubah sejauh itu tanpa trigger,” Iko mendekat. “Lu ketemu siapa? Lu lagi deket sama circle mana?” Faith memiringkan kepala. “Kenapa pertanyaannya selalu siapa?” “Karena gue kenal lu,” jawab Iko. “Dan lu nggak tiba-tiba jatuh cinta sama barang mahal tanpa konteks.” Faith tersenyum tipis. “Gue lagi di fase hidup yang beda.” “Dengan circle yang beda?” dorong Iko. Faith tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pandangan ke tas itu sejenak, bukan dengan rasa bersalah, tapi evaluasi. “Ko, sekarang-sekarang ini gu lagi sering ketemu orang-orang yang hidupnya emang di level itu,” katanya akhirnya. “Dan gue nggak mau kelihatan kayak tamu yang salah kostum.” Iko terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil, tak percaya. “Jadi sekarang lu main di liga atas?” “Bukan main,” balas Faith lembut tapi tegas. “Beradaptasi.” Iko menatapnya lama, nada bercandanya langsung menghilang. “Faith… lu yakin lu nyaman?” “Nyaman bukan kata yang tepat,” jawabnya jujur. “Gue sadar.” “Dan lu oke dengan itu?” Faith mengangguk pelan. “Gue nggak berubah jadi orang lain, Ko, gue cuma berhenti mengecilkan diri.” Iko menghela napas, bersandar ke kursi, masih tidak percaya Faith bisa berkata seperti itu. “Gue...” ia berhenti, lalu mengoreksi diri, “Gue cuma takut lu lagi jalan di tempat yang nggak ngasih ruang buat salah.” Faith tersenyum kecil, hangat. “Gue tahu risikonya, Ko.” “Terus kenapa masih maju?” Karena wajah Max muncul di benaknya, ia merekam dengan jelas bagaimana cara Max memperhatikannya, bagaimana cara Max menempatkannya sejajar. Faith mengangkat bahu ringan. “Karena hidup jarang nawarin kesempatan yang rapi, Ko. Kadang cuma nawarin pintu… dan lu mutusin mau masuk atau enggak.” Iko mendesah, lalu melirik tas itu lagi. “Kalau suatu hari semua ini berantakan...” “Gue tetap Faith,” potongnya cepat. “Dan lu tetap sahabat gue.” Iko tersenyum miring, tapi dia juga tidak bisa berkata banyak, ia paham betul bagaimana sifat sahabatnya itu. Meski dengan berat hati Iko akhirnya hanya bisa mendukung apa yang dilakukan Faith meski ia sendiri masih penasaran dengan circle baru Faith yang menurutnya buruk. Max : Aku udah di bawah. Faith segera berdiri, ia meraih tas barunya, lalu berhenti sebentar menatap cermin yang ada di lobby apartemen barunya. I aterlihat netral, tenang, pantas. Setelah merasa puas ia menyampirkan tasnya ke bahu, mengenakan jaket tipis, lalu keluar. Mobil Max berhenti tepat di depan lobi, hitam, bersih, tanpa sopir. Max turun sendiri, jasnya rapi, jam di pergelangan tangannya berkilau singkat saat lampu lobi memantul. “Hey,” kata Max. “Siap?” Faith tersenyum kecil. “Siap.” Max membukakan pintu untuknya, lalu ia masuk ke mobil, duduk tenang, tas disampirkan santai di pangkuannya. Max melirik sekilas, tidak lama, tapi cukup jelas kalau dia memperhatikan. “Capek?” tanya Max sambil menyalakan mesin. “Lumayan,” jawab Faith. “Otak aku udah minta istirahat dari mikir.” Max terkekeh pelan. “Tapi abis ini bisa jadi kamu mikir lagi.” Faith menoleh. “Nggaklah, itu relatif, tahu.” “Aman buat orang normal,” balas Max. “Bukan tipe kejutan.” “Oke, aku percaya,” kata Faith ringan. “Sementara.” Lampu kota bergulir pelan di luar jendela, sementara musik mengalun rendah, membuat suasana terasa intim tanpa dipaksakan. Max melirik tas Faith lagi, kali ini terlihat lebih jelas. “Tasnya bagus.” “Terima kasih,” jawab Faith santai. “Kadang aku suka bikin keputusan yang… sedikit mahal.” Max tersenyum. “Dan kelihatannya kamu nyaman dengan itu.” “Harus,” kata Faith. “Kalau nggak nyaman, rasanya malah buang-buang.” Max mengangguk, seolah setuju dengan cara berpikir itu. Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Sebelum turun, Max mematikan mesin tapi tidak langsung membuka pintu. “Kedua orang tuaku, orangnya cukup santai,” katanya. Faith tersenyum menahan gugup. “Semoga aku cocok sama mereka, mereka bisa aja santai, tapi akunya yang ribet.” Max tertawa kecil, lebih lepas kali ini. “Jujur sekali.” Mereka turun bersamaan. Max tidak berjalan di depan, tidak juga menunggu terlalu lama, langkah mereka sejajar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Faith merasa sangat gugup sekaligus takut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD