Tasya membeku seperti kutub utara sejak hari pahit itu. Sebulan setelah kepergian mendadak Arga, dirinya seperti ditusuk bertubi-tubi. Air matanya telah kering karena 24 jam dipaksa menangis. Suara merdunya tak lagi ada. Terganti dengan parau menyakitkan. Sehari-harinya dia hanya labuh di hamparan sajadah panjang yang mulai lusuh. Di tangannya tergenggam ponsel Arga yang kehabisan baterai. Pihak keluarga Arga memang memberikan ponsel itu pada Tasya. Benda itu menjadi satu-satunya benda yang selamat dalam peristiwa tersebut. Tampaknya Arga sempat membungkusnya dengan plastik sebelum masuk ke dalam air. Ponsel itu ditemukan di dalam saku baju seragam Arga. Tasya tak berani menyalakan ponsel itu hingga hari ini. Namun, di siang yang mendung ini, dia mematahkan hatinya

