“Penembakan Meletus di Ilaga, Puncak Jaya, Papua. 3 Prajurit Gugur, 1 Kritis, dan 1 Hilang” Kalimat menyakitkan dan menakutkan itu telah terbaca oleh mata indah Natasya. Itu jugalah yang membuatnya lunglai tanpa bisa berdiri lagi. Itu juga yang seolah menghentikan waktu. Kalimat itu lebih menyakitkan dari sekedar mimpi buruknya selama ini. Tak ada sepatah kata apapun dari mulut merahnya. Matanya hanya kosong dan membulirkan airnya dengan pelan. Sementara itu, Bianca sudah menciptakan sungai dengan air matanya. Dirinya menangis histeris hingga Fania memeluknya. Dia terluka saat membaca nama Egidio Satria disebut kritis dalam peristiwa itu. Hatinya tak percaya. Dirinya masih tak percaya ketika nama Arga Dimas Aditya disebut dalam berita menakutkan itu. A

