Bagian satu

1488 Words
Pagi ini gadis cantik siap sedia untuk berangkat ke sekolah, sambil siap bekal dan bersenandung kecil, senyumnya belum pernah pudar. Dirinya sudah tidak sabar bertemu Gara, matanya melirik kekanan dan kekiri mencari seseorang, Reyhan sang ayah. Kay mengangkat bahunya acuh, sudah lah ia tidak ingin merusak mood paginya. Ia kembali dengan nasi goreng buatannya. Kay berangkat sekolah menggunakan ojek online, karena tidak ada supir yang mengantarnya. Kay berjalan santai menuju kelasnya banyak siswa-siswi yang memandangnya sinis, bisikan-bisikan tentang dia mulai terdengar, tapi Kay memilih untuk tidak perduli, toh mereka juga yang dosa. Masih pagi kok udah gibahin orang. Kay tersenyum saat melihat seseorang yang dipikirkan srmalaman olehnya sedang duduk di koridor sekolah bersama teman-teman. Kay berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang mengembang. "Hai kak Gara!" Sapa Kay riang. "Hai juga cantik," Bukan, Bukan Gara yang menjawabnya menerima balasan Gara, Satria. "Eh kak Satria," Sahut Kay sambil tersenyum. "Oh iya Kak, ini gue bawain bekal buat lo, di makan ya. Ini tuh khusus buat Kak Gara loh!" Ucap Kay sambil menyodorkan bekal yang tadi pagi sudah siapkan. Gara menatap Kay tajam, lalu mengambil bekal yang ada di tangan Kay kasar, dan membuangnya. Ia benci, benci wanita, tapi ada wanita yang paling benci dia adalah Kay, Kayla Devi. Wanita yang membuat hidup menjadi tenang. "Berhenti kasih gue bekal, dan berhenti ngejar gue, murahan!" Sarkasnya lalu pergi. Kay meringgis takut sambil mengelus dadanya, "Sabar Kay sabar!" "Lo harus sabar ya, lo tau kan gimana si Gara." Ucap Dion tersenyum sambil tersenyum. Kay tertawa renyah. "Tenang aja, lagian gue udah kebal sama cacian dan makian dia. Intinya hatiku pada nya lah, hahahhah!" "Lo cantik anjir, cari yang lain kali Kay, mau juga kok sama lo," Goda Adit. Kay tertawa mengingat ucapan Aditya. "Gue yang gak mau kak, udah ah gue ke kelas, selamat jalan tuh roti di makan lah sayang mubazir, gue bikinnya dari subuh asal lo semua tau." "Santai Kay, kita pasti makan kok terima kasih ya," Satria tersenyum manis pada Kay. "Ya udah gue duluan, sampai jumpa." Kay berjalan menuju kelasnya, sambil berfikir menggunakan cara yang haru iya lakukan untuk mendapatkan Gara. Iya ingin membenci Gara tetapi sekeras apapun iya berusaha tetap tidak bisa. Dugh "Awh," Kay meringgis saat merasa senang menabrak sesuatu yang sangat keras, dan seperti d**a bidang cowok. "Yang bener dong ah kalo jalan, sakit kan kepala gue, hati gue lagi sakit, tolong jangan tambah bikin kepala gue sakit!" Gerutu Kay kesal. "Kalau jalan liat ke depan, pake mata lo b**o!" Sinisnya. Kay mendongak "Eh pacar, maaf ya. Gue ada maksud buat marah-marah sama lo kok, mana bisa gue marah-marah sama cowok ganteng!" Ucap nya, jayus. "b**o!" Ucapnya lalu pergi begitu saja. "Bodoh bodoh bodoh!" Kay merutuki dirinya sendiri. "Duh bodoh banget sih gue, jadi makin ilfeel kan dia, ah t***l emang!" Kay terus saja merutuki sendiri, meski sudah sampai ke dalam kelas. "Ck, geser gue mau duduk!" Kata Kay, kasar. "Dihai, selow kali Kay kebiasaan banget setiap pagi badmood mulu" sinis Rani. "Paling juga gara-gara kak Gara kan?" Ucap Reni. "Tuh tau!" Bala Kay ngegas. "Yeeu, santai dong mupon makan nya Kay!" Balas Rani kesal. "Lanjutkan Kali Ran!" Sinis Kay. "Alah sama aja!" "Beda lah b**o, lanjutkan bukan mupon!" Balas Reni sambil menulis kata yang benar di meja menggunakan jari telunjuknya. "Ya udah iya maaf, salah gue!" "Ck, udah dong lo berdua ribut mulu, gue lagi badmood ini ih. Kesel, makin badmood kan gue sama lo berdua!" Kay kesal sendiri. "Mau tidur jangan berisik!" Peringat Kay sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan menelusupkan, tidur. Rani berdecak heran, "Ck, baru juga datang." Bel istirahat berbunyi, sorak sorai terdengar nyaring bahkan sampai keluar. Seluruh siswa langsung keluar dan berjalan agar segera sampai ke kantin. "WOY!" Rani menggebrak menjauh membuat Kay terkejut. "Tidur mulu, Kantin ayo!" "Setan lo Lari ngagetin aja, gue lagi terburukin Kak Gara yang paling aja mau cium gue kalo lo gak gebrak meja!" Kesal Kay. "Halu aja terus lo, mana ada Kak Gara nyium lo!" Sinis Reni. "Dihari sirik aja lo pada, udah sana ke kantin duluan, gue ke toilet dulu!" Ucap Kay lalu pergi meninggalkan Rani dan Reni yang masih berdecak kesal. "Dihah bocah!" Kay berjalan menuju toilet dengan mata yang masih terasa berat, muka yang sudah berminyak, dengan jalan seperti orang mabuk, Sempoyongan. Kay mencuci wajah, sedikit memberikan pelembab pada perbaikan dan lipbalm di bibir tipis nya. Kay melihat dirinya di pantulan cermin. "Apa gini banget ya hidup gue? Kurang kasih sayang dari kedua orang tua, suka sama cowok yang datar banget, dingin, ketus, jahat lagi!" Kay terus saja menggerutu tentang sifat-sifat Gara pada dirinya. "Bodo ah pokoknya gue harus dapetin Kak Gara, semangat!" Kay segera merapihkan rambutnya. Saat keluar tiba-tiba pintu toilet dibuka oleh tiga orang yang berdandan bukan anak sekolahan, yah siapa lagi jika bukan Malaikat, Kila dan Rawni. "p*****r s****n!" Ucap Angel sambil menunjuk wajah Kay. "Lo ngaca gak sih kalau lo itu gak pantes sama Gara! Hidup lo itu rusak jadi jangan bawa-bawa Gara ke kehidupan lo!" Teriak Malaikat sambil menarik Rambut coklat sepunggung Kay. "Awh, sakit kak!" Kay masih berusaha melepaskan tangan Angel di rambutnya. "Makannya lo berhenti gangguin cowok gue! Ga liat apa muka cowok gue mupeng kalo deket sama lo!" Ucap nya sambil menghentakan diundang dari rambut Kay. "Gue udah cape-cape loh deketin Kak Gara, terus sekarang kakak suruh gue buat jauhin dia, hak kakak apa ngelarang gue? Cuman kakak doang yang ngaku-ngaku kalo Kak Gara cowok Kakak, Kak Gara mana mau sama Kakak?" Walau sedikit takut. "Maksud lo apa hah? Lo pantes gitu sama Gara? Gara aja ogah liat muka lo!" "Maksud gue tuh gini Kak, mending kita bersaing dengan sehat jangan ginilah kekanak-kanakan tau!" "Maksud lo gue kekanak-kanakan gitu? Berani lo ya sama gue ?!" Kay menutup sambil melihat tangan Malaikat yang akan menamparnya namun ia tidak merasakan apa-apa. "Emang udah hobi lo ya bully orang?" Arka ketua osis SMA Taruna Bangsa memegang lengan Malaikat, pantas saja Kay tidak merasa apa-apa. Malaikat melepaskan cekalan Arka kasar. "Apaan sih lo ikut campur urusan orang aja!" Kila dan Rawni hanya melihat pertengkaran mereka tidak ada niatan melerai. "Jangan lupa kalo lo lupa, Gue Arka Derlangga, ketua osis di sini. Jadi gue berhak ikut campur semua orang yang ada di sekolah termasuk lo, yang selalu buat onar. Gak bosen lo bully orang? Mau gue laporin ke kepala sekolah?" Malaikat berdecak kesal. "Ck, serah lo! Awas lo mungkin sekarang lo aman karena ada si ketua osis songong ini, tapi liat aja nanti!" Ancamnya. Sebelum pergi Angel membisikan sesuatu di telinga Kay. "Bye the way, kayanya Arka suka sama lo." Kay mematung, Masa sih Kak Arka suka gue, gak mungkin ah. "Lo gapapa?" Tanya Arka lembut. "Nggak kok Kak, makasih ya udah nolongin gue," balas Kay sambil tersenyum. Arka membalas senyum Kay. "Lo manis Kay, sayang itu yang lo suka Gara bukan gue, coba kalo lo suka gue mana mungkin gue nolak lo." Batin nya. "Kak, lo gapapa kan? Kok ngelamun?" Arka yang baru saja tersadar dari lamunan nya langsung salah tingkah. "E-eh, gapapa kok yaudah kamu keluar gak enak masa gue ada di dalem toilet cewek sih." "Eh iya kak, ayo!" Terlihat Rani berlari ke arah mereka berdua. "Kay lo lama banget sih!" "Lo kenapa lari-lari coba?" Tanya nya heran. "Yakan gue nyari lo mohon-" ucapannya terhenti saat melihat siapa yang berada di sebelah Kay. "Eh ada kak Arka, sori kak gak liat, heheh." Ucap Rani sambil cengengesan. "Segede gini lo gak liat Ran? Mata lo kaya nya udah rabun gede deh!" Ucap Kay sinis. Rani hanya mendelik lalu tersenyum manis pada Arka. "Udah ada temen lo kan, gue pergi dulu!" Pamit Arka dingin, lalu pergi begitu saja. "Makasih ya kak!" Teriak Kay yang melihat kembali Arka mulai menjauh. Arka Derlangga, sang ketua Osis dengan wajah tampan, sikap dingin namun terkesan ramah, tidak kalah terkenal dengan Gara. "Ah udah yu ke kantin!" Reni yang melihat dua wanita datang dari arah pintu Kantin semakin menggerutu kesal sambil membeli makanannya. "Lo berdua lama banget deh, heran gue!" "Maaf, si Kay nih lama!" Jawab Rani sambil melirik Kay kesal. "Diharapkan tadi Ada masalah dulu di toilet." Jawab Kay lalu duduk di kursi depan Reni di susul Rani. "Masalah apa Kay? Cerita dong!" Titah Rani. "Iya Kay kepo nih!" Lanjut Reni. "Makan dululah laper nih gue" "Ya udah pesenlah sana, gue mah udah makan nih" ucap Reni. "Gak nungguin ih, sebel." "Lama sih!" Bel sekolah pulang sudah berbunyi terlihat semua murid mulai keluar dari kelas mereka masing-masing. "Kay mau bareng gak?" Tanya Rani "Nggak deh, gue mau naik angkot aja." "Yakin lo?" "Iya." "Hm, yaudah gue sama Reni pulang duluan ya, Bye." "Sampai jumpa, hati-hati" Kay melambaikan tangan yang di balas oleh teman-teman. Kay kesal sudah setengah jam menunggu angkot tapi tidak muncul juga. "Nih angkot mana sih lama bener!" Kesalnya. Berkedip beberapa kali saat melihat motor besar yang diterbitkan milik Gara menghampiri nya. "Naik!" Ucap nya singkat. "Eh, maksudnya kak?" "Lo budeg, b**o apa t***l pura-pura? Gue bilang naik, paham gak lo ?!" Ucapnya sinis. "Oh, iya iya galak amat sih bang!" Jangan gara-gara menunggu. "Gue denger!" Setelah dikembalikan itu Gara melajukan motornya cepat. Selama perjalanan tidak ada obrolan sama sekali, benar-benar canggung. Kay yang memulai ingin membicarkan niatnya saat melihat tatapan tajam yang keluar dari mata Gara lewat spion. "Turun!" Kay tersadar dari lamunannya, bagaimana Gara mengetahui rumah. "Beri aku turun!" "Eh iya sori kak, enak sih heheh!" "Terima kasih, btw kok tau rumah gue sih?" Tanya Kay. Bukan nya Gara menjawab bukan malah mendengus lalu pergi begitu saja. "Ih aneh, untung ganteng." Gumamnya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD