Saat ini Gara sedang menikmati sarapan bersama mamah dan adiknya, Bayu yang notabene nya Ayah Gara tidak bisa ikut sarapan bersama karena sedang ada urusan.
"Gimana sekolah kamu nak?" Tanya Wina Mamah Gara.
"Biasa aja, gak ada yang menarik." Jawab Gara datar.
Wina menatap Gara lirih. "Kapan kamu bisa seperti dulu lagi nak, kami semua kangen kamu yang dulu." Batin Wina lirih.
"Hm, kamu sudah belajar semangat jangan dingin-dingin loh sama teman nya," Ucap Wina sedikit menyinggung akan sikap Gara, lalu melanjukan makan.
Gara lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Bang, kapan abang mau main baleng sama Gio?" Tanya nya cadel.
Gara ingin sekali tersenyum lalu mengusap kepala adik kesayangannya itu, namun ego nya tidak berpihak setuju.
"Kapan-kapan," jawab Gara tanpa mengakui di muka.
"Gara pergi, assalamualaikum" lanjutnya lalu pergi.
Sepeninggalan Gara, Gio menatap kembali sang kakak lalu kembali memandang wina.
"Mah, kenapa abang gak mau main sama Gio? Gio gak nakal kok, Gio bakal sayang sama abang, Gio juga gak akan meminta aneh-aneh sama abang, Gio cuman mau main baleng sama abang," dari wajah nya anak laki-laki yang ingin disebut lihat 4 tahun itu tampak sedih.
Wina mengusap kepala Gio dengan mennangkan lembut dan memberi pengertian.
"Mungkin abang lagi sibuk sayang, nanti kalo udah gak sibuk abang pasti aja main kamu pasti gak suka ya, sekarang lanjutin makannya."
Gio mengangguk patuh membuat Wina tersenyum masam.
Sudah biasa teman-teman Gara menunggu Gara di parkiran, katanya sih solidaritas tanpa batas. Saat Gara datang teman-teman langsung menyerbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang unfaedah.
"Bos, kemana aja lo jam segini baru datang ?!" Tanya Satria sambil melihat jam diangkat.
"Palingan molor, ya kan?" Timpal Dion.
"Paling telat!" Balas Adit datar.
"Aditya, yang sangat keren, sangat keren, begitu ganteng, akan juga tau Jika si Gara telat b**o!"
"Udah tau nanya," sewot Aditya.
"Berisik!" Ucap Gara lalu pergi teman-teman di susul Dion dan Adit.
"Emang malah gatau diri udah di malahin malah ninggalin!" Omel Satria.
"Woy tungguin gue napa sih!" Teriak nya lalu luncurkan wahana teman-teman.
***
Gara menghembuskan segera rokok dengan tenang, suka suka kesendirian.
Sekolah atap menjadi Gara kompilasi suntik angin menerpa wajah Gara membuat rambutnya rusak namun ketampananya meningkat menjadi 125%.
Kejadian masa lalu yang berubah seperti sekarang, dingin dan tidak berperasaan.
Sebenarnya ia juga membahas kenapa perempuan itu tidak memberi tahu hari ini walau tidak ketemu di pengadilan atau parkiran dia selalu menghampiri kelasnya, tetapi haruslah harusnya ia berhasil bukan.
Dari luar Gara memang terlihat sempurna, tampan, kaya, banyak wanita yang mengejarnya.
Tapi jauh di dalam ia rapuh besar dan sakit. Gara kembali menghisap rokoknya, candu diterima yang ia rasakan.
Namun tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak nya dari belakang membuat Gara terbatuk karena tersedak asap rokok.
Gararip rokoknya yang hanya tinggal sedikit lalu diinjaknya dengan sepatu.
"s**l, lo ngapain di sini?" Tanya nya geram.
Yang di tanya malah cengengesan. "Hehe, gue kan lagi menikmati ciptaan Tuhan yang sangat indah." Jawab nya, lebay.
Gadis mungil dengan rambut sepunggung itu hanya bisa menggangunya, dulu awal-awal gadis itu hanya malu-malu saat menatapnya.
Tapi saat ini ia malah menggila mendekatiinya padahal sudah banyak kata pedas yang sudah sering gara lontarkan, tapi tidak di gubris olehnya.
"Lo makin hari makin gila!" Ucap Gara, sarkastik.
"Ih kak Gara kok gitu sih! Kak Gara juga sama-sama makin hari makin nyebelin, makin kejam, makin kasar, ngomongnya makin ped-"
"Ya udah jangan deket-deket gue lagi!" Belum selesai Kay berbicara Gara sudah selesai dengan ucapan sinis.
"Enak aja, gak pokoknya gue gak akan berhenti merjuangin Kak Gara!"
"Terserah lo!"
"Kak Gara jangan lihat dong biar gue jauh-jauh dari kak, lo gak tau sih gimana perjuangan gue bisa bertahan sampai detik ini."
"Lo nya aja yang lebay, jadi cewek jangan murahan, jaga harga diri lo, lo gak malu apa sering gue rendahin depan banyak orang?!" Gara memang jarang ngomong sekali ngomong bikin hati orang keki.
"Gue gak malu kok, harus gue yang nanya sama kak Gara, kakak Gak malu apa di kejar cewek duluan, jadi cowok kok gak Gantle."
"Gue gak pernah minta di kejar, lo aja yang b**o mau aja ngejar cowok duluan!" Setelah pulih itu Gara dibuka lalu pergi Kay yang sudah keki setengah mati.
"Dih, kalo ngomong, pendek-pendek, cepatinya ngomong bikin nyelekit, untung sayang!"
Kay memutuskan untuk kembali ke kelasnya, sebelumnya ia ijin ke toilet tetapi sebaliknya mencari Gara.
Bel istirahat sudah berbunyi. Kay membereskan buku-bukunya ke dalam tas lalu berdiri semangat.
"Akhirnya istirahat juga, kamu teman-teman cus kantin!"
"Najis Kay!" Ucap Reni dan Rani bersamaan lalu diundang Kay.
Kantin sangat ramai, Kay melihat sekeliling mencari seseroang yang sudah dibuat membantu keki.
Kay tersenyum saat melihat Gara yang sedang menyandarkan tubuh di tembok dengan earphone tanpa kabel di telinganya, karena berada di meja paling bawah sehingga Gara bisa bersandar.
Kay mengajak Reni dan Rani untuk menghampiri Gara dan teman-teman.
"Halo semua!" Sapa Kay ramah.
"Hallo Kay." Semua membalas sapaan Kay kecuali Gara.
Sebenarnya Kay cukup terkenal dan banyak disukai di laki-laki, tapi Kay tetap memilih Gara. Siapa sih yang tidak kenal dengan Kayla Devi, gadis cantik yang punya badan kecil dengan rambut coklat alaminya, juga tingkah kepolosan yang Kay punya semua murid di SMA Taruna Bangsa mengetahuinya hanya untuk siswa atau siswi saja.
"Kak Dion bisa geser gak Kay mau duduk dekat Kak Gara."
Dion berdiri lalu pindah duduk di sebelah Reni dan Rani. Gara masih belum mengerti, Kay, masih terpejam dan mungkin musiknya cukup sulit.
Kay terus menatap intens Gara membuat Aditya berdehem pelan. "Ekhem."
"Kenapa lo Dit? Haus ya minum lah!"
"Gak, gue ke toilet dulu."
Mata Gara mulai terbuka, ia kaget saat di tatap se intens oleh Kay, namun ia berusaha menampilkan sikap datarnya.
Gara mendorong kening Kay dengan jari telunjuknya.
"Jauh-jauh lo!"
"Kak Gara ganteng banget sih lagi tidur juga" ucap Kay tanpa malu.
"Selain murahan, lo juga gak punya malu ya!" Sarkasnya.
"Dih, di puji malah ngatain, kakak gak tau apa aku sakit digituin" Ucap Kay mendramatisir.
"Dihai najis lo Kay!" Bukan Gara yang berbicara tentang Reni dan Rani.
"Peduli amat gue sama perasaan lo, awas minggir!" Usirnya lalu pergi meninggalkan Kantin.
"Jahatnya kamu Mas!" Ucap Kay, lebay.
Dion dan Satria terkaya melihat intraksi 2 remaja kasmaran itu, hanya pada Kay Gara bisa berbicara panjang sambil menghina.
"Lo semua pada makan, kita berdua ke kelas dulu, bye." Ucap Satria.
"Sampai jumpa!"
Sepulang sekolah Kay memutuskan untuk langsung pulang karena ingin istirahat setelah sehari ini dibuat keki oleh ucapan pedas Gara. Namun sesampainya di rumah Kay melihat Ayah-Ray, bersama seorang wanita.
Kay marah Ayahnya bermesraan dengan wanita lain di samping itu. Tapi Kayung setenang mungkin.
"Assalamualaikum." Ucap kay lalu menghapiri sang Ayah den mencium ditangkap
"Waalaikumsalam, eh Kay tumben pulang cepet, oh iya kamu salam dong sama calon ibu kamu," pulang cepat katanya, padahal Kay emang sering pulang jam segini Ayahnya saja yang tidak tau karena sibuk sama kerjaan dan wanita jalangnya.
Dengan ogah-ogahan Kay menyalamin wanita itu.
"Yaampun anak kamu cantik banget ya Mas." Ucap nya sambil menatap Kay.
"Siapa yang dulu, Ayahnya!"
"Hahah kamu bisa aja sih mas."
Kay jijik dengan intraksi dari iya pergi Kamarnya belum Ray datang dan menyuruhnya duduk.
"Eh Kay bentar duduk dulu di sini."
"Ada apa yah?" Tanya Kay to the point.
"Jadi gini nak, kurang lebih 2 minggu lagi ayah akan menikah dengan Winda, jadi Winda akan segera menjadi ibu baru kamu, gimana kamu setuju kan?" Tanya Rey meminta persetujuan.
"APA YAH? AYAH SERIUS?" Mata Kay membulat, kaget.
"Iya sayang, kok kamu kaya kaget gitu? Kamu gak senang kamu jadi ibu baru kamu?" Tanya Winda.
"Emm, enggak ayah aku ayah terkasih aja kalau ayah senang aku ikut bahagia. Ya udah aku ke atas dulu ya."
Dengan malas dan lesu Kay berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, Kay membuka pintu yang bertuliskan "KAMAR PRINCESS, ANJING DILARANG MASUK!"
Kay menatap pantulan dia di cermin, Mengapa hidup ini seperti ini? Ayahnya jarang sekali pulang bukan jarang pulang, lalu Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi.
Arghhh, rasanya kepala Kay ingin pecah iaa diklaim kurang srek. Pada calon ibu tirinya itu dari pada mendorong Kay memilih untuk segera membeli muka, berganti pakaian lalu tidur.
Saat ini dua laki-laki tampan saling berhadapan sepertinya akan ada pembicaraan serius antara ke duanya, ya saat ini Gara sedang berada di ruang kerja Bayu sang Papah. Selamat Mencoba Papah ini.
"Gara," Panggil Bayu.
Gara hanya berdehem sebagai balasan. "Hm"
"Nak, dengar. Papah tau kamu masih kecewa dengan masa lalu kamu, tapi bagaimana masalah masa lalu kamu bisa berdampak pada keluarga kita nak? Kamu gak lebih suka ini di keluarga kamu sendiri. Kamu tau kenapa Papah sama Mamah gak pernah larang kamu dalam hal Apa? Itu karena kita sayang sama kamu, Mamah sama Papah mau kamu bebas, kita terima kasih kamu agar bisa menikmati masa remaja. Ini saat kamu kamu bisa buka lembaran baru nak. "Bayu menepuk pundak Gara, beri percaya pada itu.
Selama ini Gara melihat raut kecewa dari orang tua dan adiknya tapi bagaimana lagi dia belum bisa melupakan kejadian di masa lalu.
"Maaf, Gara tau Gara bikin kalian semua kecewa tapi Pah Gara belum bisa lupain dia, rasa sakit di masa lalu masih membekas sampai sekarang, dan papah juga tau kan alasan Gara gak suka sama Mamah?" Ucap Gara lirih.
Sedetik kemudian Gara terkekeh pelan. "Gara lebay ya Pah, pengecut masalah gini aja cemen."
"Enggak, kamu gak cemen nak, Papah bangga punya anak seperti kamu ganteng soalnya." Ucap Bayu sambil terkekeh. Setelah sekian lama, ini pertama kali tertawa bersama.
"Papah!" Teriak Gio.
"Eh, anak papah di sini!" Gio lari menghampiri sang Papah lalu naik pada gendongannya.
Gara yang melihat itu hanya tersenyum tipis.
Gio menatap Gara dengan mata berkaca-kaca. "Abang mau main sama Gio gak? Gio gak akan nakal janji." Ucap Gio sambil mengangkat dua jarinya bertanda, damai.
Gara tersenyum lalu menggendong Gio. "Yu kita main!"
Bayu tersenyum melihat kembali Gara yang mulai menghilang di balik pintu.
Wina yang baru datang langsung tersenyum pada Bayu. "Akhirnya Gara kembali lagi ya Mas."
Bayu merangkul Wina dan tersenyum. "Makannya kamu jangan sedih lagi."
Gara dan Gio berada di taman belakang rumah, sedang bermain mobil-mobilan.
"Gio sini dulu!" Panggil Gara.
Gio yang terpanggil berdiri lalu menghampiri sang kakak. "Ada apa Bang?"
"Maafin abang yah, selama ini abang udah jahat sama Gio kan? Gak mau main sama Gio. Gio marah gak sama Abang?"
Gio menggeleng, imut. "Nggak Bang, Gio gak benci sama Abang Gio sayang sama Abang, Gio ngelti kalau Abang benci sama Gio, Kalna Gio nakal kan?"
Gara tersenyum, mengelus kepala Gio lembut. "Nggak, abang gak benci sama Gio abang juga sayang sama Gio, Gio gak nakal abang gak mau main sama Gio karena Abang takut kalah Ganteng sama Gio."
"Nggak, Abang lebih ganteng dali Gio jadi mulai sekalang Abang gak bisa takut kalau kalah Ganteng dali Gio, jadi abang mulai sekalang mau main sama Gio?"
"Iya dong, kan kata Gio abang lebih ganteng dari Gio, jadi abang mau main lagi sama Gio."
"Yeayyyy!"
"Gio dengerin abang, Gio harus menjanjikan sama abang kalau Gio akan jadi cowok sejati jagain mamah, jangan Kaya abang yang cuman bisa bikin mamah nangis, oke?"
"Oke, Gio janji akan nulutin semua kata Abang."
Gara tersenyum, hatinya menghangat. Entah kenapa semua bebannya tiba-tiba hilang rasanya aku bisa lepas dari semua pikirannya selama ini.