Bagian tiga

1092 Words
"Kadang-kadang mereka tahu apa yang harus mereka pertahankan agar tidak terluka orang lain" Bagi sekolah libur ya liburan juga mandi. Tidur dengan nyaman di balik bedcover nya, menurut mimpi lebih indah dari kehidupan nyata. Apalagi jika Kay memimpikan Gara rasa-rasanya Kay tidak ingin bangun, tapi gagal mimpi hanya lah mimpi, tidak nyata dan tidak akan pernah berlanjut sama, begituput dengan hari. Seiring jam berputar, waktu mulai berganti, hari pun ikut berganti, tidak berlanjut sampai hari minggu. Padahal hari minggu adalah waktu yang tepat untuk berhibernasi. "Hoammm!" Kay menguap lebar. "Jam berapa ini?" Ucap Kay sambil melihat jam berjalan yang ada di sampingnya dengan mata menyipit. silau karna sinar matahari. "Oh baru jam 11, pengen tidur lagi tapi lapar," gumamnya bermonolog. Saat ini Kay sedang di dapur memilih-milih bahan makanan yang ada untuk makan, karna pembantunya sedang tidak ada jadi Kay masak sendiri. Kay mulai memotong bahan-bahan yang dibutuhkan. Kay mengikat rambutnya dengan satu tangan. Kay membalikan badan, terlihat membalikkan dengan seorang wanita menghampirinya. "Lagi apa sayang?" Tanya wanita yang menarik lagi akan menjadi kebebasan. "Masak," jawab Kay singkat. "Oh yaudah sekarang kamu duduk aja ya biar mamah yang masak," Winda mengambil alih pisau yang sedang di pegang Kay. "Gak usah," Kay menyentak tangan Winda kasar. Rey terkejut melihat tingkah melompat. "Kay gak boleh gitu sama mamah kamu!" Kay memutar bola memutar malas. "Calon!" "Udah mas, sayang jangan bertengkar ya kamu duduk aja Kay biar mamah yang masak," Ucap Winda. "Hm," gumam Kay lalu duduk di meja makan. Kay mulai menyuapkan makanannya, namun Kay rasanya masakannya aneh. "Gak enak!" Kay membandingkan sendoknya lalu mengambil segelas udara. "Kay kamu apa-apaan sih gak sopan hargain dong mamah kamu," bentak Rey marah. "Dia bukan mamah aku, dan emang makanannya gak enak," Ucapan Kay terdengar sangat dingin, lidah Kay menjadi lebih untuk berbicara sopan. "Udah gapapa mas emang makanan aku gaenak kok." "Awas aja tu anak kalo gue udah nikah sama si Rey gue jadiin babu lo," batin Winda. "Nggak kok sayang makanan kamu enak, tinggal tingkatin lagi belajar masaknya." Rey tersenyum sambil menikmati masakan Winda kembali. Kay memandang sebuah foto yang menampilkan 3 orang dalam pose tersenyum. Kay dan kedua orang tuanya. Kay teringat akan kebahagiaan nya waktu kecil. Kay merindukan ibunya, ibu yang sudah lama tidak memberinya kabar. "Bu,Kay kangen," lirih Kay. Tangan nya memeluk erat foto tersebut. "Kay gasuka sama wanita itu dia kaya orang jahat bu." "Dari pada nangis mening buka i********:," kay mengambil handphone nya lalu menscroll laman i********: nya. Kay terpikir untuk memposting foto, Kay selfie sambil tertidur dengan tangan yang ada di keningnya. ❤117.78911.888↗ Kayladevi libur sekolah ya libur mandi. Coment... Rani.drn: cantik bener bu Renicla: jorok Satriad: bidadari mah bebas ya ga? Diontrt: ngomen mulu sat @Satriad Adityabrn: calon istri abang Dan lainnya.... Saat sedang asik melihat komen tiba tiba ada notifikasi yang membuat Kay girang sampai berguling guling, berjungkir balik, bersalto di kasurnya. Anggaradello menyukai kiriman anda.. pasti kalian sudah tau apa yang sedang di lakukan Kay saat ini silahkan bayangkan. "Omaygat omaynow omay woww kak Gara ngelike foto gue ahhhh senengnya hati Kay." Teriak Kay senang. "Mandi ah terus selfi lagi, terus post lagi semoga aja di komen ka Gara hehe,"Kay bermonolog. Setelah merasa dirinya sudah cantik. Kay berselfie ria sendiri tiba tiba notifikasi line yang mengganggu aktifitasnya. "Ganggu banget sih."kesalnya. Cecan emesh. Renicla_ Kay main kuy Raniiiii Lah kaga ngajak Raniiiii Bodo ah yu main bete nih Renicla_ Kan ini grup cayang ku jadi kuy kuy aja Kaylad_ Ayo untung Kay udah mandi Renicla_ Pasti abis seneng ya gara gara di like sama ka Gara? Kaylad_ Ko tau sih ren? Raniiiii Bodo lah gc dong. Read by 2. Kaylad_ Btw main kmn? Hey P P P Bales dong Renicla_ Tempat biasa. Read by 1. Kay menatap dirinya di cermin. "Sip Kay udah cantik, let's go!" Kay dan teman-temannya sedang berada di sebuah cafe yang sudah menjadi tempat tongkrongannya disaat gabut melanda. "Hey heyy hey." Kay terus saja berteriak ke setiap orang yang melewati mejanya, membuat orang -orang merasa terpanggil. "Tayo hey tayo dia bis kecil ramah melaju melambat tayo selalu senang." Kay malah bernyanyi membuat semua orang mendengus kesal. Tawanya selalu ia jadikan tameng untuk tidak terlihat rapuh. "Bukan temen gue," batin Rani dan Reni menggelengkan kepalanya. *** Gara, Adit, Dion dan Satria sedang berada dalam kamar yang terlihat sangat maskulin dengan paduan cat berwarna hitam dan abu, kamar milik Anggara. "Gabut anjir maen ps mulu dari tadi." Dion mendengus melemparkan stick ps milik Gara. "Iya anjir ayo jalan lah," Adit memang selalu semangat soal jalan-berjalan apalagi kalo dapet traktiran. "Males." Balas Gara singkat. "Bos ayo dong gak seru lo ah," Ucap Satria kesal. "Ya udah!" "Asik, kalau Bos udah bilang ya udah. Artinya kita nongkiiii!" Teriak Dion heboh. "Heboh banget sih Yon!" "Ke tempat biasa aja!" Ucap Gara. "Siap!" Gara, Dion, Adit dan Satria kini sudah berada di sebuah caffe. Caffe di mana mereka biasa Nongkrong, terkadang ada anak-anak Grossed yang gabung. Doni datang sambil menanyakan pesanan mereka. "Pada pesen apa lo pada?" "Don permisi nih ya, kita itu pelanggan. Yang sopan ah!" Ucap Adit bercanda. "Ya, boleh silahkan mau pada pesen apa Mas nya?" "Najis lo!" "Kasar salah, lembut salah. Mau lo pada apa sih?" Tanya Doni kesal, membuat mereka tertawa. "Kaya biasa aja lah!" "Siap, ditunggu!" Tidak lama Doni datang membawa pesanan mereka, oh ya. Doni ini adalah salah satu waiters yang bekerja di caffe ini. Doni memang bukan orang yang tidak berada, tapi Doni memang lebih suka memakan uang hasil keringat nya sendiri. Padahal Ayah Doni adalah pengusaha batu bara, bahkan sebenarnya Caffe ini milik keluarga Doni. "Sini Don, nongkrong bareng napa. Gak usah kerja mulu, lo anak sultan!" "Yang sultan kan bapak gue, kalau gue mah cuman rakyat jelata yang hidup di bawah kekayaan orang tua." "Gak usah merendah untuk meroket ah, sebel!" "b*****t!" Umpat Doni sambil tertawa. "Gar, sebenernya nih ya. Gue mau kasih lo tantangan!" Ucap Dion. Gara mengangkat sebelah alis nya. "Apa?" "Lo harus terima Kay jadi pacar lo, nah kalau lo gak kuat lo bisa putus. Tapi semua motor, mobil, punya lo. Kompensasiin buat kita?" "Kompensasi pala lo, itu namanya ngerampok Pea!" Sarkas Doni. "Diem lo ah, gimana Gar?" "Gak lah, ngapain gitu-gituan gak ada kerjaan banget!" "Gini deh, kalau misal lo berhasil lo jadiin Satria babu. Gapapa!" Plak Satria memukul kepala Dion keras. "Apa-apaan lo bawa-bawa gue!" Dion menatap Satria kesal. "Kan elo yang punya ide nya!" "Gini deh, kita bertiga akan berhasil babu lo selama satu bulan kalau lo berhasil." Ucap Satria. Gara masih terdiam, lalu Satria kembali angkat bicara. "Anggap aja ini taruhan!" "Oke, siap-siap jadi babu gue selama sebulan!" "b*****t lo pada!" Umpat Doni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD