Gara, Satria, Adit, dan Dion sedang berada di warung belakang sekolah. Warung milik Bu Imas ini memang menjadi tempat tongkrongan mereka dan anak-anak badung lainnya.
Disini mereka bisa merokok dengan bebas, tetapi juga harus hati-hati karena sesekali pasti ada guru yang ngecek warung Bu Imas.
"Eh Gar, gimana udah ada rencana yang belum?" Tanya Adit memastikan.
"Hm, belum"
" Cemen lo, masa belum sih!"
Gara hanya mengangkat bahunya acuh, lalu kembali menghisap rokoknya.
Aneh memang perokok seperti Gara biasanya tidak memiliki bibir se merah itu, gigi pun tidak akan milik Seputih milik Gara.
"Ya udah mau kita bantuin gak?" Tanya Dion.
"Gak, lo semua suka aneh-aneh ."
" Aneh-aneh gimana sih Gar? Bukannya lo emang suka yang aneh-aneh ya?" Tanya Dion dengan kedua alis di naik turunkan, naik Gara.
Gara memutar badannya, menatap Dion dengan satu alis terangkat. "Emang iya? Jadi tau lo!"
"Cie marah cie"
Gara hanya mendengus menaggapi godaan dari teman-peserta.
"Gue mintain idline nya mau gak?"
Gara terlihat sedikit berfikir lalu. "Gak usah"
"Terus lo mau gimana?"
"Nanti gue minta langsung."
"Gue tau Gar lo gak pandai dalam soal perasaan."
"Sotoy lo!" Ucap Gara membuang putung rokoknya lalu memakai helm dan pergi membawa teman-ikut.
"Dih, cabut utama aja tuh bocah!" Ucap Adit
"Yaudah susul yok." Ajak Dion
"Yuk! Bu pulangnya ya!" Teriak Satria sedangkan Bu Imas hanya mengacungkan jempol bertanda, sip.
Kay merasa bosan, lagi dan lagi tidak ada Guru yang mengajar di kelasnya kadang bertanya-tanya apa Guru-Guru sangat membenci kelasnya, sampai jarang sekali guru yang masuk.
Untuk yang lain sih, mungkin senang tapi tidak untuk Kay selai hanya akan membiarkan bosan.
Kadang-kadang bisa dihitung berapakali ada pelajaran di kelasnya mungkin dari satu minggu hanya 5 hari yang ada guru, Sementara kadang-kadang ada guru yang tidak masuk jam pelajaran alasannya pasti harus rapat, atau ada hal penting lainnya.
"Gue ke toilet bentar ya, suntuk nih ngantuk pengen tidur tapi laki-laki." Pamitnya.
"Tumben lo gamau tidur?"
"Pria aja, udah ah lanjutin aja tuh make upan nya!" Ucap Kay langsung pergi ke toilet.
"Woy!" Mendengar teriakan itu membuat Kay refleks memutar badannya.
"Gue?" Tunjuknya pada diri sendiri.
Malaikat, orang yang tadi berteriak. "Ya iyalah elo! Siapa lagi emang disini yang punya gelar cewek murahan, selain lo?"
Kay melirik kesekeliling tampak disitu hanya ada mereka berdua.
"Kenapa takut lo?" Tanya Angel meremehkan.
"Ngapain takut?"
"Cih, lo masih deketin Gara ratu bar-begitu polos ?!"
"Kalau iya kenapa kak, ada masalah?"
Malaikat menggeram kesal. "t***l, masih aja jadi polos gue peringatin sama lo dulu lagi jauhin gara atau lo bakal tau akibatnya!" Tekanan penuh dan tantangan.
"Emang apa akabitnya?" Bukan takut Kay malah maju menantang.
Malaikat tersenyum lalu maju mendekat, mengangkat kerah seragam Kay dan memojokannya di tembok.
Byur!
Jus yang ada di tangan Angel sudah membasahi Kay dari kepala sampai bajunya kotor.
"s**l! LO NGAPAIN SIH?" Teriak sesorang dari Arah samping kanan. Membuat Kay dan Angel sama-sama menoleh, ternyata Satria.
Malaikat melepaskan cekalannya. "Karena lo ngejar-ngejar Gara pelindung lo makin banyak ya, kemarin Arka sekarang Satria, heran gue lo kasih mereka apa? Tubuh lo?"
PLAK
Kay tidak terima dengan ucapan Angel, tangan nya reflek menampar Angel. "Jaga mulut lo Kak!"
"Oh jadi cewek polos ini bar-bar juga ya?"
Semua menoleh saat mendengar suara itu, Gara. Gara yang berbicara.
"Ini gak seperti yang lo liat Kak" lirih Kay.
"Gar lo gak liat semua dari awal!" Ucap Satria.
"Gar, kamu liat kan cewek jadi polos itu! Dia nampar aku" Malaikat menangis, drama.
Satria mendengus. "Drama banget sih lo!"
Gara menatap Malaikat dengan alis bertautan menjadi garis lurus. "Ngapain nangis? Drama? Gue liat ko dari awal, dari lo yang bilangan dia cewek murahan, ngancem dia, narik kerah seragam dia terus mojokin dia di dinding, nyiram dia pake jus lo, dan terakhir lihat dia sudah punya baju pelindung ngasihin badannya , gue liat, cuman diem aja. Mau tau jauh lo rendahin lo lo sendiri. "
Ucapan Gara sangat menohok di hati Angel, awalnya iya hanya nangis pura-pura sekarang jadi nyata, memang benar Gara tidak pernah kalah dalam soal menghina seseorang.
"Lo jahat!" Cecar nya.
"Kalau tau ngapain masih suka ngejar gue?"
Malaikat diam, lalu pergi dengan rasa sakit atas ucapan Gara.
Gara melirik Satria memberi kode dengan tatapannya "gue butuh berdua" Satria yang mengerti mengangguk menepuk pundak Gara dan pergi.
"Ma-makasih kak" Ucap Kay gugup.
Gara menyodorkan hoodie miliknya. "Pake, daleman lo keliatan!"
Refleks , Kay langsung menutup d**a dengan hoodie yang di berikan Gara.
"Ma-makasih kak."
"Lo udah bilang itu tadi!"
"I-iya"
Alis Gara mengernyit. "Mendadak gagu lo?"
"Eh, enggaklah!"
"Jangan geer lo gue tolongin , minta idline lo!" Ketus Gara, lalu menyodorkan ponselnya.
"Hah?"
"Tadi gagu sekarang budeg?"
Kay mendelik. "Eh iya iya, ngomongnya sinis banget sih!" Dengan kesal tapi pelan Kay mengambil ponsel Gara.
"Nih udah, kalo minta jangan lupa obrolan! Sekali lagi makasih. Makin suka gue sama lo kak!" Ucap Kay tanpa malu, lalu memutar badannya dan pergi dari pertemuan Gara.
Gara berdecak tak percaya ada ya gadis seperti itu? Tidak punya malu.
"Permata permata." Gumamnya lalu pergi.
Kay berjalan dengan memakai hoodie yang disediakan Gara tadi menuju kelas. Dengan lemas Kay duduk di bangku membuat Rani dan Reni berdecak kesal.
"Ck, dari mana aja sih lo Kay?" Tanya Rani.
"Iya, lo bikin jalan dulu? Terus hoodie siapa coba perasaan tadi pergi gak ada pake hoodie tuh!"
"Kak Gara!"
"APA?!"
Kay tampak kedua diputar itu tajam.
Rani dan Reni hanya tersenyum tanpa dosa. "Hehe, maaf Kay abis nya kita kaget ya kan Ran?"
"Heem, kok bisakah jaket Kak Gara di lo?"
"Panjang cerita nya kalo gue ceritain bisa di jadiin novel!"
" Lebay banget sih lo!"
"Ayo dong cerita!"
Kay menghela napas panjang teman-temannya ini memang tidak bisa sabar. Dengan malas sesaat Kay menceritakan kejadian tadi yang menimpanya.
"Gila tuh cabe-cabean!" Komentar Reni.
"Emang Gila!" Jawab Kay kesal.
"Tapi lo bantu di Kak Gara, baper kan lo?" Tanya Rani penuh selidik.
Kay memekik kesal. "Yaiyalah siapa pun coba yang gak baper di tolongin cowok ganteng di Taruna, BAPET BANGET GUE!"
"sst, malu Kay ah!"
"Hehe, tapi Kak Satria datang duluan bantuin gue. Gue kan jadi bimbang perasaan gue ke Kak Gara, tambah satu persen buat Kak Satria."
Reni melebarkan mata-mata. "Heh awas lo ya kalo belok ke Kak Satria, gue cincang lo!"
Kay dan Rani tergelak. "Yaelah santai kali cinta gue cuman berkurang satu persen, masih ada sembilan puluh sembilan persen milik Kak Gara. Tapi gak tau kalau Kak Satria terus nolongin gue, kayanya gue bisa berpaling deh."
Reni yang sebelumnya tersenyum langsung kembali melebarkan dengar kalimat terakhir yang di ucapkan Kay.
Sementara Kay kembali tergelak, menyenangkan, Reni, sangat menyenangkan, Kay, cinta besar, Reni pada Satria.
"Ah gak asik lo!" Marahnya.
"Dih, marah kek bocil aja lo Ren."
"Udah udah tenang aja kali Ren masa iya gue suka sama gebetan lo!"
"Nah gitu dong," ucap Reni tersenyum lalu merangkul pundak Kay.
"Tapi boleh lah buat cadangan," Reni langsung mendorong Kay yang kembali tertawa.
Gara memilih atap untuk membolos di pelajaran saat ini, sungguh ia sangat ingin beristirahat.
Tiba-tiba Gara merasakan rasa dingin yang menenangkan pipinya. Dahinya berkerut menatap wanita di sampingnya ini.
"Nih buat kakak, tadi Kay gak liat Kak Gara di kantin," Kay menyodorkan es dan Roti yang di bawanya.
Meski masih bingung Gara masih tetap bisa diambilnya. " Terima kasih "
"Jangan makan taro doang, ih!"
"Iya."
"Sekali lagi makasih ya kak, kalo gak ada kakak tadi gak tau deh."
Gara mengangkat alisnya menatap Kay. "Ada Satria."
Skak , ingin mencicipi Kay terjun ke bawah iya lupa yang tadi menolong itu Satria, Gara hanyalah pahlawan kesiangan yang makin lama makin jatuh cinta.
Kay menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "E-eh maksudnya soal hoodie kak."
"Oh" untung Saja Gara tidak diperpanjangnya.
Kay masih anteng memperhatikan Gara yang sedang memakan rotinya. "Gue tau gue ganteng, gak usah segitunya liatin gue kaya mau makan orang aja!" Ucapan tiba-tiba dan bantuan tiba-tiba Gara membuat Kay gerogi sendiri bagaimana tidak saat ini jaraknya di sangat berbeda.
" Engh , tau ah gue ke bawah dulu, sampai jumpa !" Ucap Kay saltung, dan langsung berlari keluar dari atap .
Gara hanya terkekeh melihat tingkah pengasinan Kay itu. "Lucu."