Bagian lima

782 Words
"Kamu itu ada, hanya saja rasa yang kamu berikan tidak ada" Saat ini Adit, Dion, Satria sedang berada di rumah Gara. Biasa mereka puas hanya untuk bermain ps sedangkan Gara hanya berbaring di atas kasurnya. Sungguh iya sedang capek sekali hari ini, entah karena apa yang jelas artinya pegal-pegal. Pintu Kamar Gara terbuka, menampilka bocah laki-laki dengan senyum diwajahnya. "ABANGGGGG !!!" Semua menoleh saat mendengar teriakan Gio, termasuk Gara yang langsung terduduk di atas kasurnya. "Eh Gio, ini masuk tidur sama Abang di sini!" "Mening di sini maen PS sama abang Satria ganteng!" "Gak! Gio mau tidul sama abang." "Dih, yaudah!" "Gar, kok?" Tanya Aditya bingung. Gara mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" "Lo kok akur?" "Ya iyalah kan adik kakak!" "Bukan gitu, melainkan lo-" "Oh, gak apa-apa. Lagi belajar berdamai dengan masa lalu!" Jawab Gara santai. "Oh" Adit malas bertanya lebih banyak, ia hanya ber oh saja lalu kembali bermain PS. "Eh udah dapet idline si Kay belum lo?" Tanya Dion. "Udah." "Gila cepet banget lo!" Dion berdiri dan menjatuhkan badannya di samping Gara. "Gue udah bilang, gampang dapetin dia!" "Iya dapetinnya gampang, ntar ngelepas nya susah baru tau rasa lo!" Celetuk Adit. "Mana ada, dapetin aja gampang apalagi ngelepas!" Sinis Gara. "Karma baru nyaho lo!" Gara mendelik tajam. "Lo pada yang nyuruh gue, lo pada yang nyumpahin gue juga. Heran!" Semua tergelak. "Eh ngobrol si Doni coba, suruh kesini bawa makanan jangan lupa!" Ucap Satria. "Lo aja yang chat!" "Nanggung lagi main!" "Yeu!" Dion berseru kesal, lalu mengabil handphone di sakunya dan menelepon Doni. "Otw katanya." "Sip" Tidak lama Doni datang sambil membawa satu keresek makanan. "Nih!" Ucap nya Sambil memberikan keresek itu pada Dion. "Thanks bro!" "Don maen ps lah sini, lawan gue. Yang menang di kasih kuota dah!" Ajak Satria. Doni langsung berbinar. "Serius lo? Jangan boongin gue lo b*****t!" "Jiwa miskin lo langsung berontak Don kalau denger kuota, padahal anak sultan, rumah free wifi. Denger kuota senengnya kebangetan!" Ucap Adit. "Kan kalau gue lagi nongkrong sama anak Grossed di warung, mana ada wifi. Ada sih Tethering ke si Raddan, Hahaha." "Buruan ah gak usah bacot lo, lawan gue sini!" Tantang Satria. "Laksanakan!" *** Setelah teman-teman nya pulang, Gara langsung membersihkan badan lalu turun ke bawah. Dibawah sudah ada Wina, Bayu, dan Gio yang sedang menonton TV. "Eh bang, sini gabung!" Ajak Wina saat melihat Gara. "Iya Mah." "Oh iya, gimana sekolah kamu?" "Baik." Jawab Gara sambil memainkan rambut Gio. "Syukurlah." "Gio mau ikut abang gak?" Tanya Gara. "Kemana bang?" "Ke supermarket beli es cream. Mau?" "Mau bang mau!" Jawab Gio semangat. "Yaudah, yuk!" "Bun pergi dulu!" "Ya hati-hati bawa motor nya!" "Siap!" Hari ini kelas Kay sedang berlangsung mata pelajaran olahraga di lapangan utama SMA Taruna Bangsa. Cuaca saat ini membuat Kay sangat panas, karena sangat cape ia beristirahat di oinggir lapang sambil menonton teman-temannya yang masih bermain. Kay masih terus mengibaskan tangannya karena sangat gerah. Namun pipinya terasa dingin Kay menoleh dan melihat Gara yang sedang menempelkan minuman di pipinya. "Buat lo!" "Eh, hah? Buat Kay Kak?" "Iyalah!" Jawabnya ketus. "Eh, ma-makasih kak" "Kebanyakan eh nya, lo!" "Ya maaf kak kan gerogi gitu gak ada angin gak ada ujan, kak Gara tiba-tiba baik." Gara membalikan badannya menghadap Kay. "Lo gak suka?" Kay yang di tatap seperti itu kembali gugup. "Eh, su-suka kok kak" "Sekali lagi bilang eh gue cium!" "Eh ko-" Cup Badan Kay terasa kaku saat Gara mencium pipinya. Wajah nya sudah pasti sangat merah sekarang. "Kan udah gue bilang, ngeyel sih!" "Serius yang tadi cium gue kak Gara?" Gumam Kay sambil memegang pipinya. Gara terkekeh melihat ekspresi Kay. "Ya iyalah gue, masa iya setan!" "Serius?" Tanya Kay yang masih saja tidak percaya. "Iya. Di minum minuman nya, gue pergi dulu!" Ucap Gara sambil mengacak rambut Kay gemas. Kay hanya mengangguk dengan perasaan yang campur aduk. "ASTAGA, RENI RANI KAK GARA CIUM GUEEEEE!" Kay masih tidak percaya dengan kejadian siang tadi, senyum nya tidak pernah hilang sedikit pun membuat teman-temannya mengira ia sudah tidak waras, sedasyat itukah kecupan Gara bagi Kay? *** Kay pulang dengan perasaan yang sangat bahagia bahkan saat melihat wajah ibu tirinya mood Kay masih saja bagus. "Assalamualaikum, Kay pulang!" Teriak Kay semangat. "Berisik ini rumah, bukan hutan!" "Eh mamah, oh iya ayah mana mah?" "Gue bukan mamah lo, inget itu! Ayah lo lagi ke luar negri dan selama ayah lo gak ada semua urusan rumah ini gue yang atur!" "Lah, ini kan rumah Ayah gue kok lo yang ngatur?!" Tanya Kay tajam. "Berani ngebantah lo?!" Plak Kay memegang pipinya yang terasa perih dan nyeri akibat tamparan Winda. Kay menatap Winda tajam. "Lo gak berhak pukul gue, inget lo bukan orang tua gue!" "Terus masalah buat lo?" "Cih, heran gue kenapa ayah mau sama jalang macem lo?" "Jaga mulut lo anak s****n!" "Mulut gue ini, dan inget gue bukan anak lo!" Plak "Gak usah ngebantah apa kata gue!" "Ayah gue aja gak pernah perlakuin gue kaya gini!" Suara Kay sudah berubah lirih. "Karena gue bukan Ayah lo, sekarang masuk ke kamar lo gue cowok liat maju lo!" Ucapnya tajam. Kay langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, Kay melemparkan tasnya sembarang lalu mengempaskan tubuh di atas kasur. "Huh, baru aja gue bahagia. Wanita senang itu udah bikin mood gue ancur!" "Apa gue gak pantes bahagia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD