Bab 3: Pesan Misterius

1638 Words
Aku reflek mendorong d**a Adam ketika dia hendak menciumku. Hah? Didorong? Yep! Dia kaget, dong! Lihat saja wajahnya yang bengong dan menatapku dengan ekspresi terkejut dan kebingungan. "Lho, kamu kenapa?" tanyanya. Aku sendiri tak menyangka, bayangan Adam yang mencumbu wanita lain dan berbagi kehangatan tubuhnya tanpa sehelai benang pun, itu membuatku jijik dan marah. "Ap-apa, Mas ... maaf, aku ..." Adam mendekat dan meraih kedua tanganku, menggenggamnya dan menatapku lekat-lekat. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit? Kita periksa ke dokter, ayo!" katanya sambil mulai beranjak dan hendak menarikku untuk berdiri. "Nggak, Mas! Aku nggak apa-apa, kok!" tolakku sambil menarik tanganku lepas dari genggamannya. Adam duduk dan kembali meraih tanganku dengan lembut. "Kamu ada masalah di kantor? Coba cerita sini," ucapnya sambil menepuk sofa yang kosong di antara kami yang hanya berjarak selebar telapak tangan saja. Sosok lelaki yang tak kalah lembut dan manis dari Allan, Adam memang pria idaman setiap gadis dan teman seangkatanku sejak dulu. Tidak heran begitu aku menikah dengannya, banyak orang yang sedikit iri dan terkejut dengan pernikahan kami. Tapi karena itu juga gosip tentang dia dan Nurwati santer jadi bahan ghibah mereka di grup chat. Apa aku harus menanyakannya? Bagaimana caraku mengatakannya? Pertanyaan macam apa yang akan kulempar padanya? "Alisa, Sayang?" Aku mengerjap dan pandanganku kembali fokus ke wajahnya. Adam memperhatikanku dengan kening berkerut keheranan. "Alisa, kalau kamu capek magang di sini, nggak apa-apa kita pulang saja," ujarnya masih dengan nada sabar, "nggak usah mikirin melamar pekerjaan nanti, toh kamu nggak kerja pun aku masih sanggup menafkahi dan memberikan semua yang kamu minta, Sayang!" Eh? Kata-katanya membuatku sadar. Bukankah sebelumnya aku mengatakan menolak patriarki, mana bisa aku kalah sekarang dan pasrah menggantungkan sisa hidupku sepenuhnya untuk menjadi ibu-ibu rumahan?! Kalian yang jadi ibu rumah tangga 'beneran' sekarang ini, jangan marah bacanya, ya. Aku juga tahu takdir perempuan itu nggak jauh-jauh dari dapur dan kasur, tapi aku hanya ingin tetap bebas bekerja dan menghasilkan uang sendiri. "Alisa, tolong jangan kayak gini!" ucap Adam dengan nada memelas, dia mengguncang tanganku pelan. "Sejak tadi kamu itu aneh, kalau memang ada yang menyinggung perasaan kamu tolong jelaskan! Mas bukan cenayang, Sayang!" desaknya lagi. Menurutnya apa? Seharian nggak balas pesanku? Apa itu bukan kesalahan?! "Kamu kenapa nggak balas pesanku? Bahkan nggak angkat teleponku!" Akhirnya aku buka suara, perutku rasanya mulas nggak jelas sekarang. Adam terdiam. Pelan dia melepaskan tanganku dan bergeser memutar tubuhnya menghadapi meja tamu. "Hapeku lobet tadi, seharian sibuk rapat sama klien, jadi lupa ngecas," jawabnya tanpa melihat ke arahku. Sikapnya itu membuatku semakin curiga jadinya. "Sekarang mana hapenya?" ucapku sambil menadahkan tangan padanya. Adam melirik sebentar. "Ketinggalan di mobil," jawabnya lagi. Kutarik napas gusar dan beranjak berdiri, lalu tanpa banyak bicara berjalan menuju pintu, bermaksud hendak keluar menuju mobilnya. "Alisa, tunggu!" Tanganku ditahannya sehingga aku pun menghentikan langkah yang sudah di ambang pintu. Adam melangkah ke hadapanku. "Alisa, bicara dulu ada apa? Perkara hape lobet kayak gini biasanya kamu nggak terlalu ambil pusing, sekarang sepertinya kamu marah sama aku, kenapa?" Adam menyentuh lenganku dan mengusapnya pelan. Salah satu kelihaian Adam adalah meluluhkanku dengan sentuhannya yang lembut. Dia selalu berhasil membuat kemarahanku reda. Seperti sekarang, aku berakhir di pelukannya lagi. "Kalau ada apa-apa tuh ngomong saja, Mas minta maaf karena tak membalas pesan dari kamu seharian ini," ucapnya sambil memelukku dan mengusap kepalaku. "Mas nggak bermaksud mengabaikan kamu, Sayang, maaf, ya!" Aku diam. Pipiku menempel di dadanya, sampai aku bisa merasakan degup jantungnya yang sedikit cepat dan menghentak lembut di sisi wajahku. "Iya, nggak apa-apa ..." ucapku lirih. Kubalas pelukannya dan memejamkan mata. Mungkin jangan sekarang, aku tidak bisa mengkonfrontasi Adam dengan suasana hatiku yang tak karuan. Aku tidak akan mendapatkan jawaban selain pertengkaran yang mungkin akan terjadi di antara kami. Dan bisa saja akhirnya malah berujung Adam yang menanyakan tentang program kehamilan yang kusebut sedang kujalani. Aku tak siap jika harus beradu argumen tentang itu saat ini. "Lho, kok nangis!" Aku terisak pelan, air mataku tanpa sadar meleleh dan membasahi kemeja abu-abu yang dipakai Adam. Kami mengurai pelukan dan dia mengusap pipiku. "Sudah, mungkin kamu juga lagi capek dan Mas juga tiba-tiba datang nggak ngasih tahu kamu dulu," kata Adam. Dia lalu merendahkan tubuhnya sedikit demi mensejajarkan wajah kami dan menatapku. "Kamu nggak lagi PMS, 'kan?" tanyanya setengah berbisik. Aku hampir saja tertawa karenanya jika tak ditahan, bisa-bisanya dia menanyakan itu. "Ng-nggak, kenapa emang?" jawabku ketus sambil membuang muka. Pipiku menghangat menebak kemana arah pertanyaannya itu. Adam kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum-senyum. "Syukurlah!" ujarnya seraya meraih pinggangku dan menarikku mendekat padanya, sampai tubuh kami bertabrakan. "Eh, Mas--" "Sstt! Aku datang karena kangen sama kamu," ucapnya menarik daguku dengan lembut sampai wajahku mendongak. "Mas ..." "Sssh ..." Adam mendorongku ke pintu dan menahan kedua tanganku ke atas kepala, aku tak kuat melihat wajahnya dan akhirnya hanya bisa terpejam ketika dia mendekat dan mencium leherku. Tuhan, jika memang suamiku berbuat serong di belakangku, aku bisa apa nanti? Dia lelaki yang sempurna di mataku, penuh cinta dan tahu bagaimana menyenangkanku. Aku menggantungkan cinta dan kebahagiaannku padanya. Dengan hadirnya dia disini, itu cukup untuk saat ini. Aku nggak munafik, hei! *** Pukul 10 malam, Adam tengah berkutat di dapur. Dia memasak sendiri selagi aku mandi dan membersihkan diri setelah momen melepas rindu kami yang sedikit lebih lama tadi, hehe. Ya, suami idaman memang. Dan aku masih berusaha mengenyahkan hasutan Jin Dasim yang terus menghembuskan bisikan-bisikan penuh kecurigaan di dalam kepalaku. "Sudah mandinya? Ini Mas masak mie goreng, mau?" Adam memperlihatkan wajan berisi mie goreng kecap yang terlihat lezat. Aromanya harum sekali, perutku yang memang belum makan sejak siang langsung bereaksi. "Kamu masak mie goreng pake apa, kok cakep?" komentarku sambil mencomot irisan sosis di atasnya dan mencicipinya. Enak. Adam tersenyum lebar dengan angkuhnya. "Ada resep rahasia yang kamu nggak tahu!" kekehnya. Aku mencebik. Sudut mataku menangkap bekas kemasan bumbu nasi goreng instan di pojok dapur sana. "Itu?" tunjukku. Adam mengikuti arah tanganku, dan tawanya pun meledak setelahnya. "Oke-oke! Memang itu juga pelakunya, tapi tetap saja kalau nggak ditambah bumbu lain, rasanya pasti akan biasa saja," kelitnya seraya terkikik geli sendiri. Aku tersenyum dan duduk di kursi makan, membalikkan piring yang sudah disiapkan. Adam lalu mendekat sambil meletakkan pinggan mi goreng itu di tengah meja. "Sini," kata Adam sambil meminta piringku. Aku hanya diam menahan senyum memperhatikannya. "Lagi!" pintaku ketika dia Adam menyendok mie goreng itu ke piring. "Wah, lapar banget kayaknya!" ujarnya tertawa senang. "Siang tadi aku nggak makan soalnya," jawabku sambil menerima piring bagianku. Kedua alis lebat milik Adam terangkat tinggi mendengarnya. "Kamu nggak makan siang? Ngapain aja emang? Jangan bilang bos kamu galak dan ngasih kerjaan banyak sampai kamu nggak sempat makan!" berondongnya kesal. Aku mikirin kamu tahu! Istri mana yang nggak kepikiran jika tahu suaminya digosipkan menghamili wanita lain?! "Nggak apa-apa, tadi keburu nggak mood aja bawaannya," kilahku seraya menunduk menghindari tatapan Adam. Adam langsung duduk di depanku. "Sayang, kamu kerja boleh aja, tapi jangan nunggu mood naik baru makan! Kamu ini 'kan orangnya mood swing, gampang bete, kalau kayak gitu yang ada kamu malah sakit nanti!" omelnya. "Iya," jawabku pelan sambil mengaduk mi. Adam berdecak, dia merebut garpu dari tanganku dan mulai menyendoknya untukku. "Buka mulutnya, ayo! Biar aku suapin!" katanya dengan ekspresi gemas. Aku mendengus kesal. "Aku bukan anak kecil, Paman!" tolakku seraya mendorong gulungan mi di depanku. Adam memasang wajah datar. "Tapi tingkah kamu masih kayak anak SD!" tukasnya. "Iya-iya, aku makan sendiri, sini!" Kuambil garpu dari tangannya dan menyuapkan mi ke dalam mulutku. "Bagus!" ujarnya seraya menyentuh puncak kepalaku sebelum beranjak berdiri. "Kamu sendiri nggak makan?" tanyaku dengan mulut penuh. Adam yang hendak menuju dapur, menoleh sebentar. "Cuci tangan dulu," sahutnya. Aku mengiyakan, hampir saja pikiranku overthinking lagi kalau sampai dia nggak mau ikut makan. Sedang Adam mencuci tangan dan melepas apron di dapur, ponselku berbunyi pelan tanda ada pesan masuk. Benda itu sedang dicas di atas bufet, jadinya aku pun beranjak sebentar untuk memeriksanya. Ada SMS masuk. Tadinya aku akan mengabaikannya karena kukira itu sms dari operator. Hanya saja kata-katanya membuatku tertegun. Hati-hati dengan orang di sekitarmu, mereka tersenyum manis namun menyembunyikan pisau di belakang punggungnya. Apa ini? Pesan macam apa? Operator slot judi online-kah? Siapa yang memakai nomorku untuk permainan sialan itu? "Kenapa, Sayang?" tegur Adam yang sudah berada di belakangku, dia melingkarkan tangannya di perutku. Wajahnya muncul di bahuku dan turut melihat ke layar ponsel yang sedang kupegang. "Kenapa? Itu siapa?" tanyanya mengerutkan kening. Aku menoleh, sejenak menelisik wajahnya. Ya, siapa tahu, kan, siapa tahu! "Kenapa?" ulangnya membalas menatapku. Jangan berprasangka buruk, Alisa! "Nggak, Mas, ini nomor asing kirim sms nggak jelas!" jawabku sambil menghapus semua pesan di kotak masuk. Toh, memang nggak ada yang penting kalau di pesan biasa. Jaman sekarang 'kan orang sudah jarang bahkan mungkin hampir nggak pernah lagi berkirim pesan melalui sms. Kecuali operator kartu sim dan admin slot judi seperti yang kubilang tadi. Adam pun tampak tak ambil pusing dan tak bertanya lagi. Dia menarikku untuk kembali ke meja makan. Sebentar kuletakkan ponsel itu kembali di atas bufet dan mengikuti Adam. Kami makan malam bersama dengan hangat, bercengkrama mesra seperti tak terjadi apa-apa siang tadi. Selama aku magang disini, Adam memang selalu datang menjengukku seminggu sekali, meski jarak antara kota asal kami bisa memakan waktu 2-3 jam perjalanan di tol. "Sudah kenyang? Kita tidur aja, yuk!" kata Adam merangkul bahuku. "Sebentar aku cuci piring dulu," kataku hendak melepaskan diri. Tapi Adam menahanku. "Besok aja Mas bantu cuci, malam ini aku pengen meluk kamu sampai pagi," katanya tersenyum. "Tumben!" ujarku tertawa kecil. "Nggak tumben, 'kan besok aku juga pulang lagi, jadi wajar lah kalau malam ini aku mau kangen-kangenan terus sama kamu!" kilahnya. Aku hanya tertawa dan membiarkannya menyusupkan kedua tangannya ke bawah lututku. Dan dalam sekejap aku sudah diangkatnya. "Ayo, Tuan Putri, pangeranmu masih kangen!" ucapnya tersenyum penuh arti. Ketika Adam membawaku masuk ke dalam kamar, kudengar suara denting pelan itu lagi dari ponselku. Sempat kulirik ke sana, tampak layarnya menyala. Ah, paling sms dari operator!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD