Sahabat Selamanya

1175 Words
Waktu berganti dengan cepatnya dan benar saja, jika Annessa pergi ke diskotik dan mabuk, maka ia akan menelpon Rizky untuk menjemputnya. Dan Rizky pasti juga akan menjemput Annessa jam berapapun itu. Annessa sudah pasti juga akan menginap di kost miliknya. Kost Rizky, dapur. Rizky dan Annessa sedang menikmati sarapan pagi mereka. Ya, semalam Annessa menginap di tempat Rizky. "Hoammz, ngantuk banget." Kata Annessa. "Kau tak ingin pulang? Weekend loh." Tanya Rizky. "Kau mengusirku ya?" "Yaelah, enggaklah Ness. Maksudku kan biasanya anak kost kalau akhir pekan akan pulang mudik ke rumah ortunya." Jelas Rizky. "Ah, di rumah males. Asyikkan di sini saja, di kostmu. Rasanya adem, nyaman. Ada yang masakkin, ada yang nyuciin baju." Kata Annessa. "Berasa aku dimanfaatkan deh..." Annessa tertawa. "Terima kasih untuk selalu membantuku, temanku!" "Sama-sama, temanku juga!" "Kita sudah tiga bulan kenal, kau banyak membantuku. Mulai dari menolongku saat mabuk, menjemputku pulang clubbing, mencari kost untukku, membantu mengerjakan tugas kampus, dan masih banyak lagi. Thanks ya.." Kata Annessa. "Hanya terima kasih saja?" "Lha? Kau menginginkan sesuatu dariku? Aku akan memberikannya jika aku bisa." "Can you kiss me?" Canda Rizky. "What the..." Annessa menyemburkan minuman yang kebetulan sedang ia minum. "Bercanda, Buk!" Cengir Rizky. "Eh Pak, kira-kira kalau bercanda! Aku sampai mau mempersiapkan diri untuk menciummu!" Kata Annessa. Rizky cengo. "Ha-hah?" Annessa tertawa dewa. "Bercanda! Astaga, kau terlalu serius, Riz! Lihatlah wajahmu, memerah seperti udang karang direbus setengah matang!" "Cih, apaan kau ini, Ness?" Wajah Rizky memanas. "Hei Pak, jangan-jangan, tak hanya masih perjaka, kau masih polos semuanya ya?" Annessa kembali menggoda. Kini kuping Rizky juga ikutan memerah. Rizky masih perjaka dan sama sekali belum pernah pacaran. Ciuman atau teman sepaketnya, Rizky sama sekali belum pernah mengalaminya. "Hentikan leluconmu itu, Ness! Kau suka sekali sih menggodaku?" Kesal Rizky. "Yah, ada yang kesal." Annessa bangkit dari duduknya. Ia mendekati Rizky. "Jangan marah!" Pinta Nessa. Rizky memalingkan wajahnya. "..." Annessa memegang kedua pipi Rizky agar Rizky menatapnya. "Riz, tatap aku!" Rizky menatap Annessa. "Ada apa?" Tanyanya. Annessa tertawa karena wajah Rizky yang lucu di antara takupan kedua tangannya. "Maafkan aku, Riz! Aku tak bisa menciummu! Bisakah kau meminta imbalan yang lain?" Tanya Annessa serius. Selama tiga bulan mengenal Annessa, Rizky sedikit demi sedikit mulai memahami bagaimana Annessa itu. Meski suka bercanda berlebihan, tapi Annessa itu memikirkannya. Annessa berusaha untuk peduli akan tiap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. "Sudah aku bilang, aku ini hanya sedang bercanda, Ness! Jangan memikirkannya!" Kata Rizky. "Tapi tetap saja kepikiran. Soalnya, selama ini, aku sama sekali belum membalas segala kebaikkanmu. Kali ini, biarkan aku berterima kasih dengan cara yang lebih baik!" Rizky menatap Annessa. Ia lalu menimpa kedua tangan Annessa di pipinya. "Maukah kau menceritakan tentang dirimu? Tentang orang tuamu, kenapa kau menyukai diskotik dan sering mabuk." Kata Rizky. Sungguh, dalam hatinya Rizky sangat penasaran akan hal ini. Jika ini adalah wujud kenakalan remaja atau pergaulan bebas, apa akan seperti ini? Maksudnya, jika menilik sosok Annessa yang ia kenal, rasanya tidak mungkin seorang Annessa melakukannya tanpa alasan. Ia merasa pasti ada sesuatu yang mendorong Annessa sampai melakukan sejauh ini. Jika itu ada dan dalam wujud sebuah masalah, maka sebagai teman, ia ingin sekali membantu Annesaa. Ia ingin menyelamatkan Annessa. "Hmm, aku tak suka membahas hal ini. Tapi, karena kau yang meminta, sepertinya aku tak masalah mengatakannya." Kata Annessa. "Jika itu buruk, aku tak akan menceritakannya kembali kepada orang lain. Aku akan menutup rapat bibirku demi kebaikan dirimu." Kata Rizky. Annessa tertawa. Ia tahu, ia bisa mempercayai Rizky. "Aku anak tunggal, ibuku meninggal saat melahirkanku. Papaku sangat menyayangiku, saking sayangnya, yang dia lakukan hanyalah mencukupi kebutuhan materiku. Jika kau menyimpulkan diriku ini kurang kasih sayang, aku tak akan mengelaknya. Mungkin bagi orang lain ini sepele, tapi bagiku, ini sangat berat. Banyak hal yang terjadi ketika orang yang diharapkan tak pernah hadir dalam hidup, tak hanya kesepian tapi juga lara. Lara yang aku alami semakin lama semakin menjadi lubang di hati. Aku perlu plaster untuk menambalnya. Diskotik dan minuman membuat lukaku lebih baik." Annessa menceritakan mengenai dirinya kepada Rizky tanpa ragu. Annessa mempercayai Rizky. "Jika aku bisa menjadi plaster laramu, apa kau mau berhenti ke diskotik dan minum?" Tanya Rizky. "Kau tak mempermasalahkan kisahku?" Annessa malah tanya balik. "Jawab dulu pertanyaanku, Ness! Jangan mengalihkannya!" "Aku sudah terjerumus, Riz. Susah keluar dari sana. Diskotik dan minuman setan itu sudah memenjarakan jiwaku." "Aku tak akan memaksamu untuk langsung meninggalkan hobimu itu. Pelan-pelan saja. Aku akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun dalam hidupmu. Aku tak akan meninggalkanmu saat kau kesepian. Aku akan menjadi teman bicaramu, teman curhatmu, atau apapun itu. Asal kau bahagia, asal kau bisa tersenyum, asal kau bisa tertawa, tanpa luka, tanpa lara, tanpa beban. Aku ingin menjadi sosok yang bisa kau handalkan. Sosok yang bisa kau cari saat kau butuh sandaran." Jelas Rizky. Annessa tertegun dan kagum dengan penuturan yang Rizky katakan. Apakah saat ini sosok seorang malaikat kebaikan sedang bersua dengannya? Tak terasa air mata pun mengalir dari kedua pipi mulus nan putih milik Annessa. Ia terharu. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya ada sosok yang menganggapnya sangat berarti. "Apakah aku pantas mendapatkan perhatian darimu, Riz? Kenapa kau baik sekali? Aku ini hanyalah teman yang baru tiga bulan kau kenal. Kenapa kau bisa berkata manis seperti itu? Aku merasa tak pantas menerimanya. Aku ini sudah menjalani hiduo yang jauh dari Tuhan, Riz. Aku ini pendosa." "Aku sedang tak berkata manis, aku hanya ingin menyelamatkanmu, aku hanya ingin kau memiliki pengalaman hidup yang sederhana tapi bahagia jiwa dan ragamu." Annessa memeluk Rizky yang sedang duduk. Ia menenggelamkan wajahnya di leher samping Rizky. Ia kembali menangis. Rizky mengusap-usap rambut Annessa. Temannya ini memang butuh pertolongan. Annessa melepaskan pelukkannya. "Rizky..." "Ya?" "Aku ini jarang sekali menjalai persahabatan, tapi untuk kali ini, maukah kau menjadi sahabatku? Sosok yang lebih berharga dari sekedar teman seorang." Tanya Annessa. Sahabat? Rizky menyukai ide sahabat Annessa. Selama ini ia juga sering menjalin pertemanan, hanya saja tak ada yang sampai sedekat sahabat hingga tak ada lagi rahasia di antara keduanya. Ia merasa akan seru jika dirinya bisa bersahabat dengan Annessa. Ia merasa jika pertemuannya dengan Annessa adalah takdir Tuhan untuk mengisi lembar baru kisah dalam hidupnya. "Aku mau. Aku mau menjadi sahabatmu, Ness." Jawab Rizky. Annessa tersenyum bahagia mendengar jawaban Rizky. “Aku ingin kita mengukir janji.” Kata Annessa. “Janji?” Tanya Rizky. “Ya, janji sahabat.” Jawab Annessa. “Boleh.” Respon Rizky. “Aku, Annessa Angelina Effendhi berjanji dengan Rizky Anggara Eza... untuk selalu bersama dalam suka inginpun duka. Dalam kesedihan dan kebahagiaan. Dalam situasi apapun akan selalu bersama. Akan terus saling melengkapi kekurangan sahabat, karena sahabat akan menjadi sahabat untuk selamanya. Janji?” Kata Adinda sambil menunjukkan jari kelingkingnya. “Janji.” Jawab Rizky sambil menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Annessa. Tabrakan karena terburu-buru itu adalah awal pertemuan mereka dan sekaligus sebagai awal cerita persahabatan yang panjang. Mereka berada dalam satu kelas, sejurusan. Mereka menjalani hari-hari dengan canda dan tawa. Seakan di setiap hari terukir cerita baru tentang persahabatan yang menyenangkan dan bermakna. Apalagi semenjak mereka berdua memilih untuk mengekost, mereka selalu bersama. Kebersamaan yang membuat persahabatan mereka semakin erat. Dimana ada Rizky, di situ pula ada Annessa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD