Annessa sudah mulai kehilangan kesadarannya. Rizkypun membawa Annessa masuk ke dalam mobilnya. Usai memakaikan sabuk pengaman, Rizky langsung tancap gas menuju rumah Annessa.
Namun sayang, Rizky harus beberapa kali mengacak-acak rambutnya karena merasa tidak tahu dimana keberadaan rumah Annessa.
"Annessa, alamat rumahmu dimana?" Tanya Rizky.
Nihil.
Annessa sudah jauh menari-nari di dalam mimpinya.
Rizky menatap sekilas tubuh Annessa yang ada di sampingnya itu. Bukannya merasa bagaimana, tapi ketahuilah, Rizky mengakui jika Annessa itu memiliki tubuh yang sangat indah. Kaki yang mulus dan jenjang.
Merasa tak sopan, Rizky akhirnya memberhentikan mobilnya dan melepas jaket yang ia pakai. Kemudian ia memakaikannya kepada Annessa.
"Aku harus mengantarmu kemana coba? Mana sudah larut seperti ini lagi." Rizky sejanak berpikir. "Ya sudah, daripada aku bingung, lebih baik aku membawanya saja ke kostku." Lanjutnya.
Rizky membawa Annessa ke kostnya.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke kostnya. Lataknya memang tak terlalu jauh dari posisinya tadi saat bertemu Annessa.
Usai mematikan mesin mobilnya, Rizky melepas kaitan sabuk pengaman yang dipakai Annessa. Annessa terbangun, tapi matanya masih terpejam, dan ya, Annessa muntah mengenai baju Rizky.
Siapa bilang ini tidak menjijikkan, percayalah, Rizky saja kesulitan menahan baunya. Namun, ia memiliki sisi manusiawi, akhirnya ia mempobong Annessa masuk ke dalam kostnya.
Tidak perlu diceritakan bagaimana sulitnya membawa gadis mabuk masuk ke dalam kost yang terkunci. Rizky sudah sangat berjuang dengan keras.
Sesampainya di dalam rumah, Rizky menidurkan Annessa di kamarnya. Kamar di kost Rizky hanya ada satu. Mau tak mau, Annessa memang harus ditidurkan di dalam kamarnya. Setelah itu, Rizky pergi mandi untuk membersihkan diri.
***
Rizky ke kamarnya untuk melihat keadaan Annessa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Apa yang harus aku lakukan dengan Annessa? Bajunya basah karena sepertinya ia cukup banyak minum." Gumam Rizky.
"Ahh, panas sekali.." Igau Annessa. Ia mencoba melepaskan pakaiannya.
Rizky mendelik kaget. Dengan gerakkan cepat, Rizky mengambil selimut dan menutupi tubuh Annessa.
Annessa terlihat tak nyaman, minuman beralkohol membuat tubuhnya terasa panas dan semakin panas ketika selimut tebal milik Rizky membungkus tubuh indahnya. Ia menyingkirkan selimut itu dan melepas cardigannya. Menyisakan tanktop ketat dan rok mininya.
Rizky yang baru pertama kali menghadapi pengalaman seperti ini dalam hidupnya tak bisa berbuat banyak. Ia kesulitan menentukan langkah apa yang harus dilakukan dalam situasi ini. Iapun mengambil kipas angin, lalu menyalakan kipas angin itu dengan kemampuan berputar paling cepat. Menghadapkannya ke arah Annessa.
Annessa terlihat nyaman karena angin yang ditimbulkan dari kipas angin itu.
Rizky hanya bisa menghela nafas.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi sih?" Batinnya.
Tak mau berpikir lebih, Rizkypun keluar kamar dan memilih istirahat di ruang tamu kost-annya. Beruntung ada sofa panjang, setidaknya ada tempat untuk berbaring.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Rizkypun memilih untuk tidur.
***
Pagi harinya...
"HUWAAAAA..."
Rizky kaget bukan main ketika tiba-tiba mendengar suara teriakkan. Ya, teriakkan dari Annessa. Dengan masih merasakan kepala yang pusing karena kurang tidur, iapun berjalan menuju ke kamarnya, kamar dimana Annessa sedang tidur.
"A-ada apa? Kau sudah bangun?" Tanya Rizky kaku.
Annessa menoles ke arah Rizky. "Ka-kau?"
"Rizky, kemarin pagi kita bertemu di halaman kampus. Ingat?"
Annessa mencoba mengingat-ingat. "A-ah, kau Rizku yang itu? Anak manajemen?"
Rizky mengangguk. "Ya. Kau sudah baikkan?"
Annessa memeriksa keadaan dirinya. "Apa yang terjadi padaku? Ka-kau ti-tidak macam-macam denganku, kan?" Tanya Annessa curiga.
"Kau mabuk dan aku hanya kebetulan menolongmu."
"..." Annessa memincingkan matanya.
"Aku tidak berbuat m***m terhadapmu! Berhenti memikirkan kisah layaknya novel atau komik one night stand! Kita hidup di dunia nyata! Masih banyak laki-laki yang bisa menjaga imannya!" Kata Rizky yang sedikit kesal karena dicurigai.
Annessa justru tersenyum dan tertawa ngakak.
"Kenapa malah tertawa?" Tanya Rizky heran.
"Ternyata kamu orang yang sangat menarik ya?"
"Hah?"
"Lha iya, tentulah aku percaya padamu. Aku tahu kau ini laki-laki yang polos. Kau masih perjaka, kan?" Goda Annessa.
"Hah?" Rizky merah padam. Bisa-bisanya dikatai perjaka oleh seorang cewek.
Ya meski itu benar adanya, tapi tak perlu seperti itu, kan? Rizky merasa jika itu sangat vulgar.
"Mukamu lucu sekali. Hehe, aduh, aku lapar. Kau punya makanan tidak?" Tanya Annessa.
"Iya ada, mie sama telor. Mau?" Jawab Rizky.
"Hm, boleh deh. Dadipada tidak ada. Lumayan, ganjal perut."
"Aku akan membuatkannya untukmu."
"Eh Riz..."
"Ya?"
"Bo-boleh pinjam baju? Aku ingin membersihkan diri."
"Milih saja di almari itu. Milih yang kiranya tak terlalu kebesaran di badanmu."
"Oke. Thanks ya..."
"Hn."
***
Setengah jam kemudian Annessa keluar dari kamar mandi yang seruangan dengan dapur.
Annessa sedang mengeringkan rambut panjangnya yang indah. Kaos oblong dan celana PE/ olah raga nampak besar di tubuh Annessa. Kulit putih merona itu terlihat semakin cerah karena cahaya pagi. Membuat Rizky tak berkedip untuk beberapa saat.
Annessa menggulung rambutnya dengan handuk mandi milik Rizky itu.
"Terpesona ya?" Annessa kembali menggoda.
"Apaan sih?" Rizky mengalihkan pandangannya. "Sebaiknya segera kau makan mienya, mumpung masih hangat."
Annessa duduk dan menikmati mie buatan Rizky. "Ini enak."
"Semua mie instant rasanya mirip."
"Cih, memuji saja tidak boleh."
"Kurang tepat posisinya."
"Yaelah, dasar cowok ribet!"
"Hei.."
"Haha, bercanda!"
Dan mereka berdua menikmati sarapan pagi mereka.
"Nah Riz..."
"Ya?"
"Kau merangkap tukang taxi ya? Besok-besok kalau aku mabuk lagi, kau yang jemput aku ya? Bawa ke kostmu saja, jangan ke rumahku. Aku bayar double deh." Annessa menatap Rizky.
Rizky tersedak kuah mienya. Iapun segera minum air mineral untuk melegakan tenggorokkannya.
"Aku bukan tukang taxi! Lagian kenapa aku harus berepot-repot menjemputmu sih?" Tolak Rizky.
"Yaelah, walau kau bukan tukang taxi, jemput akulah, masak kau tega aku yang cantik ini diincar p****************g? Kan tidak lucu." Jelas Annessa.
"Narsis."
"Memangnya aku tidak cantik?"
"..."
"Yakin? Loh, masak aku tidak cantik di matamu sih?" Annessa membuat pose cute di depan Rizky.
Rizky mencoba santai. "Lagian, jika kau tak mau diincar p****************g, harusnya kau tak usah ke diskotik dan mabuk!"
"Laah, aku hanya mencari hiburan."
"Hiburan di diskotik? Usia berapa sih kau ini?"
Annessa mencoba menghitung. "18 tahun, lebih 5 bulan. Sudah legal ke diskotik."
"Cih, tiga bulan lebih muda dariku. Hei, clubbing dan alkohol hanya akan merusak dirimu." Kata Rizky.
"Aku tahu. Namun aku memiliki alasan. Lagian aku sudah rusak dari dulu. Sudah tak tertolong." Cengir Annessa. Ia masih bisa tersenyumdengan sangat cantik.
Rizky menyadari satu hal dari senyuman Annessa itu. Ada luka di sana. Ada sendu di sana. Ada sedih di sana.
"Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah. Hei, kaupun tak terkecuali." Kata Rizky.
Annessa kembali tersenyum. "Kau bermulut manis seperti tukang rayu."
"Kau..."
"Haha, bercanda. Btw, jangan hei-hei melulu kenapa sih?" Kata Annessa. "Panggil aku Nessa!"
"Iya deh, Ne-ssa."
"Nah seperti itu donk, Riz. Kuharap kau tak mempermasalahkan berteman dengan cewek sepertiku."
"Aku tak membeda-bedakan soal pertemanan."
"Dasar holang baik!"
"Ada yang salah dengan menjadi baik?"
"Tidaklah."
Hahahaha.
"Kau orang yang menarik, Riz. Senang berteman denganmu."
"Hn. Aku juga.