Pertemuan Yang Ditakdirkan

1092 Words
Cerita ini mengarah ke pemain utama, yaitu antara Rizky dan Annessa. Dimana mereka berdua menginjak usia 18 tahun. Kuliah di Uneversitas X, semester 1. Rizky, Annessa, dan Fickry tumbuh menjadi remaja yang sempurna. Tidak cacat secara fisik maupun mental. Dengan anugerah wajah nan rupawan tentunya. Bukankah Tuhan itu sangat menyayangi mereka? “Pagi Bund, Pa.”Sapa Rizky dan Fickry. “Pagi juga sayang. Ayo duduk, Bunda masak makanan kesukaan kalian.” Kata Bunda Rizky, Adinda. Fickry duduk di samping Bundanya, Adinda. Sementara Rizky terlihat terburu-buru dan hanya mengambil sandwich saja hal ini membuat papanya, Eza merasa heran. “Loh Riz, kok cuma makan sandwich saja? Makan dulu gih, bundamu kan sudah capek-capek masak buat dirimu. Masak tidak ingin makan?” Tanya Papa Rizky, Eza. “Iya nih, makan dulu donk Sayang. Bunda tidak ingin kau sakit. Ayo makan dulu!” Pinta Bunda Rizky. “Bukannya seperti itu Pa, Bund. aku sudah telat, ini kan hari pertama masuk kuliah. Bund, Pa, Fick, aku brangkat dulu ya. Bye bye.” Kata Rizky mencium tangan dan kening Bunda dan ayahnya. “Bye bye.” “Astaga, dari dulu pasti telat kalau pertama masuk.” Kata Papa Rizky. “Hati-hati di jalan! Tidak usah ngebut-ngebut!” pesan Bunda Rizky. “Oke Bund.” Kata Rizky yang langsung keluar rumah untuk mengambil mobil dan berangkat ke kampus. “Ntar jangan lupa makan nasi ya.”Teriak Bunda Rizky. “Iya Bund, beres.” Jawab Rizky. Rizky menyalahkan mobil dan berangkat ke kampus dengan terburu-buru. Jarak kampus dan rumahnya yang cukup jauh sekitar sejaman. Hal ini membuatnya gelisah di perjalanan. Apa lagi hari ini adalah kuliah perdananya. Maka dari itu, rencana habis kuliah perdana, ia akan mencari kos-kosan. Baginya, kehidupan jauh dari orang tua adalah cara untuknya menjadi mandiri. Terlambat hari perdana masuk kuliah rupanya tidak hanya dialami Rizky saja, Annessa juga mengalaminya. Seperti biasanya, Annessa duduk di meja makan menunggu Papanya, Effendhi yang setiap pagi selalu sibuk akan hidupnya. Sibuk dalam urusan pekerjaannya. Terkadang membuat Annessa kesal, tapi inilah cara Effendhi membahagiakan Annessa. Putri semata wayang yang sangat Effendhi sayangi. Putri tercinta yang membuatnya bertahan hidup dari masalalu yang menyakitkan. Annessa adalah semangat hidup Effendhi. Annessalah sang nafas yang berhembus dalam hidupnya yang kesekian kali tersakiti. “Pagi Sayang. Papa berangkat dulu ya. Papa sudah telat nih. Muaachhh.” Kata Papa Annessa, Effendhi sambil mencium kening Annessa dan pergi meninggalkannya. “Pagi Sayang? Papa berangkat dulu? Papa sudah telat nih... Tiap hari yang diucapin begitu melulu. Apa tidak ada kata-kata lain? Huft. Sebel.” Gumam Annessa menggerutu. Annessa jarang sekali mendapatkan kasih sayang dari Papanya. Papanya selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Ingin sekali Annessa dekat dan bercanda dengan Papanya, tapi ia tak pernah bisa. Semenjak Annessa beranjak menjadi remaja, Papanya semakin sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Bagi Effendhi dengan bekerja dan memberikan apa yang Annessa ingin adalah cara terbaik untuk membuat Annessa bahagia. Tetapi tidak untuk Annessa, ia akan merasa bahagia apabila Papanya memberikannya kasih sayang seperti dulu waktu ia masih kecil. Bukan dengan harta ataupun uang. “Ya ampun, aku telat.” Kata Annessa melihat ke arah jam tangannya. Tanpa berlama-lama Annessa pun langsung berangkat ke kampus. Ia juga gelisah karena hari perdana kuliah terlambat. Sesampainya di kampus, ia tetap berlari agar ia tak terlambat masuk ke kelas. Di sisi lain Rizky juga berlari. Tiba-tiba secara tidak sengaja mereka berdua saling bertabrakan. “Aduh, maaf, maaf ya aku tidak sengaja.” Kata Rizky Mencoba membangunkan Annessa. “Iya tidak apa-apa. Aku juga salah, aku buru-buru jalannya, jadi tidak sempat meluhatmu. Maaf ya.” Kata Annessa menoleh memandang mata Rizky. Terpana pada pandangan pertama. Rasa aneh mulai muncul, sekian banyak wanita yang pernah dilihat Rizky, baru ini terasa berbeda. “Aku Rizky.” Secara sepontan ia memperkenalkan dirinya pada Annessa. “Aku Annessa, panggil saja Nessa.” Kata Annessa gugup. "Manajemen, kelas bahasa Inggris." Kata Rizy. "Wah, sama, aku juga ambil jurusan manajemen dan akan mengikuti kelas itu. Apa kita tidak berpas-an saat ospek kemarin? Aku tak pernah melihatmu." Kata Annessa. "Aku tidak mencolok." Cengir Rizky. "Yaelah, sama saja kali. Eh, ayo ke kelas!" Ajak Annessa akhirnya. Itu adalah kali pertama dua insan manusia ini bertemu. Memiliki ikatan takdir benang merah dari masa lalu keluarga mereka. *** Time skip. Rizky sudah mendapatkan kost baru. Tadi sebelum berangkat ke kampus, ia sudah membawa beberapa pakaian miliknya. Sedari awal ia memang berniat untuk mengekost karena jarak rumah dengan kampusnya yang cukup jauh. Lelah jika ia harus bolak-balik membawa mobil. "Barang-barang sudah tertata. Kamar kost sudah dipel. Sprei baru dari pemilik kost juga sudah terpasang rapi. Sisa keperluan kuliah akan diantar oleh papa esok hari. Hmm, apa yang kurang ya?" Gumam Rizky. Kost-kostan milik Rizky lebih mirip ke kontrakkan rumah kecil. Cukup sederhana, tapu nyaman untuk ditinggali. Karena berwujud kontrakan rumah, otomatis Rizky akan tinggal sendirian di kostnya itu. "Ah, ini sudah malam. Waktunya cari makan sekalian keliling kota ini untuk menghafal jalannya." Rizky mengambil kunci mobilnya dan pergi mencari makanan. Ya, karena orang baru di kota X, maka makanpun sendiri dilanjutkan keliling kota juga sendiri. Sedih? Rizky cukup pandai menikmati waktu kesendiriannya. Ya, ia sendiri adalah tipikal cowok yang tak mudah jatuh cinta. Meski sudah 18 tahun, nyatanya ia belum memiliki riwayat pernah menjalin hubungan asmara. "Aku kalah sama adikku si Fickry, dia sudah punya mantan kekasih, aku masih jomblo. Sialan bocah itu suka ngatain jomblo lumutan. Padahal dia tidak tahu jika hidupku bisa bahagia meski tanpa kekasih... Tunggu, Annessa sejurusan denganku, kan? Otomatis aku akan kembali satu kelas dengannya. Tadi aku lupa tidak meminta nomor ponselnya. Namun, apa tak masalah jika aku tiba-tiba minta nomor ponsel? Apa ini akan sopan?" Rizky menggelengkan kepala. "Aku terlalu terburu-buru, sabarlah wahai diriku, kau masih memiliki waktu untuk ngobrol dengannya lagi!" Rizky berhenti di pinggir jalan kota. Ia menikmati lampu kota malam yang indah. Ia keluar dari dalam mobilnya dan bersandar pada body depan mobilnya itu. Ia membuka minuman bersoda miliknya. Meneguknya pelan seraya menatap lalu lintas yang mulai lenggang. Ya, sudah jam setengah satu malam. "Eh Mas, tukang taxi ya? Antarin pulang ke rumah dong. Hik.." Seorang cewek mabuk mendekati Rizky. Tukang taxi? "Saya bu-bukan tukang taxi, mbak." Kata Rizky. Sebelum menjawab, cewek mabuk itu sudah ambruk di pelukkan Rizky. Rizky menjauhkan hidungnya. Bau menyengat alkohol membuatnya tak nyaman. Cukup risih juga karena ini pertama kalinya ia melakukan skinsip dengan seorang cewek. Apalagi dengan pakaian si cewek yang cukup sexy. Rok di atas lutut, tanktop ketat dan hanya dilapisi cardigan. "Mbak?" Panggil Rizky. Ia mencoba membangunkan cewek yang kini ada di dalam pelukannya itu. Rizky sedikit menjauhkan tubuh cewek mabuk itu dengan menyandarkannya ke body mobilnya. Betapa kagetnya ia ketika melihat wajah ayu milik cewek di hadapannya ini. "Annessa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD