Masa Lalu 5

1125 Words
Eza sangat paham, ia pun juga sangat sadar kalau Adinda tak akan pernah bisa mencintainya. Walaupun ia sangat mencintai Adinda dan kini telah memiliki raganya, tapi cinta Adinda bukannlah untuknya. Cinta yang suci Adinda hanyalah untuk Effendhi, hanyalah milik Effendhi. Ia tak akan pernah bisa memaksa Adinda untuk mencintainya. Ia tak akan bisa menggantikan posisi Effendi di dalam hati Adinda. Ia bisa memiliki raga Adinda, tapi tidak untuk memiliki cinta Adinda. Meski terkadang lara, tetapi ada kalanya terselip sebuah cita. "Tuhan, aku ini sahabat yang begitu jahat. Pecundang ini hanya bisa menghianati sahabatnya sendiri. Meski ini keterlaluan, adakah maaf untukku darinya?" Batin Eza. Malam-malam seperti itu selalu terjadi setiap hari. Tidur terpisah. Adinda di ranjang dan Eza menggelar selimut, tikar, ataupun kasur lantai. Meskipun terkadang terasa hampa, tetapi mereka berdua mencoba untuk melaluinya. Hari-hari kian berlalu, mencoba tetap untuk menjalaninya. Berusaha yang terbaik untuk melaluinya. Mencoba bersikap bahagia di mata orang lain. Mencoba tersenyum untuk menjawab pertanyaan apakah pernikahan seperti itu membuat bahagia. Walau sesungguhnya ini semua tak seperti kenyataan yang ada. Sebuah pernikahan yang terjadi bagai sebuah sandiwara yang tak sebahagia orang yang melihatnya. *** Waktu terus berputar. Perasaan cinta yang tak pernah ada akan tumbuh apabila saling bersama. Seperti pepatah jawa kuno yang bilang bahwa “Witing tresno jalaran seko kulino.“ Pepatah jawa kuno itu memang benar. Mungkin itulah yang mulai Adinda rasakan. Ia tak pernah berhenti berusaha untuk mencoba menanam benih-benih cinta untuk suaminya,Eza. Tetapi tetap saja itu terlalu sulit baginya. Meski masih terbayang-bayang akan Effendhi, Kini, usahanya tak sia-sia, benih-benih cinta yang ia tanam mulai tumbuh. Meski sesungguhnya, Adinda tidak tahu seberapa mampu ia bisa mencintai Eza. Ia tidak tahu apakah benih cintanya untuk Eza ini seutuhnya untuk Eza. Sampai kapankah benih cinta yang ia tanam ini tumbuh dan berkembang? Akankah ia akan sampai bisa memetik buah dari benih cinta yang ia tanam? Berusaha memupuk dan terus memupuk benih cinta yang itumbuh itu dengan segenap kasih sayang dan kesetian. Terus memupuk agar mampu memetik hasilnya. Dengan segenap cinta yang Adinda miliki, Ia memberikan segalanya untuk Eza. Ia sangat ingin membuat bahagia suaminya, Eza. Ia tidak ingin keputusan yang menjadi pilihannya itu menjadi sia-sia. Ia tidak ingin Ayahnya kecewa melihatnya. Segenap cinta itu telah membuatnya memberikan seorang putra yang sangat tampan untuk Eza. Eza sangat bahagiaakan hal itu. Kebahagiaannya tak terkira. Kebahagiaan bagaikan hal terindah yang pernah Eza rasakan. Eza pun menamai putranya dengan nama Rizky Anggara Eza. Putra pertama yang membuatnya bangga. *** Di sisih lain, Effendhi juga telah menikah dengan wanita lain tak lama selang Adinda dan Eza menikah, dan ia juga sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Seorang putri yang lahir tak jauh beda dengan Rizky, anak Eza dengan Adinda. Seorang putri yang Effendhi beri nama Annessa Angelina Effendhi. Namun sayang, sungguh malang nasib putri mungil nan cantik itu, Annessa tak bisa merasakan belaian kasih sayang dari seorang ibu, karena ibunya meninggal saat melahirkannya. Meski terasa berat, tapi Effendhi tetap mengasuh Annessa dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu bagi Annessa. Annessa adalah harta terindah dalam hidupnya, harta yang sejenak mampu membantu melupakan bayang Adinda yang sampai saat ini masih tetap tidak bisa ia lupakan. Bahkan sangat sulit untuk dilupakan. Namun juga sangat pahit untuk dikenang. Duri tajam yang sangat sulit tercabut dari hatinya. *** Selang dua tahun, Adinda melahirkan seorang bayi cowok dan menjadi adik Rizky. Namanya Fickry Wijaya Eza. Hal ini menambah kebahagiaan di hati Eza dan Adinda. Dua buah hati yang indah sebagai anugerah dari Tuhan. Hanya syukur yang mampu terucap di bibir penuh keikhlasan. “Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah memberikan hamba dua karunia putra yang tampan. Hamba sangat bahagia. Hilangkan semua rasa ketakutan hamba ini, ya Tuhan. Hamba ini tidak tahu bagaimana hamba bisa melewatinya. Bimbinglah hamba! Tuntunlah hamba! Karena hanya kepada-Mu hamba yang hina ini memohon dan berlindung.” Panjat do’a Adinda. Ada ketakutan di sana. Ada rasa gelisah yang menyelimuti hati dan pikirannya. Semakin hari semakin besar dan bertambah besar. Membuatnya khawatir tanpa ujung. Tanpa tepi. Ketika ia menatap Eza, semua rasa itu tergambar jelas. Terlukiskan, terpahatkan permanen di benak pikirannya. Serasa tak berdaya, tapi lagi, ia terus saja bertahan. Demi pernikahannya dengan Eza, demi kedua buah hatinya, Rizky dan Fickry. "Dosaku di masa lalu tidaklah sederhana. Aku menyakiti orang yang sangat aku cintai. Kini dengan tanpa rasa malu, aku menikmati segala kebahagiaan ini dengan Eza. Laki-laki yang harus terseret dalam hubungan yang seharusnya tidak pantas ia jalani. Bagiku, Eza pantas memiliki wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku ini hanyalah wanita yang memanfaatkan orang-orang yang menyayangiku. Aku takut akan adanya karma buruk di masa depan. Maafkan aku, Eza! Maafkan aku juga Effendhi." *** "Aku menikahi wanita yang diam-diam aku cintai. Aku tak pernah membocorkan rahasiaku ini padanya meski saat ini aku dan Dinda sama-sama mengakui perasaan saling suka kami. Kami bahkan sudah memiliki dua putra yang tampan. Ya, sebaiknya memang aku tak harus mengatakan kebenaran ini padanya. Bukan apa. Aku hanya tak ingin membuatnya tak nyaman. Aku sudah sangat berusaha keras untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan berhasil, meski butuh waktu... Mengenai soal hubungan ranjang, ah itu, kami bahkan bisa melakukannya tanpa cinta. Tidak, maksudku dia bisa melakukannya tanpa ada rasa cinta. Dia sudah menepati janjinya pada ayahnya. Lebih dari sekedar cukup. Dia sudah berusaha sangat keras... Sampai saat ini, semua berjalan dengan lancar. Tidak ada gangguan berarti dalam kehidupan pernikahan kami. Dinda bisa tersenyum. Meski kadang aku merasa jika rasa tertekan itu masih ada, tapi aku sedang berusaha menyembuhkannya... Soal Effendhi, hmm, ya, setelah dia pergi meninggalkan pernikahanku dengan Dinda, dia tak pernah terlihat lagi. Dia beda jurusan dengan aku dan Dinda. Ketika usai menikah, aku dan Dinda sudah mencarinya, tapi tidak pernah bertemu. Yang kami tahu, dia lulus dari kampus dan pergi entah kemana. Aku harap, dia menjalani hidupnya dengan baik. Aku harap, dimanapun dirinya berada, maaf untuk kami itu ada." *** "Aku bukanlah orang yang mudah memaafkan penghianatan. Masa bodoh jika aku dicap sebagai orang yang terlalu berlebihan. Inilah aku. Aku manusia biasa yang memiliki sisi ego yang tinggi. Penghiantan besar itu tidak akan pernah aku lupakan. Sudah berlalu, tapi masih saja membekas diingatan. Aku tak sebahagia seperti kehidupan dua penghianat itu... Aku menemukan cinta lamaku, aku menikahinya, dan mencoba hidup bahagia dengannya. Namun Tuhan seolah kembali mengujiku dimana aku harus kehilangan istriku... Tidakkah ini keterlaluan? Hei, aku belum seutuhnya bahagia. Kenapa kebahagiaan itu sulit mendekat dalam hidupku? Semua hilang dalam waktu sekejab dan berdekatan. Kebahagiaan dalam hidupku seperti ilusi semu... Ya, aku selalu mendoakan yang terburuk untuk mereka para penghianat. Aku tidak rela mereka bahagia di atas penderitaanku. Maafkan aku Tuhan, aku yang tak bisa memenuhi ekspektasi sebagai insan manusia yang suci. Aku harap Engkau mengerti, aku harap ada karma atas semua derita yang mereka berikan untukku." MASA LALU END
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD