Masa Lalu 4

1128 Words
“Apa kau akan pergi meninggalkan pernikahan kita?” Tanya Eza. Adinda menatap wajah Eza dan hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Eza. “Din, jangan kau dengarkan kata-katanya! Ikutlah denganku! Kita bina ulang hubungan kita! Kau masih mencintaiku, kan?” Kata Effendhi. “Jangan tinggalkan pernikahan kita!” Kata Eza. “Tidak, Dinda akan ikut denganku!”Kata Effendhi. Adinda menjadi rebutan antara Eza dengan Effendhi. Kedua tangannya terasa sakit karena ditarik Eza dan Effendhi. Merasa kesal, Iapun langsung menghempaskan kedua tangannya. “Sudah cukup! Hentikan! Aku bukan mainan yang dapat kalian perebutkan.” Bentak Adinda. “Oke-oke. Sekarang kau pilih aku orang yang sangat kau cintai atau Eza si pecundang?" Tanya Effendhi menahan emosi. “Maaf Fen, aku memilih si pecundang, Eza. Aku mohon kau pergi dari sini! Aku akan menikah, kau sudah merusak acara pernikahanku.” Jawab Adinda mendekatkan diri ke Eza. “Sudah jelaskan, Fen? Dinda memilih aku bukan memilihmu. Kau sudah menggangu acara pernikahan kami. Jadi, silahkan meninggalkan tempat ini!” Kata Eza yang sesungguhnya tak tega melakukan semua ini. Bagaimanapun ia sudah melakukan penghianatan kepada sahabat terbaiknya. “Persetan kau, Za. Dasar pecundang. Kau sahabat terburuk dalam hidupku.” Kata Effendhi meluapkan emosi dengan bersiap memukul Eza. Sebelum Effendhi memukul Eza, para Satpam sudah menghentikannya. “Satpam, Usir dia si pengganggu!” Perintah Adinda. “Kalian tidak perlu usir aku, aku akan pergi sendiri. Tapi ingat, kalian PENGHIANAT! CAMKAN itu!” Kata Effendhi sebelum meninggalkan rumah Adinda. Mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Effendhi yang terasa sangat menyakitkan itu membuat hati Adinda dan Eza menjadi terluka. Jujur dari dalam hati, mereka berdua sesungguhnya tidak menginginkan semua ini terjadi. Mereka berdua tidak ingin melihat Effendhi bersedih, apalagi terluka seperti ini. Ingin rasanya berkata tentang apa yang terjadi sesungguhnya, tapi apa boleh buat, ini sungguh sangat berat. Kini, semua sudah terlambat. Effendhi sudah terlanjur membenci Adinda dan Eza. Persahabatan yang terjalin begitu eratnya telah sirna oleh semua kebencian yang ada. Sebuah bara api kebencian yang tak akan pernah bisa padam di hati dan benak Effendhi. Sampai kapanpun Effendhi tak akan pernah bisa melupakan penghianat yang Adinda dan Eza lakukan. *** Setelah Effendhi meninggalkan rumah Adinda, Ayah Eza mencoba menenangkan suasana yang sempat memanas itu. Adinda berlari menuju kamar pengantinnya. Sementara itu, Eza yang menyesal atas perlakuannya kepada Effendhi berjalan lemas untuk menemui Adinda yang sedang menangis di kamar. Eza sangat tahu apa yang sedang Adinda rasakan, meskipun tadi hanyalah seakan sebuah sandiwara, tapi itu sangat menyakitkan untuknya menyakiti orang yang ia dan Adinda disayangi. Sejujurnya ia tak mampu melukai hati Effendhi, tapi ia pun tak kuasa melepaskan diri dari permintaan Ayah Adinda yang terakhir sebelum Ayah Adinda meninggal dunia. Permintaan yang sungguh sangat memberatkannya. Permintaan yang seakan-akan membuatnya menjadi seorang penghianat. Permintaan yang sangat tidak adil untuk Effendhi. Memilih taat pada orang tua ataukah persahabatan? Itu dua pilihan yang sangat berat untuk dipilih salah satunya. Berkata mungkin adalah suatu hal yang sangat mudah. Seperti ringannya membalikkan sebuah tangan. Tetapi untuk menjalani sangatlah sulit. Butuh pengorbanan, waktu, dan rasa sakit yang menyertainya. Haruskah ia menolak permintaan orang tua demi sebuah persahabatan? Haruskah seorang sahabat tetap bahagia di atas permintaan orang tua yang terakhir? Ataukah melukai sahabat demi bentuk kebaktian pada orang tua? Bagaimana cara memilih salah satu dari kedua pilihan itu yang dianggap tepat? Bagaimana cara untuk menjalani pilihan yang telah dipilih setelah itu? Memilih dan tidak memilih kedua pilihan itu, sama-sama memberatkan. Salah satu dari kedua pilihan itu sama-sama akan membuat hati terluka. “Din, jangan menangis!” Kata Eza memegang bahu Adinda. “Maafkan aku, Za. Persahabatanmu hancur gara-gara aku dan keinginan ayahku.” Kata Adinda tersedu-sedu. “Sudah, kurasa ini adalah jalan hidup yang harus aku lalui. Ini memang sangat berat. Jangan menangis lagi ya." Eza mengusap air mata Adinda. "Nah kan, jadi hilang cantiknya.” Kata Eza mencoba menghibur. Adinda tersenyum memandang ke arah Eza dan memeluknya. “Ayo, Din, kita sudah ditunggu!” Ajak Eza. Setelah suasana menjadi tenang, Adinda dan Eza pun melangkah ke pelaminan. Bagai boneka tali tanpa tangan yang menjadi penglagiraknya. Bagai hati yang memaksakan diri untuk menjalani keinginan yang tak sehati. Pernikahan Adinda dan Eza pun berlangsung dengan lancar meskipun sempat ada gangguan karena Effendhi yang tidak terima mereka berdua menikah, pernikahan dua insan yang tak saling mencintai itu tetap terlaksana dengan khidmad dan sakral. *** Malam harinya. “Din, aku tau kau tak pernah menginginkan pernikahan ini. Maafkan aku, aku tlah merebutmu dari Effendhi.’’ Kata Eza. “Maafkan aku juga Za. Hanya karena aku dan permintaan Ayahku, persahabatanmu dengan Effendhi menjadi hancur. Kau kehilangan sahabat terbaikmu.” Kata Adinda menatap sendu mata Eza. “Din, kita harus selalu menatap ke depan! Aku tahu Effendhi sangat kecewa dengan apa yang telah kita lakukan padanya. Aku pun juga tau kita menikah tanpa dasar cinta, jadi apabila kau minta cerai dari aku, tentu aku akan menurutimu asal kau bahagia.” Kata Eza. “Jangan pernah kau mengatakan itu lagi, Za! Aku akan mencoba menjalaninya. Bagiku pernikahan ini adalah suatu hal yang sangat sakral. Bukan untuk main-main. Walau aku selalu terbayang-bayang akan cinta Effendhi, tapi aku telah menikah denganmu. Jadi aku adalah milikmu, akulah istrimu.” Kata Adinda. Ia ingin menerima pernikahan ini dengan segenap jiwa dan raganya. “Terima kasih, Din. Mari kita mencoba merangkai cerita untuk lembaran hidup yang baru!” Kata Eza. Eza memeluk Adinda. Keterharuan menyelimuti mereka berdua. “Andai kau tau Din. Kaulah alasan mengapa aku tak ingin mencari tambatan hati. Kau alasan untukku bertahan dalam kesendirian. Tahukah kau, Akulah orang yang tak pernah berhenti mencintaimu. Kini ku miliki dirimu, tapi tak akan pernah bisa aku memiliki cintamu.” Kata Eza dalam hati. “Aku akan berusaha mencintaimu, Za. Membuka hatiku untukmu, untuk orang yang telah menjadi pendampingku.” Kata Adinda. “Aku akan terus berusaha membuka hati untukmu. Aku akan mencoba melupakan Effendhi untukmu.” Lanjutnya. “Terima kasih Din atas niatmu itu. Tapi aku tidak akan memaksa kau untuk mencintaiku seutuhnya. Aku tahu, cinta utuhmu itu hanyalah untuk Effendhi.” Kata Eza. “Za...” Terharu. Adinda yang tak menyangka akan kata-kata Eza yang meringankan perasaan hatinya. “Ini sudah malam, kau terlihat sangat capek. Kau istirahat ya.” Kata Eza. Adinda menganggukkan kepalanya dan membaringkan itubuhnya ke tempat tidur. Ia sangat heran saat melihat Eza mengambil selimut dan bantal dari tempat tidurnya. Eza menggelar selimut itu di lantai di samping tempat tidur Adinda. Eza membaringkan itubuhnya di atas selimut yang ia gelar itu. “Za, apa yang kau lakukan! Kau ingin tidur di bawah?” Tanya Adinda heran. ‘‘Aku ingin tidur, Din. Di bawah lebih enak, adem. selamat tidur ya.” Jawab Eza memulai tidurnya. “Maafkan aku, Za. Harusnya ini menjadi malam pertama yang indah untuk kita.” Kata Adinda dalam hati sambil memandangi Eza yang tertidur. “Meski kau adalah istri sahku, aku tetap tidak akan pernah bisa memilikimu seutuhnya. Aku bingung tentang perasaanku hari ini. Aku sedih karena menghianati sahabatku sendiri? Atau aku harusnya bahagia karena orang yang selama ini aku cintai menjadi milikku? Maafkan aku, Fend. Aku ini memang sangat egois.” Batin Eza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD