BAB 2 - DASAR OM m***m!

1616 Words
Dengan spontan Salsa mendorong d**a Aldo, membuat rengkuhan tangan pria itu terlepas dari pinggangnya. Matanya menatap Aldo dengan tajam. "Dasar om-om m***m!" Dengan sedikit terburu, Salsa beranjak meninggalkan Aldo, dan memilih untuk menghampiri mamanya yang kini tengah mengobrol asik dengan ibu mertuanya. Seperti ibu-ibu pada umurnya, jika sudah kenal dan akrab maka tidak akan cukup waktu sehari untuk berbicara. Menghembuskan napasnya kesal, Salsa sungguh tidak menyangka jika ternyata di balik sifat dingin Aldo, pria itu hanyalah seorang Om m***m! Bagaimana tidak? Jika saja tadi Aldo membisikkan sebuah kata ‘aku’ di telinganya, namun kemudian, bukannya melanjutkan kalimatnya Aldo justru menggigit kecil dan m******t daun telinganya! Baru kali ini Salsa mendapatkan pelecehan seperti itu. Tapi, tunggu, apa itu termasuk pelecehan? Karena Aldo adalah suaminya sekarang. "Mama," panggil Salsa yang sukses membuat Santi menolehkan wajahnya, menatap ke arah Salsa yang tengah merengut. Dan Santi sangat paham, jika Salsa telah menunjukkan ekspresi seperti itu, pasti sebentar lagi mengajukan sebuah hal yang tidak menginginkan penolakan. "Iya sayang?" jawab Santi lembut, tangannya memegang bahu t*******g Salsa dan kemudian mengusapnya pelan. "Kamu kenapa? Kok cemberut gitu, hem?" lanjutnya bertanya. Dan dari arah belakang, dapat Santi lihat jika kini sang menantu tengah berjalan dengan tegap ke arah mereka. senyum di wajah Santi semakin melebar. Walaupun memiliki wajah yang terkesan dingin dan cuek, tapi Santi yakin jika Aldo dapat menjaga Salsa. "Aldo, sini nak" Napas Salsa sedikit tercekat, wajahnya semakin tidak enak untuk dipandang. Dan bahkan kini, alisnya hampir bertaut. Mau apa sih pria itu? Nyebelin banget! Ngapain coba ngikutin gue? Rutuk dalam hati. "Iya Tan-" "Eh, kok masih manggil tante sih? Mama dong!" sentak Santi pada Aldo yang masih saja memanggilnya tante. Mereka sudah menjadi keluarga, dan Aldo adalah menantunya, itu berarti Aldo juga anaknya, maka ia juga harus memanggil Santi dengan sebutan mama. “Iya, Ma,” Salsa mendengus mendengar hal tersebut, dasar cari muka! Om s****n! "Ma, Salsa ngantuk!" Santi menatap Salsa penuh, memang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan memang sudah waktunya Salsa untuk tidur. Tapi, Santi juga tahu bagaimana kebiasaan Salsa, gadis itu akan tidur di atas jam dua belas malam padahal ia telah menyuruhnya tidur lebih awal. "Tapi, kan pestanya belum selesai sayang?" "Tapi Salsa ngantuk. Dan besok tuh Salsa harus sekolah!" kilahnya, Sesujurnya Salsa belum terlalu mengantuk, tetapi ia ingin menjauhi Aldo, Salsa benci jika harus berdekatan dengan pria itu. Pria datar, m***m dan menyebalkan! "Libur dulu, kan bisa, biar mama yang ijinin ya?" bujuk Santi, namun dengan tegas Salsa menggelang. "Enggak mau ah, ntar kalau Salsa ketinggalan pelajaran gimana?" Santi menghela napsnya pasrah, kalau sudah seperti ini, ia tidak bisa menolak keinginan putri semata wayangnya itu. Karena mau dipaksa seperti apapun, Salsa tetap akan keukeuh dengan pendiriannya. "Ya udah, kamu ke kamar hotel aja dulu ya, biar mama sama papa yang handel pestanya." Bibir Salsa tersenyum lebar, akhirnya rencananya untuk berjauhan dengan Aldo berhasil juga. "Nah, gitu dong dari tadi, kan Salsa udah ngantuk banget!" Dengan langkah lebar, dan sedikit mencincing gaun pernikahannya, Salsa meninggalkan ruangan tersebut dan melangkah menuju sebuah kamar suite room yang sudah di reservasi atas namanya. Salsa ingin cepat-cepat menghempaskah tubuhnya ke kasur dan berselancar di pulau kapuk itu. Bersama fantasi terliarnya yang tidur dengan di temani Taehyung, ahh prince charming dunia halunya. Bahkan, baru membayangkannya saja pun Salsa sudah tidak sabar. "Ngapain senyum-senyum gitu?" Tubuh Salsa tersentek, dan memaksa ingatanya untuk kembali ke alam nyata. Ia sudah sampai di dalam kamar. Dan tanpa Salsa sadari jika sedari tadi Aldo mengikuti langkahnya dari belakang. Terus memperhatikannya yang menampakkan senyuman lebar sepanjang perjalanan di lorong menuju kamarnya. "Ngapain lo di sini?!" tunjuk Salsa pada Aldo yang kini tengah berada di depannya, menatapnya datar seperti biasa. "Tutup tuh mulutnya," ucap Aldo tanpa menjawab pertanyaan yang Salsa berikan. Dan dengan langkah pelan, Aldo berjalan menuju ranjang berukuran king size dengan taburan bunga mawar merah, yang sangat kontras dengan seprai berwarna putih. Aldo menghela napasnya pelan, ini pasti ulah ibu dan juga mama mertuanya. Mereka pasti yang memiliki ide untuk melakukan hal tersebut. Memang apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Salsa bahkan masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Dada Salsa semakin bergemuruh ketika menyaksikan Aldo yang justru duduk di atas ranjang dan bukannya pergi. "Kok malah duduk sih? Ini kan kamar gue! Pergi sana!" bentak Salsa seraya menunjuk Aldo dan arah pintu bergantian. Salsa tidak mau jika harus satu kamar bersama Aldo, Om datar, dingin dan m***m! Aldo itu p*****l berbahaya! "Kita," Dahi Salsa mengerut, "Apa?" "Kamar kita," Mulut Salsa terbuka, kepalanya menggeleng cepat, pertanda ia tidak menyukai usulan barusan. "Nggak nggak! Ini tuh kamar gue, jadi lebih baik lo pergi sana! Dan ngapain sih lo masih di sini?!" Bukannya menjawab, Aldo justru dengan cekatan melepas jas dan juga kemeja yang ia gunakan dengan telaten. Tubuhnya terasa lengket, namun ia terlalu lelah untuk sekedar beranjak dan mandi. Apalagi berdebat dengan istri kecilnya. "Kok elo malah tidur sih?! Bangun dong!" Salsa semakin murka ketika melihat Aldo yang justru membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Pria itu benar-benar menyebalkan. Bahkan tadi Salsa hampir saja memekik ketika melihat Aldo melepas pakaiannya satu persatu, jika saja pria itu tidak memakai kaos dalam berwarna putih dibalik kemeja yang ia kenakan. Salsa menghembuskan napasnya kasar! Kenapa ia harus menikah dengan Aldo? Kenapa ia tidak menikah dengan prince charming nya saja, Taehyung? Atau paling tidak, Salsa bisa menikah dengan do’i, ah, memikirkannya saja sudah dapat membuat Salsa tersenyum sendiri. Salsa jadi tidak sabar menunggu malam berganti pagi, Salsa tidak sabar untuk bertemu dengan do’inya. "Aneh." Suara datar tersebut sukses membuat Salsa kembali ke dunia nyata. Senyuman yang tadinya mengembang di bibirnya kini luntur tanpa bersisa, matanya menatap tajam ke arah objek yang menjadi sumber suara. "Elo jadi cowok kok nyebelin sih?!" bentak Salsa dengan cukup keras. Dan bukan Aldo namanya jika tidak mengacuhkan hal tersebut. Menit berlalu, dan Salsa lelah menunggu jawaban dari Aldo, pria itu memilih untuk menyamankan posisi berbaringnya. Dengan langkah serampangan kaki Salsa melangkah menuju sisi ranjang di mana tempat Aldo berbaring, pria itu nampak tengan dengan napas yang teratur. Masa sih udah tidur? Nggak mungkin ah! Masa secepet itu? Pikiran Salsa berkecamuk, matanya terus menatap Aldo dengan tajam. "Om!" panggil Salsa cukup keras, namun lagi-lagi Salsa diabaikan begitu saja. Dan dengan tidak sabar, Salsa mengambil sebelah tangan Aldo yang terasa begitu keras di genggamannya, lalu berusaha keras untuk menariknya dari sana. Salsa tidak akan membiarkan Aldo tidur di sini! "Bangun dong Om! Ini, kan kasur Salsa!" ucapannya seraya terus menarik, namun, "Kyaaaaa!" Salsa terpekik, menjerit dengan spontan. Karena, tanpa ia sadari, Aldo justru menarik tangannya, hingga membuatnya terhuyung dan jatuh menimpa Aldo, tepat di atas pria itu. Salsa mencoba bangkit dari sana, namun Aldo justru melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang ramping Salsa, sehingga membuat gadis itu susah bergerak. "Om! Lepasin Salsa dong! Atau Salsa bakalan teriak, biar mama sapa papa denger!" Salsa terus bergerak, menggeliat di atas tubuh Aldo, berusaha untuk melepaskan diri. "Om-" "Shut up," ucap Aldo datar yang sukses membuatnya berhentik berbicara serta memberontak. Namun, tiga detik kemudian ia kembali tersadar, menatap Aldo dengan begitu tajam. Dengan menumpukan kedua tangannya di atas d**a Aldo, Salsa mencoba untuk menarik dirinya menjauh. Hingga kemudian, Aldo membalikkan tubuhnya, membawanya berguling di atas kasur. Dan sekarang posisinya adalah Aldo yang menindih tubuh Salsa seraya memeluknya erat. "Ishh nyebelin banget sih!” gerutunya, ia cukup kaget ketika tiba-tiba Aldo menindih tubuhnya. “Om, seenggaknya tuh Om lepasin Salsa, jangan peluk-peluk kayak gini! Nafsuan banget sih!" Mata Aldo terbuka, menatap ke arah Salsa dengan pandangan yang cukup menakutkan baginya. Aldo seperti singa yang tengah mengincar mangsanya. "Iya. Saya memang lagi nafsu. Jadi, kalau kamu tidak diam dan tidur sekarang juga, jangan salahkan saya jika besok kamu susah jalan." Salsa mendengus mendengar perkataan Aldo. Salsa bukanlah gadis polos yang tidak mengerti hal seperti itu. Ia seorang kpopers, dan mengagumi abs oppa adalah kegiatannya sehari-hari. Bahkan tak jarang pula Salsa membaca sebuah cerita fanfinction dengan cast oppa sebagai tokohnya, dan cerita itu berlabel 21+, maka, tentu saja Salsa paham dengan apa yang Aldo ucapkan. Namun, ia memilih untuk pura-pura tidak mengerti. "Susah jalan, emang kaki Salsa terkilir apa?" tanyanya ketus, matanya menatap ke arah Aldo yang telah kembali memejamkan matanya. Namun, dapat Salsa lihat dari raut wajahnya, jika Aldo nampak menahan sesuatu. "Om" "Ommm" "Om De" "Om Den-" "Kamu bisa diam tidak?" geram Aldo dengan mata yang masih tertutup. Dapat ia rasakan jika kini Salsa kembali mencoba mendorong tubuhnya untuk menjauh. Namun tentu saja, tenaga Salsa tidak akan sebanding dengannya. "Om, minggir dong, berat nih!" kedua tangan Salsa bertumpu pada d**a bidang milik Aldo lalu mendorongnya menjauh.dan hal tersebut ternyata menguras cukup tenaga. Karena sepertinya Aldo tidak bergeser seinchi pun. "Om, berat tahu!" Mata Aldo kembali terbuka, menatap lurus ke arah mata Salsa yang menyiratkan sedikit ketakutan di dalamnya. Lalu, bukannya menyingkir dari tubuh Salsa, Aldo justru merapatkan tubuhnya, sehingga membuat Salsa semakin was-was. Namun, ia mencoba untuk tetap terlihat tegar. "Om, kan Salsa udah bilang, minggir dong," "Kamu yang nantangin saya." "Apa? Salsa nggak nantangin apa-apa tuh!" "Hem?" Aldo menatap Salsa lurus, sebelah alisnya terangkat, dan tanpa Salsa sadari ia sedikit mengigil, karena tatapan itu seperti mengintimidasinya. Salsa memalingkan wajahnya, nyalinya menciut untuk menatap wajah Aldo. Hingga kini, leher mulusnya lah yang berhadapan tepat dengan wajah suaminya. "Ihh, beneran. Salsa nggak nantangin Om kok. Salsa, kan cuma bilang, emang kenapa nggak bisa jalan? Emang kakinya Salsa terkilir gitu?" Sebelah bibir Aldo sedikit terangkat. Menunjukkan sebuah seringaian yang begitu tipis. "Baik, akan saya buat kamu tidak bisa berjalan." Dan kemudian, Aldo mendekatkan wajahnya ke arah permukaan leher Salsa dan melakukan sesuatu di sana. Lalu, "Kyaaaaa! Dasar om-om m***m!" _________________________ [Cerita bersambung, untuk baca alur lengkapnya, bisa cek bio akun aku atau cek i********: aku di @olipoill_]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD