Dengan kuat Salsa mendorong d**a Aldo hingga pria itu berguling ke samping. Matanya menatap Aldo dengan bersungut-sungut. Dan xengan segera ia bangkit dari posisi terlentangnya hingga terduduk dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Om itu m***m banget sih?!" bentak Salsa pada Aldo yang tengah menatapnya datar. Tangan pria itu nampak bergerak untuk mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah.
"Dasar p*****l!" Tangan Salsa bergerak untuk menyentuh kulit lehernya yang terasa panas dan mengusapnya kasar.
Menurut Salsa, Aldo sudah keterlaluan. Bagaimana tidak, jika tiba-tiba saja pria itu mengigit bahkan menghisap lehernya. Dan Salsa yakin, jika hisapan itu akan berbekas nantinya. Mata Salsa menatap Aldo dengan pandangan menusuk, sedangkan yang ditatap justru menyamankan posisi tidurnya seraya menarik selimut hingga menutupi dadanya. Sontak saja hal tersebut membuat Salsa semakin naik pitam. Dasar pria menyebalkan!
"Salsa nggak mau tidur sama Om! Jadi lebih Om pergi dari ranjang ini sekarang juga! Kalo perlu dari kamar ini!"
Dan respon yang Salsa dapat justru Aldo yang mengabaikannya dan memilih untuk memejamkan matanya. Ia sudah lelah dan perlu istirahat.
"Om Aldo!" Dengan murka, Salsa menarik selimut yang Aldo kenakan. Namun, Aldi justru menahan selimut itu dengan erat, membuat Salsa semakin naik pitam. "Pokoknya Salsa nggak mau ya tidur sama Om! Sana Om tidur aja di sofa!"
"Kamu."
"Apa?"
"Kamu saja yang tidur di sofa." Dan setelahnya Aldo mengubah posisi duduknya menjadi miring, mengabaikan Salsa yang menatap tak percaya ke arahnya. Mana ada seorang pria yang membiarkan perempuan tidur di sofa, dan seharusnya pria itu yng mengalah, bukannya Salsa.
"Dasar, Raja tega!" Salsa beranjak dari ranjang itu, tak lupa menyambar bantal yang akan ia kenakan nanti.
"Dasar tua! Bangkotan! p*****l! Manusia es! Tembok! Ngeselin!" gerutunya seraya menata bantal untuknya tidur.
"Awas aja, bakal gue aduin ke Papa, kalo papa ternyata udah salah pilih dia sebagai menantu! Apaan pria terbaik, dia itu paling buruk yang pernah gue kenal!"
Dengan mulut yang terus menggerutu marah, Salsa merebahkan tubuhnya untuk mencari posisi senyaman mungkin. Oh ayolah, ini sofa, senyaman apapun itu, pasti tubuhnya akan tetap sakit semua ketika bangun nanti. Salsa akan membuat perhitungan terhadap Aldo! Awas saja!
*****
"Kamu kenapa Sal? Kok pagi-pagi mukanya udah ditekuk gitu?" tanya Santi seraya menyeduh secangkir kopi dan mengaduknya pelan.
Pagi sekali Salsa telah kembali menuju rumahnya. Memang, Aldo telah mengabari mereka jika akan kembali untuk mengambil baju dan juga barang-barang Salsa.
"Pengantin baru nggak boleh cemberut gitu, nanti cepet tua loh! Suaminya diambil orang, mau?" goda Santi.
Salsa mencebik. "Biarin! Mau diambil kek, mau mati sekalian Salsa nggak peduli!"
"Hus! Nggak boleh gitu ah mulutnya, pamali! Nggak baik nyumpahin orang mati, apalagi dia suami kamu." Santi menatap Salsa garang, bahkan mencubit kecil lengan anak gadisnya, sehingga membuat Salsa meringis dan mengusap bahunya kesal. "Emang kamu mau jadi janda di usia semuda ini?"
"Kalo Salsa jadi janda di usia muda, itu salah Mama sama Papa yang udah nyuruh Salsa nikah! Salsa, kan masih mau bebas, Ma!" Nada bicara Salsa naik satu oktaf, ia sedikit melupakan di mana statusnya saat ini. Dan jika Salsa di cap sebagai anak kurang ajar pun, ia tidak peduli. Karena emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Maklum saja, Salsa masih remaja dan hormonnya juga naik turun bagai rollercoaster.
Santi mengela napasnya lelah. "Itu, kan demi kebaikan kamu, Sayang. Mama sama Papa cuma mau yang terbaik buat kamu. Apalagi nak Aldo kan orangnya ba-"
"Baik dari mana? Dari Hongkong?! Orang datar kayak tembok gitu!"
"Ya, itu, kan emang watak dia, Sal,"
"Au ah! Salsa capek, mau ke kamar. Salsa mau bolos hari ini!"
Dan seletahnya dengan langkah serampangan Salsa melangkah menuju lantai dua dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Salsa ingin sedikit penyegaran, mungkin berendam dengan aroma terapi di pagi hati bisa membuat tubuh serta pikirannya menjadi rileks.
Santi menghela napasnya pasrah seraya mengusap dadanya agar terus bisa bersabar. Salsa masih sangat labil, bahkan Santi merasa bimbang, apa putrinya itu bisa menjalani kehidupan pernikahan yang tak semulus orang bayangkan. Akan ada banyak cobaan, rintangan, bahkan godaan di dalam sebuah pernikahan. Dan, semoga saja pilihan mereka tepat. Santi yakin, bahwa Aldo bisa menjaga dan membimbing Salsa nantinya.
Kepala Santi mendongak, menatap sang menantu yang baru saja memasuki ruang makan dengan dua tas berukuran sedang di tangan kanannya. Santi tersenyum, menyapa menantunya dengan hangat. "Eh, Aldo, dari mana aja? Kok baru masuk?"
Aldo hanya tersenyum tipis, seraya mengambil tangan kanan Santi dan menciumnya. Layaknya seorang anak yang menyalami orangtuanya. "Iya, Ma, ini tadi ngambil tas Salsa."
Lagi-lagi Santi menghela napas. "Dasar anak itu. Maaf ya, Do, Salsa emang rada menja dan keras kepala. Maklum lah, anak tunggal, gadis lagi."
Aldo mengangguk. "Iya, Ma,"
Lalu matanya nampak berputar melihat sekeliling ruangan. Santi yang menyadari hal tersebut, tentu saja tersenyum senang, ternyata Aldo peduli terhadap putrinya.
"Yaudah, Mama mau lanjut masak, kalau kamu nyariin Salsa, masuk aja ke kamarnya. Lantai dua, pintu warna putih. Ada gambar V BTS di sana,"
Aldo sedikit tersentak mendengar ucapan Santi, namun dengan cepat ia menetralkan rasa terkejutnya dengan mengangguk kecil. "Iya, Ma."
Dahi Aldo sedikit mengerut ketikan mendengar kata V, V? Siapa dia? Aldo belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Nama yang aneh, pikirnya.
Namun, sesuai dengan instruksi mama mertuanya tadi, Aldo memutuskan untuk naik ke lantai dua dan menemui istri kecilnya itu. Kecil? Ya, tubuh dan umur Salsa lah yang membuat Aldo memberinya julukan tersebut. Langkahnya berhenti tepat didepan sebuah pintu berwarna putih dengan sebuah foto Idol Korea yang tertempel di sana.
Jadi ini yang namanya V? Bukannya tampan, Aldo malah mengira jika orang di dalam foto adalah seorang gadis, karena wajahnya yang cantik dan mulus tanpa noda, tidak seperti pria pada umumnya.
Tanpa menunggu lama, Aldo memilih untuk membuka gagang pintu tersebut, hingga terdengar bunyi 'klek'.
Ah, pintu tersebut tak terkunci. Melangkahkan kakinya pelan, Aldo memasuki kamar bernuansa merah muda tersebut. Banyak poster dan juga gambar-gambar yang bahkan tidak dimengerti oleh Aldo. Dan mata Aldo menatap sebuah poster besar dengan tulisan Bangtan Boys di bawahnya, serta tujuh pria berwajah cantik yang berpose mengenakan baju putih ala pilot.
Menghela napasnya pelan, Aldo berjalan menuju ke arah ranjang bermotif polkadot berwarna merah muda dan putih. Kakinya berhenti tepat di samping nakas. Matanya tertuju pada sebuah boneka berwarna merah muda dengan telinganya kelinci.
Tangannya terulur untuk mengambil boneka yang hanya berupa kepala tanpa tubuh tersebut. Ya, Aldo mengambil salah-satu dari tujuh boneka yang berada di atas ranjang milik istrinya itu. Mata Aldo kini menatap datar boneka yang berada di pegangannya.
"Jangan sentuh cooky Salsa!" Sebuah teriakan disertai dengan tarikan pada boneka tersebut, hingga terlepas dari genggamannya.
Salsa memeluk boneka yang ia panggil dengan cooky dengan erat. Seakan takut jika boneka itu tergores sedikit saja. Dan Aldo, pria itu hanya menatap Salsa dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Om ngapain sih di sini? Ini, kan kamar Salsa!" Salsa berkacak pinggang seraya menatap Aldo garang. Namun yang ditatap sedemikian rupa, bukannya takut, justru malah mendudukkan dirinya pada ranjang yang berada di belakangnya.
"Saya suami kamu."
"A-" Lidah Salsa kelu. Ia tak tahu harus menjawab apa, karena memang benar jika Aldo adalah suaminya dan itu kenyataannya. Jadi tidak mungkin jika Salsa menyangkal hal tersebut. "Iya tahu, kalo Om suami Salsa..." gumamnya pelan, namun Aldo masih dapat mendengarnya dengan jelas.
"Tapi, kan seenggaknya tuh kalo masuk ketuk pintu dulu Om!" ucap Salsa dengan nada suara yang kembali garang. "Dan juga, nggak seharusnya Om pegang-pegang benda Salsa! Nggak sopan tahu!"
Dengan bibir yang mengerucut tinggi, Salsa merangkak pelan naik ke atas ranjangnya untuk menata ulang ketujuh boneka BT21 nya dengan rapi seperti semula, ia tidak mau jika boneka-boneka itu berantakan atau rusak. Karena bagaimanapun juga, untuk mendapatkan ketujuh boneka tersebut Salsa membutuhkan sedikit perjuangan karena banyaknya persaingan.
"Untung enggak rusak," gumamnya pelan seraya memandangi bonekanya. "Cooky, nggak papa, kan?" Sebuah senyuman yang terlihat begitu tulus mengembang indah di bibirnya. Bahkan Salsa selalu bersikap garang dan jutek ketika bersama Aldo, namun gadis itu kini tengah tersenyum lebar seperti tanpa beban.
Aldo memutar matanya pelan ketika melihat hal tersebut. Dasar anak muda jaman sekarang, kelakuannya semakin aneh saja. Senyum-senyum sendiri, marah-marah sendiri, nangis-nangis tanpa sebab dan nanti tersenyum lagi seperti tidak terjadi apapun.
"Oya, Om, kan tadi belum jawab pertanyaannya Salsa, Om ngapain di kamar Salsa?" Kali ini Salsa menatap Aldo yang tengah duduk di ranjangnya dengan kedua tangan yang digunakan untuk menopang tubuh di atas ranjang. Salsa ikut terdiam menunggu jawaban yang akan Aldo lontarkan. Namun sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi, karena Aldo terus saja tak mengacuhkannya dan justru malah berdiri dari duduknya.
"Om Deeee, Salsa itu lagi ngomong sama Om, jadi dijawab dong!" Salsa merasa kesal dengan tingkah suaminya tersebut. Memiliki suami seperti ini bisa-bisa membuat darahnya terus naik.
"Kemasi barang-barang mu!" Itu bukan sebuah kalimat tanya, ataupun kalimat retoris, namun lebih kesebuah perintah dengan nada datar.
Semalaman bersama Aldo, sepertinya Salsa telah mengerti sedikit dari nada-nada ucapan yang Aldo kenakan. Pria itu cenderung datar dan dingin dalam pembawaannya.
"Emangnya kita mau ke mana? Kok pakai acara kemasi barang?" Tanya Salsa dengan muka bingungnya.
"Rumah saya," jawab Aldo seraya berlalu pergi tanpa mempedulikan Salah yang tengah dilanda shock.
"Apa?!" pekik Salsa setelah tersadar dari lamunannya, ah bukan lamunan melainkan keterkejutan.
Aldo, pria dewasa yang berstatus sebagai suaminya itu selalu saja memutuskan hal secara sepihak tanpa meminta pendapatnya sebagai seorang istri. Dan juga, kenapa Aldo selalu tak mengacuhkannya, selalu membuatnya naik pitam. Dan Salsa merasa jika lama-lama ia bisa terkena stroke di usia muda jika terus merasa tertekan seperti ini. Baru sehari saja mereka menikah dan Aldo telah membuatnya kesal hingga ke ubun-ubun.
Dengan napas memburu karena menahan amarah, Salsa meloncat turun dari ranjang dan memutuskan untuk menemui Aldo. Ia harus membicarakan ini, Aldo tidak bisa berbuat seenaknya seperti ini. Dan langkahnya terhenti, ketika mendengar suara mama dan juga papanya di ruang makan.
"Jadi kalian memutuskan untuk pindah hari ini?" Itu suara Santoso, Papa Salsa. Pria paruh baya tersebut terlihat nampak lebih segar daripada seminggu yang lalu ketika terbaring lemah di rumah sakit.
"Iya, Pa, Aldo memutuskan untuk pindah. Karena jaraknya pun lebih dekat," jawab Aldo dengan tenang, kedua tangannya berada di atas meja makan sembari memegang secangkir kopi hangat yang masih mengepulkan uapnya.
"Tapi, Salsa nggak mau pindah!" tolak Salsa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca seperti hendak menangis. Kakinya melangkah cepat menghampiri Santi lalu memeluk wanita paruh baya itu erat. "Pokoknya Salsa nggak mau pindah Ma! Salsa mau tetep di sini aja sama Mama sama Papa!"
"Tapi kamu harus pindah, Sal," ucap Santoso sembari menatap putrinya dengan tenang.
"Emangnya dia siapa Pa? Dia itu cuma orang asing yang rebut Salsa dari kalian! Dia nggak punya hak-"
"Dia suami kamu Sal, dia punya hak penuh atas kamu. Dan kamu, bukan tanggungjawab Papa lagi mulai sekarang, melainkan tanggungjawab Aldo, suami kamu," jelas Santoso dengan tenang namun juga tegas.
Sebagai putri tunggal, tentu saja Santoso begitu menyayangi dan memanjakan Salsa, apapun yang gadis itu minta, pasti akan Santoso berikan. Bahkan ketika Salsa meminta izin kepadanya untuk menonton konser BTS di Jakarta, dan Santoso pun mengijinkannya.
"Aldo itu suami kamu sayang, tentu saja dia punya hak atas kamu. Sebagai istri yang baik, kamu harus nurut dan patuh sama perintah suami, selama itu benar. Dan kamu nggak boleh nolak maupun membangkang, dosa hukumnya." Kali ini Santi ikut menasehati Salsa.
Sedangkan Salsa, ia hanya diam seraya menatap Aldo dengan tatapan berapi-api. Ia marah, benar-benar marah pada pria itu. Dengan seenaknya ia membuat sebuah keputusan dan bahkan menghasut orangtuanya untuk menyetujuinya hal tersebut.
"Pokoknya Salsa nggak mau pindah!" putusnya tegas serasa berlalu pergi dari sana.
_________________________
[Cerita bersambung, untuk baca alur lengkapnya, bisa cek bio akun aku atau cek i********: aku di @olipoill_]