BAB 4 - PRIA MENYEBALKAN

1663 Words
Dengan wajah yang ditekuk sebal, Salsa melangkah memasuki sebuah rumah minimalis yang berada di salah satu perumahan yang letaknya cukup dekat dengan sekolahnya. Bibirnya tidak berhenti mengerucut dengan gerutuan yang terus ia rapalkan. Salsa tidak ingin pindah, dan Papanya mengusirnya begitu saja. Bayangkan, mengusir! Yang benar saja! "Om De!" panggil Salsa pada Aldo yang kini tengah memindahkan barang-barangnya. Pria dewasa itu nampak menyeret beberapa koper berukuran besar yang merupakan milik Salsa. Setelah melewati sedikit perdebatan dengan Salsa, akhirnya mereka dapat pindah ke rumah Aldo hari ini juga. Dan Salsa hampir membawa seluruh barang-barang yang berada di kamarnya jika saja Aldo tidak menegurnya dengan suara dingin khas dari pria itu. “Selalu aja nggak mau jawab kalau di tanya, nyebelin!”Salsa terus menggerutu seraya mengikuti langkah Aldo dari belakang. Hingga mereka berhenti di ruang tengah yang cukup nyaman, dengan televisi yang tertempel pada tembok dan sofa tunggal berwarna hitam. Sangat manly, Salsa penasaran, kapan Aldo membeli rumah ini. “Jadi, kamar Salsa yang mana, Om?” tanya Salsa pada Aldo yang kini berdiri tegak di depannya. “Kamar kamu?” Salsa mengangguk. “Iya, kamar Salsa. Kita tidur terpisah, ‘kan? Nggak mungkin kita tidur satu kamar.” Salsa terus memperthatikan Aldo yang kini tengah menatapnya lurus, seperti memikirkan sesuatu. “Oh, kamu mau kamar sendiri?” “Jelas dong! Masa iya kita tidur satu kamar?” jawab Salsa cepat, ia tidak ingin dan tidak akan pernah mau tidur satu kamar dengan om-om m***m seperti Aldo, bisa hancur masa depannya nanti! “Kok ekspresi Om kayak gitu sih? Jangan bilang kita akan tidur satu kamur?” Mata Salsa melotot menatap Aldo. “Nggak, nggak, nggak! Salsa nggak mau! Pokonya Salsa nggak mau tidur satu kamar sama Om! Titik nggak pake koma!” “Tapi di rumah ini kamarnya cuma satu,” jawab Aldo tenang. “Nggak mungkin lah! Masa iya, rumah sebesar ini kamarnya cuma satu?”decak Salsaa menyangkal, tidak mungkin jika rumah sebesar ini hanya memiliki satu kamar. Walaupun hanya satu lantai, tapi rumah ini cukup luas untuk mereka tinggali berdua saja. “Ada empat, satu kamar, satu kantor, satu gudang, dan satu kamar PRT,” jawab Alo tenang dan jelas. “Terus Salsa tidur di mana?” “Sama saya,” ucap Aldo seraya melangkah memasuki kamar yang ia maksud seraya menyeret koper milik Salsa. Lalu ia berjalan menuju sebuah lorong yang menghubungkan kamar mereka dengan walk and closed. Salsa mengekor, mengikutih setiap langkah Aldo, hingga matanya menangkap satu sudur ruangan tersebut yang telah penuh dengan semua baju Aldo, lalu sudut lainnya yang masih kosong. Mungkin itu tempat untuk barang-barang miliknya. “Om,” panggil Salsa lagi. Kini Aldo sudah berjalan menuju ranjang mereka, ranjang dengan seprei berwarna hitam. bahkan Salsa baru sadar jika dinding kamar yang mereka tempati bercorak abu-abu muda, dan lagi-lagi sangat manly. “Salsa nggak mau tidur sama, Om!” rajuk Salsa seraya memperhatika semua gerak-gerik Aldo. Sedangan Aldo, ia nampak tidak peduli dengan rengekan Salsa, karena kini ia justru duduk di tepi ranjang seraya melihat notifikasi yang muncul di ponsel pintarnya. Salsa berdecak kesal, lalu ia duduk dengan serampangan di samping Aldo, bahkan gadis itu sedikit membanting tubuhnya hingga ranjang yang mereka duduki sedikit bergoyang. “Kalau Salsa ngomong itu didengerin, Om, jangan malah di cuekin!” Dan Aldo, dengan perlahan pria itu mematikan ponselnya lalu menatap Salsa dengan lekat, mencoba mendengarkan apa yang tengah gadis itu bicarakan padanya. “Jadi?” “Ya jadi Salsa nggak mau tidur sama Om!” dan perkataan itu sukses membuat satu alis Aldo terangkat. “Ma-maksud Salsa, Salsa nggak mau tidur satu kamar sama Om,” ralat Salsa cepat. Ia lupa jika Aldo adalah seorang pria dewasa, pasti ada berjuta maksa yang ia pikirkan dibalik kata tidur yang ia lontarkan tadi. “Kalau gitu, kamu tidur di sofa,” “APA?!” “Kamu tidak tuli untuk mendengar ucapan saya tadi,” “Kenapa Om Aldo nyebelin pakai banget?” sentak Salsa marah, ia sungguh tidak habis pikir. Di mana-mana seorang pria itu harus bisa bersikap gentleman, dan sekarang justru Aldo menyuruhnya untuk tidur di sofa, padahal di sini dia adalah seorang perempuan.seharusnya Aldo yang mengalah, bukan dirinya! “Kenapa Om Aldo nggak pernah mau mengalah sama Salsa? Om, ‘kan cowok! Seharusnya Om yang ngalah dong, bukan Salsa!” “Filosofi dari mana itu?” “Dari filosofi bahwa, semua wanita tidak pernah salah! cowok yang selalu salah! Sampai sini paham?” Salsa terus memperhatikan perubahan ekspresi yang Aldo perlihatkan, namun nyatanya suaminya itu tidak menunjukkan peruhaban ekspresi apa pun. Salsa heran, jangan – jangan ia menikah dengan pria yang tidak berperasaan, sehingga sedikit pun Aldo tidak bersimpati padanya, kecuali adegan membawakan kopernya tadi. Dan mungkin itu juga karena terpaksa, karena jika tidak, Salsa tidak akan mau diajak pindah oleh pria tua itu! “Dan saya tidak mau tidur di sofa,” jawab Aldo tenang, pria itu nampak tidak terusik dengan suara cepreng yang Salsa lontarkan, bahkan ekpresi wajahnya terlampau tenang. “Hanya satu kamar, tidak ada bantahan.” “Salsa curiga, jangan-jangan… Om, yang nggak mau pisah kamar sama Salsa. Om pasti mau berbuat macam-macam sama Salsa waktu Salsa tidur, ‘kan? Ayo ngaku!” “Apa pikiran kamu selalu jorok begitu?” “A-apa?” Salsa tergagap mendengar ucapan Aldo. “Saya tidak akan macam-macam sama kamu,” “Siapa yang bisa menjamin? Apalagi semalem habis perta penikan Om berbuat m***m sama Salsa. Jadi banyak kemungkinan kalau Om akan mengulanginya lagi,” sanggah Salsa atas ucapan Aldo barusan. Benar bukan, apa yang ia katakana? Ia masih ingat dengan jelas tentang apa yang Aldo lakukan semalam, dan itu membuat Salsa sedikit takut, ia tidak mau mengambil risiko lagi. Cukup sekali saja Aldo menjahilinya, berusaha berbuat macam-macam terhadapnya seperti malam itu. “Itu kalau kamu memancing,” “Maksud, Om?” Salsa tidak mengerti, memang ia memancing apa? “Saya pria normal,” Salsa mendengkus keras. “Emang, siapa yang bilang kalau Om itu gay?” Lalu berdecak kesal. “Justru karena Om pria normal, Salsa nggak mau satu kamar sama Om. Titik nggak pakai koma!” “Dan saya tidak suka bantahan, Salsa,” ucap Aldo seraya menyebut namanya, ini kedua kalinya Aldo menyebut namanya, yang pertama adalah ketika mereka menikah. Apa Aldo marah sekarang? Wajah pria itu nampak lebih tegang daripada sebelumnya, walaupun sama-sama terlihat kaku. Tapi tentu saja Salsa bisa melihat perbedaannya. “Ta-tapi, kalau nanti Om Aldo buat macem-macem sama Salsa gimana? Salsa nggak mau!” Aldo menghela napas lelah, “Saya juga tidak akan memperkosa kamu,” ucap Aldo seraya beranjak dari sana dan meninggalkan Salsa yang masih terkejut dengan ucapan Aldo barusan, pria itu sangat v****r, dan Salsa tidak pernah menduganya. “Ih… v****r banget sih, Om!” teriak Salsa. Dengan kesal Salsa meraih ponselnya, melihat notifikasi apa saja yang muncul. Dan pertama yang ia lihat adalah notifikasi dari group persahabatannya dan juga dari Rendy, kakak kelas yang selama ini ia sukai.Salsa jadi ingin cepat – cepat berangkat ke sekolah dan bertemu Rendy, melihat wajah manis dari cowok pujaannya.tidak seperti Aldo, suaminya itu hanya menampakkan satu ekspresi yang sama, datar, dingin dan tanpa perasaan. Atau jangan-jangan Aldo adalah seorang psikopat dan pembunuh berdarah dingin? Salsa menggeleng cepat, menghapus pemikirian ekstrim yang muncul di dalam kepalanya. Tidak mungkin ia menikah dengan orang seperti itu. Ya, mungkin memang sifat Aldo saja yang dingin dan tidak berperasaan. Ting! Sebuah notifikasi dari direc messenger suatu aplikasi ternama memasuki lockscreen ponsel Salsa. Tertera dengan username ren.irawan mengiriminya sebuah pesan. Dengan cepat Salsa membuka pesan tersebut seraya merebahkan tubuhnya, ia merasa sedikit lelah. ren.irawan lagi apa, Sal? virginiasalsa lagi main hp aja kakak lagi ngapain? ren.irawan lagi nungguin cewek cantik bales pesan aku. virginiasalsa kakak udah punya pacar ya?  ren.irawan maksud aku itu kamu, Sal aku masih avaible kok! virginiasalsa kirain udah ada yang punya takut ganggu. ren.irwan Kalau kamu nggak pernah ganggu Besok ada acara nggak? Tanpa sadar, bibir Salsa terus menampakkan sebuah senyuman yang seakan tidak pernah luntur barang sedetik pun, ia merasa bahagia mendapatkan pesan dari Rendy. Apalagi ketika ia menanyakan apakah Salsa memiliki waktu luang atau tidak? Jantung Salsa berdebar, rasanya seperti ia tengah berhenti setelah lari marathon keliling lapangan. Jangan-jangan Rendy akan mengajaknya pergi keluar? Jalan-jalan, atau nonton bersama? Ah, Salsa tidah sa- “Kamu tidak gila, ‘kan?” Sebuah suara dingin dan menyebalkan memasuki indera pendengaran Salsa hingga sukses menghamburkan imajinasinya yang penuh akan kebahagiaan. Senyuman itu luntur dalam sekejap. “Om kenapa sih, suka banget ganggu kesenangan orang?” Salsa berdecak sebal, matanya menatap Aldo dengan sorot penuh kebencian. Salsa tidak suka Aldo menganggunya, dan kenapa juga, Aldo tidak bisa melihat orang merasakan kesenangan sedikit saja. “Saya cuma bertanya,” “Dan pertanyaan Om itu sungguh tidak bermutu!” menghembuskan napasnya lelah, Salsa beringsut duduk dari posisi rebahannya tadi. “lagian, ngapain sih, Om balik ke kamar lagi? Udah bagus di luar aja!” “Saya lapar—” “Terus ngapain bilang ke Salsa? Salsa nggak bisa masak. Kalau laper, masak aja sendiri!” ucap Salsa seraya beranjak meninggalkan Aldo. Lebih baik ia keluar kamar dan duduk santai di ruang televisi atau mana pun it, yang terpenting tidak ada keberadaan Aldo di sana. Ia malas jika harus berdekatan dengan suami tuanya itu. “Saya mau pesan makanan, kamu mau apa?”ucap Aldo yang justru berjalan menigikuti langkah Salsa, hingga gadis itu berhenti di depan lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral, ia haus. “Nggak laper!” “Kata Mama, kamu susah makan, jadi kamu harus—” “Om!” Salsa berbalik dan menatap Aldo dengan lekat. “Kenapa Om harus repot-repot ngurusin Salsa? Om bisa urus hidup Om sendiri—” “Kamu istri saya,” potong Aldo cepat. “Saya pesankan ayam geprek dua,” ucap Aldo seraya melangkah pergi meninggalkan Salsa seorang diri. “Ih…, dasar pria menyebalkan!” _________________________ [Cerita bersambung, untuk baca alur lengkapnya, bisa cek bio akun aku atau cek i********: aku di @olipoill_]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD