'Ting Tong!'
Suara bel yang berasal dari depan membuyarkan kegiatan Salsa yang tengah menonton drama Korea on going yang tengah ia ikuti. Sebuah drama yang menceritakan tentang seorang mafia tampan yang diperankan oleh Om Duda kesayangan. Song Jong Ki begitu menawan dan bahkan terlihat semakin muda, membuat pesonanya semakin menawan.
Berdecak kesal, mau tak mau Salsa harus bangkit untuk membukakan pintu, karena Aldo kini tengah membersihkan dirinya di kamar mandi, jadi tidak mungkin jika harus menunggu pria itu hingga selesai dari kegiatannya.
Kaki Salsa melangkah menuju pintu depan, namun, sebelum membukakan pintu, gadis itu terlebih dahulu mengintip dari celah jendela yang tertutup oleh korden. Dan untung saja, Aldo memilih tipe kaca jendela yang di mana, orang di dalam rumah dapat melihat keluar, namun orang di luar tidak dapat melihat ke dalam. Kaca jendela seperti ini sungguh safety sekali menurut Salsa.
Ternyata itu adalah bapak kurir yang mengantarkan makanan, Salsa baru ingat jika tadi Aldo memesan makan siang untuk mereka berdua walaupun dengan keras kepala Salsa sudah menolak hal tersebut, namun bukan Aldo namanya jika tidak memaksa.
Tanpa menunda lebih lama, dengan cepat Salsa membukakan pintu untuk kurir tersebut, kasihan jika sang kurir harus menunggu lebih lama. Bapak kurir tersebut tersenyum ketika melihat Salsa yang membukakan pintu untuknya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Salsa pelan.
"Selamat malam, benar dengan rumah Pak Aldo?" Salsa mengangguk sebagai jawaban. "Maaf lama, Kak, ini pesanan makanan dari Kedai Ayam Enak, dengan menu Ayam Geprek dua porsi plus nasi?"
"Oh, terima kasih, Pak. Berapa total semuanya?" tanya Salsa lembut, tidak mungkin ia berkata kasar terhadap orang asing. Namun untuk Aldo adalah sebuah pengecualian, karena pria itu sangat menyebalkan.
"Total semuanya, 50 ribu,"
"Sebentar ya, saya ambilkan uangnya,"
Dan ketika Salsa hendak berbalik masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang, ternyata Aldo telah berdiri di belakangnya dengan tampilan yang lebih segar, kaos hitam polos dan celana bahan selutut serta rambutnya yang masih sedikit basah mengakibatkan beberapa bulir air menetes melalui pelipisnya.
Aldo menyerahkan satu lembar uang berwarna biru kepada kurir tersebut. "Ini, Pak, uangnya. Terima kasih,"
"Sama-sama, permisih, selamat siang."
Lalu setelahnya, Aldo berbalik dan menutup pintu depan, tak lupa untuk kembali menguncinya. Pria itu berjalan pelan menuju ke ruang makan dan terhubung dengan dapur, jadi apapun yang dilakukan di dapur, dapat terlihat melalui ruang makan. Salsa berjalan mengekori Aldo dengan tangannya yang masih menenteng bungkusan yang berisi makanan yang tadi Aldo pesan.
"Ayo makan!" ajak Aldo ketika Salsa meletakkan bungkusan tersebut ke atas meja.
"Salsa nggak laper!" tolak Salsa kemudian beranjak pergi, namun sebelum hal itu terjadi, Aldo terlebih dahulu menahan lengannya sehingga membuat langkah Salsa terhenti.
"Kamu belum makan sejak pagi, mana mungkin nggak laper?" ucap Aldo dengan tangan yang masih menggenggam lengan kurus Salsa. Aldo tidak suka memiliki istri yang terlalu kurus, maka dari itu ia akan menyuruh Salsa untuk terus makan.
"Tapi Salsa beneran nggak laper, Om! Ngeyel banget sih dibilangin!" bantah Salsa seraya mencoba untuk melepaskan cekalan tangan Aldo dari lengannya, namun semakin ia mencoba untuk lepas, Aldo justru semakin menggenggamnya erat.
Dengan sedikit tarikan Aldo membawa tubuh Salsa untuk duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Dengan sedikit perasaan kesal, Salsa memilih untuk menurut kepada Aldo ketika pria itu menekan bahunya agar dapat duduk dengan benar. Sebenarnya Salsa sedikit tidak nyaman ketika Aldo menyentuh bagian tubuhnya, Salsa merasa sedikit gelenyar aneh pada dadanya ketika Aldo melakukan hal tersebut.
"Saya nggak suka dibantah, makan!" ucap Aldo seraya membuka bungkus dari makanan yang tadi ia pesan, bahkan pria itu juga mengambilkannya sendok dan sebotol air mineral dingin dari dalam lemari pendingin.
Semua perlakuan Aldo terhadap persis seperti Santi yang menyiapkan makanan untuknya ketika ia mogok makan, namun bedanya Santi akan membujuknya dengan halus dan lembut, tapi Aldo, ia bukan membujuk melainkan memaksa Salsa untuk makan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang Aldo lakukan, justru mungkin lebih terlihat perhatian. Hanya saja, Salsa memang susah jika disuruh makan, bahkan mamanya hampir menyerah ketika membujuknya untuk makan. Lagi pula Salsa juga akan makan dengan sendirinya jika ia benar-benar lapar, atau ketika sakit maagnya kambuh dan ia sudah tidak dapat menahannya lagi.
"Nggak mau! Pedes, Salsa nggak bisa makan pedes!" tolak Salsa seraya sedikit mendorong makanan di depannya.
Salsa tidak bisa makan pedas, sejak kecil, tidak tahu pasti apa penyebabnya. Tapi yang jelas ia akan merasa sesak napas dan juga panas di perutnya ketika memakan makanan yang pedas, bahkan pedas menurutnya, tidaklah pedas bagi orang lain. Dan jika sudah begitu, Salsa akan meminum s**u murni untuk mendinginkan perutnya, karena jika tidak ia akan mengalami BAB hitam untuk beberapa hari. Dan kata dokter, BAB hitam itu disebabkan karena adanya luka pada saluran pencernaan bagian atas, atau lebih tepatnya lambung. Tidak heran, jika dilihat dari kebiasaan Salsa yang tidak suka makan, ditambah ia memiliki penyakit mag dan juga memakan makanan pedas hingga perutnya panas. Maka boom! Lambungnya akan terluka.
"Saya tahu, makanya yang satu nggak pakai cabai sama sekali," jawab Aldo yang kini tengah mendudukkan dirinya di samping Salsa. Dengan perlahan pria itu membuka bagiannya, lalu kemudian meneguk sedikit air dan mulai memakannya sesuap.
"Om tahu dari mana? Kalau Salsa nggak bisa makan pedes?" Alis Salsa memincing, Salsa belum pernah menceritakan apapun tentang dirinya, namun Aldo seakan sudah mengetahui segala hal tentangnya.
"Nggak usah banyak tanya, makan!"
"Jawab dulu!"
"Mama," jawabnya dengan singkat, jelas dan juga padat.
Ah, jadi Aldo tahu melalui Santi, makan kemungkinan besar Aldo sudah mengetahui semua informasi tentangnya melalui Mamanya, sedangkan Salsa, ia tidak mengetahui apapun tentang Aldo. Tapi, biarlah! Salsa juga tidak peduli akan hal tersebut.
"Ohh, tapi Salsa beneran nggak laper tuh!"
"Ya, siap-siap aja maag kamu kambuh lagi,"
"Ihhh, Om pasti stalker ya! Kok tahu tentang Salsa sih? Ngaku aja deh!" tuduh Salsa kesal, Aldo telalu banyak tahu tentang dirinya.
"Mama." Kali ini Aldo mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Salsa, miliknya telah tinggal setengah, namun istrinya itu belum juga menyentuh makanannya. Aldo menghela napasnya berat, sepertinya membutuhkan perjuangan ekstra untuk menyuruh Salsa makan. "Makan, Sal!"
"Kok, Om maksa sih?" Kernyit Salsa tak suka.
"Apa susahnya disuruh makan?"
"Nggak nafsu?" jawab Salsa cuek.
"Makan sendiri, atau mau saya suapi? Pakai mulut," ancam Aldo dengan nada yang terlewat datar.
"m***m banget sih!"
"Jadi?"
"Salsa bisa makan sendiri!" Dan setelahnya tangan Salsa menyambar sendok yang tadi sudah Aldo siapkan, dengan enggan gadis itu mengambil sesuap, namun sebelum memasukkan ke dalam mulut, Salsa terlebih dahulu menatap Aldo jengkel. "Tapi awas kalo pedes, Salsa nggak mau makan lagi!"
"Hem," balas Aldo seadanya.
Tanpa sadar pria itu menghela napas pelan ketika Salsa telah mulai memakan miliknya walaupun perlahan dan terkesan ogah-ogahan. Biar saja, Aldo tak peduli, walaupun membutuhkan waktu satu jam untuk menghabiskan makanan itu, Aldo tidak masalah, yang terpenting Salsa mau menghabiskan makanannya.
Pria itu selesai, makanan telah habis, dan setelahnya meneguk minuman hingga tandas. Namun, bukannya beranjak, Aldo justru hanya diam seraya memperhatikan Salsa yang masih mencoba untuk mengunyah makanannya.
"Kenapa, Om?" tanya Salsa ketika ia merasa tengah diperhatikan dengan begitu intens, apalagi ketika mempergoki tatapan mata Aldo yang beberapa kali memperhatikan pahanya yang terekspose.
"Lain kali, pakai celana yang lebih panjang,"
"Emang kenapa sih? Lagian pakaian Salsa juga gini semua modelnya, Mama sama Papa juga gak pernah marah tuh," jawab Salsa seadanya, gadis itu itu memperhatikan tampilannya, celan jeans sepaha dan kaos V neck berwarna biru dongker menjadi outfitnya hari ini. Dan ini memang pakaian yang Salsa kenakan sehari-hari ketika di rumah, bahkan justru ia hanya memakan tank top, tapi karena ada Aldo ia mengurungkan niatnya. "Lagian, aku juga nggak keberatan,"
"Tapi saya keberatan," ucap Aldo "Besok beli celana rumahan yang panjang,"
"Salsa nggak punya uang,"
"Saya belikan,"
"Tapi panas, Om," alibi Salsa yang mencoba untuk menolak keinginan Aldo. Ia tidak terlalu nyaman mengenakan pakaian panjang.
"Ada AC,"
"Ihhh, tapi nggak nyaman, Salsa nggak biasa pakai celana panjang di rumah!"
"Di biasakan!"
"Nggak mau, nggak enak, pokoknya nggak nyaman! Lagian kenapa sih, Om maksa Salsa pakai celana panjang, emang apa salahnya kalau Salsa pakai celana pendek kayak gini?"
Mata Aldo beralih menatap ke arah celana Salsa yang tidak hisa menutupi sebagian paha mulusnya, pria normal manapun yang melihatnya pasti merasa tertantang, dan Aldo tidak menyukai hal tersebut. "Tidak salah kalau memang hanya dipakai saat di rumah, atau di depan saya,"
"Ya, kan Salsa emang pakainya di rumah doang," ucapnya seraya mengedikkan bahunya tak acuh.
"Tapi tidak di depan orang lain,"
"Orang lain siapa? Nggak ada orang lain di sini, Om,"
"Besok beli celana panjang, pakai kalau setiap ada tamu, keluar rumah, atau bukain pintu buat kurir!" putus Aldo seraya beranjak dari duduknya, tangankan kembali membetulkan posisi kursi seperti semula seraya mengemasi bekas makanannya yang telah habis lalu beranjak pergi meninggalkan Salsa yang masih terdiam di tempatnya.
"Jadi dia marah gara-gara aku pakai celana pendek waktu nerima makanan tadi?" gumam Salsa seraya melihat kepergian Aldo.
Setelah mencuci tangan di wastafel yang berada di dapur, Aldo memilih untuk masuk ke dalam satu kamar yang berada tepat di samping kamar utama. Mungkin, itu ruang kerja yang Aldo maksud.
Mengedikkan bahunya tak acuh, Salsa memilih untuk mengabaikan makanan yang berada di depannya dan beralih pada ponsel pintar berwarna purple yang berada di genggamannya. Itu adalah ponsel edisi terbatas dari sebuah brand ternama di Korea yang berkolaborasi dengan boyband favoritnya. Namun, untuk mendapatkan ponsel tersebut, Salsa harus mengikuti pre order terlebih dahulu, tak lupa beradu kecepatan dengan fans inter karena maraknya persaingan. Apalagi, ponsel tersebut memiliki desain warna yang menjadi favoritnya, purple.
"Belum habis juga?"
Salsa sedikit tersentak ketika mendengar suara berat yang kini sudah sedikit familiar di pendengaran. Siapa lagi kalau bukan Aldo? Suami tuanya yang menyebalkan. Pria itu berdiri tepat di belakangnya lalu menarik kursi yang berada di samping Salsa dan duduk di sana. Matanya menatap lurus ke arah Salsa layaknya mengintimidasi.
Berapa lama Salsa tenggelam dalam ponselnya hingga Aldo sudah kembali menghampirinya?
"Apaan sih, Om?" Jujur saja, Salsa merasa risih jika diperhatikan secara dekat seperti yang tengah Aldo lakukan seperti saat ini. Salsa merasa jika Aldo tengah menghunusnya menggunakan laser tak kasat mata hingga menembus tubuhnya.
"Om?!" ucap Salsa sedikit membentak, ia letakkan ponsel kesayangan di atas meja, lalu sedikit memutar tubuhnya untuk melihat ke arah Aldo yang masih berwajah datar seraya menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk Salsa terjemahan.
Sedari tadi Salsa berusaha untuk mengabaikan eksistensi Aldo yang berada di sampingnya dengan mengscroll beranda dari salah satu aplikasi yang berada di ponselnya, melihat postingan dari teman-temannya satu persatu. Namun, bukannya menjadi lebih tenang dan rileks, Salsa justru menjadi semakin gugup karena Aldo tak kunjung mengalihkan pandangannya.
"Mau, Om itu apa sih? Jangan cuma diem sambil natap nggak jelas gitu! Aku, 'kan jadi ngeri...." protes Salsa dengan intonasi yang memelan di akhir kalimatnya, ia tidak mau jika Aldo sampai tahu kalau ia sedikit takut terhadap tatapan pria itu. Biasanya Salsa tidak pernah merasa terintimidasi dengan tatapan siapapun, bahkan tatapan dari Papanya karena Salsa tahu semarah apa pun Sandi terhadapnya, Salsa masih dapat menemukan tatapan sayang di dalam kedua bola matanya.
Namun Aldo? Dia pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan Salsa. Lalu tatapan pria itu, ia tidak pernah bisa mengartikannya, seperti terdapat berbagai makna yang tersembunyi begitu dalam.
"Om!" ucap Salsa kesal, sedari tadi ia bertanya dan Aldo hanya diam tanpa berusaha untuk menjawabnya. Memang pria itu pikir ia memiliki ilmu dalam yang dapat membaca pikiran orang lain tanpa perlu mendengarnya berbicara? Yang benar saja!
"Makan!"
Alis Salsa sedikit terangkat mendengat satu kata yang terucap dari Aldo. Apa maksudnya? Bukankah pria itu tadi sudah menghabiskan makanannya.
Tatapan Salsa mengikuti ke mana arah mata Aldo beralih, pria itu menatap ke arah makanan Salsa yang masih terlihat utuh di tempatnya, lalu kembali menatap ke arah mata Salsa. Ah, gadis itu mengerti sekarang, Aldo menyuruhnya untuk menghabiskan makanannya yang baru ia makan sedikit. Memang tidak pedas, tepat seperti yang Aldo katakan, tapi Salsa tidak bernafsu untuk makan. Apalagi setelah perdebatannya dengan Aldo mengenai celana pendek tadi, Salsa semakin tidak bernafsu.
"Salsa kenyang,"
"Kenyang dari mana? Kamu belum makan sejak pagi tadi, sekarang makan!"
Aldo tahu jika Salsa memang susah jika disuruh untuk makan, gadis itu biasanya hanya makan sehari satu kali, atau bahkan tidak makan seharinya, hanya minum dan memakan beberapa jajanan chiki yang tidak menyehatkan ataupun mengenyangkan. Jadi tidak heran jika Salsa memiliki tubuh yang kurus, ya walaupun tidak terlalu terlihat. Namun jika diukur menggunakan rumus IMT atau Indeks Massa Tubuh -sebuah rumus yang digunakan untuk menghitung berat badan ideal- maka berat badan Salsa akan berada di bahwah normal dan berada di status kurus. Maka dari itu, Aldo gencar untuk menyuruhnya makan walaupun terkesan memaksa dan mengancam seperti saat ini.
"Tapi Salsa udah kenyang, Om!"
"Mau makan sendiri, atau saya suapi? Pakai mulut," ancam Aldo, lagi.
"Ihhh! Apa-apaan sih, Om? Nggak usah mulai deh! Salsa lagi nggak mood buat berantem!" Kenapa juga Aldo selalu mengancamnya menggunakan hal yang berbau m***m, seakan tahu dengan kelemahannya.
"Kalau begitu, makan!"
Salsa berdecak kesal. "Kenapa sih, Om selalu maksa Salsa buat makan? Lagian, 'kan yang nggak makan Salsa, yang laper juga Salsa, kenapa juga Om yang ribet?"
"Karena kalau kamu sakit, saya yang susah,"
"Ngapain juga Om harus susah? Salsa nggak bakalan sakit, lagi pula ada Mama yang akan-"
"Kamu sudah tidak tinggal dengan Mama, dan cuma saya yang berada di sini. Jadi cepat makan, dan jangan membantah!"
"Tapi, Om-"
"Makan, Salsa!" Aldo membentak dengan sedikit keras, ini pertama kali Aldo membentaknya karena biasanya Aldo cenderung berbicara datar. Walaupun ia sudah sering mendapat bentakan dari Mama ataupun Papanya ketika bandel atau berbuat nakal. Namun Aldo berbeda, dan itu membuat Salsa merasa sedikit takut.
"I-iya udah, sih! Makan tinggal makan, nggak usah ngebentak kayak gitu juga kali!" ucap Salsa seraya meraih sendok yang tadi sudah Aldo siapkan.
Aldo menghela napasnya lelah, sepertinya ia terbawa emosi karena sikap Salsa yang terus membangkangnya. Karena jujur saja ia tidak menyukai bantahan, tapi biasanya Aldo tidak pernah kehilangan kendalinya seperti saat ini. Salsa benar-benar membuat dunianya terguncang.
"Kalau kamu menurut sejak awal, saya tidak akan membentakmu seperti tadi, maaf."
_________________________
[Cerita bersambung, untuk baca alur lengkapnya, bisa cek bio akun aku atau cek i********: aku di @olipoill_]