“Selamat datang, Putri,” sapa Alice kepada Iris yang melakukan kunjungan ke kerajaan werewolf.
“Terima kasih, Ratu. Kedatangan saya ke sini untuk memberikan beberapa teknologi baru yang bisa digunakan untuk kelangsungan pertanian dan perkebunan di sini,” ucap wanita dengan mahkota kecil di kepalanya.
“Begitukah? Mari masuk. Tapi sayang sekali raja sedang tidak berada di tempat. Tapi, Pangeran ada. Kamu bisa berbicara dengannya,” ucap Alice.
Keduanya pun berjalan ke tempat di mana Owen dan Luc berada. Owen ternyata sedang membantu pekerjaan Luc selagi Kennard tidak ada. Pintu ruangan terbuka menampilkan dua wanita dari generasi yang berbeda.
“Sepertinya kalian tampak sibuk. Tapi, maaf mengganggu sebentar. Kita kedatangan Putri Iris dari Kerjaan Wizard,” ungkap Alice. Kemudian wanita ini mempersilakan Iris untuk duduk.
“Selamat datang, Putri. Maaf untuk sambutannya karena kami sebelumnya tidak menerima kabar jika Anda akan datang,” ucap Luc.
“Tidak apa-apa, Pangeran. Kedatangan saya ke sini untuk menyerahkan teknologi baru hasil cipataan kami. Ini perintah dari Raja Wizard,” ungkap Iris.
Luc dan Owen mengangguk paham. “Terima kasih untuk segala bantuannya, Putri. Kami akan mengingat kebaikan Kerajaan Wizard. Raja Kennard juga pasti akan sangat berterima kasih untuk ini,” kata Luc. “Oh iya, karena Putri berada di sini, apakah Anda ingin berkeliling istana kami? Sepertinya Pangeran Owen tidak keberatan jika mengajak Anda berkeliling. Bukankah begitu, Ratu?” ucap Luc yang meminta persetujuan kepada Alice. Dan Alice pun setuju dengan usul Luc itu.
“Baiklah jika itu tidak merepotkan,” kata Iris. Luc pun mengkode sang keponakan untuk mengantar Iris berkeliling. Owen dan Iris yang memang sudah berteman pun tentu tidak keberatan satu sama lain. Keduanya pergi dari ruangan itu meninggalkan Luc dan Alice.
“Bukankah ini terlihat lebih baik, Kak? Meskipun Owen tidak memiliki mate sejati, setidaknya dia masih memiliki teman sejati,” ujar Luc yang disetujui benar oleh Alice.
Owen dan Iris berjalan santai di lorong-lorong istana. “Sepertinya kamu akhir-akhir ini sibuk sekali, Owen? Terakhir kita bertemu sekitar seminggu yang lalu, bukan?” ucap Iris memecah keheningan.
“Ya, sepertinya begitu. Sekarang aku sudah menjalankan tugas sebagai pangeran. Aku juga harus membantu Raja dan Paman Luc,” ungkap Owen kala itu. Iris pun mengangguk paham. Itu juga dia lakukan sebagai satu-satunya penerus kerajaan.
“Bagaimana dengan adikmu? Aku belum pernah bertemu dengannya secara pribadi. Bukankah ini tidak adil untukku? Kamu menyembunyikan adik cantikmu itu.”
Owen pun terkekeh. “Dia sedang menjalankan tugasnya di kebun. Jika mau, aku bisa mengenalkanmu hari ini. Ayo.” Iris setuju. Pada akhirnya kedua orang ini menuju ke kebun istana untuk menemui Agata.
Di kebun istana sendiri terlihat Agata dan Kristo merawat berbagai tanaman di sana. Agata benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Tentu dia juga ikut menanam tanaman dan memanennya juga serta menyiram tanaman-tanaman itu.
“Kristo. Berapa lama kamu melakukan pekerjaan ini?” tanya Agata mencari obrolan yang tepat untuk teman barunya itu.
“Sejak kecil, Putri. Pekerjaan ini dulunya dilakukan oleh orang tua saya. Kemudian diteruskan oleh anak-anaknya,” jelas Kristo singkat. Agata pun mengangguk paham.
“Kristo, bisakah jika kita hanya berdua kamu tidak memanggilku Putri? Panggil saja Agata. Dan juga cara bicaramu dibuat santai saja denganku.”
Mendengar permintaan Agata tentu membuat Kristo tak habis pikir. Jika dia memanggil Agata tanpa embel-embel putri maka itu akan berkibat fatal untuk Kristo sendiri yang mungkin akan ada orang melaporkan kepada raja.
“Maafkan saya, Putri. Tapi saya akan tetapi memanggil Anda seperti ini,” putus Kristo yang membuat Agata tersenyum kecut. Padahal dia ingin lebih akrab dengan Kristo tanpa mereka terbayang-bayang akan status masing-masing.
Obrolan mereka terhenti ketika Owen dan Iris sudah sampai di sana. Agata yang melihat sang kakak pun langsung berdiri dari tempatnya begitu juga dengan Kristo saat itu. Dari sini Agata melihat jika Owen sedang bersama sosok wanita.
“Hai, Agata.”
“Hai, Kak. Kak Owen sedang bersama siapa?” tanya Agata meneliti Iris kala itu. Iris yang melihat sosok adik dari Owen pun tampak terpana dengan kecantikan gadis ini.
“Perkenalkan. Nama saya Putri Iris.”
Agata menganga. Ini adalah kali pertama dia bertemu Putri Iris. Teman dari kakaknya. “benarkah? Wah, Putri Iris cantik sekali. Pantas saja Kak Owen betah berlama-lama di Kerajaan Wizard,” goda gadis ini dengan mata nakalnya menatap Owen.
“Agata. Jangan bicara aneh-aneh,” tegur Owen. “Lihatlah, Iris. Inilah alasan kenapa aku tidak memperkenalkanmu padanya. Dia benar-benar suka menggoda orang lain,” ungkap Owen kepada Iris.
“Itu tidak benar. Aku hanya menggoda Kak Owen, bukan orang lain,” ralat Agata. Interaksi kakak beradik ini membuat Iris dan Kristo merasa terhibur. Tentu saja Iris merasa iri dengan orang-orang yang memiliki saudara, sedangkan dia hanya seorang diri di dalam keluarganya.
“Sudahlah kamu kerjakan tugasmu itu. Aku akan kembali mengajak Putri Iris berkeliling,” kata Owen.
Kepergian Owen dan Iris tampak dilihat oleh Agata dengan pandangan iri. Tentu dia iri melihat kedekatan pertemanan mereka sedangkan dia malah mendapat penolakan dari Kristo. Melihat wajah murung Agata tentu membuat pemuda bernama Kristo itu mengernyit.
“Aku ingin memiliki teman selayaknya Kak Owen dan Putri Iris. Tidak bisakah aku mendapatkan itu, Kristo?” tanya gadis ini.
Kristo mengusap tengkuknya pelan. “Anda bisa berteman dengan siapa saja, Putri. Sama seperti Pangeran, Anda pun juga bisa,” jawab Kristo.
“Jika begitu … mari berteman denganku,” pinta Agata langsung. Kristo tak langsung menjawab karena dia tak ingin salah mengambil keputusan. Melihat pemuda itu yang diam membuat Agata paham jika mungkin Kristo memang tak ingin berteman dengannya.
“Adikmu ternyata benar-benar cantik,” kata Iris yang membicarakan Agata bersama dengan Owen sembari keduanya terus berkeliling. “dan dia sepertinya lebih banyak bicara dibandingkan dirimu,” imbuhnya. Owen pun tertawa mendengar penilaian Iris.
“Kamu hanya melihatnya dari sisi luar. Dari sisi yang dilihat semua orang. Jika dilihat lebih dalam, kamu akan tau bagaimana cara dia menutupi semuanya dengan ocehan dan tawa itu,” kata Owen yang berhasil membuat Iris terdiam.
“Aku dan Agata benar-benar memiliki takdir yang sama-sama tidak baik. Wolf nya terlalu lemah untuk keluar. Ini menjadikan dia merasa jika dirinya tak berguna.”
Mendengar cerita Owen ini membuat Iris bersimpati kepada dua kakak beradik ini. “Karena itu aku akan selalu berada di sisinya. Aku tidak ingin ia merasa sendirian. Aku ingin menjadi kekuatannya meskipun dia terlihat lemah,” lanjut Owen. Di sini Iris yakin jika ikatan keduanya benar-benar sejati.
“Apakah kamu tidak pernah mencoba menemui seseorang untuk membantu masalah Agata ini?” tanya Iris. Owen menggeleng, dia juga tak tahu harus bertanya kepada siapa. “Wizard Berta. Kamu bisa bertanya kepadanya,” ucap Iris yang mengingat wizard tersebut.
Owen baru mengingat jika waktu itu Kennard pernah mengatakan jika segala hal yang ingin ditanyakan di dunia ini bisa mereka tanyakan kepada Wizard Berta yang mungkin memiliki jawabannya.
“Aku baru mengingatnya, Iris,” seru Owen yang menatap wanita ini penuh. “Bisakah kamu menemaniku menemui Wizard Berta?” pintanya. Lantas Iris pun mengangguk karena Wizard Berta sendiri sekarang sudah tinggal di wilayah wizard. “Kalau begitu kita berangkat sekarang,” putusnya.
Owen akhirnya membawa Iris ke tempat Alice berada untuk berpamitan sebentar. Tentu saja dia tak mengatakan tujuannya karena dia ingin melakukannya tanpa diketahui keluarga kerajaan. Iris pun tampaknya setuju dengan keputusan pemuda itu.
Setelah mendapat ijin dari Alice, barulah mereka pergi. Owen beralasan jika dia dan Iris akan berjalan-jalan ke luar istana yang padahal mereka akan menemui Wizard Berta. Dalam perjalaan menuju ke wilayah wizard, Owen berubah bentuk menjadi Crush. Iris tampak menikmati perjalanannya bersama dengan wolf Owen itu.
Sesampainya di perbatasan, Iris pun turun dan Crush kembali ke tubuh manusianya. Keduanya berjalan kaki untuk sampai di kediaman wizard. Sesampainya di sana ternyata wizard berada di tempat dan seperti sedang menunggu seseorang.
“Selamat datang, Pangeran, Putri. Mari masuk. Saya sudah menunggu kalian sejak tadi,” ucap Wizard Berta seolah tahu mengenai kedatangan kedua orang ini. Owen dan Iris masuk ke rumah wizard yang tak begitu besar karena dia memang hanya tinggal seorang diri.
“Maksud kedatangan kami ke sini adalah ingin menanyakan sesuatu, Wizard. Ini mengenai adik saya, Putri Agata,” ungkap Owen tanpa perlu berbasa-basi.
Wizard Berta mengangguk paham. Kemudian dia mengambil bola kaca yang tampak mengkilap. Dilihat bola itu sembari mengucapkan beberapa mantra dari mulutnya. Iris dan Owen sama-sama memperhatikan sang wizard.
“Mate nya sedang sekarat,” ungkap sang wizard tiba-tiba dan berhasil membuat Owen dan Iris tak paham.
“Bisa dijelaskan lebih rinci, Wizard?” pinta Iris kala itu.
“Menurut pandangan saya, lemahnya wolf milik Putri Agata karena mate nya juga sama-sama lemah.”
“Mate? Adik saya memiliki mate?”
Wizard Berta mengangguk. “Ya, Pangeran. Sepertinya ikatan antara mate mereka begitu kuat meskipun keduanya belum bertemu. Itu terbukti ketika wolfnya tak berdaya karena mate nya juga dalam keadaan demikian.”
“Jika begitu, tindakan apa yang harus kami ambil, Wizard? Apakah kami harus menemukan dan mencari tahu apa yang terjadi kepada mate Putri Agata?” tanya Owen.
“Ya, itu bisa jadi pilihan yang bagus, Pangeran. Tetapi sepertinya saya kurang yakin Anda dan Putri Iris akan menemukan orang itu. Karena saya belum melihat di mana orang itu berada saat ini. Bisa jadi tempatnya jauh dari sini,” ungkap sang wizard.
“Tolong kamu lihat lebih rinci lagi. Aku yakin ada petunjuk di sana. Jika kami bisa menemukan orang itu, kemungkinan besar wolf Putri Agata akan menguat. Dan dia tak kembali bersedih lagi,” kata Owen. Karena ini sebuah perintah, maka Wizard Berta pun akhirnya mencoba kembali membuka pandangannya.