“Kamu yakin akan pergi, Owen?” tanya Iris ketika keduanya sedang dalam perjalanan pulang dan masih berada di wilayah wizard tentunya. Owen bermaksud mengantar Iris ke kerajaan saat itu.
Setelah mendengar jawaban Wizard Berta, tampak Owen yang terus memikirkan perihal hal tersebut. Iris tahu jika di kepala Owen saat ini pasti sedang merencanakan kapan akan pergi.
“Wizard Berta sendiri yang mengatakan jika pandangannya belum jelas dan masih kabur. Kamu tidak harus percaya penuh kepadanya,” nasihat Iris lagi. Wanita ini tampak mencoba mencegah kepergian Owen yang menurutnya akan berbahaya. Lagi pula Owen tak mungkin mendapat ijin dari raja dan ratu.
Keduanya sudah sampai di gerbang istana Kerajaan Wizard. Owen hanya akan mengantar Iris hingga sini. Tatapan Owen tertuju kepada temannya itu. Dia tahu bila Iris memiliki hati yang murni, tetapi sayang takdir membuatnya kehilangan sang mate. “Kamu sudah sampai,” ujarnya.
Iris tampak masih memikirkan keputusan Owen tadi. Wanita ini masih mengkhawatirkan temannya. “Owen. Tolong dengarkan aku. Perjalanan yang kamu tempuh itu berbahaya. Pasti ada cara lain agar wolf Agata bisa kembali normal,” tutur Iris.
“Tenanglah, Iris.”
Bagaimana bisa wanita ini bisa tenang ketika Owen mengatakan keinginannya untuk pergi agar bisa menemukan mate Agata.
“Berjanjilah, Owen. Berjanjilah jika kamu tidak akan nekat pergi,” pinta wanita itu. Owen bingung dengan perilaku Iris ini. Bukankah ini tampak berlebihan? “Ketika mate ku pergi, aku belum sempat melarangnya. Sekarang aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan temanku,” jelas Iris dengan raut wajah khawatir dan sedihnya.
Dari sini Owen pun paham kenapa Iris bersikeras melarangnya. Bukan hanya karena tempat itu jauh dan berbahaya. Itu juga karena Iris takut masa lalu terulang lagi. Dia takut kehilangan. Dari sini Owen sadar jika tidak mengapa bila dirinya sendiri tak memiliki mate karena dia memiliki orang-orang yang menyayangi dan mengkhawatirkannya.
Owen pun memegang pundak Iris agar wanita itu bisa tenang. “Iris. Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak akan pergi. Kalau pun aku akan pergi, pasti aku akan mengajakmu,” ujarnya. Iris pun sedikit merasa tenang sekarang.
“Baiklah. Hubungi aku jika kamu ingin pergi,” kata wanita itu yang diangguki oleh Owen.
“Masuklah. Aku akan pulang juga sebentar lagi,” perintah Owen. Iris mengangguk. Dia memeluk Owen sebentar sebagai salam perpisahan mereka. “Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini,” ucap Owen yang tak ia lupakan.
“Sama-sama. Aku pergi,” pamit Iris. Owen mengangguk. Iris pergi diiringi dengan tatapan penuh dari pemuda itu.
Setelah dirasa Iris sudah aman, barulah Owen pergi dari sana untuk kembali ke kerajaan. Owen akan menemui Kennard untuk meminta ijin. Apakah ini artinya Owen akan mengingkari janji yang dibuatnya kepada Iris? Itu pasti. Karena seperti di awal, pemuda ini akan mengutamakan sang adik di bandingkan orang lain. Itu artinya Owen akan memenuhi kebahagiaan Agata meskipun ia harus mengorbankan dirinya sendiri.
Di kerajaan sendiri terlihat Luc yang tak lupa memperhatikan Frey serta anak mereka di tengah kesibukan pria ini. Luc tampak membawakan Frey beberapa buah sehat yang ditanam di kerajaan mereka.
Luc masuk ke dalam kamar dan menemukan Frey sibuk dengan buku bacaannya. Melihat Luc yang datang, Frey pun menutup bukunya dan memusatkan atensinya pada sang mate.
“Aku membawakanmu buah. Bagaimana kabar dia? Apakah kalian berdua baik-baik saja?” tanya Luc.
“Seperti yang kamu lihat. Kami berdua baik-baik saja. Oh iya, kenapa kamu kembali begitu cepat? Bukankah pekerjaanmu banyak? Kak Kennard sedang tidak ada di tempat, kan?” tanya Frey. Dia mengingat jika tadi pagi Luc mengatakan bila dirinya akan sibuk hari ini.
Luc menyuapi Frey potongan apel yang dibawanya. “Kak Kennard sudah pulang. Baru saja. Dan Owen juga sedang pergi bersama Putri Iris.”
“Putri Iris?” sahut Frey yang diangguki oleh Luc. “Mereka berdua terlihat dekat sekali.”
Luc mengangguk setuju. “Aku berharap mereka bisa hidup bersama. Lagi pula keduanya sama-sama tak memiliki mate. Menurutku tidak masalah kalau pun mereka memutuskan untuk hidup bersama.”
Frey tertawa mendengar perkataan mate nya. “Tidak semudah itu, Luc. Pasti ada saat di mana Putri Iris merindukan mate nya. Jika dia menikah dengan Owen, pasti dirinya akan merasa telah mengkhianati mate nya sendiri.”
Luc terdiam. Perkataan Frey sedikit benar di sini. “Oh iya. Bagaimana dengan Agata?” tanya Luc. “Bukankah kamu mengatakan jika dia bertugas di istana sekarang?”
“Ya. Dia sedang bersama Kristo. Itu perintah dari Kak Alice. Seperti Owen dan Putri Iris, sosok Kristo telah menjadi teman bagi Agata. Itu cukup menarik untuk kita lihat, Luc. Bukankah kamu mengatakan jika Agata semenjak sekolah di sana sedikit menjadi pendiam?”
“Ya. Itu benar. Mari kita lihat perkembangan ini. Semoga saja semuanya kembali normal.”
“Semoga.”
Kennard yang berada di ruangannya mengalihkan atensi ketika Owen datang langsung ke ruangannya saat itu. Owen memberikan salamnya seperti biasa.
“Apakah Anda sedang sibuk saat ini?” tanya Owen terlihat formal kepada ayahnya sendiri.
“Tidak. Ada apa?” tanya Kennard balik.
“Saat sebelum pulang ke kerajaan, bukankah Anda memberikan aku dan Agata masing-masing satu permintaan? Aku ingin menggunakan permintaan itu sekarang,” ujar Owen dengan raut wajah seriusnya. Kennard mengernyit, tetapi tetap memberikan ruang bagi Owen untuk mengatakan permintaannya.
“Katakan permintaanmu.”
Owen mengangguk. “Tetapi aku ingin memastikan sesuatu lebih dulu. Jangan bertanya lebih tentang permintaanku. Dan apakah Raja akan mengabulkan semua permintaan yang aku ajukan?” tanya Owen.
Kennard tertawa ketika anaknya sendiri meragukan perannya di sini. “Janji tetaplah janji. Pantang bagi seorang raja membatalkan janji yang telah ia ucapkan. Katakan apa permintaanmu. Aku akan mengabulkan itu,” balas Kennard.
“Baiklah. Aku ingin mendapatkan ijin penuh untuk pergi ke suatu tempat,” ungkap Owen langsung pada inti.
“Tempat? Tempat apa yang kamu maksud?” tanya Kennard lebih rinci.
“Ini adalah urusanku. Aku tidak bisa mengatakan urusanku kepada Anda,” jawab Owen. “Jadi, apakah aku mendapatkan ijin itu?” lanjut pemuda ini.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?”
“Tidak menentu. Bisa sebulan, dua bulan, atau lebih lama,” ungkap Owen yang mengundang keterkejutan bagi Kennard. Ia kira Owen akan pergi hanya dalam beberapa hari saja. Ini malah hitungan bulan. Tentu saja Kennard menjadi curiga putranya melakukan hal aneh.
“Selama itu? Tempat seperti apa yang kamu tuju hingga memakan waktu selama itu?” tanya Kennard lagi.
“Di awal sudah aku katakan untuk tidak bertanya lebih mengenai tujuanku. Yang pasti aku memiliki urusan penting di tempat itu,” ujar Owen dengan tegas.
Kennard memijit pangkal hidungnya karena terlalu pusing memikirkan permintaan aneh Owen ini. Jika Owen pergi selama itu tanpa Kennard ketahui tujuannya, pasti Alice akan murka dan akan terus mengajukan banyak pertanyaan kepadanya. Ini akan semakin membuat Kennard tertekan.
“Aku tidak mungkin mengijinkanmu jika belum tahu ke mana tujuanmu,” kata Kennard memberi pengertian. Owen merasa dirinya malah dipersulit dalam hal ini. “Ibumu pasti akan bertanya-tanya ke mana anaknya pergi. Dia akan sangat khawatir.”
“Kalau begitu tolong berikan tahta raja kepadaku sekarang,” sahut Owen tiba-tiba yang berhasil membuat Kennard terkejut. Dengan ia menjadi raja, mungkin muda bagi Owen untuk pergi saat itu juga. “Kenapa? Apakah Raja tidak kembali tidak bisa mengabulkan permintaanku?” ucap Owen.
“Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan? Tahta ini akan aku berikan kepadamu, tapi tidak untuk sekarang. Kamu harus lebih banyak belajar bagaimana mengelola kerajaan. Masa itu masih panjang,” kata Kennard memberi pengertian.
“Apakah pengabulan permintaan yang Anda katakan saat itu hanya palsu belaka, Raja?” sindir Owen kembali dan berhasil membuat Kennard menjadi pusing.
Ruangan itu di isi oleh keheningan dalam beberapa saat. Kennard perlu memikirkan keputusan yang tepat untuk ia katakan agar tidak mengambil jalan yang salah.
“Begini saja. Aku akan mengijinkan kepergianmu, tapi dengan satu syarat sebagai jaminan jika kamu akan kembali. Beritahu aku ke mana kamu akan pergi. Mari saling berjanji sebagai raja dan pangeran. Aku berjanji akan menutup mulut rapat-rapat perihal tempat ke mana kamu pergi. Dan kamu harus berjanji akan kembali dan telah siap menjadi raja bagi kerajaan ini sewaktu pulang nanti.”
Sebuah penawaran dan kesepakatan yang bagus jika Owen mau menerima. Tapi, tetap saja Owen belum memutuskan apakah dia harus mengatakan tujuannya. Dia khawatir bila diam-diam Kennard akan mengirim prajurit untuk mengawasinya.
“Tenang. Aku tidak akan mengirim mata-mata untuk membuntutimu. Sudah aku katakan ini janji raja dan pangeran,” sahut Kennard memberi penjelasan sedikit.
Owen tak memiliki pilihan lain. Ini adalah kesempatan bagi dirinya. Toh semuanya demi kebahagiaan sang adik. Agata adalah dunia bagi Owen. Sembari mengambil napas panjang, Owen pun mulai memutuskan pilihannya. “Baiklah. Aku setuju dengan syarat itu. Tapi, aku ingin mengajukan syarat juga. Selama aku pergi, jaga Ibu dan Agata.”
“Itu pasti akan aku lakukan,” sahut Kennard. “Jadi … ke mana kamu akan pergi?” tanyanya.
“Desa Raksasa.”
“APA?!” pekik Kennard kemudian sembari berdiri dan memandang putranya tak percaya. “Desa Raksasa? Memiliki kepentingan apa kamu di sana? Apakah kamu tidak tahu bila dunia mereka bukan ranah dunia immortal? Itu bukan tempat bagi kaum kita,” ujar Kennard. Sebenarnya apa yang ada di pikiran putranya ini?
“Bukankah kesepakatannya tidak ada pertanyaan lebih? Bahkan Anda telah melanggar kesepakatan ini dengan terus bertanya.”
“Owen. Tidakkah kamu sadar tempat apa yang kamu tuju itu? Sekali lagi aku ingatkan jika itu bukan tempat kita. Desa Raksasa dipenuhi oleh makhluk raksasa yang beribu-ribu lebih besar dari pada kita. Bahkan wolf mu saja tidak mungkin bisa melawan mereka. Aku sarankan kamu untuk tidak nekat pergi ke sana.”
“Kesepakatan tetaplah kesepakatan, Raja. Seorang raja pantang melanggar janji yang telah ia katakan, kan?”
Benar-benar sial. Owen selalu bisa mengembalikan keadaan dan membuat Kennard harus berpikir keras lagi. Desa raksasa adalah tempat yang cukup jauh karena memang dianggap terlalu berbahaya bagi makhluk dunia immortal. Kennard makin bingung apa yang harus ia lakukan.
“Jika kamu memang ingin pergi ke sana, aku perlu tau urusan penting apa yang ingin kamu lakukan. Jika aku tau tujuanmu apa, maka aku akan mengijinkan perjalanan ini dengan penuh,” kata Kennard yang terus bernegosiasi dengan putranya sendiri.
“Bukankah ini tidak adil, Raja? Anda mengajukan berbagai pertanyaan untuk satu permintaanku, bahkan sebuah syarat juga,” balas Owen yang tak kehilangan akal.
“Bisakah kamu membuat semuanya menjadi lebih mudah, Owen?”
Karena obrolan ini tak kunjung menemukan titik terang, terpaksa Owen pun mengatakan apa tujuannya ke sana. “Perjalanan itu aku lakukan demi kebahagiaan adikku. Kebahagiaan Putri Agata,” ungkapnya dengan pandangan serius.
Mendengar Owen membawa-bawa nama Agata pun membuat Kennard semakin menarik. “Jika Anda bertanya lebih, aku tidak akan menjawabnya lagi. Sudah cukup negosiasi ini, aku tidak akan melakukan lebih lagi,” ujar Owen kembali. Kennard yang tadinya ingin bertanya pun akhirnya mengatupkan mulutnya.
“Baiklah. Ijin aku berikan,” putus Kennard. Owen pun bernapas lega karena kesepakatan telah dibuat. “tapi ingat dengan kesepakatan yang telah dibuat. Aku memberimu batas waktu satu tahun. Jika kamu tidak kembali, terpaksa aku akan mengirim prajurit ke sana. Dan bukan tidak mungkin peperangan mungkin akan terjadi antara dunia immortal dan dunia raksasa.”
Owen mengangguk paham. Dia tentu tidak akan membuat masalah yang membahayakan keseimbangan alam.
----
Wih, Owen mau otw pergi jauh. Kira-kira bagaimana dengan Putri Iris? Terus, apa Owen akhirnya bisa menyelesaikan masalah perihal mate dari Agata itu? Teru baca sampai akhir ya.