Ini adalah kali pertama Owen mengunjungi kamar sang adik semenjak kepulangan mereka ke rumah. Agata menyambut baik kedatangan sang kakak. Hari itu Owen ingin memberitahu sang adik mengenai kepergiannya. Dia perlu berpamitan juga kepada gadis ini.
Agata menyiapkan minuman dan sedikit camilan untuk kakaknya. Terlihat gadis itu tampak senang setiap berada di dekat sang kakak. “Camilan ini berasal dari buah-buahan yang ditanam di dalam istana, Kak. Kristo yang memberikanku ini, dan aku menyukai makanan tersebut,” ungkap Agata.
Owen pun tersenyum. Melihat bagaimana sang adik mulai nyaman berada di kerajaan, Owen yakin jika tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi jika dirinya pergi sebentar lagi.
“Agata. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini penting,” ujar Owen mengawali. Agata mengangguk dan langsung menutup mulutnya. Jika Owen berkata demikian, itu artinya gadis ini harus mendengarkan dengan baik.
“Apakah kamu bahagia tinggal di sini?” tanya pemuda itu. Agata mengangguk.
“Apakah semuanya memperlakukanmu dengan baik?” tanya Owen lagi yang kembali diangguki oleh sang adik.
“Baiklah. Itu sudah cukup untukku. Aku datang ke sini untuk berpamitan kepadamu. Aku akan pergi ke luar istana.”
“Tugas dari Ayah, Kak?” tanya Agata.
Owen terdiam. Dia pun akhirnya mengangguk. “Ya. Tugas dari raja. Masalahnya adalah aku tidak tahu kapan akan pulang. Jadi, untuk itu aku berpamitan lebih dulu kepada semua orang sekaligus meminta restu agar bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan cepat,” tutur pemuda ini.
Agata mengangguk paham. Mungkin ini adalah tugas kedua yang sedikit berat. “baiklah. Agata akan berdoa agar tugas ini berjalan dengan baik. Dan berdoa juga agar tugas Kak Owen cepat selesai,” katanya.
Owen tersenyum. Pemuda itu kemudian mengeluarkan gelang yang ia beli kemarin di wilayah wizard ketika bersama dengan Iris. “Kemarin kakak beli ini di pasar. Terimalah,” ucap Owen. Agata menerima benda itu dan langsung memakainya di pergelangan tangan.
“Bagus, Kak. Terima kasih.”
“Sama-sama.” Owen berdiri dari duduknya. “Karena hari sudah malam, sebaiknya kamu segera istirahat agar besok bisa kembali bekerja di kebun,” perintah Owen. Agata yang memang mematuhi segala perintah kakaknya pun langsung bersiap untuk tidur. Sedangkan Owen bergegas keluar kamar.
Namun, Owen mengingat soal Kristo. Pemuda ini langsung menuju ke area bagian timur tempat di mana Kristo tinggal. Dan benar saja dugaannya jika Kristo tampak belum tidur dan malah duduk santai di depan kediamannya.
Melihat sosok Owen dari jauh, Kristo pun langsung menyambut sang pangeran. “Salam, Pangeran,” sapa Kristo menunduk hormat yang diangguki oleh Owen.
“Mari duduk,” ajak Owen kala itu. Keduanya duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Kristo lah yang membuat kursi tersebut.
Keduanya sama-sama menatap langit yang tampak cerah dengan bertaburan bintang. Pemandangan seperti ini tampak aneh bagi Owen karena di sekolahnya dulu bintang-bintang tampak terlihat lebih jelas.
“Apakah keseharianmu memang selalu mengurus kebun?” tanya Owen mengawali percakapan mereka.
“Itu benar, Pangeran,” jawab Kristo.
“Dengan siapa kamu tinggal di sini?” tanya Owen. Di sekitar mereka tampak sepi.
“Saya hanya tinggal sendiri, Pangeran. Orang tua saya sudah tiada sejak lama. Jadi, saya lah yang melanjutkan pekerjaan beliau di kerajaan ini,” jelas pemuda itu. Owen pun akhirnya paham jika Kristo benar-benar sendirian. Cukup salut dengan pemuda ini yang mampu bertahan seorang diri tanpa siapa pun di sisinya.
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Anggap saja ini sebuah permintaan dari kakak temanmu,” kata Owen membuat pemuda tersebut mengernyit bingung. “Aku akan pergi ke luar istana untuk menjalankan sebuah tugas penting. Dan aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat. Untuk itu aku ingin kau berjanji kepadaku bahwa kau akan selalu berada di sisi Agata dan menjaga keselamatannya dengan penuh.”
Permintaan Owen ini tidak Kristo pahami. Apa yang akan kamu perbuat jika tiba-tiba ada orang datang dan memintamu untuk menjaga adiknya? Yang mana Kristo saja masih canggung dengan Agata.
“Maaf, Pangeran. Saya kurang memahami permintaan Anda ini,” ucap Kristo hati-hati.
Owen mengembuskan napas beratnya. “Intinya adalah aku memintamu untuk berada di sisi Agata serta menjaganya selagi aku tidak berada di kerajaan,” jelas pemuda ini.
“Tapi, ke mana Anda akan pergi?”
Owen menatap Kristo tajam. “Itu bukan urusanmu, Kristo. Tugasmu adalah menjalankan perintah dariku,” jawab pemuda ini tegas yang berhasil membuat Kristo menahan diri untuk tak bertanya lebih.
“Jika kamu bisa menjalankan perintah dariku ini dengan baik, ada imbalan yang akan aku berikan kepadamu. Tenang saja, itu akan aku berikan ketika aku sudah pulang nanti,” lanjut Owen.
Kristo mengangguk paham. “Baiklah. Saya mengerti, Pangeran. Saya akan menjaga putri dengan baik,” ungkap Kristo.
Owen mengangguk. Pemuda ini berdiri dari duduknya bersiap untuk pergi. “Masuklah. Kau butuh istirahat untuk pekerjaan besok,” ucap Owen yang diangguki oleh Kristo. Pemuda itu pun masuk ke dalam, sedangkan Owen menuju ke dalam istana juga. Malam itu semua orang mulai beristirahat di tempat mereka masing-masing. Menunggu esok hari yang cerah akan datang.
***
Kaki Owen tampak tegas menuju ke tempat Alice dan Frey berada. Pemuda ini berniat untuk berpamitan kepada kedua wanita tersebut meskipun dia belum merencakan kapan akan pergi.
Di lorong istana Owen tanpa sengaja berpapasan dengan Luc yang sibuk berbicara dengan salah satu prajurit. Melihat sang paman membuat Owen sadar jika dia perlu berpamitan kepada pria itu. Setidaknya dari Luc lah Owen sadar akan makna kekurangan yang ia miliki dan tetap menjalankan hidup sebagaimana mestinya. Akan tetapi, melihat pamannya sibuk, Owen pun memilih untuk menemui Alice dan Frey lebih dulu.
Untung saja tadi Owen sudah bertanya kepada salah satu maid mengenai keberadaan keduanya. Dan benar saja, mereka berada di gazebo yang mungkin akan menjadi tempat rutin mereka mengobrol. Kedatangan mereka disambut baik oleh Alice dan Frey.
“Hai, Owen,” sapa Frey yang melihat keponakan tampannya itu. Owen membalas sapaan Frey dengan senyuman. Kemudian pemuda ini duduk di salah tempat yang ada.
“Ibu. Bibi. Apakah kalian sedang sibuk sekarang?” tanyanya.
Kedua wanita itu pun tertawa. “Bagaimana bisa kita menjadi sibuk, Owen? Ada apa, Nak? Ibu merasakan jika kamu ingin mengatakan sesuatu kepada kami,” sahut Alice yang seperti paham bila putranya ingin mengatakan hal penting.
Owen yang sudah mendapat lampu hijau dari Alice pun langsung mengutarakan maksudnya. “Aku ingin berpamitan kepada Ibu dan Bibi,” ungkapnya yang berhasil mengundang kernyitan di dahi keduanya. “Aku memiliki tugas lagi. Dan tugas ini belum bisa aku prediksi kapan akan selesai.”
“Tugas? Dari ayahmu?” tanya Alice. Owen pun mengangguk, padahal itu semua tidaklah benar. Sudahlah, dari pada keduanya bertanya lebih dan membuat Owen jadi bingung. “Ke mana kamu akan pergi? Dan berapa lama itu?” tanya Alice lebih lanjut.
Frey yang melihat Alice mendesak Owen pun mencoba menenangkan kakaknya itu. “Kak Alice tenang dulu. Beri Owen ruang untuk menjelaskan semuanya,” tuturnya yang disetujui oleh Owen.
“Baiklah. Silakan lanjutkan, Owen,” kata wanita tersebut.
“Aku tidak bisa memberitahu ke mana tujuanku. Dan berapa lama aku pergi, itu belum bisa diprediksi. Jika tugasnya selesai lebih cepat, maka aku akan segera pulang,” jelas pemuda ini. Alice dan Frey pun saling tatap satu sama lain.
“Apakah kamu memiliki teman untuk pergi?” tanya Frey.
Owen menggeleng. “Tugas ini harus aku lakukan sendiri, Bibi. Tapi kalian tenang saja, aku akan baik-baik saja. Jika ada hal yang tidak baik, aku akan segera kembali ke sini atau mengirim pesan kepada kalian,” ucap Owen yang mencoba meyakinkan keduanya.
Lagi dan lagi Alice serta Frey saling tatap seperti keduanya sedang berkomunikasi satu sama lain. “Untuk keluarga lainnya apakah kamu sudah bicara dengan mereka?” tanya Frey lagi.
“Semalam aku sudah bicara dengan Agata. Hanya Paman Luc yang belum aku beritahu, Bi. Sebentar lagi aku akan memberitahuinya,” jawab Owen.
Alice mengembuskan napas kasarnya. Meskipun berat, tetapi ini adalah tugas dari Kennard, jadi Owen tentu harus menjalankan tugas tersebut. Anggap saja itu sebagai pelajaran sebelum dirinya diangkat menjadi raja.
“Jika sudah demikian, maka Ibu tidak bisa mencegahmu. Pergilah, restu Ibu akan terus bersamamu, Nak,” kata Alice dengan pandangan penuh kasih sayang. Owen pun mengangguk. Frey yang melihat interaksi keduanya pun tampak lega meskipun sebenarnya dia penasaran ke mana Owen akan pergi nanti. Ah, mungkin Luc tahu mengenai hal ini.
Di kebun istana terlihat Agata membantu para pekerja memberikan pupuk kepada tanaman mereka. Agata sepertinya menikmati tugasnya merawat tanaman-tanaman tersebut. Kristo yang baru saja sampai di kebun karena tadi dia sibuk menyortir bahan yang masuk untuk stok kebun pun teringat akan percakapannya dengan Owen semalam. Pemuda ini pun menghampiri Agata saat itu.
“Hai, Agata,” sapa Kristo yang bersemangat. Agata terlihat terkejut melihat pemuda itu bersikap sedikit berbeda dari biasanya.
“Oh, hai, Kristo. Selamat pagi,” sapanya.
“Pagi, Agata,” jawab Kristo. Agata pun baru sadar jika Kristo tidak memanggilnya dengan embel-embel putri.
Agata memincing curiga, menatap pemuda ini dari atas hingga bawah. Takut jika yang ada di depannya bukanlah sosok Kristo. Ditatap demikian membuat pemuda itu tertawa. Benar, ini bukanlah sifat Kristo di depan Agata seperti biasanya.
“Ada apa, Agata? Kamu terlihat bingung.”
Gadis ini menggeleng. “Tidak. Hanya saja … apakah kamu benar-benar Kristo?” tanya Agata yang berhasil membuat tawa Kristo pun keluar.
“Tentu saja ini aku. Memang kenapa?” tanya Krsito.
Agata menggeleng dan kembali melanjutkan pekerjaannya. “Tidak. Hanya saja kamu sedikit berbeda hari ini, Kris. Dan juga kamu tidak memanggilku putri lagi.”
“Apakah kamu keberatan jika aku tidak memanggilmu putri?”
Agata menoleh. “Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan. Itulah hal yang aku inginkan. Karena dengan demikian, kita terlihat seperti teman, Kristo,” jawab Agata.
“Ya, kamu benar. Aku sudah memikirkannya semalam. Tidak ada salahnya jika kita berteman,” tutur pemuda itu yang berhasil membuat Agata terkejut.
“Kamu … kamu setuju untuk berteman denganku?” tanya gadis tersebut penuh semangat. Melihat respon Agata dan perkataan Owen semalam membuat Kristo lantas langsung mengangguk penuh. “Astaga, inilah yang aku tunggu sejak lama. Akhirnya aku memilik teman juga. Terima kasih, Kristo. Aku janji tidak akan pernah mengecewakan temanku.”
“Kamu terlihat berlebihan, Agata. Mari berteman seperti biasanya saja. Seperti orang lain di luar sana,” kata Kristo yang disetujui oleh Agata. “dan ya, apakah kamu butuh bantuanku?” lanjut pemuda ini yang mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya tentu saja. Aku sedang memberikan pupuk pada tanaman. Kamu bisa ikut membantu,” jawab gadis ini. Kristo pun langsung mengambil stok pupuk yang berada tak jauh dari dekat mereka. Di hari itu, dan untuk pertama kalinya Agata senang karena dia memiliki teman pada akhirnya. Setidaknya jika Owen pergi, Agata masih memiliki teman mengobrol yang seusianya.